
Hari ini di pagi yang cerah, hati pun juga cerah secerah cahaya matahari yang menyinari bumi. Tampak bahagia pada raut wajah sepasang suami istri tersebut, mereka makan di meja makan dengan penuh khidmat dan sering kali melontarkan candaan. Suasana seperti inilah yang diharapkan oleh sebuah keluarga.
Sungguh Alizha sangat bahagia bisa seperti ini dengan Afif. Alizha berharap semoga ia dan suaminya bisa seperti ini seterusnya.
"Sekarang hari apa sayang? Mas lupa," ucap Afif sebelum meneguk air minumnya.
"Hari kamis. Kenapa memangnya?" jawab Alizha heran.
"Miss you too," sahut Afif sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Ih Mas bisa aja," ucap Alizha yang pipinya sudah blushing.
"Cie merah cie pipinya," goda Afif sambil mencoel hidung Alizha yang kebetulan duduk di depannya.
"Mas ih udah," ucap Alizha seraya mencubit tangan Afif yang berada di atas meja makan.
"Hehe iya iya."
"Alizha mau beresin ini, Mas bisa berangkat dulu," ucap Alizha sembari sibuk membereskan piring-piring.
"Mas mau ikut beresin ini aja, bantuin kamu," ucap Afif sambil ikut mengambil piring di atas meja.
"Eh gausah Mas, udah Mas berangkat dulu aja nanti terlambat loh," cegah Alizha.
"Udah gapapa kok," ucap Afif sambil mengambil piring yang sudah berada di tangan Alizha.
"Gausah Mas," rebut Alizha.
"Gapapa sini in piringnya biar Mas yang bawa." rebut Afif sekali lagi.
"Mas nanti pecah," sahut Alizha seraya merebut kembali piringnya.
"Hehe kamu sih. Yaudah kalau gitu Mas tunggu di depan aja ya. Hari ini kamu biar Mas yang antar ke kantor."
"Ok siap ndan." ucap Alizha dengan gaya hormat ala-ala polisi, sedangkan piring yang dibawanya hampir terjatuh.
"Ehhh," ucap mereka bersamaan ketika piringnya hampir lolos dari genggaman tangan Alizha.
"Hahaha. Udah sana beresin," ucap Afif tertawa sambil mengelus puncak kepala Alizha. Lebih tepatnya mengacak-ngacak jilbab yang Alizha kenakan.
"Awas kamu Mas," ancam Alizha sambil tertawa.
Alizha pun pergi membersihkan piring-piring kotornya. Sedangkan Afif menunggu istrinya di depan sambil menyiapkan mobil untuk berangkat kerja sekaligus mengantar istrinya.
"Ayo," ajak Afif sembari menggandeng tangan Alizha.
"Eh sebentar," ucap Alizha menghentikan langkahnya.
"Kenapa? Ada yang ketinggalan?" tanya Afif.
"Tidak ada, sini Mas ngedeket," jawab Alizha sambil berjinjit merapikan dasi dan kemeja Afif yang berantakan.
"Sudah," ucap Alizha.
"Terima kasih," ucap Afif tersenyum lebar. Kemudian mereka berdua masuk kedalam mobil. Sebelum itu Alizha dibukakan pintu mobilnya oleh Afif bak seorang ratu. Sungguh sangatlah romantis perlakuan Afif kali ini.
Butuh sekitar kurang lebih 20 menit mobil Afif sampai di depan kantor Alizha. Tak lupa Afif kembali membukakan pintu mobilnya untuk Alizha.
"Loh mas? Mau kemana?" tanya Alizha hendak keluar dari mobil.
"Tunggu dulu, biar Mas yang bukain pintunya," ucap Afif turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Alizha.
"Terima kasih," ucap Alizha tersenyum.
"Sama-sama. Nanti kalau udah pulang, kasih kabar ke Mas ya? Biar Mas jemput," ucap Afif seraya mengacak puncak kepala Alizha sehingga membuat jilbabnya agak berantakan.
"Iya Mas nanti aku kabarin. Kamu mah sukanya gitu, berantakan kan jadinya jilbab aku sekarang," ucap Alizha seraya merapikan jilbabnya dengan mengaca pada spion mobil Afif.
"Hehe maaf. Ingat ya nanti kalau ada yang mau ngajak kamu bareng pulang, jangan mau! Biar Mas aja yang jemput," ucap Afif.
"Iya Mas iya. Udah kamu berangkat gih nanti telat lagi," jawab Alizha.
"Iya udah."
"Assalamu'alaikum," ucap Alizha seraya mencium punggung tangan suaminya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Afif kemudian pergi meninggalkan Alizha untuk bekerja.
Saat mobil Afif sudah tak lagi terlihat, Alizha pergi ke dalam kantor dan mulai melakukan aktivitasnya untuk bekerja. Langkah demi langkah rasanya sangat ringan layaknya tak ada beban seperti kemarin-kemarin. Senyuman di bibirnya mengembang terus sepanjang ia berjalan. Hingga banyak orang yang melihat Alizha tersenyum jadi ikut tersenyum juga.
