Dendam Yang Salah

Dendam Yang Salah
Kemarahan


__ADS_3

"Kemana perginya Gala, bed_ebah! kau Gala. awas saja kalau kamu sudah ditemukan, aku akan memberi pelajaran untukmu." Ucapnya sambil memukul setirnya.


Teringat dengan kondisi Rahelia, Jupiter bergegas melajukan kendaraannya.


Dengan kecepatan tinggi, Jupiter terus menyalip mobil yang juga sama halnya dengan kecepatan tinggi.


Sedangkan di tempat lain, Gala sudah berada di kediaman yang sangat jauh dari pemukiman.


"Bersihkan badanmu dan juga lukamu itu, setelah itu kamu istirahatlah. Aku sedang tidak ingin berbicara untuk membahas masalah kamu dan lainnya." Ucapnya, dan bergegas pergi dari hadapan Gala yang dipenuhi memar pada bagian wajahnya.


"Silakan istirahat, Tuan." Ucap seseorang yang bertugas menjadi kaki tangan pemilik rumah.


Tak ada waktu untuk mengamati isi ruangan, Gala langsung masuk kedalam kamar yang sudah disiapkan.


Tidak berselang lama, secepatnya untuk membersihkan diri. Berharap, luka memar yang ada pada tubuhnya akan segera mereda.


"Brengs_ek! kau Pitter. Lihat saja, aku yang akan membalaskan dendamku padamu, karena kamu sudah berani menyiksa adikku." Ucapnya sambil menatap cermin yang ada di hadapannya.


Cukup lama membersihkan diri karena badan terasa sakit, akhirnya Gala keluar dari kamar mandi.


Alangkah terkejutnya saat melihat sosok perempuan cantik sudah berada didalam kamar tempatnya untuk istirahat.


"Kamu siapa?" tanyanya penasaran.


"Aku adiknya Rembo, cuma mau mengantarkan obat saja, juga makan malamnya." Jawabnya.


"Oh, kirain. Terimakasih sebelumnya. Maaf, jika sudah merepotkan." Ucap Gala, tanpa sadar jika dirinya hanya mengenakan handuk yang dililitkan saja.


"Kalau begitu, aku permisi."


"Tunggu,"


"Ya, ada apa?"


"Memangnya di rumah ini tidak ada pelayan?" tanya Gala yang merasa aneh, kenapa bukan pelayan saja yang mengantarkan obat serta makan malamnya, pikir Gala.


"Ada banyak kok, asisten di rumah ini, memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, cuma tanya aja."


"Oh, kirain ada apa. Ya udah, aku keluar." Ucapnya dan bergegas pergi.

__ADS_1


Gala yang tidak ingin pusing memikirkan sesuatu yang membuang-buang waktunya saja, memilih untuk menepis pikiran buruknya.


"Apa ya, perempuan tadi adalah adiknya Rembo? aku rasa dia tidak mempunyai adik perempuan. Terus, siapa dia? masa istrinya. Tidak mungkin, kalaupun istrinya, tidak akan diizinkan untuk menemui aku." Gumamnya penuh tanda tanya.


Tidak ingin pusing, Gala lebih memilih untuk mengobati lukanya dan segera makan malam. Kemudian, dilanjutkan lagi untuk istirahat.


Di lain tempat, Jupiter baru saja sampai di rumah sakit. Bukannya merasa puas karena mendapatkan mainan untuk ajang balas dendam, rupanya justru menjadi beban untuk dirinya atas kehadiran Rahelia di kehidupannya.


"Mbak Riti, aku ngantuk. Kalau aku tidur duluan, bagaimana? takutnya nanti Mbak Riti kena marah sama Tuan arogan dan juga kejam."


Mbak Riti justru tertawa mendengarnya.


"Ya gak lah, Nona. Ini sudah malam, waktunya untuk istirahat. Percaya deh sama saya, Tuan Jupiter tidak akan menyiksa Nona Rahel." Kata Mbak Riti.


Baru saja membicarakan Tuan yang menurutnya Rahel sangat kejam, ternyata orangnya sudah berdiri di ambang pintu. Bahkan, Rahelia tidak menyadarinya, termasuk Mbak Riti sendiri.


Sungguh merasa malu karena sudah menghina sosok Jupiter sebagai Tuan yang sangat kejam.


Meski kenyataan yang dilihat itu sangat kejam, Jupiter tidak menanggapinya.


Tujuan Jupiter hanya satu, membalaskan dendamnya pada Gala.


