Demi Tuhan, Aku Ikhlas

Demi Tuhan, Aku Ikhlas
Hati yang Rapuh


__ADS_3

"Zha, hari ini aku langsung berangkat jadi gak sempat sarapan," ucap Afif sambil tergesa-gesa membenarkan kancing bajunya.


Alizha yang sedang sibuk memasak langsung mendekatkan dirinya pada Afif seraya membenarkan kancing baju suaminya. "Oh yaudah Mas nanti Alizha bawain bekal ya? Em atau sekarang saja aku siapin bekalnya?"


"Tidak usah, nanti Mas beli makan di luar saja," jawab Afif seraya mengambil tas kerjanya yang berada di meja rias sebelah Alizha berdiri.


"Mas buru-buru banget ya?" tanya Alizha dengan sedikit kecewa. Sudah capek-capek memasakkan suaminya makanan, malah tidak disentuh sama sekali.


"Iya, Mas ada jadwal operasi pagi ini. Mas berangkat," ucap Afif terburu-buru. Baru saja Alizha ingin mencium punggung tangan suaminya, Afif malah langsung pergi begitu saja.


Alizha mengikutinya dari belakang dan memandangi mobil suaminya yang sudah keluar dari halaman rumahnya.


"Apa nanti siang aku kirimin bekal aja ya? Yaudah deh biar Mas Afif gak makan masakan luar," ucap Alizha sendiri.


****


Di dalam mobil Afif tampak buru-buru, di tengah perjalanan mobilnya berhenti di depan toko bunga. Kemudian Afif keluar dan kembali dengan membawa sebuket bunga mawar merah yang indah. Dengan senyuman merekah, dan sesekali ia mencium aroma bunga mawar yang baru saja ia beli.


Tak lama kemudian mobilnya sampai di depan rumah sakit. Dengan langkah bahagia dan senyuman sambil membawa sebuket bunga.


"Hai selamat pagi sayang," ucap Afif bahagia pada Karla yang tengah duduk di tepi ranjangnya.


Karla lantas langsung menoleh pada sumber suara dan langsung berlari memeluk Afif "I miss you so much."


"I miss you too darling," sahut Afif seraya mengelus puncak kepala Karla.


"Aku kira kamu gak bakalan datang jemput aku," ucap Karla sambil memanyunkan bibirnya.


"Udah siap pulang sayang?" tanya Afif semangat sambil menghelai rambut karla dengan lembut.


"Udah, ayo aku juga udah kangen sama makanan luar. Bosen sama makanan rumah sakit mulu, hehe," ucap Karla mengode Afif.


"Em kayaknya ada yang ngode deh, siapa ya?" goda Afif.


"Makan ya? Di restoran favorit?" pinta Karla.


"Iya nanti kita mampir di restoran biasanya," jawab Afif seraya membawakan barang-barang milik Karla menuju mobilnya. Sedangkan Karla hanya berjalan di samping Afif.


Dalam sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Karla bermanjaan dengan Afif di sampingnya yang sedang mengemudi. Afif hanya meresponnya dengan senyuman dan fokus terhadap kendaranya.


"Masih pagi, restorannya masih belum buka," ucap Afif.


"Oh iya ya, terus aku gimana?"


"Ya kita pulang aja sayang."


"Em yaudah."


Mobil Afif pun sampai di depan apartemen Karla. Kemudian Afif membawakan barang-barang Karla menuju apartemennya.


Sesampainya di dalam apartemen, Karla langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Sedangkan Afif sibuk membereskan barang-barang milik Karla, bahkan Afif membuatkan teh hangat untuk Karla.


"Di minum sekarang, kalau nanti keburu dingin," ucap Afif sambil memberikan secangkir teh hangat kepada Karla.


"Terima kasih," ucap Karla dengan tersenyum.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 hari sudah siang. Mereka berdua pun memutudkan untuk pergi ke tempat restorannyang ingin di kunjungi Karla.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka telah sampai pada restoran favorit Karla karena jarak dari apartemen dengan restoran tidak jauh.


Karla dan Afif langsung memesan makanan dan minuman. Kemudian pesanan mereka telah terhidangkan di atas meja, dengan sangat lahap Karla memakan makanannya. Afif hanya tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya, dalam hati Afif memakluminya karena sudah berhari-hari hanya memakan masakan rumah sakit yang rasanya hambar hampir tak ada rasa karena makanan yang diberikan adalah makanan sehat.


"Habis ini kamu pulang terus langsung istirahat ya? Aku gak mau kalau kamu sakit lagi," ucap Afif sambil mengaduk-ngaduk minumannya.

__ADS_1


"Kenapa harus langsung pulang? Kita baru aja ketemu, masa langsung kamu suruh pulang," ucap Karla kecewa karena ia masih ingin berlama-lama dengan Afif.


"Kamu baru aja keluar dari rumah sakit, masa iya kamu udah langsung main lama-lama? Istirahat di rumah aja ya sayang?" bujuk Afif.


"Hari ini kamu kerja?" tanya Karla.


"Sebenarnya hari ini aku jadwal pagi, cuma aku ambil cuti buat kamu," jawab Afif.


