
Kini Alizha duduk di ruang makan sembari menunggu kepulangan suaminya. Ia khawatir pada Afif yang sedari tadi belum pulang. Padahal sekarang sudah pukul 20.00. Biasanya Afif pulang pukul lima sore. Alizha sudah menyiapkan makan malamnya. Lalu Alizha putuskan untuk menanyakan lewat pesan, tapi tak kunjung di balas oleh suaminya dan yang lebih menyakitkannya lagi hanya sekedar di baca. Memangnya sesibuk apakah Afif hingga tak menghargai istrinya.
"Sesibuk apa Mas Afif hingga tak membalas satupun pesan dariku," ucap Alizha.
Alizha sedikit cemas dengan keadaan suaminya akhir-akhir ini. Ia juga sempat berpikir bahwa suaminya telah memiliki perempuan lain di luaran sana sehingga sikapnya berubah cuek pada Alizha.
"Apa Mas Afif punya perempuan lain?" ucap Alizha tiba-tiba. Alizha langsung menepis negative thingkingnya itu. "Astagfirullah apa yang barusan aku katakan. Semoga itu tidak terjadi."
Selang beberapa menit ponsel Alizha berdering yang masih di atas meja makan di depannya. Dengan gerakan cepat ia mengangkat panggilan telpon tersebut. Wajah khawatirnya telah berubah bahagia kembali, tapi tidak lama dari itu ia malah tampak kecewa.
"*Hallo, Assalamu'alaikum Mas?" ucap Alizha tampak bahagia.
"Wa'alaikumussalam. Aku hari ini lembur, mungkin akan pulang pagi."
"Mas lembur? Em yaudah deh, semangat ya kerjanya." jawab Alizha suaranya sudah berubah menjadi kecewa.
"Iya. Aku tutup teleponnya," ucap Afif lalu langsung mematikan teleponnya*.
Setelah itu perasaannya sedikit lega karena sudah mendapatkan kabar dari suaminya. Alizha sudah kelaparan sejak sepulang dari kerja, niatnya ingin makan malam bersama suami tercintanya. Tapi ternyata suaminya tersebut lembur tidak pulang, selera makannya jadi hilang. Lalu Alizha pergi ke kamar untuk beristirahat.
.
.
.
.
.
Matahari sudah terbit dari ufuk timur. Pagi ini Alizha sarapan pagi sendiri tanpa ditemani suaminya. Dan pagi ini Alizha kembali pergi bekerja. Seperti biasa ia selalu berangkat kerja dengan mengendarai sepeda motor maticnya.
Jalanan di Kota Surabaya saat pagi cukup macet karena banyak orang yang berangkat kerja ataupun sekolah. Sehingga Alizha kini terjebak macet di tengah jalan. Hampir setengah jam ia terjebak macet dan itu hanyalah membuang waktu berharga Alizha. Jam masuknya sebentar lagi akan dimulai, kurang 10 menit lagi. Jika Alizha setia menunggu kemacetan ini, ia akan telat.
Akhirnya kemacetan tersebut lama kelamaan kembali lancar. Seharusnya ia senang jalanan kembali lancar, tapi justru ia nampak kesal dengan nasibnya sendiri. Sepeda motor yang dikendarainya tiba-tiba rodanya bocor hingga membuat Alizha oleng dan nyaris terjatuh. Untungnya Alizha langsung pergi ke sisi jalan dan mendorongnya. Sudah telat waktu hanya kurang 2 menit saja. Dengan panik ia mencari bengkel terdekat untuk menangani sepeda motornya.
Ada bengkel yang sudah terlihat kurang lebih 5 meter dari jaraknya. Dengan cepat ia memajukan sepeda motornya menuju kesana. Tetapi hari ini ia sedang sial, ia baru saja terkena cipratan air dari kubangan air di pinggir jalan. Hampir seluruh badan Alizha dipenuhi dengan noda kotoran.
