
Di tengah keramaian yang di padati banyak orang berlalu lalang Alizha berjalan sendiri di dalam pasar tradisional untuk membeli bahan persediaan makanan. Sedangkan Afif hanya mengantarnya di depan tak sampai ke dalam.
Awalnya Afif meminta Alizha berbelanja di supermarket saja, tapi Alizha menolak karena ia ingin membeli bahan makanan yang lebih murah dibandingkan di supermarket. Alizha berbelanja banyak sayuran dan ikan sekaligus untuk makan malam nanti bersama keluarga besarnya.
"Mas, ayo pulang," ucap Alizha pada Afif yang sedang menunggunya berdiri di depan mobil.
"Udah selesai?" tanya Afif sambil membantu membawakan barang belanjaan Alizha lalu dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
"Udah," jawab Alizha.
Di dalam mobil Afif bertanya pada Alizha. "Kenapa kau tak mau belanja di supermarket saja? Bukankah disana mudah untuk memilih dan kau tak kan berdesakan untuk berjalan."
Alizha pun menoleh dan menggenggam tangan Afif. "Mas, kita sudah berumah tangga. Sudah saatnya aku sebagai istri bisa mengatur keuangan dan harus belajar hemat untuk masa depan kita. Lagipula di pasar tradisional kualitasnya lebih segar karena langsung dari pemasoknya dan yang terpenting harganya dibawah dua kali lipat di supermarket."
Afif tak menolak genggaman tangan Alizha bahkan ia menikmati tangan halus Alizha. Sebenarnya ia ingin menghindarinya, tapi ia tak bisa. Entah kenapa hati Afif menjadi nyaman berada di dekat istrinya.
****
Di dapur, Alizha sibuk berkutat dengan masakannya. Sore ini ia memasak banyak macam makanan yang akan di sediakan untuk acara makan malam nanti bersama keluarga besarnya. Alizha sudah biasa memasak bahkan itu salah satu hobinya dan ia tak merasa kerepotan untuk mengerjakan semua masakannya itu.
Afif yang sedari tadi melihat istrinya memasak di dapur ia terkadang merasa kasihan dengan istrinya karena memasak banyak. Terpikir di benak Afif ingin membantunya, tapi ia sedikit gengsi untuk melakukannya. Dan ia lebih memilih bermain game di ponselnya. Memang egois sekali si Afif.
"Mas," panggil Alizha.
"Hm?" sahut Afif yang masih sibuk bermain di ponselnya.
"Mas jadi testingnya masakan aku ya? Cobain deh, kalau kurang apa-apa biar Alizha benahin rasanya," ucap Alizha berjalan mendekati Afif yang tengah duduk di meja makan sambil membawa masakannya di piring.
"Coba deh Mas."
"Kau saja sendiri yang mencobanya. Aku sedang sibuk," sahut Afif kesal lebih memilih gamenya.
"Mas lebih mementingkan game diponsel Mas? Sedangkan istri Mas yang nyata berada di depan Mas ini?" ucap Alizha.
"Mas," panggil Alizha sekali lagi.
"Bisa tidak Mas sedikit saja hargai Alizha?" ucap Alizha kecewa.
"Kamu apa-apaan sih," bentak Afif sambil menggebrak meja makan dan langsung pergi meninggalkan Alizha.
Alizha sontal kaget dan tubuhnya langsung terpaku di tempat, ia tak percaya suaminya seegois itu. Tapi bukan Alizha namanya bila ia tidak sabar menghadapi tersebut.
'Harus sabar, mungkin ini ujian dari Allah,' batin Alizha.
"Padahal niatnya cuma ingin perhatian Mas Afif," ucap Alizha bermonolog sendiri sambil berusaha tersenyum, padahal air matanya sendiri sudah ingin keluar.
Tiba-tiba ponsel Alizha berbunyi di atas meja makan, saat di dapatinya ternyata panggilan telepon dari Adib abangnya. Dengan segera Alizha menjawab panggilan telepon tersebut.
"*Hallo, Assalamu'alaikum Bang?"