"Berarti hari ini kamu bakalan nemenin aku seharian kan? Tadi kamu ngomong ke istri kamu apa?"


"Aku bilang kalau pagi ini aku ada jadwal operasi," jawab Afif dengan mudahnya.


Dari ucapan Afif, Karla semakin percaya bahwa dirinya lah yang hanya di cintai Afif. Dalam hati Karla ia semakin keras ingin memiliki Afif dan lebih tepatnya ingin merebut Afif dari istrinya. Apapun itu, Afif hanyalah miliknya sampai kapanpun.


"Makin sayang deh sama kamu," ucap Karla manja sambil menggenggam tangan Afif.


.


.


.


.


.


(Alizha POV)


Di sisi lain, Alizha sibuk menyiapkan bekal makanan untuk suaminya. Semua makanan ia taruh pada tepak makan. Serasa semua makanan telah siap, ia pun mengambil tas selempangnya dan juga tidak lupa ia mengambil kunci sepeda motornya.


Ia terburu-buru mengendarai motornya menuju rumah sakit tempat suaminya bekerja. Lantasan karena jam makan siang sebentar lagi, ia tak mau ketinggalan jam makan siang suaminya. Dengan laju motor yang lumayan cepat, ia berusaha menyalip motor dan mobil lainnya.


Hampir 10 menit ia mengendarai motornya, akhirnya ia telah sampai juga di depan rumah sakit. Setelah memarkirkan sepeda motornya, Alizha berlari menuju ruangan Afif suaminya sambil membawa paper bag yang berisi bekal makanan.


Saat pintu telah terbuka seluruhnya Alizha tidak mendapati keberadaan suaminya, ia malah mendapati seorang cleaning service yang tengah membersihkan debu-debu di kaca jendela. Di lihatlah seluruh ruangan tersebut oleh Alizha, ruangannya masih rapi dan tidak ada satupun yang berantakan.


"Maaf, Mbak nyari siapa ya?" tanya Cleaning Service tersebut.


"Dokter Afifnya ada?" tanyaku balik.


"Oh Dokter Afif? Hari ini beliau katanya sedang cuti. Sebelumnya saya minta maaf, Mbak ini siapa ya? Maklum saya orang baru."


"Cuti?" tanyaku terkejut mendengar pertanyaannya.


"Iya Mbak."


'Kenapa Mas Afif berbohong padaku tadi? Kemana sebenarnya Mas Afif pergi? Apa aku perlu menjawab pertanyaan orang itu? Kalau aku jawab aku ini istrinya, kenapa aku sendiri tidak tahu keberadaan suamiku,' batinku.


"Oh kalau begitu terima kasih, saya permisi," ucapku seraya pergi meninggalkan ruangan Mas Afif.


Dadaku terasa sesak, mataku sudah mulai berkaca-kaca. Hatiku merasa tersakiti, aku kecewa. Tapi aku tahan semua rasa itu, akh berusaha berpikir posifif dan menenangkan diriku agar ego tidak menguasaiku.


"Mungkin Mas Afif ada alasan lain. Gak boleh kecewa, gak boleh marah, gak boleh nangis. Jangan biarkan ego menguasai diri, Alizha kan wanita kuat," ucapku sendiri berusaha menguatkan diri sendiri. Kalimat seperti itulah yang selalu di ucapkan Bunda di kala Aku sedang terpuruk.


Mengucapkan kalimat itu membuat Aku teringat pada Bunda, Aku sangat merindukan keluargaku. Sudah lama tak berkunjung ke rumah Bunda. Aku jadi teringat akan makanan favorit Bunda. Daripada bersedih hati, lebih baik Aku menemui Bunda dan membawakan buah tangan. Kemudian Aku memutuskan mampir terlebih dahulu ke restoran terdekat yang menjual makanan favorit Bunda.


Sesampainya di depan restoran, Aku memarkirkan motor dan masuk ke dalam untuk memesan makanan. Tak butuh waktu lama pesananku pun selesai. Se box pizza telah aku terima dan kubayar.


Saat hendak ke luar restoran, tiba-tiba tanpa sengaja bahuku tertabrak seorang wanita.


Brukk...


"Aduh Mbak, jalan tuh pake mata dong," ucap wanita tersebut.

__ADS_1


Sontak Aku kaget, dan yang lebih mengagetkannya lagi adalah laki-laki yang bersama wanita tersebut berhasil membuat hatiku semakin sakit.


"Maaf Mbak, dimana-mana jalan itu pakai kaki dan mata untuk melihat bukan untuk jalan," jawabku sambil melirik ke arah Mas Afif seraya menghapus air mata di pipiku yang lolos begitu saja.


Afif hanya diam tak bisa berkutik. Hari ini ia tamat riwayatnya. Kebohongannya telah tertangkap basah. Tapi Afif hanya bersikap acuh terhadap keadaan ini.


"Ayo sayang kita pergi," ucap wanita itu sinis seraya menggandeng tangan Mas Afif dengan mudahnya. Dan yang lebih parahnya lagi, mas Afif terlihat fine-fine saja diperlakukan seperti itu.