Alizha sontak kaget "Astaghfirullah."
"Kenapa saya harus mengalami seperti ini?" ucap Alizha beemonolog sendiri.
Mobil yang menyebabkan cipratan di baju Alizha pun berhenti. Tampak seorang lelaki keluar tampak menyesal.
"Maaf saya tidak sengaja."
"Mas Vino?" ucap Alizha terkejut.
"Maaf Zha saya tidak sengaja, saya ceroboh. Lalu bagaimana dengan bajumu itu? Saya ganti ya," ucap Vino khawatir.
"Ah tidak apa-apa kok Mas. Memang sayanya aja yang sedang sial hari ini hehe."
"Loh sepeda motornya kok di dorong gak di naikin?"
"Ban sepeda saya bocor, jadi saya dorong deh. Ini mau saya bawa ke bengkel disana," ucap Alizha sambil menunjuk tempat bengkelnya.
"Yasudah motor kamu ini di bawa ke bengkel, nanti sekalian berangkat sama saya saja."
"Tidak usah Mas, saya naik ojek online aja."
"Tidak ada penolakan. Siniin motornya biar saya yang dorong," ucap Vino seraya mengambil alih motor Alizha lalu mendorongnya sampai bengkel.
"Sebentar tunggu disini, saya mau ambil mobil dulu," ucap Vino. Alizha pun mengangguk patuh, lagipula jikalau ia tolak pasti akan membutuhkan waktu yang lama lagi untuk pergi ke kantor.
Mobil Vino pun sudah mendekat dan siap untuk membawa keduanya pergi.
Kacanya diturunkan sebelah. "Ayo masuk."
Alizha pun menurut dan menaiki mobil Vino di kursi belakang.
Sesampainya di depan kantor, mereka turun bersama dan berjalan bersama hingga menuju ruangannya masing-masing.
"Terima kasih Pak Vino," ucap Alizha sebelum masuk ke dalam ruangannya.
"Iya sama-sama," sahut Vino dengan tersenyum lebar.
Di dalam ruangannya, Alizha tampak tak bersemangat mengerjakan pekerjaannya. Pikiran dan perasaannya masih khawatir dengan suaminya, Afif. Kemudian dikeluarkan ponselnya dari dalam tasnya untuk mencari tahu kabar suaminya.
To : Mas Afif
Assalamu'alaikum, Mas sudah pulang? Kalau sudah jangan lupa makan terus istirahat.
Send.
Wa'alaikumussalam. Sudah pulang.
Read.
"Alhamdulillah akhirnya," ucap Alizha dengan lega.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Pukul 17.00 WIB, jam pulang kerja Alizha sudah tiba. Segera ia bergegas membereskan pekerjaannya dan merapikan berkas-berkasnya. Setelah itu ia menuju lobi untuk memesan sekaligus menunggu ojek onlinenya.
Hampir saja Alizha memesan ojek onlinenya, seseorang memanggil namanya dari belakang.
"Alizha," panggil Vino sambil berlari menuju Alizha.
"Kenapa lari-lari Mas?"
"Pulang bareng sama saya ayo. Nanti urusan sepeda motor kamu biar saya yang urusin dan secepatnya di antar ke rumah kamu," ucap Vino.
"Ah tidak usah Mas, saya mau pesan ojek online saja."
"Sudah sama saya saja. Saya tadi yang nganterin kamu berangkat, berarti saya juga yang harus nganterin kamu pulang."
"Tidak usah, Alizha sudah banyak merepoti Mas Vino."
'Kalau aku telfon mas Afif, pasti sekarang kecapekan dan sedang istirahat. Aku tidak mungkin meminta tolong pada mas Afif,' batin Alizha.
"Tidak. Tidak usah sungkan-sungkan, jangan anggap saya ini atasan kamu aja, tapi ingat saya juga teman kamu," ucap Vino seraya tersenyum, walau hatinya sendiri sakit saat mengatakan 'teman'.
