Demi Tuhan, Aku Ikhlas

Demi Tuhan, Aku Ikhlas
Kecewa


__ADS_3

Alizha pulang dari rumah sakit dimana suaminya bekerja, ia pulang dengan hati yang sungguh sangat mengecewakan. Tubuhnya langsung ia lemparkan di atas tempat tidurnya, dan refleks ia menangis terisak di balik bantal dengan tubuh yang tengkurap.


Hatinya sungguh sakit. Niat sebenarnya baik hanya ingin membuat suaminya senang dan tak ingin bila nanti suaminya sakit akibat tidak makan saat bekerja. Tetapi malah kenyataan mengecewakan yang di dapatkan Alizha. Sungguh hati siapa yang tak kecewa bila ditolak mentah-mentah, terlebih itu adalah suaminya sendiri.


Ia merasa menjadi istri telah gagal, padahal usia pernikahan mereka masih muda dan baru kemarin saja menikah. Bukankah pengantin baru seharusnya bahagia? Tetapi kenapa yang harus di dapatkan Alizha justru pahit? Inilah namanya ujian hidup, kita harus tetap kukuh pada iman kita, jangan sampai iman kita goyah akibat diberi banyak cobaan hidup. Justru dengan inilah kita harus semakin mendekatkan diri kita pada sang Illahi.


Ia baru teringat sekarang sudah pukul 12.00 siang. Alizha tersadar bahwa ia belum menunaikan sholat dzuhur. Kemana saja dan melakukan apa saja hingga lupa panggilan Allah. Ia sedari tadi hanya sibuk menangis dan memikirkan hatinya yang sakit. Dengan buru-buru ia mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah sholat dzuhur.


Di tatalah sajadah menghadap kiblat dan mulai memakai mukenahnya.


Setelah sholat selesai, ia berdoa pada Allah. Ia meminta di berikan kekuatan imannya. Di saat inilah Alizha curhat dan keluarkan isi hatinya kepada Tuhannya. Hanya dengan begini hati Alizha menjadi lebih tenang.


“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu dan limpahkanlah kesabaran atas diri hamba.”


Kemudian ia berdzikir mengucapkan asma Allah. Tak henti-hentinya mulut Alizha beristighfar. Kemudian ia tertidur di atas sajadah yang masih lengkap menggunakan mukenahnya.


Pukul 15.00, suara adzan azhar telah berbunyi. Alizha terbangun dari tidurnya, ia tidak sadar sedari tadi tidur dalam kondisi seperti itu.


"Astagfirullahaladzim aku ketiduran," ucap Alizha kemudian bangkit dari posisi tidurnya.


Setelahnya Alizha sekalian menunaikan ibadah sholat azhar, toh dia juga belum batal wudhunya masih suci.


Selesai menunaikan ibadah sholat, ia kembali melakukan pekerjaan rumahnya sebagai kewajiban seorang istri. Mulai dari menyapu didalam rumah hingga halaman rumah dan menyirami tanaman. Alizha mengerjakan semuanya sendirian, ia merasa kelelahan juga melakukan pekerjaan rumah sebesar ini.


"Alhamdulillah semuanya sudah selesai," ucap Alizha seraya mengusap peluh di keningnya.


Rumah sebesar ini hanya dihuni oleh dua orang saja, apalagi salah satunya sedang bekerja jadi rumah sangat sepi. Daripada Alizha sendirian dan tak ada yang di kerjakan lagi, ia memilih untuk pergi ke taman belakang rumahnya. Ia menyibukkan diri dengan memberi makan ikan-ikan yang berada di kolam kecil dekat gazebo yang ia duduki.


Sambil memberi makan ikan ia sembari bersholawat kepada nabi muhammad.


Allohumma sholli shollatan


Kamilah wa sallim salaman


Taman 'ala sayyidina muhammadiladzi


Tanhallu bihil 'uqodu wa tanfariju bihil kurobu


Wa tuqdhobihil hawa iju wa tunna lu bihiro 'ibu


Wa husnul khowatim wa yustaqol ghomawu


Biwaj hihil kariim wa 'ala aalihi washosbihi fii kulli lamhatin wa hafasim bi'adadi kulli ma'luu mi laka ya robbal 'aalamiin.


Dilihat langit yang sudah hampir gelap, hari sudah akan berganti malam. Ia masuk ke dalam rumah, berjalan ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya agar lebih fresh.


Setelah itu Alizha menyiapkan makan malam dan menghangatkan masakannya agar tetap hangat. Selepas sholat magrib ia menunggu kepulangan dari suaminya di ruang tengah sambil menonton televisi.


Kemudian terdengar suara gedoran pintu dan salam seseorang. Dengan cepat ia berjalan ke arah pintu dan langsung membuka knop pintu tersebut.


"Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam. Sini biar Alizha yang bawain tasnya Mas," ucap Alizha seraya mencium punggung tangan Afif kemudian membawakan tas kerja suaminya.


Saat di dapati suaminya tersebut. Di lihatlah suaminya dari ujung kaki hingga kepala, sepertinya kelelahan dan wajahnya juga tampak lelah, baju kemejanya saja sudah digulung hingga siku. Alizha menyambut suaminya dengan wajah berseri berusaha membuat suaminya ikut tersenyum, tapi nihil. Afif tak sama sekali tersenyum pada istrinya tersebut. Tapi Alizha memakluminya jika suaminya kelelahan sepulang dari kerja.


"Mas sudah makan tadi?" ucap Alizha basa basi sambil mengekori suaminya.


"Sudah."


"Makan apa? Dan dimana?"


