
Gala yang statusnya sebagai kakaknya Rahelia, tengah memijat pelipisnya sambil memikirkan sesuatu.
"Aku tahu sekarang," ucapnya yang tiba-tiba teringat sesuatu.
"Apa, Bro."
"Bukankah adiknya Jupiter yang hilang dan meninggal itu belum ditemukan?"
"Ya, benar. Memangnya kenapa, apa kamu mengetahui kebenarannya?"
"Yang jelas, pelakunya bukanlah aku."
"Apa kamu mengingat sesuatu? maksud aku kejadiannya."
Sambil memijat pelipisnya, Gala mencoba untuk terus berpikir. Berharap, dirinya akan menemukan titik temu.
"Entahlah, aku sendiri saja sedang tidak bisa berpikir. Sekarang ini, pikiranku masih tertuju pada adikku. Aku sendiri tidak tahu, nasib seperti apa yang sedang dijalaninya. Mungkinkah dijadikan budak? atau sedang merasakan sakit karena disiksa oleh Jupiter." Jawabnya penuh khawatir.
"Yang harus kamu fokuskan itu, yakni untuk mengetahui keberadaan adikmu terlebih dahulu. Soal untuk membalaskan dendam pada Jupiter, kamu bisa mengimbanginya, yaitu dengan apa yang sudah dilakukannya pada adikmu." Kata Rembo memberi saran untuk Gala.
"Tidak mudah untuk masuk kedalam rumahnya, dan aku sangat membutuhkan bantuan darimu." Jawab Gala yang benar-benar merasa sudah penat, dan tak mampu untuk berpikir kembali.
"Kamu tenang saja, aku akan perintahkan pada anak buah ku untuk melihat langsung kondisi adikmu. Jadi, kamu tak perlu khawatir. Yang harus kamu pikirkan itu, kerja sama kita dalam bisnis. Bukankah kamu ingin menghancurkan perusahaan milik keluarga Jupiter, bukan? ikutilah permainanku." Kata Rembo memberi tawaran.
Tidak ada pilihan lain, Gala yang sudah buntu dalam memikirkan adiknya. Dirinya tidak peduli sama sekali dengan segala resikonya, sekalipun nyawanya yang akan menjadi taruhan.
"Baiklah, aku akan ikuti saran darimu." Ucap Gala dengan keputusannya.
Rembo mengangguk sambil mengunyah makanan.
Gala yang teringat dengan sosok perempuan yang semalam ia dapati didalam kamar yang ditempatinya, akhirnya bertanya untuk membuang rasa penasarannya.
"Oh ya, semalam itu siapa?" tanya Gala dengan rasa penasaran.
"Semalam, maksudnya kamu?" Rembo tanya balik pada Gala.
"Ya, perempuan yang kamu suruh masuk ke kamar yang menjadi tempat tidurku." Jawabnya.
__ADS_1
"Oh, Erlyta. Dia adikku, satu-satunya saudaraku. Kenapa? apakah semalam berbuat masalah denganmu? katakan saja, aku akan member hukuman padanya." Kata Rembo.
"Adik, tapi kamu tidak pernah bercerita denganku, kalau kamu mempunyai adik perempuan."
"Adik sepupuan, kedua orang tuanya sudah meninggal." Jawabnya.
"Oh, kirain."
"Kenapa? penasaran, ya."
"Ya lah, penasaran. Yang aku tahu kan, kamu tidak punya adik. Tentu saja aku penasaran dan menanyakan langsung sama kamu." Kata Gala.
Rembo tertawa kecil mendengarnya.
"Salah kamu sendiri, ngapain tidak mau bergabung lagi denganku."
"Bukan begitu, karena aku sudah dekat dengan Jupiter. Kamu tahu sendiri, 'kan?"
"Ya, tentunya aku tahu sendiri, kalau kamu menjalin hubungan dengan adiknya. Tapi kenyataannya, kamu terjebak didalamnya. Kamu harus menjadi sasaran empuk atas meninggalnya adik perempuannya Jupiter."
"Sudahlah, tak perlu kamu bahas lagi. Yang harus kamu pikirkan sekarang, fokus untuk menyelamatkan nyawa adikmu." Ucap Rembo.
Gala mengangguk, dan segera menyelesaikan sarapan paginya.
Di tempat lain, yakni di rumah sakit. Rahelia yang baru saja selesai sarapan ditemani Mbak Riti, kemudian dilanjut makan buah.