"Pagi Mbak Alizha," sapa resepsionist dengan sopannya yang berada di lobi.
__ADS_1
"Iya pagi," jawab Alizha tersenyum ramah.
Ruangan Alizha berada di lantai dua, sehingga ia harus menggunakan lift untuk pergi kesana. Baru saja ia memencet tombol liftnya dan hendak akan melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift, seseorang langsung mengikutinya masuk juga ke dalam lift.
"Eh Mas Vino. Assalamu'alaikum," ucap Alizha sopan sambil tersenyum lalu masuk kedalam lift dan liftnya pun berjalan.
"Wa'alaikumussalam. Oh ya maaf untuk soal yang kemarin," ucap Vino merasa bersalah.
"Seharusnya saya yang minta maaf, gara-gara saya Mas Vino jadi dipukuli sama suami saya. Atas nama suami saya, saya mohon maaf."
"Ah iya tidak apa-apa."
"Bagaimana keadaan Mas Vino?"
"Alhamdulillah saya baik Zha."
"Yasudah alhamdulillah kalau gitu."
"Iya."
Ting
Pintu lift pun terbuka.
"Saya keruangan saya dulu, mari," ucap Alizha.
"Iya Zha," jawab Vino.
Alizha dan Vino pun melaksanakan pekerjaannya masing-masing diruangannya sendiri. Hari ini ada rapat penting dengan klien untuk membahas kerja sama perusahaan. Otomatis Alizha harus ikut serta di dalamnya karena ia seorang sekretaris diperusahaan ini. Dan untuk tempatnya mereka meeting di luar perusahaan, lebih tepatnya di kafe pada waktu jam kerja selesai.
Sebenarnya Alizha agak takut keluar dengan Vino. Memang nantinya mereka tidak akan berdua, tetapi pada waktu perjalanan mereka akan berdua ditambah lagi nanti jika harus menunggu klien datang karena seringkali tidak tepat waktu. Untuk menjaga-jaga bila nanti ada kesalahpahaman lagi di antara mereka berdua, Alizha memutuskan untuk memberitahu Afif suaminya. Ya, memang ini sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang karyawan diperusahaan, tetapi karena masalah kemarin ia menjadi agak takut untuk keluar bersama Vino.
'Aku harus memberitahu Mas Afif dulu tentang meeting di luar jam kerja biar tidak ada kesalahpahaman lagi,' batin Alizha.
To : Mas Afif
Assalamu'alaikum..
Mas nanti aku ada meeting diluar kantor dan diluar jam kerja bersama Pak Vino, aku cuma mau minta izin saja kepada Mas agar tidak menjadi salah paham lagi nanti. Tetapi ini juga sudah menjadi tanggung jawab aku sebagai karyawan.
Send. [09.30]
Wa'alaikumussalam, iya tidak apa-apa.
[09.34]
Iya Mas, nanti meetingnya akan bertemu dengan banyak **klien kok**.
Send. [09.34]
Read ✅ [09.35]
Setelah mengirim pesan kepada suaminya, Alizha kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Tak begitu terasa jam sudah menunjukkan 11.30 adzan dhuhur sudah berbunyi. Alizha segera menunaikan ibadah sholat dhuzur terlebih dahulu diruangannya yang memang setiap harinya ia selalu membawa mukenah di dalam tasnya.
Setelah itu Alizha pergi menemui Vino di dalam ruangan Vino. Ia akan memberitahu dan menyiapkan berkas-berkas untuk bahan meetingnya.
Tok Tok Tok
Diketuklah pintu ruangan Vino yang tertutup.
"Masuk." suara Vino terdengar dari dalam.
"Selamat siang Pak, semua bahan untuk meetingnya sudah siap. Mobilnya juga sudah disiapkan. Mungkin Bapak bisa memeriksanya barangkali ada yang kurang," ucap Alizha yang sudah membawa berkas-berkas dan disodorkan ke meja Vino.
"Baiklah, saya akan periksa semuanya. Nanti jam berapa kita meeting?" ucap Vino seraya berdiri sambil menutup kancing jasnya.
"Nanti selesai jam kerja Pak. Karena klien nya minta bertemu pada saat diluar jam kerja di Cafe Blue," jawab Alizha.
"Yasudah kamu boleh balik keruangan. Apa kamu mau bareng saya ke kantin? Untuk makan siang?" ucap Vino sambil menawarkan ajakan.
"Tidak usah Pak, terima kasih. Kebetulan saya bawa bekal sendiri tadi dari rumah."
"Oh yasudah," ucap Vino sambil berlalu keluar dari ruangannya menuju kantin.
Waktu terus berputar hingga pukul 16.00 WIB telah tiba, jam kerja telah selesai. Para karyawan dan staf-staf lainnya pulang. Lain halnya dengan Alizha dan Vino, mereka sibuk mempersiapkan berkas-berkas untuk meeting yang akan dilaksanakan. Kini mereka berdua berada dalam mobil Vino, suasananya sangat canggung bahkan tidak ada yang memulai percakapan diantara mereka berdua. Hingga mobil Vino telah sampai pada Cafe Blue yang dituju.