"Di kantin rumah sakit seperti biasa. Kenapa?" ucap Afif berbohong. Ia tak mungkin untuk mengatakan sebenarnya.


"Em- Alizha hanya khawatir sama Mas."


"Oh."


"Syukurlah kalau Mas sudah makan."


Alizha terus mengekori suaminya tersebut hingga menuju kamar mereka.


"Mas han-" ucapan Alizha terpotong tiba-tiba.


"Tanpa diberitahu aku pun sudah tahu Alizha," potong Afif.


"Baiklah, kalau begitu Alizha siapin bajunya," ucap Alizha seraya berjalan ke arah lemari pakaian.


"Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Afif yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Biar Alizha saja yang siapin, toh juga udah berdiri di dekat lemari," ucap Alizha tertawa sambil menyiapkan baju untuk Afif.


Hampir 10 menit setelah mandi. Ia pun pergi ke arah ruang makan. Perutnya sudah lapar sedari tadi minta di isi. Saat sampai disana ia melihat istrinya yang sudah duduk dan mempersiapkan makan malamnya dengan rapi. Kemudian ia ikut serta duduk di depan Alizha dan hendak mulai menyantap makanannya.


"Mas pimpin do'a ya," ucap Alizha dengan lembut. Entah mengapa Afif yang mendengarnya seperti akan meleleh dibuatnya. Tapi Afif dengan cepat langsung menepis semua itu.


Afif pun langsung memimpin do'a dan langsung menyantap makan malamnya. Mereka berdua makan dengan penuh khidmat, tak ada suara apapun kecuali suara dentingan sendok dan piring.


Selesai makan Afif langsung pergi ke ruang tengah untuk menonton televisi. Sedangkan Alizha membersihkan piring-piring kotor.


Alizha menghampiri Afif dan kembali bergabung dengan suaminya di ruang tengah sambil membawakan secangkir teh hangat.


"Mas ini teh hangat untuk Mas Afif. Di minum ya, biar badannya hangat dan biar capek-capeknya berkurang ," ucap Alizha seraya duduk di samping Afif dan menyodorkan secangkir teh kepada Afif.


Afif menoleh ke arah Alizha dan menerima secangkir teh hangat buatan istrinya. "Terima kasih."


"Mas," panggil Alizha.


"Hm?" sahut Afif yang masih fokus dengan televisinya. "Mau Alizha pijitin?" tawar Alizha.


"Tidak usah."


"Em, Mas. Besok Alizha sudah mulai bekerja kembali."

__ADS_1


"Iya silahkan."


"Mas tidak melarangku atau bagaimana gitu?"


Afif menatap wajah Alizha dengan lekat. "Tentu tidak. Memangnya kenapa? Itu hakmu selama aku tidak melarangnya, lagipula kau pasti sudah berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan itu bukan?"


"Terima kasih, Alizha pikir Mas Afif akan melarangnya," ucap Alizha tersenyum.


Alizha berpikir nanti Afif akan melarangnya bekerja karena statusnya sudah menjadi seorang istri, karena kebanyakan perempuan yang sudah menikah di luaran sana di larang oleh suaminya untuk bekerja dengan dalih fokus terhadap rumah tangga saja.


"Mas akan sholat isya' di Masjid. Kau di rumah saja," ucap Afif kemudian mengambil peci untuk pergi ke Masjid dekat rumahnya.


"Iya Mas."


.


.


.


.


.


Hari sudah malam, kini pukul 22.00. Rasa kantuk sudah menyerang Alizha, lagipula ia besok akan kembali bekerja dan harus berangkat pagi. Alizha merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Suaminya masih berkutat dengan laptopnya yang masih menyala.


"Mas," panggil Alizha kepada Afif yang duduk mengerjakan pekerjaannya di sofa.


"Hm?"


"Masih lama?"


"Sebentar lagi," ucap Afif kemudian menoleh ke arah Alizha yang sudah di atas tempat tidur. Ia tak tega melihat istrinya menunggu.


Sebelum tidur Alizha menunggu suaminya selesai dari pekerjaannya dahulu. Lalu kemudian Afif menyusul Alizha di tempat tidur dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Alizha.


Alizha membalikkan tubuhnya menghadap Afif suaminya. Ia menatap lekat iris mata coklatnya. Kemudian suaminya ikut menatapnya lekat juga. Hati mereka sama-sama berdebar tak karuan.


'Indah,' batin Alizha yang masih menatap lekat wajah suaminya.


Afif masih menatap wajah istrinya, kemudian beralih ke arah bibir milik istrinya. Wajah mereka berdua semakin berdekatan.


Alizha sangat cantik. Sehingga bisa membuat Afif terhipnotis kedalam kecantikannya.


Hawa nafsu Afif semakin menggelora di dekat istrinya dengan situasi seperti ini. Dengan perlahan Afif akan mencium bibir istrinya. Saat ditatap Alizha juga memejamkan matanya seperti ikut terhipnotis hawa nafsunya. Dengan hati yang sesak Afif meluncurkan ciumannya ke arah kening Alizha.


Tatapan Alizha tampak kecewa dengan perlakuannya. Lalu mereka berdua berusaha bersikap biasa-biasa saja untuk menutupi rasa gugupnya.


"Tidurlah, kau besok akan bekerja," ucap Afif lalu membelakangi Alizha.


"Iya Mas."

__ADS_1


'Kenapa Mas Afif seperti itu? Dengan mudahnya ia membuatku terbang, tapi dengan cepatnya ia membuatku jatuh,' batin Alizha kecewa.


Lalu mereka berdua tertidur dengan lelap.


__ADS_2