"Mbak," panggil Rahel sambil mengunyah buah pir.
"Ya, Non, ada apa?"
"Kalau boleh tahu, kita pulangnya kapan, ya Mbak?"
"Kurang tahu kalau soal itu, Non. Mungkin besok, atau gak nanti agak sorean." Jawab Mbak Riti.
"Aku bosan loh, Mbak. Udah gak sabar dan pingin cepat-cepat pulang. Pokoknya ini tangan capek banget di suruh pakai infus." Kata Rahel yang sudah merasa bosan di rumah sakit.
"Sabar, Non. Sebentar lagi Tuan Jupiter juga datang. Nona tidak perlu terburu-buru untuk pulang, percaya deh sama saya." Kata Mbak Riti.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba Rahelia teringat jika dirinya itu tengah di sandra oleh lelaki yang mempunyai dendam terhadap kakaknya. Saat itu juga, berusaha untuk berpikir kembali.
'Apa yang harus aku lakukan, agar aku bisa lepas dari lelaki kejam itu. Ah ya, bagaimana kalau aku kabur saja. Tapi ... apa bisa dijamin, kalau aku tidak ada yang mengawasi. Sungguh membuatku bingung, kemana perginya Kak Gala setelah kabur dari tahanan rumah milik penjahat itu.' Batin Rahelia yang tengah pusing memikirkan keselamatan dirinya sendiri ketika kabur dari tawanan seorang Jupiter.
"Ekhemm!" suara berdehem tengah mengagetkan Rahelia yang sedang melamun.
"Kak-kamu, dimana Mbak Riti?" tanya Rahelia tersadar dari lamunannya, sambil celingukan mencari keberadaan asisten yang sudah menemaninya sedari tadi.
"Sudah pergi, kenapa?"
"Emm ... gak apa-apa, aku hanya mencarinya saja. Kalau boleh tahu, apakah hari ini aku di izinkan untuk pulang?"
Jupiter yang mendapat pertanyaan dari Rahel, membusungkan badannya. Kemudian, ia mendekati telinganya.
"Ya, kita akan menikah hari ini. Setelah, kamu harus tunduk padaku, paham." Jawabnya berbisik di dekat daun telinganya.
Rahel yang mendengarnya, pun bergidik ngeri dengan jawaban yang ia terima dari Jupiter.
Pernikahan yang ia bayangkan sebelum menjadi tawanan Jupiter, begitu indah bersama lelaki yang dicintainya itu.
Tapi, apa daya, jika kenyataan tak seperti yang diharapkannya. Bahkan, kakaknya sendiri tak bisa menyelamatkan dirinya. Justru, sang kakak ikut menjadi kejaran dan juga dijadikan ajang balas dendam, hanya karena kesalahan yang belum diketahui siapa pelaku yang sebenarnya.
"Sekarang, kamu akan segera di periksa lagi. Kalau kamu sudah dinyatakan baik-baik saja, bisa pulang hari ini juga. Jika kondisi kamu masih lemah, kemungkinan masih di rawat." Ucap Jupiter, dan segera menyingkir saat ada seorang dokter masuk untuk memeriksa keadaan pasien.
Rahelia yang tidak bisa berkutik sama sekali, hanya bisa pasrah menerima keadaan. Ingin rssanya berteriak sekencang mungkin dan marah besar, tetapi Rahel sendiri tak mampu untuk melakukannya.
Jupiter yang berada di dekat ranjang pasien, menunggu hasil pemeriksaan dari Dokter.
"Bagaimana dengan kondisi istri saya, Dok?" tanya Jupiter berpura-pura mengaku sebagai suami istri.
"Kondisi pasien sudah membaik, hanya saja untuk tidak banyak pikiran. Karena kalau banyak pikiran sedikit saja, akibatnya bisa fatal. Jadi, buatlah suasana agar tetap terasa harmonis." Jawab sang dokter yang tak lupa untuk memberi pesan nasehat kecil kepada pasien.
"Baik, Dok. Saya tidak akan mengulangi kecerobohan saya ini, dan akan menjaga istri saya dengan sebaik mungkin." Jawab Jupiter beralasan, meski tujuannya bukan itu.
Sedangkan Rahelia sendiri sama sekali tidak menjawab, dan memilih untuk diam.
"Ya sudah kalah begitu, saya pamit untuk memeriksa pasien yang lainnya." Kata Dokter yang sekaligus berpamitan.
__ADS_1