"Nanti kan Abang kerumah barumu. Kamu mau nitip sesuatu gak? Mumpung Abang lagi baik hati."
"Em apa ya? Enggak deh Alizha lagi gapingin apa-apa." suara Alizha sedikit terdengar parau karena ia menahan air matanya.
"Eh bentar deh, kamu kenapa Dek? Kamu nangis ya? atau habis nangis? Kamu kenapa? Cerita deh sama Abang."
"Eng-enggak kok Alizha gapapa, Alizha cuma lagi potong bawang aja jadi pingin nangis gitu."
"Kalau ada apa-apa bilang sama Abang. Nanti Abang bawain buah tangan deh biar bisa buat cemilan kamu di rumah."
"Terserah Abang deh. Tumben juga nawarin."
"Hehe gapapa dong. Yaudah Abang tutup teleponnya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam*."
__ADS_1
Tiba-tiba Afif datang menghampiri Alizha dan langsung marah-marah.
"Kamu teleponan sama siapa huh?! Sama laki-laki lain? Pintar, berani ya sekarang di bentak dikit aja larinya langsung ke orang lain," ucap Afif marah-marah, entah kenapa saat melihat Alizha berteleponan dengan orang lain ia merasa tak terima.
"Mas kenapa sih?"
"Kamu yang kenapa? Kamu habis bicara sama siapa di telepon?"
"Bang Adib. Demi Allah Mas, aku cuma teleponan sama Abang aku," ucap Alizha sambil menunjukan riwayat panggilannya tadi.
"Terserah kamu," ucap Afif langsung pergi lagi, niatnya tadi ingin mengambil minum pun tidak jadi. Tapi sedikit rasa lega di dalam hati Afif jikalau istrinya tak ada hubungan dengan orang lain.
"Mas mau kemana?" teriak Alizha.
Langkah Afif terhenti. "Keluar."
"Bisa nanti Mas Afif pulang tepat waktu saat keluarga kita akan kemari? Aku mohon Mas."
"Iya."
.
.
.
.
.
Sudah hampir dua jam Alizha cemas menunggu kedatangan Afif. Setengah jam lagi keluarganya dan keluarga Afif akan berkunjung ke rumahnya. Ia tak mau nanti jika keluarganya cemas dan mengira ada masalah di rumah tangga barunya ini.
Alizha sendiri bingung ada apa dengan Afif sekarang. Padahal baru kemarin di acara pernikahannya Afif bersikap manis layaknya seorang suami sungguhan. Tapi kenapa dengan diri Afif sekarang semenjak pindah di rumah baru ini.
Makanan sudah disiapkan oleh Alizha di meja makan dengan rapi dan sekarang rumahnya sudah bersih. Ia masih saja berjalan mondar mandir di ruang tengah menunggu Afif. Tak lama kemudian Afif datang dengan keadaan sikapnya yang dingin. Tetapi Alizha sabar menghadapi perilaku suaminya tersebut. Bahkan dengan lembut ia melayani suaminya tersebut.
"Oh ya Alizha juga udah bikinin teh hijau hangat buat Mas, biar badannya tetap fresh," ucap Alizha dengan nada lembut.
"Ini handuknya juga udah Alizha siapin," ucap Alizha sambil mendekatkan langkahnya pada Afif dan memberikan handuk yang dibawanya.
Afif hanya diam tak bicara sepatah katapun, lalu ia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tok Tok Tok
Suara gedoran pintu dari luar.
Alizha langsung berjalan membukanya.
"Assalamu'alaikum," ucap Bunda Namira langsung memeluk tubuh Alizha.
"Wa'alaikumussalam," jawab Alizha sambil membalas pelukan Bundanya.
"Ada teletubis nih Yah." canda Adib.
"Hush, apaan sih kamu Dib," sahut Ayah Nabhan.
"Hehe."
"Loh keluarganya Afif belum datang?" tanya Bunda.
"Belum, mungkin sebentar lagi Bun. Ayo masuk semua," ucap Alizha mempersilahkan.
