Demi Tuhan, Aku Ikhlas

Demi Tuhan, Aku Ikhlas
Bersedia


__ADS_3

Alizha terbangun ketika jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Kemudian ia pergi kekamar mandi untuk mengambil wudhu. Sudah menjadi kebiasaan Alizha untuk menunaikan sholat tahajud. Jarang sekali sekarang ada banyak orang yang mau menunaikannya. Ia sangat beruntung bisa menjadi salah satu orang yang dapat menunaikan sholat tahajud.


Sambil menunggu waktu shubuh ia lanjutkan dengan membaca ayat suci Al-Qur'an seperti biasanya. Di ambil sebuah Al-Qur'an kecil diatas nakas dan melanjutkan bacaannya.


Mentari kini sudah nampak. Bersinar terang dari ufuk timur. Menyambut pagi hari yang baru.


Selesai sholat shubuh ia membantu Bundanya didapur. Lalu datanglah Ayah dan Abangnya sepulang dari masjid.


"Assalamu'alaikum," ucap Ayah bersamaan dengan Adib.


"Wa'alaikumussalam," jawab Alizha.


"Dek mana Bundamu?" tanya Ayah.


"Bunda kekamar mandi," jawab Alizha.


"Hari ini mau masak apa nih? Masak yang enak ya, Abangmu mau kekamar dolo bye bye," ucap Adib sambil berjalan menuju kamarnya.


"Dasar," sahut Alizha.


Setelah menyiapkan sarapan, keluarga Alizha pun mulai menyantap hidangannya dengan penuh khidmat tanpa suara kecuali suara dentingan sendok dan piring yang berbunyi.


"Zha hari ini kamu free gak?" tanya Bunda.


"Iya Alizha lagi gak ada acara apapun, lagipula Alizha mau ngelamar pekerjaannya besok kok. Kok tumben Bunda tanya?" ucap Alizha.


"Em gini Zha, hari ini udah ada janjian makan malam sama keluarga calon kamu."


Deg


Jantung Alizha pun kaget.


"Ha-hari ini banget Bun?" tanya Alizha.


"Iya Zha. Kan nggak enak kalau dibatalin lagi pula keluarga mereka juga akan jadi keluarga kita kan?" goda Bunda yang membuat Alizha kesal, tapi Alizha tak menunjukkan rasa kesalnya pada Bundanya dan ia hanya membalas dengan senyum.


"Bun, apa gak bisa ya perjodohan itu kita batalkan saja? Alizha masih belum siap," ucap Alizha sedikit takut.


"Nak, insya Allah pilihan kami itu baik untukmu. Bahkan Bunda dengar calon suamimu itu taat beribadah loh dan juga dia seorang dokter, jadi udah pasti dia bakal bisa jagain kamu," jawab Bunda sambil meyakinkan Alizha.


"Dan insya Allah suamimu mampu menafkahi lahir dan batin, jadi percayalah," sahut Ayah yang tiba-tiba datang dan menyambar pembicaraan mereka berdua.

__ADS_1


"Baiklah Alizha bersedia menikah dengannya," ucap Alizha berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


****


Rumah Sakit Medika, pukul 06:30. Afif berjalan menyusuri koridor menuju ruang inap Oma nya. Kemudian Afif membuka perlahan knop pintunya. Disana sudah terdapat Mama dan Papanya yang menjaga Oma semalaman.


"Oma gimana udah baikan? Apa masih sakit? Pusing gak Oma?" tanya Afif khawatir.


"Oma udah mendingan kok Fif, kamu tenang aja gausah khawatir," jawab Oma pelan.


"Gimana Afif gak khawatir coba kalau Oma mendadak kambuh. Oma istirahat yang cukup aja terus banyakin makan buah biar badannya vit," ucap Afif.


"Mama sama Papa keluar dulu mau cari sarapan, kamu disini aja jagain Oma bentar," ucap Mama pada Afif. Kemudian berjalan meninggalkan ruangan dan menyisakan mereka berdua.


"Siap."


"Afif," panggil Oma.


"Iya?" jawab Afif seraya menoleh ke sumber suara.


"Oma mau minta sesuatu boleh?" ucap Oma.


"Oma mau minta apa?" tanya Afif. Sebenarnya Afif sudah was-was jika ingin dimintai tentang perjodohan itu lagi. Afif tak suka bila dijodohkan, ia ingin memeilih pasangan hidupnya sendiri dengan orang yang dicintai.


"Tapi-" ucapan Afif terpotong begitu saja saat Papanya kembali.


"Fif, kami mohon terimalah. Kamu gamau kan kalau Oma jatuh sakit lagi? Apalagi makin parah?" ucap Papa Aryo.


"Pa-" lagi-lagi ucapan Afif terpotong oleh Mamanya.