Rahelia yang mendapati Jupiter yang tengah berdiri, mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Eh, Tuan."


"Mbak Riti boleh pulang, pak Didin sudah menunggu di depan. Oh ya, besok pagi-pagi Mbak Riti secepatnya datang ke rumah sakit ini." Perintahnya.


"Baik, Tuan." Jawabnya.


"Nona Rahel, saya pulang duluan ya, Non. Tuan, saya permisi." Ucap Mbak Riti berpamitan.


"Makasih banyak ya, Mbak." Kata Rahel, Mbak Riti mengangguk dan tersenyum, Rahelia membalasnya.


Kini, tinggallah dua insan yang sedang berada di ruangan tersebut. Keduanya tak ada yang bersuara, sama-sama diam.


Tidak ingin jam istirahat terganggu, Rahelia maupun Jupiter memilih untuk tidur. Satu di atas ranjang pasien, dan yang satunya di sofa.


Rasa kantuk yang sudah menghipnotis keduanya, satupun tak ada yang bangun dari tidurnya.


"Kak Gala, kakak, kak Gala, jangan tinggalin Rahel. Kakak, Rahel takut. Kak, tolongin Rahel, kakak." Teriak Rahelia saat mengigau terus menerus mengulangi kalimatnya.

__ADS_1


Bahkan, Jupiter mendadak terbangun saat suara ia dengar begitu jelas. Seketika, Jupiter langsung bangkit dari posisi tidurnya dan mendekati Rahel.


"Rahel, bangun, Rahel, bangun." Panggil Jupiter yang terus membangunkan Rahelia yang masih terus mengigau.


Dengan napasnya yang seperti dikejar-kejar, mencoba untuk menyempurnakan kesadarannya, dan juga mengatur pernapasannya.


Jupiter sendiri segera meraih gelas yang berisi air minum, dan memberikannya kepada Rahelia.


"Minumlah, biar pikiran kamu lebih tenang." Kata Jupiter.


Tidak menjawab sama sekali, Rahelia langsung menerimanya. Kemudian, ia langsung meminumnya hingga tandas dan tak tersisa.


Jupiter yang teringat saat Rahelia mengigau meminta tolong dan seperti orang ketakutan, dirinya merasa kasihan, karena perempuan yang tidak bersalah harus menanggung akibatnya.


"Kenapa kamu diam? mengapa mesti membangunkan aku. Seharusnya itu, kamu membiarkannya agar mati dengan sendirinya. Dan, kamu tidak susah payah untuk menghabisi nyawaku."


"Diam! lanjutkan tidurmu, masih banyak waktu untuk istirahat. Ingat, jangan memancing emosiku, paham."


"Ya, aku paham. Silakan kembali ke tempat tidurmu, karena aku mau istirahat. Satu lagi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, jika tujuan kamu itu hanya untuk menyiksa, dan mau membunuhku. Jadi, kamu tidak susah payah untuk ..."


Belum sempat melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba Jupiter membungkam mulut istrinya dengan ci_uman dengan rakus tepat dibibir ranum miliknya.


Seketika, Rahelia tercengang saat Jupiter menci_umnya begitu rakus. Kemudian langsung melepaskannya, dan mengusap bibir milik Rahelia yang berubah warnanya menjadi terlihat manis.


PLAK!


Rahelia tidak peduli dengan selang infus yang terpasang di bagian pergelangan tangannya.


Sebuah tamparan mendarat di pipinya, Jupiter merasakan sesuatu yang sangat panas pada bagian pipi kanannya karena sebuah tamparan yang cukup kuat. Bahkan, bagian rahangnya cukup sakit untuk dirasakan.


Tidak hanya bagian rahangnya saja, pipinya berubah warnanya menjadi merah bekas tangan.


Jupiter yang tidak terima saat mendapatkan tamparan keras dari perempuan didepannya, tatapannya semakin tajam. Jupiter sama sekali tidak mengusap pipinya, dibiarkannya bekas tamparan itu.


Tanpa harus membalas, Jupiter mendekati wajah Rahelia tepat di dekat daun telinganya.


"Kau harus membayarnya, ingat itu." Ucap Jupiter setengah berbisik didekat telinga Rahelia.


Rahelia sama sekali tidak menanggapinya, tatapannya pun penuh dengan kebencian. Tak peduli baginya, jika nyawanya yang harus menjadi taruhan.


Jupiter menyeringai, dan kembali melanjutkan tidurnya di sofa.

__ADS_1


__ADS_2