
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Sofi datang ke kantor Alya, dia membawakan apa yang diminta oleh Alya. Foto bukti-bukti kebersamaan Karin dan Alex saat mereka berada di kota B untuk bersembunyi. Kedatangan Sofi juga bertepatan dengan kadatangan anak buah Alya. Yang datang untuk menyerahkan bukti-bukti jika Karin memang menginap di salah satu hotel di kota B selama hampir satu bulan penuh.
Alya sudah tidak sabar membuat Haikal terbungkam dengan bukti-bukti yang ada di tangannya. Tunggu tanggal mainnya, Alya pasti akan menghancurkan Karin.
" Johan, kamu boleh pergi dan tetap kamu awasi wanita itu. Awasi setiap gerak-geriknya jangan sampai terlewatkan sedikitpun."Ucap Alya bicara dengan tegas.
"Siap Boss."Jawab Johan dengan cepat.
Selesai urusannya dengan Alya, Johan pun pamit undur diri. Tidak lupa dia melirik Sofi yang sibuk dengan ponselnya.
"Sof, menurutmu bagaimana dengan Johan?." Tanya Alya membuat Sofi mengerutkan keningnya.
" Johan ? Maksud kamu Johan anak buah kamu yang barusan keluar itu."Ranya Sofi dengan wajah kebingungan.
" Iya, Johan itu. Memangnya di sini ada Johan lain yang datang selain Johan anak buah ku tadi?." Tanya Alya sedikit sewot.
Alya kini sudah menjatuhkan bobot tubuhnya di samping kiri Sofi. Sembari memegang amplop cokelat yang barusan di berikan oleh Johan. Didalam amplop itu ada, foto-foto kebersamaan Karin dan Alex dan ada juga flashdisk yang berii rekaman CCTV hotel tempat Karin dan Alex selama 1 bulan penuh bersembunyi. Sehingga semua orang yakin jika dia sudah meninggal dan orang yg gosong dan tidak bisa dikenali itu adalah dirinya.
__ADS_1
"Sudah lupakan saja soal, Johan. Kamu dari dulu kalau soal cowok memang telmi. Oh iya terimakasih ya atas bukti-bukti yang sudah kamu berikan. Menurutmu apa aku harus sekarang juga mengungkap semua kebusukan Karin?." Tanya Alya meminta pendapat dari Sofi.
" Sepertinya jangan dulu, Alya. Kamu coba bermain-main dulu dengan Karin, ancam dia dan sedikit buka kebusukannya agar dia ketakutan. Di saat dia takut dan terancam dia pasti akan mencari dan menemui Alex. Dengan begitu anak buah kamu bisa mengetahui persembunyian Alex. Jika anak buah kamu sudah mengetahui di mana Alex berada, mereka akan mudah untuk menangkap Alex. Sehingga tidak ada lagi tempat Karin untuk berlindung, setidaknya Karin tidak punya dukungan lagi dan kita memegang kunci, yaitu Alex. Pria itu sepertinya juga hanya memanfaatkan Karin saja."Ucap Sofi menyampaikan pendapatnya kepada Alya.
Sofi tidak mau jika Alya terlalu gegabah mengambil tindakan. Menghadapi wanita licik juga dengan cara yang licik, namun juga dengan cara yang cerdik. Licik saja tidak cukup, dan Karin juga bukan tipe orang yang mudah menyerah. Dia akan melakukan apa saja untuk mencapai apa yang dia inginkan.
"Begitu. Baiklah, aku akan bermain-main dengan Karin saja dulu."Ucap Alya setuju dengan saran yang disampaikan oleh Sofi.
"Sekarang ini bagaimana kita bisa menangkap Alex. Jika Alex kita tangkap sudah pasti wanita itu akan kalang kabut. Alex itu seorang play boy dan suka bergonta-ganti wanita. Mana ada orang cinta tapi membiarkan Karin tidur dengan Haikal. Alex itu hanya mau uangnya saja, dia bersembunyi karena takut bertemu dengan wanita-wanita yang sudah dia tipu. Tidak main-main sudah banyak korban janji manis Alex. Dan dia itu pemain wanita yang mengobral janji manis. "Ucap Sofi menceritakan panjang lebar soal Alex.
Sepertinya Sofi tahu banyak soal Alex, padahal dia hanya kenal-kenal saja dan tidaklah dekat. Sama seperti Alya yang hanya mengenal Alex begitu saja, bertemu pun hanya beberapa kali saat dulu Karin dan Haikal masih resmi berpacaran. Dulu sempat Haikal mengenalkan Alex kepada Alya dan Karin. Namun siapa sangka justru Karin ada main hati dengan Alex.
