
Semalam Alizha pikir sikap suaminya yang dingin telah berubah menjadi lebih baik, ternyata tidak. Selesai makan malam kemarin bersama keluarganya, Afif kembali berubah bersikap dingin pada Alizha istrinya. Bahkan malam itu mereka berdua tidak saling tegur sapa. Tidurpun Afif memilih tidur di kamar lain satunya.
Alizha sedikit kecewa pada sikap suaminya itu. Sampai-sampai ia mengoreksi kesalahannya kemarin. Mungkin ia berbuat salah hingga membuat suaminya bersikap dingin padanya. Mungkin ia terlalu egois. Tetapi di pagi yang cerah ini Alizha harus memperbaikinya semua.
Pagi sudah pukul 06.30 WIB. Pekerjaan rumah Alizha sudah selesai semua. Makanan untuk sarapan pun sudah ia hidangkan penuh kasih sayang di atas meja makan.
Alizha berjalan menuju kamar yang di tempati Afif tidur semalam, dengan perlahan ia memutar knop pintu hingga terbuka.
"Selamat pagi Mas," ucap Alizha seraya membuka gorden jendela yang masih tertutup rapat.
Afif yang terduduk di sofa sembari bermain ponsel sudah berpakaian rapi.
"Mas ayo sarapan dulu. Alizha udah siapin di meja makan," ucap Alizha sambil duduk di sebelah Afif.
"Mas buru-buru, langsung ke rumah sakit saja," jawab Afif dengan wajah datar seraya berdiri.
"Ini tasnya," ucap Alizha seraya menyodorkan tas kerja milik Afif.
"Sarapan sedikit saja ya? Biar perut Mas gak kosong," bujuk Alizha dengan sabar sambil menggenggam tangan Afif.
"Maaf, Mas buru-buru," sahut Afif lalu pergi meninggalkan Alizha begitu saja di kamar. Ia tidak menghargai usaha Alizha, ia terlalu egois. Sedangkan Alizha yang melihat sikap suaminya hanya bersabar.
'Apa aku bawain bekal ke kantor aja ya nanti siang. Mumpung akunya juga masih cuti,' batin Alizha.
Kemudian Alizha berjalan menuju dapur, ia menyiapkan bekal untuk suaminya. Ia menata rapi isi makanan tersebut di dalam kotak makan dengan cinta dan kasih sayang. Ia berharap nanti suaminya makan dengan selera yang bagus.
****
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 siang. Alizha bergegas pergi mengantarkan bekal suaminya yang sudah disiapkan tadi. Ia tak mau nanti suaminya jatuh sakit karena tidak makan. Dengan cepat Alizha mengambil sepeda motornya dan mengendarai menuju rumah sakit dimana Afif bekerja.
Sesampainya di rumah sakit, Alizha memakirkan sepeda motornya. Kemudian berjalan menuju resepsionist untuk menanyakan dimana tempat bekerja suaminya Afif.
"Maaf mbak, kalau tempat biasanya Pak Afif bekerja dimana ya?" tanya Alizha.
"Maksud mbak, dokter Afif?"
"Iya itu."
"Kalau boleh tahu mbak ini siapa ya?"
__ADS_1
"Saya Alizha istrinya dokter Afif."
"Oh baiklah kalau begitu. Mbak bisa lurus kesana terus ada pertigaan belok kiri saja dan tepat ruangan pertama itu ruangan dokter Afif."
"Makasih mbak," ucap Alizha lalu berjalan mengikuti arahan tadi.
Setelah sampai ke ruangan yang dituju, Alizha langsung masuk dan mengucapkan salam terlebih dahulu. Kebetulan pintunya tidak di tutup. Dilihatlah suaminya sedang berkutat dengan berkas-berkas. Dengan semangat ia memberikan bekal pada sang suami dan berharap mendapatkan feedback yang baik.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Afif yang tengah sibuk berkutat dengan komputernya lalu sambil mendongak sebentar ke arah sumber suara.
"Ada apa?" lanjut Afif.
"Mas, Alizha bawain bekal kan tadi pagi Mas gak sarapan. Di makan ya Mas."
"Taruh saja di sana," sahut Afif sambil mengisyaratkan matanya ke arah meja kecil dekat pintu.
"Mas tadi sudah makan belum?"
"Mas tidak istirahat dulu?"
