Demi Tuhan, Aku Ikhlas

Demi Tuhan, Aku Ikhlas
Menunggu Kabar


__ADS_3

(Alizha POV)


Hatiku rasanya sakit, menghadapi semua cobaan ini. Kenapa harus terjadi pada diriku? Aku tak sanggup rasanya melihat suamiku sendiri lebih memilih perempuan lain daripada aku istrinya sendiri. Perempuan mana yang tak sakit hati saat seperti? Perempuan mana yang tak nelangsa ditolak mentah-mentah oleh suami sendiri? Perempuan mana yang bisa tegar menghadapi pengkhianatan di depan mata kepalanya sendiri? Mungkin ada, tapi hanya sebagian kecil.


Aku mungkin termasuk perempuan yang tak tegar menghadapi itu. Sesabar-sabarnya perempuan, pasti juga akan cemburu. Perempuan memang bisa menjaga rahasia dengan baik, tapi ia tak bisa menjaga rasa cemburunya dengan baik. Perempuan itu makhluk perasa, semua ia kaitkan dalam perasaan.


Aku mengalah, kini aku diam. Aku hanyalah istri yang tak di hargai. Rasaku semakin perih, aku tak tegar untuk semua ini. Setelah kejadian yang menyakitkan di depan umum kemarin, aku langsung pulang dengan membawa motorku sendiri. Aku berusaha kuatkan semua tenagaku agar bisa pulang dengan selamat. Dan alhamdulillah akhirnya aku bisa pulang dengan selamat. Tetapi aku tak pulang ke rumah Mas Afif, aku pulang ke rumah orang tuaku. Hanya disanalah aku merasa aman dan terlindungi.


Semua orang rumah terkejut saat melihatku dalam keadaan seperti itu. Bagaimana tidak? Keadaanku waktu itu sudah seperti orang gila yang tak waras. Mataku merah, sembab, baju dan jilbabku berantakan. Kakiku bergemetar, jalanku menjadi sempoyongan. Aku sudah mencoba untuk terlihat tegar di depan mereka, tapi aku gagal. Air mataku langsung lolos begitu saja, aku tak kuat untuk membendungnya lagi.


Semua orang menanyaiku, Ayah, Abangku, Nenek, Kakek, bahkan yang lebih terlihat khawatir dan ikut menangis adalah Bundaku. Aku menunduk, aku hanya diam. Tetapi aku memang benar-benar tak tegar untuk ini. Kemudian Bunda mendekatiku dan berkata "Ada apa? Kenapa menangis? Peluklah Bunda, kau membutuhkannya."


Seketika aku langsung memeluk Bunda dengan erat. Ayah pun juga mendekatiku seraya mengelus kepalaku dengan lembut. "Berceritalah, kami akan siap menerima semua ceritamu. Berceritalah jika itu membuatmu akan tenang, nak."


Air mataku semakin deras, aku hanya bisa menangis sesenggukan waktu itu.


"Nak, kami tahu kamu sedang ada masalah saat ini. Cobalah untuk tenang, ceritakanlah pada kami. Agar kami bisa membantumu, cu," ucap Kakek.


"Dek, kami siap untuk menjadi bahu sandaranmu ketika ada masalah," ucap Bang Adib.


"Minum dulu, tenangkan dirimu," ucap Nenek seraya memberiku air minum.


Kemudian aku melepaskan pelukan Bunda, dan meneguk minumku sampai habis. Memang benar kata Nenek, aku sekarang lebih tenang. Ku atur nafasku dengan perlahan. Ku usahakan tangisanku agar reda. Dan akhirnya aku sedikit lebih tenang, lalu aku bercerita menceritakan semua kejadian yang menyakitkan waktu itu.


Saat aku menceritakan bagian dimana Mas Afif menolakku mentah-mentah, tangisanku kembali pecah. Bunda yang melihatku langsung memeluk tubuhku. Rasanya sangat hangat, menenangkan. Bukan hanya hatiku saja yang lelah waktu itu, tetapi tubuhku juga lelah. Aku hanya butuh istirahat beberapa hari di rumah ini.


"Alizha minta tolong. Kalau Mas Afif datang kesini, jangan beritahu Alizha ada disini."


Bang Adib pun langsung menjawab. "Sebelum kamu meminta, kami tidak akan mempersihlakannya untuk masuk apalagi menginjak rumah ini." raut wajahnya sangat marah dan juga terlihat rasa kekecewaan.


"Laki-laki macam apa dia? Berani-beraninya menyakiti putri Ayah," ucap Ayah dengan nada tinggi.


