
Pukul 12.00, waktunya jam istirahat makan siang. Afif langsung bergegas keluar rumah sakit untuk menemui kekasihnya Karla menggunakan mobil miliknya.
Butuh sekitar 10 menit untuk sampai di sebuah cafe yang menjadi tempat pertemuannya karena jalanan lumayan macet. Sesampainya disana ia memarkirkan mobilnya dan langsung terburu-buru masuk ke dalam cafe lantaran ia sudah telat 10 menit.
Saat memasuki cafe, matanya menyapu seluruh penjuru ruangan di cafe untuk mencari seseorang. Setelahnya ia mendapati seorang perempuan yang tengah duduk sendirian di ujung dekat jendela dan ia langsung menghampirinya.
"Hai sayang," ucap Karla seraya berdiri dan langsung memeluk tubuh Afif dengan erat.
"Kar, lepasin ini tempat umum gak enak di lihatin banyak orang," ucap Afif sambil melepaskan pelukan Karla.
"Hehe maaf ya, betapa kangennya aku sama kamu."
"Udah lama nungguin ya? Maaf ya sayang," ucap Afif seraya memegang tangan Karla.
"Gak pa-pa. Aku tahu kalau kamu sibuk, apalagi kita kan sama-sama seorang dokter."
"Sekarang kita duduk dan kamu jelasin semuanya ke aku," ucap Afif.
"Langsung banget nih?" goda Karla. Sedangkan Afif hanya mengangguk.
"Aku pesanin sesuatu dulu ya. Kamu belum makan kan?" tawar Karla.
"Mbak," ucap Karla sambil melambaikan tangannya ke atas kepada pelayan yang kebetulan lewat di sampingnya.
"Iya mbak? Mau pesan apa?" ucap pelayan tersebut sambil memberikan daftar menunya.
"Saya pesan Nasi goreng sama kue brownis coklat, dua. Terus minumannya lemon tea, dua."
"Baik mbak. Mohon di tunggu sebentar ya."
"Iya."
Kemudian Karla dan Afif menunggu pesanan mereka datang terlebih dahulu.
Tak lama kemudian pesanan mereka pun telah datang dan sudah terhidangkan di depan mata.
"Makan dulu yuk sayang," ucap Karla dengan penuh kelembutan. Mereka pun menyantap makanannya masing-masing. Dan kebetulan perut Afif juga sudah lapar sedari tadi karena belum memakan apapun. Bekal yang dibawakan istrinya tadi siang pun terjatuh dan tak ada yang bisa di makan lagi.
Setelah makanan mereka habis, kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan yang sedari tadi tertunda.
"Bisa kau jelaskan semuanya?" tanya Afif.
"Baiklah. Kau mungkin bertanya-tanya, kenapa aku menghilang? Kenapa aku tak mengabarimu? Kenapa aku baru muncul sekarang? Hm?" tebak Karla.
__ADS_1
"Iya," jawab Afif mengangguk.
"Maaf kan aku selama kurang lebih satu bulan ini menghilang, karena aku pergi ke Singapura untuk mengurus Mamiku yang sakit disana."
"Lantas mengapa kau tak mengabariku selama ini? Aku, kamu anggap apa selama ini Karla?" tanya Afif dengan nada kecewanya.
"Ponselku waktu itu rusak, sekalian aku mau fokus rawat Mamiku dulu. Jadi aku tak mau mengabarimu, apalagi nanti kau pasti cemas sayang."
"Bagaimana kabar Mamimu sekarang?"
"Dia sudah membaik, ada Papi yang menjaganya di sana."
"Kapan kau mulai bekerja kembali, hm?" tanya Afif seraya menggenggam kedua tangan Karla. Sedangkan Karla menikmati sentuhan kekasihnya tersebut sambil tersenyum senang.
"Aku sudah tak bekerja di rumah sakit itu lagi. Aku bekerja di klinik milik Pamanku," jawabnya.
"Kenapa? aku bakalan kesepian gak ada kamu setiap harinya," ucap Afif.
"Ish kamu kok ngegemesin gitu sih, ya kan nanti bisa ketemuan. Lagi pula aku pindah juga mau bantuin Paman, kasihan sendirian."
"Hmm ya gapapa lah."
Afif lega rasanya mendengar semua penjelasan yang telah di jelaskan oleh Karla. Kini perasaannya sudah tak ada beban lagi. Tapi di sisi lain Afif juga cemas untuk apa yang dikatakannya nanti. Ia takut Karla akan kecewa dan sedih. Ia tak mau membuat orang yang dicintainya bersedih. Tapi mau tidak mau harus dihadapi karena memang inilah kenyataannya, ia sudah menikah dengan orang lain yang bahkan tak ia cintai sama sekali.
Afif mulai gugup dengan suasananya, ia mengeratkan genggaman tangannya. Lalu ia menarik nafas dan membuangnya secara perhalan agar tidak gugup. Ia harus bisa menjelaskan semua yang terjadi pada dirinya.
