
perjalanan menjadi seorang dokter tentu tidak semulus yang di perkirakan, ada tahap dan seleksi harus di lewatkan terlebih dahulu contoh yang sekarang Rubby harus melakukan pemeriksaan pada dirinya mulai dari tes fisik, kesehatan, dan yang paling utama pemeriksaan mata untuk mengetahui ia buta huruf atau todak.
Rubby menghela nafas panjang di saat dirinya tenga menunggu di ruang dokter untuk melakukan pemeriksaan kebetulan ia mendapatkan nomor antri ketiga setelah antrian nomor kedua telah di panggil.
pintu ruangan terbuka memperlihatkan seorang wanita muda keluar dari ruangan itu dalam kondisi wajah yang murung.
“Ih sia-sia saja aku seperti ini kalau pada ujungnya akan jadi seperti ini hiks”Ujar wanita itu sembari berbicara pada seseorang lewat telepon.
Banyak pertanyaan yang ingin rubby sampaikan pada wanita itu, bukan hanya ia yang di buat heran tapi enam orang yang ada di ruangan ini juga ikut terheran kan.
bahkan ada juga yang berbisik dengan lirih yang sangat jelas terdengar.“Dia tidak lulus, aku yakin itu”
Desiran darah terasa lebih deras ketika tak sengaja mendengar penuturan mereka yang mengatakan jika wanita yang baru saja keluar dari ruangan ini tidak lulus seleksi tes kesehatan.
“Nomor antrian tiga silakan untuk masuk ke ruangan!”Sahut seorang perawat yang hanya setengah badanya menongolkan setengah badan saja dari pintu ruangan.
Segera Rubby berdiri ia juga ikut masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan AC yang sangat dingin di penuhi alat medis yang berukuran cukup besar, di tambah wangi obat-obatan yang menambah kesan dari sisi rumah sakit yang berada di salah satu kampus ter elit ini.
“Atas nama Arubby..”Tanya seorang dokter wanita pada Rubby.
__ADS_1
“Yah benar saya Arubby tapi biasa di panggil Rubby”
Dokter itu hanya mengangguk sembari melihat kembali berkas-berkas Rubby yang berada tepat di tangannya. tak lama dokter pun menghela nafas berat.
“Silakan kamu berbaring dulu di sana”Titah sang dokter. Tak lama perawat tadi pun mulai menuntun Rubby untuk berbaring di ranjang yang telah di semprotkan cairan antiseptik.
“Berbaring dulu mbak”
...----------------...
dua orang wanita yang berbincang berbagi berargumentasi satu sama lain seperti dari pembahasannya mereka tenga menggosipkan seseorang.
“Lihatlah non, kedekatan mereka ini, padahal non tau sendiri seberapa bencinya tuan Andre pada Rubby”
“ini tidak bisa di biarkan lama-lama Andre bisa bertekuk lutut padanya,pokoknya aku tidak ingin Andre terlalu dekat dengan wanita itu!”
“Sudah lah non, tidak perlu di pikirkan. Kan non Celine tau sendiri kalau sih wanita gak tau diri itu mau kuliah kedokteran, tentu yang saya tau kuliah kedokteran itu tidak boleh menikah...
“Aku sangat yakin dia tidak akan segampang itu masuk perkuliahan dokter! kesehatan adalah jaminan utama untuk lulus,jadi bukan kah kamu pernah mengatakan jika dia pernah memiliki gangguan penglihatan!”
__ADS_1
“Tapi kan non dia sekarang bisa melihat dengan jelas”
“Tapi belum tentu kata medis! jadi intinya kemungkinan besar keinginannya akan sia-sia saja!”
...----------------...
“Rubby, apa sudah selesai? bagaimana hasilnya?”Rubby tertunduk lesu sehingga berjalan seperti zombie bahkan berulang kali Dimas berbicara padanya Rubby hanya diam tak menjawab.
“Antar aku pulang Dim, aku lelah, ingin istirahat”kata Rubby dengan tatapan kosong.
Dimas pun mulai menebak, ia juga memegang kedua bahu rubby mencoba menatap wajah wanita cantik itu yang semakin tertunduk.
“Rub...apa kamu....
Sedetik kemudian Rubby menangis histeris “Huaaa hikss.. hiksss...hikss... Dim...ia aku tidak lulus hikss hikss...Dokter mengatakan jika aku memiliki gangguan penglihatan dulu dan tadi hikss..hiks...mereka menguji ku dengan tes warna tapi aku gagal Dim...huaaa...
Dimas menarik Rubby ke dalam pelukannya karena ia tak ingin membuat Rubby semakin menangis meneruskan kalimat yang begitu menyakitkan untuk di dengar.“Husst tenanglah, jangan bersedih lagi oke sebenarnya masih banyak peluang lain untuk mencapai sesuatu”
“Percuma dim, percuma sepertinya aku memang tidak pantas menggapai status dokter di dalam impian ku hiks hikss”
__ADS_1