Bugh!!!


Emosinya memuncak sampai-sampai Ayah menggebrak pintu hingga berbunyi keras. Kami semua pun kaget. Terutama aku, aku ketakutan bila Ayah marah. Bilamana Ayah sudah marah, pasti akan sangat susah untuk memaafkan orang yang telah berbuat salah dan menyakiti hatinya terutama hati keluarganya.


"Istirahatlah, tidur. Nanti kalau waktunya makan, Bunda bawain makanan ke kamar kamu," ucap Bunda menuntunku menuju kamar.


Sesampainya di kamar aku pun langsung tertidur, rasanya semua menjadi capek. Mungkin dengan aku tidur, setidaknya rasa capekku akan sedikit hilang.


.


.


.


.


.


Hari ini aku terbangun pagi-pagi, aku tak ingin membuat repot semua orang. Kini aku sudah satu minggu berada di rumah Ayah. Setelah menunaikan sholat shubuh, aku membuka ponsel ku dan berharap akan ada notif dari Mas Afif. Tetapi yang kudapatkan hanya kosong, tidak ada notif dari Mas Afif sama sekali. Setelah itu aku memutuskan untuk membantu Bunda yang telah sibuk berkutat di dapur.


"Biar Izha bantu ya," ucapku seraya mengambil pisau menganggur di meja sebelah Bunda yang tengah mengaduk masakan.


"Loh udah bangun? Udah kamu istirahat aja, biar Bunda kerjain sendiri."


"Izha gapapa kok. Udah pokoknya Izha mau bantuin Bunda masak," ucapku.


Aku memotong sayuran satu per satu untuk memasak sayur sop. Seketika aku teringat suasana saat memasak dulu ketika Mas Afif menggangguiku, entah itu ikut memotong sayur jadi tak karuan, memelukiku dari belakang bahkan saking usilnya sampai mematikan kompor yang tengah aku pakai untuk memasak. Sungguh aku rindu waktu masa itu. Tapi berada disinilah yang tepat untukku sekarang. Aku ingin menenangkan pikiranku dan hatiku sementara disini.


Semua keluarga telah berkumpul di ruang makan untuk sarapan, aku dan Bunda sibuk menyiapkan makanan.


Aku mengambilkan nasi untuk Ayah dan Bang Adib. Aku pun jadi teringat saat melayani Mas Afif waktu makan. Mood ku rasanya menurun lagi, seperti tidak berserela untuk makan dan rasanya sudah kenyang saat mengingat masa-masa dengan Mas Afif. Setelah itu kami pun menyantap sarapan pagi ini dengan di pimpin doa oleh Ayah.


Hanya ada suara dentingan sendok dan piring, tak ada yang bicara sama sekali saat makan. Memang seperti itulah adab kami makan dari dulu. Bila ingin bicara, harus menyelesaikan makanannya dulu.


Bang Adib kini mengangkat suaranya. "Masakannya enak banget, yang ini nih bikin nagih. Pasti kamu kan Dek yang masak?" ucapnya sambil menyisihkan piringnya.


Aku menoleh. "Iya sama Bunda kok," ucapku dengan suara datar.


"Udah pasti enak kalau anak Ayah yang masak. Ya kan Zha?" ucap Ayah dengan nada menggoda dan menaikkan sebelah alisnya.


Aku pun mengangguk. Entah kenapa mood ku saat ini sangat kacau, benar-benar kacau. Rasanya masih sakit, sangat terluka. Aku tak kuasa dengan semua ini.


"Kenapa gak bikin cathering aja sih Dek? Lumayan tau buat tambah penghasilan," ucap Bang Adib.


"Em boleh juga, tapi Alizha takut nanti kuwalahan sama pesanannya."


"Loh tenang aja Zha, kan ada Bunda. Nanti pasti dibantuin kok sama Bunda," sahut Bunda.

__ADS_1


"Iya lihat nanti aja Bun. Lagipula kan sekarang Alizha juga kerja." jawabku sambil membereskan piring-piring kotor yang akan kubawa ke dapur untuk di cuci.


Waktu telah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Aku bersiap ke kamar untuk berangkat kerja. Kuambillah tas selempangku berwarna coklat yang ada di atas meja rias. Kurapikan blazer dan jilbabku agar terlihat elok dipandang. Lalu aku bergegas turun ke bawah untuk berangkat.