Sesampainya disana mereka duduk ditempat yang sudah dipesan khusus untuk meeting. Alizha sibuk mempersiapkan bahan-bahan untuk meeting kali ini. Sedangkan Vino sibuk sendiri dengan ponselnya. Klien yang ditunggu-tunggu belum datang juga, padahal sudah hampir 15 menit mereka menunggu.
Tak lama kemudian seorang lelaki separuh baya bersama dengan seorang perempuan yang sepertinya sebagai sekretarisnya berpakaian kantor rapi menghampiri Alizha dan Vino.
__ADS_1
"Selamat sore," sapa lelaki tersebut sambil berjabat tangan kepada Vino.
"Selamat sore;" ucap Vino seraya berdiri.
"Selamat sore," ucap Alizha dengan menangkupkan kedua tangan didepan dada, sedangkan untuk perempuannya ia berjabat tangan.
"Mari, silahkan duduk." Alizha mempersilahkan dengan ramah.
"Terima kasih."
"Langsung saja kita mulai meeting nya bagaimana? Sebentar lagi pesanan juga akan segera datang," ucap Vino memulai.
"Baiklah," ucap Klien tersebut.
Mereka berempat pun melaksanakan meeting nya dengan lancar, bisnis kerjasama nya juga berhasil. Setelah para Klien nya menyantap hidangannya mereka pulang. Sedangkan Alizha dan Vino masih berada di Cafe.
"Terima kasih untuk kerja keras kamu," ucap Vino kepada Alizha.
"Sama-sama Mas, ini juga sudah menjadi kewajiban saya sebagai sekretaris di perusahaan Mas," jawab Alizha.
"Sudah hampir malam, kamu mau saya antar pulang?" tawar Vino.
"Tidak usah Mas, saya nanti di jemput suami," jawab Alizha sambil tersenyum.
Hati Vino seakan-akan tersayat secara perlahan. Saat mendengar Alizha mengatakan 'suami' rasanya ia tak rela. Tapi apalah daya, Vino hanyalah masalalu Alizha. Dengan tegar ia berusaha siap menerima kenyataan.
"Ya sudah saya pulang dulu. Terima kasih atas waktunya. Kamu hati-hati," ucap Vino seraya berdiri dan berlalu meninggalkan Alizha yang masih di dalam Cafe.
"Iya Mas juga hati-hati."
Dengan buru-buru Alizha mengirimkan pesan kepada suaminya. Tak butuh waktu lama bahkan Afif langsung membalas pesan Alizha dan akan segera menjemputnya.
Alizha menunggu kedatangan Afif di depan Cafe, lalu terlihatlah mobil Afif nerhenti tepat di depannya. Kemudian Alizha masuk dan pulang bersama suaminya.
Mobil Afif akhirnya sampai di depan rumah mereka. Mereka masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan terus hingga menuju kamar. Tak henti-hentinya Alizha berucap syukur di dalam hatinya karena suaminya telah berubah menjadi baik terhadapnya.
Sesampainya di rumah, Afif dan Alizha membersihkan badan dan berganti pakaian.
Hari sudah berganti malam, banyak bintang-bintang bertaburan di langit yang menghiasi angkasa. Bulan bersinar terang menyinari malam yang gelap.
Dibawa jutaan bintang yang berkerlap-kerlip dua insan tengah duduk di taman berdua.
"Zha," panggil Afif.
Alizha pun menoleh ke arah Afif setelah menikmati bintang di langit. "Ada apa Mas?"
"Mau bernyanyi? Suasananya pas buat nyanyi berdua sama kamu. Romantis."
"Boleh," jawab Alizha dengan tersenyum.
Dengan nada indah nan romantisnya mereka menikmati indahnya malam dengan alunan gitar yang tengah dimainkan oleh Afif. Begitu romantisnya mereka berdua bernyanyi bersama.
*Keanggunan yang terpancar darimu.. muslimah..
Ketegasan jiwamu bak perisai nan indah
Kau hadirkan pesona penuh berbalut takwa
Laksana surga di dunia
Keteguhan hatimu oh wanita muslimah
Ketangguhan dirimu yang terbingkai sholehah
Perhiasan dunia tunduk pada yang Kuasa
Sejukmu menentramkan jiwa
Reff:
Engkau wanita syurga bidadari dunia
Kehormatan kau jaga dengan penuh cinta
Engkau wanita syurga
bak permata berharga
berbinar indah dalam kesucian jiwa*
Betapa indahnya malam ini. Alizha dan Afif bernyanyi saling menatap satu sama lain, sedangkan tangan Afif juga fokus bermain terhadap gitarnya. Tak henti-hentinya mereka berdua tersenyum.
__ADS_1
Saat lagu sudah selesai, Afif langsung mendekatkan dirinya kepada Alizha dan langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat. Alizha hanya mengikutinya dan mendekap di dalam pelukan suaminya. Dada Afif yang hangat, bau parfum khasnya yang harum membuat Alizha selalu nyaman. Hanya berada dipelukannya Alizha merasa tentram dan bahagia. Ternyata bahagia sesederhana itu.