"Lagian ini hampir malam," lanjut Vino.
"Em-yasudah saya bareng Mas Vino saja," jawab Alizha. Kemudian mereka berdua berjalan menuju tempat dimana mobil Vino terparkir. Dan Alizha duduk di jok bagian belakang.
Suasana di dalam mobil Vino tampak sunyi, tak ada yang memulai percakapan antara mereka berdua. Alizha sibuk sendiri memandangi padatnya jalanan kota dari kaca mobil Vino sambil sesekali bersholawat dengan suara yang pelan.
Vino tersenyum-senyum sendiri tatkala melihat Alizha dari kaca spionnya. Ia kagum dengan Alizha.
'Selain hati kamu yang indah, suara kamu juga indah,' batin Vino.
'Saya garela kalau kamu disakitin orang lain,' batin Vino seolah-olah memang sudah tahu masalah yang dihadapi oleh Alizha.
Ada rasa menyesal jauh sekali di dalam lubuk hatinya. Tapi seketika ia menepis pikirannya tersebut, bagaimanapun juga ia harus menghargai status Alizha kini. Dan ia harus siap menerima kenyataan ini.
"Mas Vino," panggil Alizha seketika memecahkan keheningan diantara mereka.
"Iya?" ucap Vino sambil melirik Alizha di kaca spionnya.
"Kita mampir sholat di Masjid dekat sini saja ya, adzan magrib sudah berbunyi."
"Oh iya Zha, saya juga niatnya mau mampir kesitu dulu kok," sahut Vino. Tak lama kemudian mereka berdua sampai di halaman Masjid. Mereka menunaikan ibadah sholat magrib disana berjamaah.
Setelah menunaikan sholat, mereka kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah Alizha. Namun di tengah perjalanan wajah Vino tampak memucat. Kendalinya mulai lemah. Alizha merasakan perubahan pada Vino dan sedikit cemas karena mobil yang dikendarai Vino hampir saja oleng.
"Mas Vino?"
Vino pun langsung menoleh sebentar ke arah belakang dan tersenyum sambil berkata. "Saya tidak apa-apa."
"Rumah kamu sebentar lagi sampai kan?" tanya Vino.
"Iya Mas sebentar lagi," ucap Alizha, ia tampak tak percaya apa yang dikatakan oleh Vino, ia khawatir Vino akan kenapa-napa. "Mas sakit ya?"
"Sepertinya maag saya kambuh," ucap Vino seraya memegangi bagian perutnya yang sakit.
"Pasti belum makan kan? Kita berhenti aja dulu Mas, kamu makan dulu. Kebetulan di depan sana ada rumah makan."
"Kamu tidak keberatan jika harus menemani saya makan dulu?"
"Tidak sama sekali. Daripada Mas Vino sakit."
Hanya membutuhkan waktu sedikit, kemudian rumah makan yang dimaksud dengan Alizha sudah terlihat, disana rumah makannya bernuansa sederhana namun elegant. Lalu mereka pun turun dan Alizha menemani Vino masuk ke dalam juga.
"Kamu mau pesan apa Zha?"
"Lho kok Mas Vino tanya saya? Mas aja yang pesan, saya udah makan kok tadi."
"Tadi siang kan, maksud kamu?"
"Em iya sih Mas, udah Mas Vino aja yang makan."
"Udah gausah sungkan, kayak sama siapa aja kamu ini," ucap Vino sambil memesan beberapa makanan untuk dirinya dan Alizha.
Tak lama kemudian pesanannya terhidangkan tepat di atas meja yang mereka dua tempati, mereka pun makan dengan tenang walaupun sebelumnya tadi Alizha masih sempat menolak, tapi akhirnya Vino bisa membujuk Alizha untuk ikut makan bersamanya.
