Demi Tuhan, Aku Ikhlas

Demi Tuhan, Aku Ikhlas
Tinggalkan Masalalu


__ADS_3

Hari ini di pagi yang cerah Alizha akan memulai bekerja kembali. Alizha telah menyelesaikan pekerjaan rumahnya tadi pagi-pagi sekali. Walaupun ia bekerja, ia juga harus tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Mas sarapan dulu ya udah aku siapin," ucap Alizha sambil mengenakan hijab di depan cermin.


Afif yang sudah siap ia langsung turun menuju ruang makan. Lalu disusul oleh Alizha di belakangnya.


Setelah selesai makan mereka bersiap berangkat ke tempat kerjanya masing-masing.


"Mas, Alizha pamit ya. Assalamu'alaikum," ucap Alizha seraya mencium punggung tangan suaminya.


"Wa'alaikumussalam. Mau Mas antar saja?"


Alizha tersenyum menatap wajah Afif. "Tidak usah, Alizha bisa sendiri." kemudian ia berjalan menuju motor matic kesayangannya yang akan mengantar Alizha ke tempat kerja.


"Yasudah," sahut Afif lalu masuk kedalam mobilnya sendiri.


Mereka berdua pun berangkat menuju tempat kerjanya masing-masing.


****


Butuh sekitar 20 menit lamanya Alizha sampai di depan kantornya. Saat berjalan menuju ruangan kerjanya, ia disambut banyak ucapan dari rekan-rekannya.


"Selamat pagi Mbak Alizha."


"Pagi juga," jawab Alizha seraya terus berjalan menuju ruangannya.


"Pagi Mbak, selamat datang kembali."


"Iya makasih," sahut Alizha.


"Selamat ya Mbak atas pernikahannya."


"Terima kasih," jawab Alizha.


"Selamat Mbak semoga sakinah mawardah warahma."


"Terima kasih, Aamiin," ucap Alizha.


Setelahnya ia kembali bekerja seperti biasanya. Saat masuk kedalam ruangannya ia juga sudah disambut banyak berkas-berkas yang sudah menumpuk di mejanya. Karena memang selama 3 hari ia cuti dan betul saja kalau banyak pekerjaan yang sudah menunggu.


"Welcome back to my work," ucap Alizha bermonolog sendiri.


"Welcome back Alizha," ucap seseorang yang sudah berdiri diambang pintu sambil tersenyum kearahnya.


"Eh Pak Vino, iya makasih."


"Bagaimana kabarmu hari ini Zha?" tanya Vino.


"Alhamdulillah seperti yang Pak Vino lihat sekarang."


"Em- kalau cutinya bagaimana kemarin?"


"Ya seperti itu. Memangnya kenapa Pak?" jawab Alizha sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa. Barangkali kamu kurang cutinya saya bisa tambahin. Hehe," ucap Vino seperti sedang tersenyum paksa.


Alizha menyadari ucapan Vino tadi, sepertinya ia masih terpukul dan sakit hati atas pernikahan Alizha yang secara mendadak begitu saja saat Vino mengungkapkan perasaannya.


"Tidak terima kasih, saya juga harus bekerja. Pak Vino bisa aja."

__ADS_1


"Yasudah kamu lanjutkan, saya mau kembali ke ruangan saya."


"Iya Pak."


"Eh Zha," panggil Vino seraya berbalik arah lagi.


"Iya?"


"Nanti siang ke kantin ya. Saya tunggu," ucap Vino tersenyum.


Alizha hanya mengangguk sebagai balasannya dan kembali melakukan pekerjaannya yang sudah menunggu.


.


.


.


.


.


Jam makan siang telah tiba. Para karyawan biasanya menghabiskan waktu ini untuk mengisi perutnya entah itu di kantin perusahaan ataupun di luar.


Alizha teringat akan pesan Vino yang tadi pagi dikatakan. Dengan cepat ia membereskan berkas-berkas yang tercecer menjadi rapi. Kemudian ia pergi menuju kantin perusahaan yang berada di lantai satu ujung paling timur. Entah ada apa Vino menyuruhnya ke kantin bersama.


Sesampainya di kantin ia mencari sosok yang dia tuju. Banyak para karyawan yang berlalu lalang dan duduk untuk makan. Tetapi ia belum menemukan sosok yang dicari.


"Kemana Pak Vino?"


"Apa belum datang?" ucapnya bermonolog sendiri.


Kemudian ada seseorang yang memanggil nama Alizha dari belakang tubuhnya yang masih saja berdiri. Dari suaranya familiar, sudah bisa dipastikan itu orang yang dicari sedari tadi.


"Maaf ya sudah nungguin lama, tadi sempat ada klien yang menemui saya."


"Tidak apa-apa Pak."


"Yasudah kita duduk yang disana saja," ucap Vino sambil menunjuk tempat duduk yang dipilihnya.


"Mau pesan apa Pak? Biar saya yang pesanin," tawar Alizha.


"Saya nasi rendang sama minumannya lemon tea aja."


"Sebentar saya pesankan dulu," ucap Alizha seraya menuju tempat memesan makanan.


'Andai saya tidak terlambat, mungkin kamu sekarang sudah menjadi milik saya.' batin Vino sambil menatapi punggung Alizha.


"Kenapa Pak Vino mengajak saya ke kantin?" tanya Alizha yang sudah kembali dan duduk berhadapan dengan Vino.


"Lho memang saya salah ya? Bukan maksud apa-apa kok, biar kita lebih akrab saja seperti sedia kala."


"Maksudnya biar lebih akrab seperti sediakala? Bagaimana?" ucap Alizha heran. Ia takut akan yang dimaksud Vino barusan.