"Iya?" jawab Karla masih dengan wajah bahagianya.
"Boleh aku bicara sesuatu? Tapi kumohon kamu jangan membenciku dan menjauhiku," ucap Afif sedikit gugup dan takut.
"Silahkan, kenapa aku harus menjauhimu dan membencimu? Hm? Aku tak akan meninggalkanmu, percayalah." jawab Karla dengan heran.
"Hmm...begini."
"Begini apa? jangan buat aku penasaran. Katakanlah sayang."
"Kalau aku sudah menikah apakah kau masih mencintaiku?" ucap Afif malah bertanya sebaliknya.
"Kenapa konyol sekali pertanyaanmu itu."
"A-aku sudah menikah," ucap Afif.
"APA?! Kau bercanda kan sayang?" jawab Karla tak percaya apa yang barusan Afif kekasihnya katakan.
__ADS_1
Karla pun melepaskan genggaman Afif dengan kasar. "Dengan siapa kau menikah? Bukannya kau sudah berjanji akan menikahiku Afif?!" ucap Karla dengan emosi.
Afif berusaha menenangkan Karla. "Tenanglah sayang, aku akan jelaskan ini semua padamu."
Karla yang sudah menaik emosinya sekaligus ia kecewa dengan Afif, ia langsung berdiri dari tempat duduknya dan berlari keluar dari cafe yang disinggahinya meninggalkan Afif begitu saja.
Afif pun ikut berlari mengejar Karla keluar. "AKU BISA JELASKAN!" teriak Afif sambil berlari. Ia sudah tidak perduli dengan banyak sorot mata yang memandangnya sekarang.
Karla berlari dengan menangis sesenggukan. Ia berlari menuju taman dekat cafe tadi. Dan memilih duduk di bangku taman sendirian.
"Kenapa kau tega Afif?" ucapnya bermonolog sendiri.
"Akan aku jelaskan. Dengarkan penjelasanku dulu," ucap Afif yang menyusulnya datang dari belakang.
"Kau? Kau tega hiks," ucap Karla sambil menangis dan memukul-mukul dada bidang Afif dengan kasar.
Afif langsung memeluk tubuh Karla. Ia tak tega melihat kekasihnya menangis apalagi ini semua akibatnya. "Sudahlah jangan menangis sayang."
Karla yang dipeluk Afif dengan tiba-tiba tidak merasa risih dan membiarkan dirinya dalam pelukan hangat. "Jelaskan semuanya."
Lalu Afif melepaskan pekukannya dengan pelan dan mulai menjelaskan. "Aku memang sudah menikah dengan orang lain, tapi percayalah cintaku hanya untukmu. Aku menikah bukan atas kemauanku sendiri, tapi itu semua adalah kemauan keluargaku. Aku di jodohkan oleh seorang perempuan yang sebelumnya sama sekali belum kenal dan satu lagi, aku tak akan pernah mencintainya."
Karla mendongakkan wajahnya kehadapan Afif. "Walaupun itu istrimu?" ucapnya datar.
"Iya. Percayalah aku hanya mencintaimu," ucap Afif seraya menggenggam tangan Karla.
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan janjimu yang dulu? Apakah masih berlaku untukku sekarang?" tanya Karla dengan penuh harapan.
"Iya benar. Kau akan jadi istriku sebentar lagi dan akan selalu kucintai."
"Kau akan ceraikan istrimu itu? Bagaimana kalau dia mengandung anakmu nanti? Aku tak mau dia hadir di kehidupan kita nanti."
"Ya, aku akan ceraikan istriku. Dan mustahil bagi dia hamil, karena dia belum kusentuh sama sekali," ucap Afif.
"Aku sekarang percaya padamu. Aku sangat mencintaimu," ucap Karla dengan wajah berseri lagi karena ia sudah berhenti menangis setelah mendengarkan penjelasan dari Afif tadi.
"Aku juga mencintaimu," jawab Afif seraya mencium kening Karla dengan lembut.
Afif menangkup pipi Karla dengan kedua tangannya romantis. "Sekarang kita pulang. Berhenti untuk menangis lagi, Ok?"
"Iya," jawab Karla sambil mengangguk patuh.
Mereka berdua pun kembali ke parkiran cafe tadi dan mengambil mobilnya. Sekarang mereka menuju jalannya masing-masing dan Afif kembali ke rumah sakit untuk bekerja. Bagaimanapun ia juga tidak akan meninggalkan kewajibannya sebagai seorang dokter begitu saja.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menuju ruangannya. Sambil menunggu pasien datang, ia memandangi foto kekasihnya di sebuah pigura kecil di dalam laci mejanya.
Ia memandangi foto Karla yang tersenyum lebar ke arah kamera. Ia pun ikut tersenyum memandanginya.