"Nak, percayalah pada kami. Kami sudah memilihkan mu insya Allah yang terbaik. Kasihan Oma mu sudah menginginkannya," ucap Mama.


"Kami sudah memberikan kesempatan padamu dulu, tapi kamu malah menerima kenyataan yang pahit. Dan sekarang kami tak mau melihatmu terpuruk setelah sekian lama. Kami ingin kamu bahagia dengan orang yang tepat," tutur Mama dengan sangat berharap bisa menerima perjodohan ini, ia sangat menanti-nantikan seorang istri yang baik untuk Afif.


"Bagaimana dengan nasib kekasih Afif sekarang? Afif pun masih mencintainya," ucap Afif dengan sedikit kesal.


"Kamu masih tidak percaya dengan kami semua?" tanya Papa.


"Afif tidak mengenal wanita yang akan dijodohkan denganku. Bahkan aku tidak mencintainya. Bagaimana bisa aku harus menikah dengan orang asing? Apakah kalian tidak memikirkan perasaan Afif?" ucap Afif tidak terima.


"Fif, gadis yang akan dijodohkan denganmu itu lebih baik daripada kekasihmu itu. Siapa? Karla? Ah iya itu dia. Cewek seperti itu yang kau banggakan? Ck! Papa kecewa sama kamu," ucap Papa marah karena kesal pada Afif.

__ADS_1


"Afif gak mau. Bisa gak Papa menghargai keputusan Afif?" jawab Afif.


Tiba-tiba...


Penyakit jantung Oma kambuh lagi karena mendengar bahwa Afif tak terima dengan perjodohannya. Semua yang berada diruangan panik. Terutama sang Mama sampai menangis dan teriak-teriak memanggil dokter.


Afif pun juga ikut panik dan merasa bersalah atas sikapnya tadi sehingga membuat sang Oma kambuh lagi. Jika terjadi apa-apa pada sang Oma, Afif tak akan pernah memaafkan dirinya seumur hidup.


Afif menyesal.


Kini dokter yang dipanggil pun telah datang lalu memeriksa keadaan Oma yang sedang kambuh diatas ranjang rumah sakit itu. Tercetak jelas raut wajah Afif yang khawatir melihat keadaan Omanya.


"Mohon untuk keluar terlebih dahulu. Kami akan memeriksa keadaan pasien," ucap seorang dokter bersama dengan susternya.


"Kamu puas udah buat Oma kambuh? Lihat Oma kamu sekarang. Mama tak habis pikir denganmu. Mama kecewa," ucap Mama pada Afif sambil menangis sesenggukan yang kini berada dipelukan sang Suami.


"Mah, maafin Afif. Afif gak bermaksud buat Oma makin parah," jawab Afif frustasi.


Setelah 5 menit berlalu, akhirnya dokter keluar.


"Bagaimana keadaan Mama saya Dok? Apa kami sudah boleh masuk?" tanya Mama pada dokter.


"Alhamdulillah pasien sudah baikan. Dan untuk kedepannya tolong tidak membuat beban pikiran beliau terlalu berat apalagi stress, itu bisa membuat penyakit jantungnya kambuh," jawab Dokter tersebut.


"Terima kasih Dok," ucap Papa Afif.


"Baiklah kalau begitu saya permisi," jawab Dokter lalu meninggalkan mereka.


Afif dan kedua orang tuanya pun masuk kedalam ruang inap Oma. Disana Oma telah tersadar dan sudah membaik.


"Afif tolong kamu pikirkan lagi untuk Oma," ucap sang Oma pada cucu tersayangnya dengan penuh harap.


Kini pikiran Afif dilanda bingung dan bimbang. Ia juga memikirkan bagaimana keadaan Karla nanti. Ia tak ingin membuatnya sedih apalagi kecewa. Tapi di lain sisi ia juga tak ingin membuat keluarga kecewa. Apalagi Afif juga sangat menyanyagi bahkan sangat menghormati Oma nya.


"Baiklah Afif menerimanya," jawab Afif frustasi. Ia sekarang menyerah, dan lebih memilih kebahagiaan keluarganya. Tak mau lagi Afif melihat Omanya dalam keadaan lemah.


***


Pukul 19:30 keluarga Afif pergi ke restoran untuk makan malam bersama keluarga calon nya. Kebetulan keadaan Oma sudah membaik, dan sudah diperbolehkan pulang. Pertemuan ini ditujukan untuk saling mengenal satu sama lain. Apalagi mereka yang dijodohkan masih belum mengenal.


"Bersikaplah yang sopan nanti," bisik Papanya.

__ADS_1


Afif menjawabnya hanya dengan mengangguk.


Dan iya sekarang Afif telah bersedia menerima perjodohan ini. Walau sesungguhnya hati Afif tak mau menerimanya.


__ADS_2