
Rahel yang masih menatap penuh kebencian kepada sang suami, ingin rasanya mencakar sekujur tubuhnya dan menyiraminya dengan garam agar merasakan sakit dan perih.
Jupiter langsung merobek paksa segala pakaiannya yang menempel di tubuh istrinya hingga menyisakan sesuatu yang menutupi hal yang sangat privasi.
"Lepaskan! jangan kau sentuh aku, lepaskan tanganmu, baji_ngan!" Teriak Rahel dengan segala bentakan kepada suaminya demi menyelamatkan harga dirinya yang dijadikan ajang balas dendam lantaran meninggalnya adik perempuan Jupiter.
"Kamu tidak perlu jual mahal terhadapku, aku sudah sah menjadi istrimu dan berhak melakukan apapun terhadap dirimu. Jadi, percuma saja jika kamu mau berteriak sekencang mungkin." Ucap Jupiter sambil mengusap pipi menuju leher jenj_angnya.
Rahel yang merasa risih dengan apa yang sudah dilakukan oleh suaminya, tentu saja merasa jijik.
"Aku mohon, jangan lakukan itu padaku. Jangan kamu mengotori tubuhku ini, aku mohon." Ucap Rahel yang kini tengah meneteskan air matanya.
Jupiter kembali menyeringai, dan betapa bencinya Rahel pada suaminya lantaran sikap kasarnya.
Tidak peduli jika harus merenggut mahkota milik istrinya dengan cara paksa, setidaknya apa yang menjadi tujuannya dapat di lancarkan rencananya.
__ADS_1
Dengan brutal dan juga betapa beringasnya, Jupiter segera menanggalkan pakaiannya dan juga sesuatu yang masih melekat pada tubuh istrinya. Bahkan, Jupiter juga tidak peduli dengan calon istrinya yang bernama Felly. Bagi Jupiter yang terpenting dendamnya dapat tersampaikan atas kematian adiknya yang diduga atas perbuatan kakaknya Rahel, yakni Galaksi.
"Kau harus membayarnya sekarang juga, biar impas atas hutang kakakmu padaku, paham." Ucap Jupiter sambil menekan kedua tangan milik Rahel dengan tenaganya yang terbilang cukup kuat, kemudian ia terus menc_umbu istrinya hingga naf_sunya semakin memuncak.
Tidak hanya itu saja, ha_srat yang terpendam dapat tersalurkan meski dengan cara yang salah. Bagi Jupiter dapat memberi efek jera kepada adiknya Galaksi adalah sangat memuaskan baginya, tidak penting jika akhirnya menjadi depresi sekalipun.
Rahel yang terus memberontak, dirinya tidak mampu melawan suaminya, juga tidak mampu untuk berlepas diri.
Berkali-kali Rahel berteriak, tetap saja tidak ada respon maupun sahutan dari orang lain. Bagaimana akan mendapatkan respon, sedangkan kamar yang ditempatinya itu mempunyai penyadap suara.
Jupiter yang sudah kehilangan akal sehatnya, terus dan terus menikmati hubungan in_timnya bersama sang istri. Rahel yang tidak kuasa untuk melawan, hanya bisa menangis dan menerima perlakuan dari suaminya.
Rahel masih terus menangis, juga pasrah. Percuma mengadu sekalipun, lantaran keduanya memanglah suami istri. Sangat sulit untuk meminta perlindungan, lebih lagi suaminya terbilang sangat licik, dan juga dirinya tidak ada yang memberi pembelaan.
Galaksi, kakak laki-laki yang entah dimana keberadaannya. Jangan mengetahui dimana tinggal, keadaannya saja tidak mengetahui.
__ADS_1
Rahel bak sebatang kara, tidak lagi mempunyai siapa-siapa lagi selain suami yang menurutnya sangat buruk sikapnya.
Jupiter yang merasa mendapat keni_kmatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, tersenyum sinis saat menatap wajah ayu istrinya yang berantakan atas penampilannya karena ulah yang sudah diperbuat.
"Rupanya milikmu sangat nik_mat, nanti kita lanjutkan lagi permainan kita."
"Cuih!" Rahel langsung meludah ke sembarang arah demi meluapkan emosinya.
Saat itu juga, Jupiter langsung menarik tengkuk leher milik istrinya dan langsung mencium bibirnya.
Dengan sengaja, Rahel menggigit bibir milik suaminya hingga berda_rah.
Jupiter mengelapnya dengan ibu jari tangannya, dan didapatinya da_rah segar keluar dari bibirnya akibat gigitan sang istri.
"Kamu itu ya, benar-benar sangat berani melawanku." Ucap Jupiter sambil menatap wajah istrinya dengan tatapan yang begitu tajam bak mata elang yang siap untuk menerkamnya.
__ADS_1
Sedangkan Rahel sendiri tersenyum menyeringai dengan penuh rasa puas saat dirinya telah berhasil membuat marah suaminya.