'Maksud Mas Vino bagaimana? Apakah ia masih mencintaiku?'


"Maksud saya biar kita akrab layaknya seorang sahabat seperti sediakala. Saya gamau hubungan kita meregang karena insiden minggu lalu yang saya nyatain perasaan saya itu. Hehe," ucap Vino sambil tertawa.


"Oh. Saya gak akan memutuskan tali silaturahmi kita kok, jadi Mas Vino tenang saja. Eh- maksud saya Pak Vino."

__ADS_1


Vino pun tertawa mendengar keralatan Alizha.


"Tidak apa-apa kalau kamu panggil saya Mas Vino. Saya lebih suka itu," ucapnya sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. "Bagaimana dengan suami kamu? Em-maksud saya kabarnya?"


"Alhamdulillah baik-baik saja," jawab Alizha.


"Maaf kalau saya lancang, apa rumah tangga kamu baik-baik saja sekarang?"


"Eh-ah i-iya baik-baik saja kok," jawab Alizha gugup, lalu berusaha menghilangkan rasa gugupnya dengan menyeruput teh yang sudah dipesannya. Rumah tangganya yang masih berumur secuil biji jagung itu sebenarnya tidak sebaik yang dikatakan. Suaminya akhir-akhir ini sikapnya banyak berubah menjadi lebih dingin. Tapi tidak mungkin bila Alizha mengatakan yang sebenarnya. Biarkan saja itu menjadi urusan pribadinya.


'Saya tahu perasaan kamu sedang tidak baik-baik saja,' batin Vino.


Flashback On.


"*Pah, mau pesan apa? biar Vino pesanin," tawar Vino kepada Papanya yang kini mereka berdua berada di dalam mobil depan restoran pada siang hari.


"Papa terserah aja deh sama kayak kamu," jawab Papanya Vino.


"Serius?"


"Iya udah terserah kamu," sahut Papanya Vino.


"Yaudah, minumannya orange jus aja ya?"


"Iya Vin."


Kemudian Vino masuk ke dalam restoran. Ia pun mulai memesan makanannya untuk di bungkus di bawa pulang.


Saat hendak duduk untuk menunggu pesanannya selesai, ia terkejut bukan main dengan seseorang di seberang dari tempat duduknya sekarang yang ia tempati.


Seseorang tersebut dengan senangnya berpegangan tangan dengan perempuan.


'Dasar laki-laki brengsek,' batin Vino kesal melihatnya.


"Bisa-bisanya dia mengkhianati Alizha," ucap Vino sendiri. Yang bukan lain bahwa lelaki tersebut adalah Afif suaminya Alizha.


Tak lama kemudian pesanannya pun selesai dan ia kembali pulang.


Flashback Off*.


'Sebenarnya tidak sebaik yang aku katakan Mas,' batin Alizha.


"Lalu bagaimana dengan kabar hati Mas Vino sendiri? Apakah sudah menemukan tambatan hati yang baru sekarang?" tanya Alizha.


"Hati saya? Hati saya sedang sakit Zha," ucap Vino sambil mengaduk minumannya. "Ah tidak-tidak lebih tepatnya hancur." kata-kata Vino seperti menyindir.


"Mas harus bisa bangkit kembali. Saya yakin pasti Mas akan menemukan orang yang lebih baik," jawab Alizha yang sadar akan dimaksud dengan ucapan Vino tadi, ucapannya mengarah pada diri Alizha.


"Kalau saya inget tentang kita, apalagi disaat kejadian indah itu rasanya ingin sekali memutar waktu untuk yang kedua kalinya," ucap Vino sambil melamun membayangkan kenangan yang lama bersama Alizha dahulu.


"Kisah kita dahulu memang benar-benar tak bisa terlupakan. Namun akan selalu saya ingat dan saya kenang," ucap Alizha.


"Tapi kini kita telah berbeda jalan dan tak setujuan. Sudah saatnya kita berdiri sendiri dan terus bangkit untuk kehidupan kita agar lebih maju. Tinggalkan masalalu dan pikirkanlah masadepan. Buanglah perasaan dari masalalu," ucap Alizha yang mendadak puitis dan sebenarnya ucapan itu adalah sebuah kode agar Vino dapat melupakan perasaan padanya. Karena kini dirinya telah mencintai Afif suaminya.


Bukan seberapa cepat ia melupakan cinta Vino dan bukannya dulu ia tak mencintai Vino, tapi itu memang sudah menjadi keharusannya untuk mencintai suaminya sendiri. Bahkan menghormatinya. Memang di awal ia tak mencintai Afif sebelum menjadi suaminya, tapi setelah menjadi suami sahnya ia mulai mencintai Afif.


'Bagaimana saya bisa membuang perasaan, lantas dirimu selalu dalam ingatan,' batin Vino.


"Baiklah mulai saat ini saya akan tinggalkan masalalu dan memulai lembaran yang baru," sahut Vino semangat. Tapi sebenarnya jauh sekali jauh didalam lubuk hati kecil Vino yang terdalam masih menyimpan rasa pada Alizha. Orang yang sudah ia cintai bertahun-tahun, apalagi cinta itu adalah cinta pertama yang pernah dirasakan olehnya.

__ADS_1


Setelah berbincang-bincang dan makan siang mereka berdua kembali kepada pekerjaannya masing-masing.


Ada sedikit rasa lega yang dirasakan oleh Alizha sekarang. Setidaknya dengan berbicara dan mengucapkan uneg-unegnya, kini rasa bersalahnya telah meninggalkan Vino berkurang.


__ADS_2