Bang Adib sudah berangkat terlebih dahulu selesai sarapan langsung. Sudah seminggu ini aku berangkat bersama Ayah dengan mobilnya. Begitupun juga pulangnya Ayah selalu menjemputku. Terkadang Mas Vino bosku sendiri menawariku untuk mengantar pulang bersamanya, saat Ayah telat menjemputku. Tetapi aku tolak ajakannya dengan halus, bagaimana pun aku masih sadar dalam batasan. Aku juga masih menjadi seorang istri sahnya orang. Dan sudah sebaiknya aku menjaga jarak dengan laki-laki yang bukan mahrom ku.


"Alizha berangkat Bun," ucapku seraya mencium tangan Bunda.


"Iya, hati-hati ya Nak." jawab Bunda.


"Ayah juga," ucap Ayah kemudian Bunda mencium tangan Ayah.


Entah mengapa aku yang melihatnya selalu tersenyum dan berkata dalam hati.


'Bisakah aku dan Mas Afif seperti mereka?'


"Assalamu'alaikum," ucap Ayah dan aku bersamaan. Kemudian kami berdua masuk ke dalam mobil dan Ayah mulai mengemudikan mobilnya.


Ku keluarkan ponsel dari dalam tasku, lalu aku mencoba mengecek apakah ada notif dari Mas Afif. Ternyata hanyalah kosong, tak ada kabar sama sekali dari Mas Afif. Sudah melupakanku atau bagaimana? Kenapa tidak mencariku? Dianggap apa aku selama ini? Apakah tidak khawatir denganku?


Ponselku terus ku genggam, sering kali aku membukanya untuk mengecek. Tapi tetap saja tidak ada apa-apa.


"Jangan ditunggu, udah biarin dia datang sendiri," cetus Ayah yang masih terfokus dengan kemudinya. Sepertinya Ayah mengetahui isi pikiranku saat ini. Lalu kumasukkan kembali ponselku ke dalam tas.


Tak lama kemudian, kami sampai di depan kantorku.


"Alizha kerja dulu Yah. Assalamu'alaikum," ucapku seraya mencium tangannya.


"Wa'alaikumussalam. Oh ya, nanti mungkin Ayah jemputnya agak telatan dikit gapapa kan Zha?"


"Iya gapapa."


"Soalnya nanti ada rapat di luar, jadi kemungkinan Ayah pulangnya juga telat."


"Iya, gapapa kok Yah," ucapku kemudian membuka pintu mobil dan keluar.


"Hati-hati," ucapku kemudian hanya di balas dengan suara klakson mobilnya.


Lalu aku berjalan menuju ruanganku. Sesampainya disana, aku kembali membuka ponselku. Aku sangat merindukan Mas Afif. Hingga aku ingin sekali menelponnya sekarang. Tapi tidak, jangan dulu!


"Selamat Pagi Bu Alizha," ucap salah satu karyawan di ambang pintu.


"Begini Bu, saya minta tolong ini nanti berikan pada Pak Vino untuk ditanda tangani."


"Oh iya baiklah nanti saya berikan."


"Kalau begitu saya permisi dulu, terima kasih," pamit karyawan tersebut dan aku hanya membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk.


Setelah itu, aku kembali untuk bekerja mengerjakan pekerjaanku yang sudah menunggu.


Waktu sudah akan menunjukkan istirahat, pekerjaanku sudah semakin berkurang. Lalu aku menjeda dahulu pekerjaan ku untuk memberikan berkas kepada Pak Vino.


Tok. Tok. Tok. Kuketuk pintu terlebih dahulu.


"Masuk," titahnya terdengar dari dalam.


"Selamat Siang Pak."


"Selamat Siang," jawab Pak Vino yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya.


Aku berjalan mendekat sambil menaruh berkas di atas meja. "Pak, ini berkas tolong ditanda tangani."


Pak Vino mengangkat kepalanya dari yang semula melihat laptop ke arahku. "Oh iya, makasih ya Zha."


"Iya Pak, kalau begitu saya permisi." ucapku seraya membalik badan untuk keluar.


Tiba-tiba Pak Vino memanggil. "Alizha, sebentar."


"Iya Pak?" ucapku kembali menghadapnya.


"Sebentar lagi waktunya makan siang, boleh saya ikut gabung denganmu?" ucapnya sambil berdiri kemudian berjalan mendekatiku.


"Em oh iya, tentu boleh. Rencananya saya mau ke kantin kantor aja."


"Yasudah sekarang saja bisa?"


"Tapi-" ucapanku terpotong.


"Masalah pekerjaan bisa diselesaikan nanti. Kamu juga butuh istirahat."

__ADS_1


"Em baiklah mari Pak," ucapku mempersilahkan supaya berjalan terlebih dahulu.


