
“Biar saya saja!”Andre menepis tangan Dimas yang hendak membawa tubuh Rubby.
“Dia wajib pulang bersama saya!”
“Tapi saya dokter! saya juga berhak memeriksa keadaannya!”
“Di pikir Dokter di dunia ini hanya kamu! tidak justru saya bisa mempunyai kenalan dokter yang terbaik dari keluarga saya!”
Dimas hanya terdiam ia bahkan membiarkan saja Andre membawa Rubby masuk ke dalam mobil yang di kendarai supir.
Celine yang kesal menghentakkan kaki di lantai karena Andre lebih memilih Rubby di banding dirinya. kemudian wanita itu melihat Dimas yang berdiri tak jauh darinya. “Semua ini gara-gara kamu! kamu tak bisa mengurus pacar mu sendiri!”
Dimas hanya diam bahkan tak membalas perkataan Celine, ia terus melangkah ke depan hingga sebuah mobil menghampirinya.
...----------------...
“Tuan wajahmu kenapa, loh wanita ini juga kenapa tuan?”Tanya Mutia di saat melihat Andre masuk ke dalam rumah sambil mengendong tubuh Rubby.
“Siapkan air hangat lalu bawakan ke kamar wanita ini!”Kata Andre tanpa di tambahkan kata apapun, setelah mengatakan hal itu ia kembali meneruskan perjalanannya naik ke atas tangga.
“Tubuh mu begitu kurus tapi aku tak menyangka kalau berat badan mu akan seberat ini”Andre menggerutu seraya mulai menurunkan tubuh Rubby di atas ranjang miliknya seraya membantu wanita itu melepaskan heels di kakinya serta membuangnya ke sembarang arah.
__ADS_1
Pria itu menghela nafas kemudian duduk di pinggiran ranjang.Sekejap ia tatap wajah Rubby dengan kondisi mata yang masih terpejam seraya meletakkan telapak tangan di kening gadis itu.“Suhu normal, tidak panas, tapi kenapa bisa seperti ini?Ha mungkin saja kamu kualat!”
kembali Andre menyapuh kan tangannya membelai wajah itu yang terhalang rambut-rambut halus di wajahnya. Hati kecil Andre mengatakan jika Rubby benar-benar sangat cantik, dengan kulit putih, bibir mungil yang merah merona menghiasi wajahnya.“ayolah Andre apa yang tenga kamu pikirkan sekarang!ingat kamu tidak boleh menyukai orang yang paling kamu benci tak perduli wajahnya secantik apa”
Tok.. tok...tok...
“Masuk saja”Titah Andre dari dalam kamar.
“Permisi tuan, ini air hangatnya”
“letaknya di atas meja sana”
Usai meletakkan baskom berisi air hangat di atas meja, dengan kepo Mutia bertanya pada Andre. “Sebenarnya dia kenapa sih tuan”
Mutia tersenyum getir lalu kembali meneruskan kalimatnya.“Tentu saja saya tau dia pingsan tuan, tapi kira-kira apa penyebabnya?”
Tiba-tiba pintu kamar Rubby terbuka begitu saja kemudian masuklah Suster Ana, om Dewa dan seorang dokter wanita.“Bagaimana keadaan Rubby?”Tanya suster Ana yang sangat khawatir.
Andre sedikit beranjak menggeser tubuhnya membiarkan dokter wanita itu memeriksa keadaan Rubby.
“Dok dia kenapa?”Tanya suster Ana tersaat melihat sang dokter telah selesai memeriksa Rubby.
“Apa setelah sadar Rubby sering melakukan aktivitas berat?”
__ADS_1
Suster Ana mengernyitkan dahi kemudian dia asal menebak. “Hari kedua setelah Rubby telah siuman besok paginya ia melakukan jogging pagi”
“Hmm yah mungkin itu salah satu penyebabnya!”Kata Dokter dengan wajah serius.
Om Dewa melihat Andre yang kini acuh seakan tak peduli dengan keadaan sekitar.“Perkelahian kalian beredar di media sosial!”
“Perkelahian itu tidak akan terjadi jika pria itu duluan yang mencari perkara!”
“Hentikan! ini bukan saatnya untuk berdebat!”
Om Dewa dan Andre terdiam, kemudian Andre yang mengalah mulai beranjak dari sana.
Dokter kembali meneruskan omongannya dan mengatakan jika Rubby akan sadarkan diri setalah mendapatkan suntikan darinya dan juga mengatakan jika Rubby harus minum obat secara teratur.
...----------------...
“Lo lo loh....wajah anak mama kenapa ini kok babak belur gini”Bu bertanya sembari memegang kedua wajah Dimas.
“Awhh sakit ma pelan-pelan saja”
“Kamu itu dokter, terus apa kata pasien kamu nanti jika melihat wajah mu pada memar semua!”Sambung papanya Dimas.
Kemudian Dania berjalan ke arah Dimas sambil menunjukkan rekaman di ponsel miliknya.“Lihat ini kamu kan Dim! vidionya telah menyebar di mana-mana”
__ADS_1