Selesai makan mereka berdua sempat mengobrol sebentar dan tertawa bersama saat mengingat masa-masa sekolahnya dulu. Keadaan Vino sekarang sudah membaik karena sudah makan, maag nya sudah tidak kambuh lagi dan juga sudah meminum obat, karena kebetulan juga Alizha membawa stok obat maag untuk berjaga-jaga untuk dirinya sendiri.
Sesekali mereka berdua juga mengobrol tentang pembahasan proposal yang akan digunakan untuk rapat Vino besok pagi. Karena Alizha sekretarisnya, Vino menyempatkan berbicara tentang masalah pekerjaannya.
Saking asiknya mengobrol, mereka berdua tak sadar bila sudah diperhatikan oleh seorang lelaki yang tak jauh duduk dibelakang bangku Vino dan Alizha dengan tatapan tajam sedari tadi. Matanya sudah seperti akan melotot, tangannya sudah menggenggam erat dan wajahnya sudah seperti akan meledak. Lelaki tersebut tak terima akan pemandangan didepan matanya, ia langsung berdiri dan menghampiri mereka berdua yang masih tengah asik mengobrol.
Bugh!
Satu pukulan mendarat tiba-tiba di pipi sebelah Vino.
Alizha yang melihatnya syok dan langsung terpaku ditempat. Ia tak menyangka bila ada suaminya datang dan langsung memukul Vino. Sedangkan Vino hanya diam dan tak membalas pukulan Afif suaminya Alizha.
"Mas ini kenapa?!" ucap Alizha sambil berusaha menenangkan Afif agar tak memukul Vino lagi. "Sudah Mas, hentikan!" cegah Alizha saat Afif akan mendaratkan kepalan tangannya ke pipi Vino.
"Keparat! Ngapain lo berdua-duaan sama istri orang hah?!" caci Afif tak terima dan emosinya sudah memuncak.
"Maaf saya gak-," ucap Vino terpotong oleh dorongan Afif.
__ADS_1
"Dasar laki-laki keparat!" caci Afif tak terima.
"Mas!" ucap Alizha.
"Apa? Kamu juga! Pulang sekarang sama saya!"
"Maaf Anda salah paham." ucap Vino.
"Mas salah paham, Mas Vino tidak bersalah. Lagipula kami tidak ada hubungan apa-apa selain teman." ucap Alizha berusaha memberikan penjelasan.
Dengan sigap Afif langsung menarik tangan Alizha keluar dari rumah makan tersebut bersamanya.
"Saya tidak menyangka kalau kamu berani main di belakang saya."
"Tidak Mas. Demi Tuhan, Alizha tidak seperti itu, mas hanya salah paham," sahut Alizha sambil sesenggukan.
"Bagaimana dengan Mas Vino disana?"
"Kau masih memikirkan lelaki keparat itu sayang?"
"Tidak. Bukan begitu," ucap Alizha yang sebenarnya ingin meminta maaf terlebih dahulu pada Vino.
"Kamu ini istrinya siapa, huh?!" ucap Afif seraya mengangkat dagu istrinya.
"E-em-mas Afif," jawab Alizha terpatah-patah karena sedang menangis sesenggukan.
"Masuk sekarang kamu! Kamu istri saya, jadi kamu harus nurut sama perintah saya!" ucap Afif yang masih emosi dan suaranya membentak istrinya. Alizha hanya bisa diam dan menuruti perintah suaminya tersebut.
"Mas biarkan Alizha jel-," ucap Alizha terpotong.
"Semuanya sudah jelas, saya tidak butuh penjelasan kamu lagi," ucap Afif sambil mengemudikan mobilnya tanpa menoleh pada istrinya sama sekali.
"Semuanya tidak seperti yang Mas pikirkan," ucap Alizha yang masih menangis sesenggukan.
"Diam!" bentak Afif, dan langsung mampu membuat Alizha diam tanpa berani bicara lagi.