Tidak ada sahutan Afif, suaminya tersebut masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya tanpa menoleh sama sekali pada Alizha.
"Mas, makan dulu ya? Alizha suapin deh," bujuk Alizha sambil membuka bekal yang di bawanya.
"Alizha gak mau nanti kalau Mas sakit. Makan dikit aja ya," bujuk Alizha sekali lagi sambil menyuapkan sesendok ke mulut Afif.
Afif yang tak terima karena merasa terganggu, langsung menampar sendok yang disuapkan Alizha dan alhasil semua bekalnya terjatuh di lantai begitu saja karena Alizha kaget dengan perlakuan suaminya tersebut.
"Mas, astaghfirullah."
Alizha kecewa, sungguh kecewa. Bekal yang di siapkan penuh cinta dan kasih sayang tadi dengan mudahnya Afif menumpahkan semuanya, otomatis makanan Alizha tak bisa di makan lagi.
"Kamu ini kenapa sih? Kamu gak lihat kalau aku sibuk?" ucap Afif sedikit membentak hingga Alizha meneteskan air matanya.
"Maaf." hanya kata tersebut yang mampu di ucapkan Alizha sambil menangis sesenggukan.
Afif yang melihat istrinya menangis merasa sedikit kasihan, ia tak tega. Jadi ia putuskan untuk menyuruh Alizha pulang saja. Daripada ia tersiksa sendiri.
__ADS_1
"Kamu pulang sekarang."
"Maaf Alizha udah ganggu Mas Afif," ucap Alizha seraya berjalan meninggalkan ruangan Afif. Saat keluar ruangan, ia berusaha menenangkan diri dan menghapus air matanya.
'Jadi istri sholehah harus sabar.'
'Semangat. Alizha harus sabar,' batinnya.
Alizha terus berjalan melewati lorong rumah sakit yang cukup begitu luas. Dengan pelan ia berjalan sambil membaca istigfar, dan dalam hati Alizha ia berharap jika suaminya akan mengejar untuk meminta maaf padanya karena telah berperilaku kasar padanya.
Terdengar suara hentakan kaki yang sedang berlari ke arahnya dari belakang tubuhnya. Saat di lihat kebelakang ternyata suaminya berlari menuju ke arahnya. Seketika wajah muram Alizha menjadi bahagia. Langkah Afif semakin mendekat, semakin pula membuat jantung Alizha berdebar tak karuan.
"Kunci motor kamu ketinggalan," ucap Afif sambil menyodorkan kunci motor Alizha. Ternyata kalimat tersebut yang dikeluarkan Afif. Bodohnya Alizha mengira jika suaminya akan mengejarnya meminta maaf dan berbuat romantis layaknya suami-istri. Ternyata dugaan Alizha itu salah.
"Makasih Mas," sahut Alizha sambil tersenyum dan berusaha tegar di hadapan suaminya tersebut. Kemudian ia melanjutkan langkahnya keluar dari rumah sakit tersebut. Sedangkan Afif hanya mengawasinya dari kejauhan.
Ketika punggung Alizha istrinya sudah tak lagi kelihatan, ia kembali ke ruangannya. Saat itu pula ponsel Afif berdering, didapatinya ada pesan singkat masuk dari Karla. Segera ia membuka isi pesan tersebut dengan wajah yang bahagia.
**From : Karla
Hai sayang, jangan lupa kita satu jam lagi ketemuan. Sekarang tidak ada pembatalan lagi setelah kemarin kau membatalkannya.
Iya maafin aku yang, kita ketemu di cafe biasanya**.
Ya, seharusnya ia bertemu dengan Karla kemarin. Tetapi ia membatalkan pertemuannya karena hatinya sedang kacau. Jadi ia memutuskannya untuk bertemu di hari ini.
"Dokter Afif," panggil seorang wanita paruh baya menghampiri Afif dengan tergesa-gesa.
"Ada apa Ibu?" jawab Afif dengan sopan.
"Tolong anak saya Dok, dia kejang-kejang dari tadi. Saya khawatir."
"Baiklah segera bawa masuk ke ruangan saya."
Afif pun menangani pasien tersebut sesuai dengan kewajibannya. Setelah beberapa menit di tangani keadaan pasien tersebut sudah agak membaik.
"Obatnya bisa di tebus di ruang farmasi ya Bu."
"Baik Pak Dokter, terima kasih."
__ADS_1
"Iya sama-sama."