"Suamimu mana Dek?" ucap Adib seraya duduk di sofa ruang tengah.
"Lagi mandi," jawab Alizha.
__ADS_1
"Dek, ini Abang bawain brownis coklat," ucap Adib sambil menyodorkan paper bagnya.
"Wah, makasih Bang," ucap Alizha lalu mengambilnya dan menuju dapur.
"Assalamu'alaikum," ucap Mama dan Oma Afif di depan pintu lalu langsung masuk.
"Wa'alaikumussalam," jawab semua.
"Udah disini duluan toh," ucap Oma sambil cipika-cipiki pada Bunda Alizha.
"Tuan sama nyonya rumahnya mana ini?" ucap Mama.
"Alizhanya ke dapur, terus katanya kalau Afif masih lagi mandi," jawab Adib dengan sopan.
Afif pun turun dari tangga langsung menghampiri keluarga. "Oma," ucap Afif seraya mencium tangan Omanya.
"Loh Papa mana Mah?" ucap Afif lalu mencium tangan Mamanya.
"Oh Papamu nanti nyusul, masih banyak pekerjaan tadi katanya."
"Mama kesini sama Oma naik apa?" tanya Afif.
"Biasalah taxi online," jawab Mamanya lalu Afif hanya mengangguk mengerti sambil ber Oh ria.
"Semuanya langsung ke ruang makan aja ya, Alizha udah siapin makan malamnya loh," ucap Alizha penuh semangat.
"Wahh ayo-ayo semua," ucap Oma.
Mereka pun duduk di kursi makan masing-masing. Alizha berada di antara posisi Afif dan Bundanya. Dan Alizha berharap malam ini suaminya tidak bersikap dingin padanya. Mereka semua pun telah siap dengan hidangannya masing-masing. Sedangkan Afif masih dilayani oleh istrinya.
"Mas mau ayam goreng atau udang aja?" tanya Alizha.
"Mas mau ayam aja Zha," ucap Afif dengan lembut walau dihatinya ia terpaksa melakukan ini semua.
'Kali ini aku di depan keluarga harus kelihatan lembut,' batin Afif.
"Assalamu'alaikum maaf ya saya telat, hehe," ucap Papa Afif.
"Wa'alaikumussalam," jawab semua.
"Duduk sini Pah. Udah di siapin makanan sama menantu kita," ucap Mama lalu Papanya Afif duduk di sebelahnya.
Setelah makan malam, semua keluarga berbincang-bincang di ruang tengah dengan bahagia dan nampak di wajah mereka semua. Tapi lain hal dengan Afif yang hanya pura-pura bahagia di depan keluarganya, padahal di hati Afif ia tak bahagia seperti yang di tampakkannya.
Alizha juga tampak senang dengan perubahan suaminya yang duduk di sampingnya lebih lembut sekarang. Ia berpikir Afif sudah berubah, padahal tidak dan hanya berpura-pura.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.30 malam, sudah hampir larut malam. Kini keluarga Alizha dan Afif berpamitan untuk pulang.
"Nak, kami pamit pulang ya. Kalau ada waktu kami bakalan main kesini lagi kok," ucap Mama yang berhadapan dengan Alizha.
"Iya Mah," jawab Alizha.
"Jaga diri baik-baik kalian berdua," ucap Oma.
"Iya kami bakal jaga diri kok," ucap Afif seraya tersenyum.
"Dek, kami pulang dulu ya. Kamu jaga diri sama suamimu. Bunda bakalan kangen sama kamu," ucap Bunda sambil memeluk tubuh putri semata wayangnya tersebut.
"Iya, Bunda juga harus jaga diri. Apalagi sama kesehatannya juga ya. Alizha sayang Bunda."
"Yasudah ini sudah malam. Kalian istirahat, kami pulang ya," ucap Ayah menuju mobil seraya melambaikan tangan.
"Pulang dulu Dek," teriak Adib dari kaca mobilnya sambil melambaikan tangan.
"Iyah, hati-hati semua."
__ADS_1
"Hati-hati."