Aku yang melihatnya tidak berdaya. Hatiku hancur. Remuk berkeping-keping. Dadaku sesak. Air mataku pun lolos jatuh begitu saja semakin deras. Rasanya sudah tak kuat aku menampung rasa sakit ini. Sungguh perasaanku merasa terkhianati. Lukaku semakin dalam, makin sakit dan tersayat-sayat. Perih, sangat perih.


'Kenapa aku malah diam saja? Bukankah seharusnya aku melawan? Harusnya aku tidak tinggal diam.' baru terpikir di benak Alizha, ia tidak sehebat itu dalam menahan rasa cemburunya. Dengan langkah cepat ia berlari menghampiri Afif dan Karla yang tengah berjalan menuju mobilnya.


Alizha langsung menarik pergelangan tangan Afif hingga membuatnya menoleh.


"Mas Afif."


"Kamu ini apa-apaan sih? Kamu siapa?!" bentak Karla tak terima.


"Saya siapa? Bukankah saya yang seharusnya bertanya pada Mbak ini siapa? Saya istrinya Mas Afif, istri sah nya. Ada hubungan apa Mbak dengan suami saya?!" sahutku tak terima seraya menangis.


"Mas, kamu ini kenapa? Kenapa Mas tega melakukan ini sama aku? Kenapa Mas? Mas, Alizha gak suka sama kelakuan Mas Afif yang kaya gini." ucapku sambil sesekali menghapus air mata.


Afif hendak bicara, tetapi Karla langsung menyahutnya. "Oh jadi kamu istrinya Mas Afif? Pantesan Mas Afifnya gak betah dan lebih pilih saya," ucap Karla dengan sombongnya.


"Maksudnya Mbak apa ya?"


"Lihat penampilan kamu, masih muda udah kaya mak-mak aja haha," ejek wanita tersebut sambil melihat penampilan Alizha yang mengenakan gamis panjang dan jilbab lebar.


"Karla," sahut Afif.


"Oh jadi kamu namanya Karla? Terserah apa kata Mbak. Yang penting sekarang, tolong kembalikan suami saya. Ini suami saya. Saya istrinya berhak atas suami saya." mohonku pada Karla.


"Zha, udah kamu pulang!" ucap Mas Afif kasar.


"Mas yang seharusnya pulang sama Alizha," jawabku.


"Biarkan aku pergi bersama Karla. Kau pulanglah!"


"Mas ini semua tidak lucu."


"Iya, memang ini tidak lucu. Siapa bilang ini lucu? Sudahlah kau pulang, aku ingin bersenang-senang. Jangan ganggu kebahagianku."


"Lantas apa yang telah Mas perbuat pada Alizha sekarang ini? Bukankah Mas malah membuat kebahagiaan Alizha hancur?" ucapku.


"Kumohon Mas jangan seperti ini. Kita pulang bersama-sama. Aku ini istrinya Mas Afif, bukan wanita itu. Kenapa Mas lebih memilih dia dibandingkan dengan istri Mas sendiri?" mohonku hingga rela bersujud di kaki suamiku, tak peduli siapa dan seberapa banyak orang yang tengah melihatiku. Aku hanya ingin suamiku kembali dan sadar atas perbuatannya.


"Aku mencintai Karla." hanya tiga kata yang keluar dari mulut Mas Afif tapi mampu menghancurkan hatiku semakin dalam dan jatuh berkeping-keping.


Dunia ini rasanya terhenti saat seseorang yang telah kucintai ternyata menduakanku dan memilih pergi bersama kekasihnya. Kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup memang berat. Semakin besar keterikatan padanya, semakin besar pula kesedihan yang akan dirasakan.


"Sudah cukup!" bentakan itu menghentikan tangisanku, disini aku kecewa sungguh sangat kecewa terhadap sikapnya yang begitu buruk.


"Biarkan aku pergi bersama kekasihku. Kau tak berhak melarangku!" ucapannya yang meninggi tersebut berhasil membuatku mematung dan tak bisa lagi mencegah kepergiannya.


"Alizha ingin tahu kenapa Mas tega membohongi Alizha? Padahal Mas sedang pergi bersama wanita lain yang bukan mahrom Mas. Apakah tidak ada sedikit ruang dihati Mas untuk Alizha?"


"Aku tidak pernah mencintaimu, tidak akan pernah!" Dadaku sesak seperti tak bisa bernafas dan tidak bisa bergerak sedikitpun. Kata itu sangat menyayat hatiku bagiku sangatlah menyakitkan.


Orang yang telah kucintai, ternyata tidak mencintaiku selama ini. Dan orang yang telah aku percayai selama ini, ternyata berani berkhianat di depan mataku sendiri. Perasaanku disini hancur berkeping-keping bagaikan kaca yang terpecah. Disisi lain, aku belajar ikhlas menerima semua ini.


Demi Tuhan, sungguh berat aku lalui. Tanpa kamu dan bersamamu.


Demi Tuhan, aku disini patah hati. Tak bisa aku menerima kepergianmu.

__ADS_1


__ADS_2