
pemandangan di kamar sudah tak beraturan tata letaknya membuat Rubby memijat kepalanya sendiri, Andre benar-benar keterlaluan begitu pun Mutia yang begitu semangat untuk mengusir Rubby dari rumah ini.
Kini Rubby berjalan kearah kotak sampah ia pun menarik nafas lebih dalam sembari mengambil kembali bingkai foto yang telah terbuang tidak lain tidak bukan Rubby paham siapa biangnya.
...----------------...
Andre berjalan pelan menuju kamarnya bahkan saat hendak menggapai tempat tidur dengan cara pelan ia mendudukkan bokongnya di sana. Rasa sakit yang berada di tenga-tengah kedua paha sakitnya memang luar biasa sampai-sampai ia tak mampu melawan saat tombak satu-satunya bagai di hantam benda yang begitu keras.
[Panggilkan saya dokter terbaik yang ada di kota ini] Kata Andre di selah telepon yang tersambung dengan Redy asistennya.
[Pak, emangnya bapak sakit apa?]
[Tombak masa depan saya rasanya mau patah ini sakit sekali]
[Tombak masa depan....]Redy masih berpikir dulu apa itu tombak masa depan.[Tombak masa depan itu seperti penyakit apa pak]
[Bodoh! kau pasti punya sesuatu di bawah perut mu kan jadi itulah sakit yang saya rasakan sekarang! sekarang kamu jangan banyak tanya cepat panggilkan dokter]
[Oh begitu rupanya, tapi Dokter spesialis seperti apa pak yang biasa menangani jenis penyakit seperti itu]
[Mengapa harus banyak tanya cepat panggilkan saja! bila perlu cari di google!]
Dengan emosi di sertai rasa sakit tak tertahan Andre menghentikan panggilan telepon nya dengan Redy meski Sebenarnya bukan rasa sakit Ini saja yang ia rasakan tapi rasa malu tentunya juga ada, rasa malu di mana Rubby menyeret tubuh Andre yang tenga menahan sakit di celananya keluar dari kamarnya.
“Awas saja aku pasti akan membalas semua perbuatan mu adik sialan!”
...----------------...
Dengan tergesa-gesa Celine berlari dari lantai bawah menuju lantai atas bahkan tujuannya sekarang pergi ke kamar Andre.
__ADS_1
“Andre...apa kamu baik-baik saja...”Tanya Celine di sertai nada kepanikan.
Andre begitu terkejut ketika pintu kamarnya yang tadinya hanya tertutup kini terbuka paksa namun rasa ingin marah pun sirna di saat ia mengetahui jika orang itu adalah Celine. entah dari mana wanita itu tau tentang kondisinya sekarang.
“Siapa yang memberi tahu mu tentang hal ini?”
“Mutia,Mutia yang memberi tahu ku tentang hal ini. Apa...?”Celine menjatuhkan pandangan matanya ke celana Andre, mengetahui hal itu Andre pun menutupinya dengan tangan.
“Tidak perlu di pandang seperti itu, membuat ku malu saja”
“Tapi apa masih terasa sakit, sudah panggil dokter?”
“belum, aku rasa tidak perlu memanggil dokter untuk hal yang seperti ini”
“Aku masih penasaran siapa sebenarnya adik tiri kamu itu, berani berani sekali dia berbuat seperti ini kepada mu Dre, kalau seperti ini jadinya itu sama saja dia melakukan tindak kekerasan kepada kamu. dan kalau kamu mau aku bisa saja melaporkan dia ke polisi”
“Atas tuduhan seperti ini? itu sama saja memalukan popularitas ku, Sudahlah setelah sembuh ini aku berjanji akan memberinya pelajaran yang setimpal” Kata Andre di ikuti seringainya.
“Gini-gini aku masih punya hati lagian dia bukan seorang pria, sudahlah untuk sekarang sakitnya tidak terlalu parah buktinya aku masih bisa berdiri. Ini sudah jam makan siang, apa kau mau makan siang bersama?”
“Aku bosan makan masakan rumahan. Atau bagaimana kalau kita pergi ke restoran yang baru di dekat mall itu, aku mendengar makanan di sana berkelas dan juga enak”
“Yaps tentu boleh juga,aku setuju”
...----------------...
Saat tenga menyusun kembali pakaian-pakaian dari dalam karung untuk di masukan ke dalam lemari ternyata Rubby baru menyadari jika baju-bajunya itu sudah jelek, terlihat kusam, dan ada juga yang kekecilan atau kebesaran. Timbul di dalam pikirannya dulu jika dia bukanlah seorang wanita yang mudah menghamburkan uang untuk membeli baju mahal atau sepatu mahal.
sementara jam sudah menunjukkan jam satu siang tapi Rubby belum apa-apa padahal jam 1 nanti Dimas pasti akan menjemputnya.
__ADS_1
Bunyi ketukan pintu membuyarkan pikiran Rubby, yang iya tau itu adalah suara suster Ana.
“Masuk saja Sus, pintunya tidak terkunci!”Seru Rubby dari dalam kamar.
“Astaga Rubby! kamar mu...!”
“Ini ulah Andre dan Mutia Sus, Tapi sekarang aku sudah mulai membereskannya”
“Sih Andre itu entah sampai kapan dia berhenti membuat ulah! kalau seperti ini jadinya kita tidak akan bisa tinggal diam saja”
“Sus boleh lah aku beli baju baru yang lebih layak untuk di pakai?”
“Sus, bolehlah aku beli baju-baju baru dan aku rasa ini baju yang ada di sini adalah baju-baju lama yang tidak layak pakai sudah robek dan kekecilan”
“Padahal yah waktu itu Sus pernah menemani kamu belanja banyak baju tapi Andre dia tidak suka dan malah membakar baju-baju kamu”
“Benar seperti itu sus?”Rubby hampir syok mendengarnya.
“Iya mana mungkin Sus bohong, tapi kalau kamu mau beli baju sekarang Sus akan temani kamu belanja karena Sus telah menyimpan kartu kredit untuk mu sendiri jadi kaku boleh belanja sepuasnya”
Rubby mengeluh panjang. ”sepertinya untuk belanja sekarang tidak bisa Sus karena aku sudah ada janji sama Dokter Dimas”
“Wow apa hubungan mu sama Dokter Dimas sudah semakin dekat Rub?”
“Bagaimana bisa panjang Sus kan aku baru bisa mengobrol lama dengannya tadi pagi saat jogging”
“Yaudah mungkin besok saja kita belanja bajunya dan untuk sekarang kamu harus siap-siap bukannya Dokter Dimas akan menjemput mu jam 1 ini”
“Hmm yasudah Sus kalau begitu aku mandi dulu yah”
__ADS_1
“Yaudah kamu mandi saja nanti sisanya biar Sus yang bantu bereskan”