
"Baiklah, hibur dan tenangkan pikirannya. Kalau begitu, saya permisi." Ucap sang dokter memberi pesan dan sekaligus pamit keluar.
"Baik, Dok." Jawab Jupiter dengan anggukan.
Kini, tinggallah Rahelia bersama Jupiter di dalam ruangan tersebut.
'Males banget jika aku harus menyuapinya, benar-benar menambah masalah saja anak ini.' Batin Jupiter yang merasa enggan untuk melayani perempuan yang dijadikan tawanannya.
"Makan dulu, agar perut kamu tidak sakit." Ucap Jupiter sambil menyodorkan satu suapan di dekat mulutnya.
Rahelia memalingkan wajahnya, tak sudi baginya jika harus menerima suapan dari laki-laki yang sudah menyiksa.
"Mau makan atau tidak, ini sudah malam." Ucap Jupiter kembali berkata.
"Makan saja sendiri, aku sedang tidak lapar. Kalaupun aku harus kelaparan, itu jauh lebih baik agar secepatnya mati. Bukankah kamu menginginkan kematianku, bukan? biarkan saja aku kelaparan, dan kamu tak perlu menyiksaku jika aku mendadak mati." Jawab Rahelia yang tetap pada pendiriannya yang memilih mati dengan caranya sendiri, bukan lewat penyiksaan.
"Kamu itu sedang sakit, jangan membuatku murka."
"Kenapa kamu mesti murka? tujuan aku untuk tetap hidup, agar kamu bisa menyiksaku lagi, 'kan? ya udah, biarin aja aku kelaparan dan nanti juga bakal mati sendiri. Lagian juga kamu tidak perlu repot-repot menyiksa aku, paham."
Jupiter yang mendengarnya, pun semakin dongkol dan juga kesal. Ingin marah, tak kuasa baginya untuk menganiaya perempuan yang lemah, pikir Jupiter yang entah lewat akal sehat darimana.
Saat itu, suara ketukan pintu mengagetkan keduanya yang tengah berdebat. Jupiter segera membukanya, serta memastikan siapa orangnya yang datang.
"Mbak Riti, akhirnya datang juga. Tolong bujuk dia untuk makan, apapun caranya." Ucap Jupiter memberi perintah kepada asisten rumah yang dijadikan kepercayaan untuk mengurus Rahelia.
"Baik, Tuan." Jawabnya.
Jupiter yang merasa lega karena tidak harus membuang-buang emosinya, ia lebih memilih memberi perintah kepada asisten rumah.
Tidak mau gendang telinganya berisik saat mendengar asisten rumah dengan Rahelia yang mungkin saja akan berdebat, Jupiter memilih keluar dari ruangan pasien.
__ADS_1
Setelah pintu sudah di kunci dari luar oleh Jupiter, benar-benar merasa lega akan perasaan kekhawatirannya.
Kini, tinggallah Rahelia ditemani Mbak Riti. Selain sudah mengenal beberapa jam, Mbak Riti mudah untuk diajak mengobrol.
"Nona, mau sampai kapan, Nona Rahelia akan terus seperti ini. Dari tadi diam dan tidak bicara, apakah Nona tidak ingin berbicara sesuatu? atau, ngobrol sama saya misalnya."
Dengan berani, Mbak Riti membuka suara untuk merayunya.
"Mbak, untungnya hidup hanya untuk disiksa itu, apa?" tanya Rahelia yang masih menatap ke sembarang arah.
"Untungnya akan membuat Tuan Jupiter jatuh cinta sama Nona. Maaf, saya hanya bercanda." Jawabnya mencoba untuk mengajaknya bersenda gurau.
"Mbak Riti ini aneh. Mana ada orang yang suka nyiksa, terus tiba-tiba jatuh cinta dengan orang yang disiksa. Gak usah aneh-aneh deh, Mbak. Ini bukan negri dongeng, yang aneh tambah aneh." Kata Rahelia yang mulai terlihat seperti ingin senyum, namun ditahannya.
"Anggap saja Nona sedang hidup di negri dongeng, yang mana pemeran utamanya adalah Nona dan Tuan Jupiter."
Seketika, Rahelia langsung menoleh pada Mbak Riti saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkannya.
"Maaf, Nona, tadi juga bercanda. Jangan diambil hati ya, Non. Oh ya, ini kan sudah malam, waktunya Nona untuk makan."