"Kandungan kamu bagaimana? Apa aman-aman saja tidak ada keluhan yang buruk? Haikal dan Karin belum tahu soal kehamilanmu kan?." Tanya Sofi dengan beruntun.
"Alhamdulillah baik. Sampai sekarang, Haikal maupun Karin belum ada yang tahu jika aku hamil. Namun lambat laun mereka pasti akan tahu sebab perut ini akan membuncit juga."Jawab Alya jujur.
Perbincangan mereka terhenti karena ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan Alya.
"Masuk."Seru Alya dari dalam dan tidak beranjak dari tempatnya duduk.
Ceklekkk
Pintu terbuka dan masuklah Rita sang sekertaris dengan senyum ramah mengembangnya. jika Rita sampai datang ke ruangan Alya sudah pasti ada kepentingan yang akan dia sampaikan.
" Ada apa, Rita?."Tanya Alya dengan singkat.
__ADS_1
" Maaf Bu, di bawah ada teman ibu yang ingin bertemu dengan ibu. Namun dia belum buat janji dengan ibu, Alya. Apakah bu Alya mau menemuinya?." Tanya Rita dengan sopan.
"Siapa namanya?." Tanya Alya lagi dengab singkat.
"Nona Karin ambar wati. Tapi bukannya itu teman ibu yang sudah meninggal itu ya?." Tanya Rita yang memang juga mengenal Karin. Sebab dulu Karin juga sering datang kekantor.
Karin? Mau apa dia datang kesini?.
Alya bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kenapa Karin bisa datang kekantornya. Jika dia menolak menemui Karin, sudah pasti Karin akan membuat onar di perusahaannya. Dan jika dia mau menemui Karin, saat ini di ruangannya masih ada Sofi. Sudah pasti mereka berdua akan bertengkar, sebab Alya tahu betul jika Karin tidaklah menyukai Sofi. Begitupun sebaliknya dengan Sofi yang sama sekali tidak menyukai Karin.
" Sudah izinkan saja dia masuk, Alya. Aku ingin tahu apa yang membuat dia sampai datang ke perusahaanmu ini. Nanti aku bisa bersembunyi di ruangan pribadimu itu."Ucap Sofi sambil menujuk ruang pribadi yang sering dipakai Alya untuk beristirahat.
"Baiklah. Ya sudah kamu hubungi resepsionis dan minta dia untuk mengizinkan Karin masuk."Ucap Alya dengan tegas.
"Baik bu."Jawab Rita sambil menganggukkan kepalanya.
Sofi pun bangkit dan dia masuk ke ruang pribadi Alya. Dia mengunci pintu ruangan pribadi itu agar Karin tidak bisa masuk seenaknya. Tidak menunggu lama, Karin pun saat ini sudah berada di depan ruangan Alya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Karin masuk begitu saja. Sama sekali tidak mempunyai sopan santun dan etika saat bertemu di tempat orang.
"Apa kamu tidak bisa ketuk pintu terlebih dahulu. Jangan seenaknya saja masuk keruangan orang. Semua itu ada adab dan etikanya, Nona Karin." Ucap Alya penuh dengan penekanan agar Karin sadar jika dia tidak bisa seenaknya.
"Ciiihhh sombong ! Terserah dong aku mau ketuk pintu atau tidak. Lagipula tante Widia sudah mengizinkan aku untuk datang keperusahaan ini untuk bekerja. Tante bilang aku disuruh langsung menemui kamu, tapi malah ditahan resepsionis sialan itu. Resepsionis baru itu memang bodoh !! Nanti aku akan memecatnya."Seru Karin berlagak seperti CEO pemilik perusahaan saja.
Haaaa haaaaa haaaa
Alya tertawa dengan lantang, Alya menertawakan rasa percaya diri Karin yang terlalu tinggi. Dia seakan bermimpi untuk bisa memecat resepsionis itu. Memangnya dia siapa?
__ADS_1
Mama Alya tadi pagi saat Alya baru bangun tidur memang sudah memberitahu Alya jika untuk memberi pekerjaan kepada Karin. Namun hanya sebagai OB atau resepsionis saja, jangan sebagai Staff di bagian devisi. Sebab Widia tahu Karin sama sekali tidak punya keahlian apa-apa.
*********