
Masih di salon miliknya Yunanda, istrinya Zoni. Rahelia yang kepergok calon mertuanya, hanya bisa menunduk malu.
Kemudian, Ibunya Jupiter langsung mendekatinya. Dengan berani, langsung mengangkat dagu milik calon menantunya.
"Apa kamu sudah siap menjadi istrinya Jupiter? dia keras kepala dan juga keras dalam bertindak." Ucap ibunya Jupiter dengan sengaja menakuti calon menantunya.
"Saya sudah siap menerima resikonya, Tante." Jawab Rahelia sambil menatap calon Ibu mertuanya.
Setelah itu, mendekati putranya.
"Kamu serius, mau menikahi perempuan ini?" tanya Ibunya sambil menunjuk pada calon istrinya.
Jupiter mengangguk.
"Pikirkan baik-baik sebelum kamu menikahinya, jangan sampai kamu masuk ke perangkap kamu sendiri." Ucapnya untuk memberi penekanan pada putranya.
"Mama tidak perlu khawatir, tidak mungkin untuk masuk ke dalam perangkapku sendiri. Aku pastikan, semua akan baik-baik saja." Jawab Jupiter meyakinkan.
"Ya sudah kalau gitu, ayo kita berangkat. Waktu Papa tidak banyak, masih ada yang harus Papa kerjakan." Ucap sang ayah yang tidak ingin membuang-buang waktunya dengan sia-sia.
"Ya, Pa." Jawab Jupiter dan bergegas keluar dari salon milik temannya, dan diikuti kedua orang tuanya dan calon istrinya.
Selama perjalanan, Rahelia hanya diam sambil menyandarkan kepalanya di jendela kaca sambil melihat jalanan yang ia lewati.
Sedangkan di tempat tujuan, tepatnya di sebuah gedung yang sudah disewa oleh Jupiter, acara akan segera dimulai, dan hanya tinggal menunggu kedua calon mempelai datang.
Jupiter yang sudah mengatur semuanya, juga untuk para saksi, dirinya tidak lagi pusing untuk memikirkannya.
__ADS_1
Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya sampai juga di tempat yang sudah di sewanya.
"Siapkan mentalmu setelah ini, kamu akan menjalani kehidupan barumu bersamaku. Ingat, kau yang harus membayar hilangnya nyawa adikku, paham." Ucap Jupiter tak lupa untuk memberi ancaman kepada calon istrinya, yang tidak lain adik dari mantan sahabatnya sendiri.
"Kenapa gak sekalian hilangkan saja nyawaku, daripada kamunya susah payah untuk menyiksaku." Jawab Rahelia tanpa menoleh, dirinya tetap fokus lurus ke depan.
Jupiter yang serasa mendapat tantangan, langsung menyambar dagu milik Rahelia dan menekannya dengan tangan kirinya sambil menatap tajam padanya. Sedangkan tangan kanannya menahan kedua tangan calon istrinya cukup kuat.
"Sekali lagi kamu berani bilang lebih meminta untuk dilenyapkan, lihat saja nanti malam." Ucap Jupiter dengan ancaman.
Sedangkan Rahelia tidak merasa takut sama sekali, justru ikut menatap calon suaminya sama tajamnya.
Jupiter yang sudah tidak sabar, langsung segera melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Kemudian, ia langsung menarik paksa istrinya untuk turun. Tanpa peduli akan menjadi pusat perhatian oleh orang-orang yang ada di dalam gedung, Jupiter langsung menggendong istrinya.
"Lepaskan! aku bisa berjalan sendiri." Bentak Rahelia sambil memukul dada bidang milik calon suaminya cukup kuat tenaganya.
Acara yang akan segera dimulai, Rahelia dan Jupiter tengah duduk bersebelahan. Selanjutnya, pengucapan kalimat sakral segera dimulai.
Sebelumnya Jupiter kembali memastikan dan meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dengan tekadnya yang sudah bulat dan tidak bisa untuk di rubah, yakin untuk menikahi perempuan yang ada di sebelahnya.
'Kau harus yakin, Jupiter. Dengan cara menikahi adiknya Gala, maka kamu tidak susah payah untuk membalaskan dendammu padanya.' Batin Jupiter meyakinkan dirinya sendiri.
Acara yang sudah dinanti-nantikan, akhirnya segera dimulai.
Jupiter yang sudah yakin dengan keputusannya, kini akan segera dimulai pengucapan kalimat sakralnya.
Kalimat demi kalimat, akhirnya terucap dengan benar dan juga jelas oleh Jupiter saat mengucapkan kalimat sakral. Dan kini, Jupiter dan Rahelia telah resmi menjadi suami istri yang sah.
__ADS_1
Setelah sudah sah menjadi suami istri, beberapa orang yang sudah menjadi orang bayaran untuk dijadikan saksi, telah pergi meninggalkan gedung.
Dan kini, tinggallah beberapa orang saja, karena memang sengaja pernikahannya tersembunyi. Bahkan, tidak ada yang tahu terkecuali orang-orang tertentu saja.
Rahelia yang masih duduk, hatinya terasa dongkol dan juga benci. Pernikahan yang sama sekali tidak di harapkan, kini telah menjadi istrinya laki-laki yang sama sekali tidak dicintai.
"Selamat ya, atas pernikahan kalian berdua. Dan kamu Jupiter, ingat pesan Mama dan Papa, kamu menikahi perempuan ini, bukan berarti kamu bebas untuk menyakitinya." Ucap sang ibu yang tak lupa untuk mengingatkan putranya.
"Ingat, jangan membuat malu keluarga Pramajaya, paham."
"Papa dan Mama tenang saja, semua akan baik-baik saja." Jawab Jupiter sambil melirik ke arah Rahelia, yang kini sudah menjadi istrinya.
"Ya sudah kalau gitu, ayo kita pulang."
"Mama dan Papa pulang duluan saja, aku dan istriku mau menginap di hotel."
Kedua orang tuanya saling menatap satu sama lain, merasa heran itu sudah pasti. Beda lagi dengan Rahelia, justru dirinya tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
"Kenapa Mama dan Papa jadi bengong?"
"Gak apa-apa, ya udah kalau kalian berdua mau menginap di hotel. Kalau gitu, Mama sama Papa mau langsung pulang." Jawab Ibunya.
"Ya, Ma." Jawab keduanya bersamaan.
Sebenarnya Rahelia merasa enggan untuk menjawab. Tapi mau bagaimana lagi, mertua adalah orang tua, yang wajib di hormati, pikir Rahelia.
Setelah tidak lagi tampak bayangan kedua orang tuanya Jupiter, kini tinggal berdua, Rahelia dan suaminya yang masih berada di gedung.
__ADS_1
"Ayo, kita pulang ke hotel. Malam ini, kamu harus melayaniku dengan baik." Ucap Jupiter menakuti.