Sesampainya di kantin, kami memilih tempat duduk yang dekat dengan penjualnya.


"Mau pesan apa? Biar saya traktir," ucap Pak Vino.


"Saya bayar sendiri aja Pak, makasih." tolak ku.


"Jangan menolak, ini rezeki."


"Tidak usah Pak, nanti merepotkan."


"Repot dari mananya sih Zha? Cuma makan kok ini, nggak repot," jawab Pak Vino sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Beneran Pak?" tanyaku sambil tersenyum.


"Iya."


"Terserah Pak Vino aja kalau gitu."


"Yaudah, samaan sama saya gapapa?"


"Iya gapapa."


Pak Vino pun memesan makanan. Tak lama kemudian, makanannya pun telah tersaji di atas meja kami.


"Makan. Jangan lupa berdoa dulu." ucap Pak Vino.


"Iya," jawabku. Lalu kami pun menyantap makan siang kami.


"Saya lihat akhir-akhir ini kamu kayak kurang semangat gitu. Kenapa?" tanya Pak Vino tiba-tiba membuatku kaget.


"Masa sih Pak? Saya rasa ya biasa aja seperti biasanya," jawabku sambil tertawa untuk menutupi kesedihan yang sedang kualami.


"Kamu wanita tegar Zha. Tapi kamu gak bisa nyembunyiin kesedihan kamu sama saya. Ada masalah apa?"


"Tidak ada," jawabku sambil mengaduk-ngaduk minumanku seketika aku berhenti tertawa.


"Saya kemarin sore melihat Afif dengan perempuan lain sewaktu saya pergi ke restoran. Awalnya saya kira itu kamu lepas jilbab, ternyata bukan," ucap Pak Vino.


"Alhamdulillah saya masih pakai jilbab sampai sekarang," jawabku mengalihkan pembicaraan sambil tersenyum. Sesungguhnya hatiku kembali merasakan sakit, suami yang aku tunggu-tunggu malah sedang bahagia dengan perempuan lain. Dan lebih parahnya, tidak mengingat keberadaanku sama sekali, bahkan mengabari pun tidak ada. Disini aku bertanya-tanya, siapakah aku sebenarnya di mata Mas Afif? Bukankah aku ini istrinya? Seorang istri yang harus diperlakukan dengan baik dan lembut. Tapi apa yang aku dapatkan?


"Apakah kamu baik-baik saja dengan suamimu? Bukan maksud saya ingin mencampuri masalah kalian, tetapi yang saya lihat itu sering mungkin sudah satu minggu berturut-turut. Jadi saya sebagai teman kamu, ingin membantu."


"Sebelumnya saya mengucapkan terima masih banyak sudah mau peduli dengan saya. Tetapi tidak sebaiknya Pak Vino ikut campur dengan masalah rumah tangga saya, insya Allah saya sanggup menyelesaikan semua ini dengan baik."


"Iya Zha saya mengerti. Tetapi kalau kamu butuh bantuan saya, tidak usah sungkan-sungkan untuk meminta bantuan sama saya. Saya selalu terbuka untuk kamu."


"Terima kasih."


Setelah itu jam makan siangnya telah berakhir sudah. Kini saatnya bekerja kembali.


Semua pekerjaan telah selesai, waktu menunjukkan pukul 05.00. Seperti biasa Alizha menunggu jemputan dari Ayahnya di depan kantor.


"Belum dijemput?"


Alizha sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi Ayahnya. Seketika Alizha mendongakkan kepalanya. "Masih diperjalanan." jawabku dengan tersenyum.


"Saya temani boleh? Sampai Ayah kamu menjemput."


"Tidak usah Pak, bentar lagi juga sampai."


"Yakin?"


"Iya, terima kasih."


"Baiklah kalau begitu saya pulang duluan. Hati-hati ya," ucap Pak Vino seraya berjalan meninggalkanku. Sedangkan aku hanya membalas dengan mengangguk dan tersenyum.


Tak lama setelah Pak Vino pergi, akhirnya Ayah pun telah sampai. Kini mobilnya berhenti tepat di depanku karena aku menunggunya di depan gerbang kantor.


Lalu aku pun masuk ke dalam mobil.


"Maaf ya Ayah telat," ucap Ayah dengan raut wajah yang sedikit cemas.


"Iya gapapa kok, udah tenang aja Alizha gapapa kok Yah."


Ayah pun tersenyum. "Mau mampir kemana dulu?" Aku pun refleks langsung menoleh dengan tatapan heran. "Ayah serius?" tanyaku.


"Seribu rius," sahut Ayah.

__ADS_1


__ADS_2