Dendam Yang Salah

Dendam Yang Salah
Beralasan demi kebaikan


__ADS_3

Pagi yang masih gelap disertai hujan deras dan juga angin yang kencang, membuat Rahel terbangun dari tidurnya. Saat ini harus berbaring di atas ranjang pasien. Mimpinya untuk mendapatkan kebahagiaan, seakan pupus begitu saja.


"Aaaaaa!" teriak Rahelia sangat kencang, dan tentunya telah membangunkan Jupiter yang masih terlelap dari tidurnya.


BUG!


"Aw!" pekik Rahel saat mendapat serangan dari Jupiter, yakni melemparkan sebuah bantal ke arah dirinya dan mengenai wajahnya.


"Itu mulut, bisa diam atau tidak. Pagi itu menguap, bukan menjerit." Ucap Jupiter sambil berjalan mendekati Rahelia yang tengah menunjukkan muka kesalnya.


"Mulut mulutku, apa urusannya denganmu." Kata Rahel dengan berani, Jupiter langsung membusungkan badannya dan menetap tajam padanya.


"Diam, atau aku akan kirimkan kamu ke rumah sakit jiwa, mau."


"Justru aku akan senang, di sana bebas untuk berteriak, apalagi menyebutkan namamu sambil mengejek dengan sesuka hatiku." Jawab Rahel tanpa ada rasa takut sedikitpun.


CTAK!


"Aw! sakit, tau." Pekik Rahel yang kedua kalinya, sedangkan yang ini mendapatkan sentilan yang cukup kuat saat mengenai keningnya.


"Makanya, diam. Jangan banyak bicara, sebentar lagi Mbak Riti akan segera datang untuk mengurus kamu disini."


"Dan kamu pulang, ya. Aku sangat senang, karena tidak melihat wajahmu yang kejam itu." Kata Rahel yang terus mengejeknya.


Jupiter sama sekali tidak menanggapinya, dan memilih untuk mencuci mukanya agar berasa segaran.


Dan benar saja, tidak lama kemudian Mbak Riti telah datang dengan membawakan baju ganti untuk Rahelia.


"Permisi, Nona. Maaf, saya datangnya terlambat." Ucap Mbak Riti sambil berjalan dengan membawa bawaan dari rumah.


"Mbak Riti, pagi-pagi sudah datang."


"Ya, Non. Nanti kalau terlambat, saya bisa mendapat hukuman dari Tuan Jupiter. Jadi, bila perlu datangnya lebih awal. Oh ya, Tuan Jupiter ada dimana? sepertinya tidak kelihatan. Apakah Tuan sudah pulang ya, Non?"


"Belum pulang kok, Mbak. Orangnya lagi di kamar mandi. Tau tuh, lagi berendam sepertinya. Semoga aja kedinginan, dan masuk angin duduk, dan entah kemana nyawanya. Ah, pokoknya menghilang dah." Jawab Rahelia dengan asal.

__ADS_1


Tidak disadari juga, ternyata orang yang sedang dibicarakan sedang berdiri didepan pintu kamar mandi, yakni tengah mendengar pembicaraan Rahelia dengan Mbak Riti begitu jelas.


"Ekhem!"


Jupiter berdehem cukup keras, dan berharap mereka berdua benar-benar kaget dan gelagapan.


Rahelia maupun Mbak Riti, pun langsung menoleh ke sumber suara.


Benar saja, ternyata Jupiter tengah berdiri dengan posisi tangan yang disilangkan di bagian dada bidangnya. Tentu saja, Rahelia kembali mengingat dengan kalimat yang baru saja di ucapkannya.


'Mam_pus! aku, kenapa itu si kunyuk pakai berdiri di situ, lagi. Sejak kapan dianya berdiri disitu, bisa balas balik itu si kunyuk.' Batin Rahelia sambil memperhatikan Jupiter yang tengah menatap tajam pada dirinya.


Karena tak ingin mendapatkan tatapan tajam pada Jupiter, akhirnya memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Mbak Riti, jaga dan awasi perempuan sialan ini. Kalau di memberontak, tali aja tangannya, atau panggilkan satpam. Satu lagi, jangan pulang dulu kalau aku belum datang." Perintah Jupiter kepada asisten rumah.


"Baik, Tuan." Jawab Mbak Riti disertai dengan anggukan.


Setelah memberi perintah kepada Mbak Riti, Jupiter mendekati lebih dekat lagi pada Rahel.


