Dendam Yang Salah

Dendam Yang Salah
Ketakutan


__ADS_3

Rahel yang tengah menahan sakit akibat terjatuh dari atas tempat tidur, meringis kesakitan.


"Kau sudah gi_la, ya!" Bentak Jupiter dengan tatapannya yang tajam.


Kemudian, ia segera turun dan mendekati Rahel yang masih di bawah tempat tidur. Tetapi sebelumnya, Jupiter melepaskan celana panjangnya dan membuangnya ke sofa.


Saat sudah di hadapan istrinya, Rahel menatapnya dengan perasaan takut. Ditambah lagi dalam satu ruangan, tentu saja membuatnya takut dan juga gemetaran.


Jupiter yang sudah dibuatnya kesal, langsung meraih dagu milik istrinya. Setelah itu mengangkatnya, dan tak lupa menekan hingga rahangnya ikut merasakan sakit akibat ulah dari suaminya.


"Kau sengaja mau mengerjaiku, 'kan?"


Rahel yang ketakutan, menggelengkan kepalanya.


"Tad-tad-tadi itu aku gak sengaja, soalnya aku grogi." Jawabnya dengan susah payah, lantaran suaminya masih menekan bagian kedua rahangnya cukup kuat.


Saat itu juga, Jupiter langsung mendorong tubuh istrinya dengan kuat, hampir saja terjungkal kebelakang.


"Sekarang juga, cepat kau bersihkan badanmu. Setelah itu, layani aku dengan benar." Perintah Jupiter kepada istrinya dengan suara bentakan.


"I-i-ya." Jawabnya dengan tubuhnya yang gemetaran, dan bergegas masuk ke kamar mandi masih dengan perasaan takut.

__ADS_1


Sambil menunggu istrinya keluar dari kamar mandi, Jupiter sendiri memilih duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya.


Alih-alih mengirimkan pesan kepada anak buahnya, Jupiter tak lupa untuk menanyakan tentang tawanannya yang kabur, yakni Galaksi, yang kini sudah menjadi kakak iparnya.


Alangkah terkejutnya saat yang masuk justru pesan dari kekasihnya, yakni memintanya untuk menjemput di bandara dihari esok.


"Hanny," gumamnya sambil mengusap mulutnya berulang kali, juga sambil berpikir sejenak.


Selanjutnya, tiba-tiba ada pesan masuk dari anak buahnya. Dengan seksama Jupiter membacanya, dan tidak ada satu kalimat yang diabaikan olehnya.


"Mereka sudah gi_la apa, masa ya, malam gini harus datang ke markas. Yang benar aja, gak gak gak." Gumamnya cukup gelisah, lantaran mendapatkan paksaan dari salah satu anak buahnya yang memintanya untuk datang.


Tak ingin menambah pusing, Jupiter langsung mematikan ponselnya. Saat itu pula, terdengar bahwa di luaran sana seperti turunnya hujan yang semakin deras, juga membuat suasana dalam ruangan kamar hotel menjadi dingin.


Jupiter hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar, meski susah payah untuk menelannya.


'Si_al! kenapa juga hanya menggunakan handuk yang begituan.' Batin Jupiter yang berusaha untuk tidak mudah tergoda dengan pemandangan yang cukup menggodanya.


"Ngapain masih berdiri disitu, mau godain?"


"Eee, nggak. Aku cuma mau tanya, apakah sudah ada baju ganti untukku? soalnya tadi bajuku jatuh, dan terlanjur basah. Jadi, aku gak punya baju ganti." Jawab Rahel dengan perasaan gugup, juga pastinya takut.

__ADS_1


Lebih lagi dirinya hanya mengenakan handuk yang dililitkan, tentunya menjadi gusar jika terjadi sesuatu di dalam kamar hotel.


"Gak ada, kalaupun kamu mau, nih selimut kau pakai." Jawab Jupiter dengan sengaja mengerjai istrinya yang terlihat ketakutan karena tatapannya.


Rahel menelan ludahnya susah payah, dan tentunya bergidik ngeri mendengar jawaban dari suaminya.


"Jangan gi_la dong, masa suruh pakai selimut. Beliin lewat online atau gimana kek, aku udah kedinginan ini." Ucap Rahel yang sudah merasa tidak nyaman dengan apa yang ia kenakan, tentunya sangat risih.


Jupiter segera bangkit dari posisi duduknya, dan menghampiri istrinya yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Layani aku dengan benar, maka aku akan carikan baju untuk kamu." Sahut Jupiter dengan sengaja ingin membuat detak jantung milik istrinya menjadi tidak karuan.


"Maksudnya melayani yang gimana ya?" tanya Rahel yang mendadak begitu polos.


Jupiter segera mendekati istrinya, Rahel mundur satu langkah, dan satu langkah lagi masuk ke kamar mandi.


Sedangkan Jupiter sendiri memutar balikkan badan istrinya, dan membuat Rahel ketakutan saat suaminya memegangi kedua pundaknya yang begitu polos.


Rasa takut mengalahkan segalanya, membuat Rahel mundur beberapa langkah hingga mentok di sisi ranjang.


"Apa ya, aku harus menjelaskannya dengan detail?" tanya Jupiter sambil memicingkan satu alisnya seraya menggoda istrinya.

__ADS_1


Rahel yang gak tahu harus menjawabnya apa, hanya mengangguk bak kehilangan akalnya.


__ADS_2