"Aku sedang tidak ingin makan apapun, Mbak. Lebih baik Mbak Riti saja yang makan, nanti tinggal laporan sama Tuan arogan yang kejam itu." Kata Rahelia, Mbak Riti hanya tersenyum.
"Nona ini gimana, seharusnya Nona itu harus semakin kuat, tidak lembek dan mudah menyerah." Ucap Mbak Riti.
"Untuk apa aku harus kuat, kalau hanya untuk menjadi alat untuk penyiksaan. Lebih baik aku mati dengan caraku sendiri, dari pada harus mendapat penyiksaan dari laki-laki bia_dab itu." Kata Rahelia yang sudah malas berhadapan dengan lelaki yang sudah menyandra dirinya.
"Apa gak sayang, jika Nona mati dengan cara sia-sia. Padahal nih ya, Non, masih banyak cara lain untuk melawan Tuan Jupiter loh." Ucap Mbak Riti dengan terang-terangan untuk membujuk Rahelia agar mau menuruti saran darinya.
Rasa penasaran karena ingin tahu lebih lanjut lagi, Rahelia seakan tergoda untuk mengikuti saran dari Mbak Riti.
Tapi, tiba-tiba nyalinya berubah menciut saat dirinya ingin mengikuti saran dari Mbak Riti.
__ADS_1
"Nona harus makan dan diminum obatnya secara teratur, agar Nona cepat sembuh. Ketika sembuh, Nona harus cerdik, tetapi pakai akal sehat." Ucap Mbak Riti yang tidak lupa mengingatkannya.
'Benar juga yang dikatakan Mbak Riti, seharusnya aku tidak lemah begini. Ingat Rahel, ada kakak kamu yang harus kamu temukan keberadaannya. Jangan biarkan seorang pendendam akan menang.' Batin Rahelia sambil berpikir.
"Bagaimana, Nona?" tanya Mbak Riti yang tengah menunggu jawaban dari Rahelia.
"Ya, Mbak. Aku akan mengikuti saran dari Mbak Riti, yaitu untuk tidak menjadi lemah, melainkan harus berani dan kuat dari segala macam masalah." Jawab Rahel penuh yakin, jika semuanya akan segera dilewatinya, dan dendamnya segera dikembalikan kepada si empunya.
Mbak Riti yang mendengar jawaban dari Rahela, tersenyum lega.
"Jadi, Nona mau makan, 'kan?" tanyanya menawarkan kembali makanannya.
Rahela yang tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti saran dari Mbak Riti, akhirnya mengikuti saran darinya.
Mbak Riti yang sedari tadi memperhatikan Rahelia sedang menikmati makanannya, tidak ada kekhawatiran apapun terhadap seseorang yang kini telah menjadi tawanan dari Bosnya.
Sedangkan di tempat lain, Jupiter tengah menghubungi seseorang yang sudah diperintahkan untuk mencari keberadaan Gala. Berkali-kali menendang ban mobilnya karena kesal, Jupiter mengepalkan kedua tangannya yang sangat kuat.
Rahangnya yang sudah semakin mengeras, tatapan matanya pun seperti orang yang sudah hilang kendali.
"Maaf, Tuan. Kami sudah mencari keberadaan nya, tetap saja tidak menemukan jejak apapun di sekeliling tempat persembunyian." Ucap dari salah satu anak buah yang menjadi orang kepercayaannya untuk mengawasi Gala.
Tetap saja, sudah berbagai cara untuk dilakukan, tidak menemukan titik terangnya. Frustrasi, itu sudah menjadi resikonya saat mempunyai tahanan yang ia sandra.
"Aku tidak mau tahu, secepatnya kalian temukan Gala, bila perlu jadikan bangkai di depanku." Perintah Jupiter dengan segala emosinya yang sudah semakin memuncak.
"Baik, Bos. Kalau begitu, kami berangkat." Jawabnya dan bergegas pergi dari hadapan Bosnya.
Sedangkan Jupiter sendiri, segera kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi Rahelia.
Di lain sisi, Gala tengah dalam perjalanan dengan seseorang yang sudah membantunya kabur dari tempat persembunyian. Tentu saja, Gala merasa bebas tanpa harus mendapatkan perlawanan dari beberapa anak buah dari Jupiter.
__ADS_1