Rahelia yang malas menanggapi, memalingkan wajahnya. Kemudian, Jupiter segera keluar.


Kini, tinggallah Rahel dan Mbak Riti di dalam ruang pasien. Karena badan terasa risih, Rahelia menginginkan untuk mandi lebih awal, meski cuaca masih terasa dingin dan juga kedengaran hujan deras di pagi hari.


"Nona seriusan mau mandi? nanti kalau kedinginan, bagaimana?" tanya Mbak Riti saat merasa kedinginan karena cuaca yang sedang dingin.


"Tapi Mbak, badanku semuanya terasa risih. Sepertinya aku harus mandi, terasa lengket." Jawab Rahelia yang sudah tidak sabar ingin membersihkan badannya.


Karena tidak bisa menolak, akhirnya Mbak Riti menurutinya.


"Baik, Non. Mari, saya bantu untuk mengantarkan Nona sampai ke kamar mandi." Kata Mbak Riti sambil membantu membawakan infusnya.


Sedangkan dalam perjalanan, Jupiter mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup kencang. Sampai-sampai dirinya tak dapat mendengarkan suara ponsel yang berdering, seperti ada yang menelpon dirinya.


Ssssstttt

__ADS_1


Jupiter mendadak mengerem mobilnya, dan langsung menepikan dipinggiran taman.


Hujan semakin deras, angin juga sangat kencang. Dedaunan banyak yang berterbangan karena akibat adanya angin yang cukup kencang.


"Hanny? ada apa dengannya? apa ya, Mama memberitahu tentang pernikahanku." Gumamnya.


"Ya, Halo sayang. Maafkan aku, sekarang aku kejebak hujan deras. Nelponnya nanti saja kalau aku sudah sampai rumah, ok." Jawabnya yang lupa jika waktunya sudah pagi, dan waktunya untuk berangkat bekerja.


Tentu saja, sang pacar menjadi curiga karena ucapan dari Jupiter yang membingungkan.


"Maksud aku itu, tadi aku tidur di rumah teman. Jadi, sekarang aku dalam perjalanan pulang ke rumah. Sudah dong, jangan marah gitu. Nanti kalau sampai rumah, aku bakal telpon kamu, sayang, e_muah." Jawab Jupiter saat di interogasi oleh kekasihnya.


Setelah membuat pacarnya percaya, Jupiter segera melajukan kendaraannya kembali. Tidak berselang lama dalam perjalanan pulang, akhirnya sampai juga di depan rumah.


Dengan guyuran hujan yang cukup deras, Jupiter cepat-cepat masuk ke rumah.


"Tadi Hanny nelpon Mama, kenapa kamu susah dihubungi?"


"Tadi aku tuh, lagi di perjalanan. Tau sendiri hujan deras, mana dengar ada ponsel bunyi, jugaan volume nya kecil. Memangnya Mama jawab apa tadi? Mama tidak mengatakan kalau aku ada di rumah sakit, 'kan?"


"Mama bilangnya gak tahu kemana, semalam gak pulang, cuma itu. Gak mungkin juga jika Mama mengatakannya dengan jujur, bisa-bisa semua rencana pernikahan kamu akan berantakan. Sudahlah, kamu tidak perlu balas dendam. Ingat, bisa jadi kamu sendiri yang akan masuk dalam perangkap sendiri. Lebih baik kamu fokus dengan hubunganmu dengan Hanny, perempuan yang tidak kaleng kaleng."


"Gak, Ma. Justru itu, Jupiter ingin membalasnya dengan stimpal." Kata Jupiter yang tetap bersikukuh dengan keputusan darinya.


Bahkan, dirinya tidak peduli jika kedua orang tuanya akan marah besar jika mengetahui niatnya balas dendam itu tentang apa, pikirnya.


Sang ayah yang memang menyimpan rasa penasaran, akhirnya mencoba untuk mempertanyakan lagi pada putranya, agar mendapatkan jawaban yang sebenarnya.


"Jupiter," panggil sang ayah dengan serius.


"Ya, Pa, ada apa?" tanya Jupiter dengan santai, sambil mengambil sesuatu yang ada didepannya untuk sarapan pagi.


"Papa ingin tanya sesuatu sama kamu, jawablah dengan jujur."


"Ya, Pa. Tanyakan saja apa yang ingin Papa tanyakan, nanti Jupiter akan menjawabnya dengan jujur." Kata Jupiter sambil menatap ayahnya sambil menerka-nerka, apa yang akan ditanyakan oleh ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2