"Tolong dengarkan aku dulu Mas," ucap Alizha sekali lagi. Namun lagi-lagi ia disuruh diam oleh suaminya.
'Ya Allah, kenapa bisa seperti ini?' batin Alizha.
Afif mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi, emosinya masih tak terkendali. Entahlah kenapa Afif bisa seperti ini, bukankah ia seharusnya merasa biasa saja bila Alizha dengan orang lain? Toh Afif tidak mencintainya dan lebih memilih kekasihnya Karla. Bahkan dia sudah berjanji akan segera menggugat cerai Alizha, bukankah ini seharusnya kesempatan yang menguntungkan untuk diri Afif? Lalu kenapa ia harus marah-marah ketika melihat Alizha dengan orang lain? Apakah ia cemburu? Entahlah Afif pun tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya sendiri.
'Kenapa aku gak rela kalo ngelihat Alizha sama cowok lain,' batin Afif kesal pada dirinya sendiri.
'Ya Allah apakah Mas Afif cemburu? Apakah Mas Afif sudah mulai mencintaiku?' batin Alizha.
.
.
.
.
.
Mobil Afif sampai di depan halaman rumah mereka. Dengan kesal ia langsung masuk begitu saja tanpa memperdulikan Alizha yang sedari tadi memohon-mohon agar bisa menjelaskan.
"Mas, dengarkan Alizha dulu," ucap Alizha memohon.
"Mas, berikan Alizha kesempatan untuk menjelaskan semua ini."
"Mas, Alizha mohon."
Afif masih tak perduli dan terus melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Apa yang mau dijelaskan? Semuanya sudah jelas tadi," ucap Afif dengan nada dingin.
"Kamu selingkuh kan?" lanjut Afif.
"Demi Tuhan, Alizha tidak selingkuh. Mas Vino cuma teman Alizha dan dia juga atasan Alizha, Mas," ucap Alizha sambil mendekati Afif yang tengah duduk di sofa kamar.
"Mas, aku minta maaf. Aku salah sudah bersama laki-laki lain yang bukan mahromku."
"Akhirnya mengaku salah juga kamu," sahut Afif sambil tersenyum licik.
"Dia hanya teman Alizha dan dia juga pimpinan Alizha. Aku sudah menolaknya tadi mas, tetapi aku malah menyetujuinya karena hari sudah semakin gelap. Maaf, Alizha salah."
"Maaf Mas, tadi Alizha di antar pulang Mas Vino karena motor aku masuk bengkel," ucap Alizha.
"Lalu kenapa kamu tidak meminta aku menjemputmu sayang?" ucap Afif licik.
"Alizha takut Mas nanti kecapekan, jadi Alizha tidak ingin mengganggu Mas."
"Itu pasti alasanmu bukan? Sudahlah sayang kau tidak perlu sungkan-sungkan. Bicaralah sejujurnya padaku," ucap Afif seraya berdiri dari tempat duduknya dan mulai mendekati Alizha hingga hanya tersisa jarak satu centi diantara mereka berdua. Dengan perlahan Afif mendorong tubuh istrinya ke dinding. Alizha hanya diam dan dadanya terasa sesak, jantungnya berdegub kencang tak karuan. Dengan perlahan Alizha juga memejamkan matanya.
'Ingat kau mencintai Karla, bukan Alizha.' seketika pikiran tersebut keluar dari benak Afif.
"Kau mengira aku akan menciummu sayang?" ucap Afif dengan lembut.
"Tidak akan pernah!" ucap Afif lalu langsung pergi meninggalkan istrinya yang masih terpaku menempel di dinding dan ia sempat memukulkan tangannya ke dinding.
Alizha hanya bisa menghela nafas gusar, ia kira suaminya akan berbuat romantis padanya. Tetapi ia hanya dipermainkan dengan kelakuan suaminya.
'Sabar Alizha sabar,' batin Alizha.
__ADS_1