
Ketika sudah mendapat pemeriksaan, Jupiter merasa lega. Meski kenyataannya harus menunggu hari esok untuk bisa pulang ke rumah, sama sekali tidak merasa keberatan. Tentu saja, Jupiter kembali memerintahkan Mbak Riti untuk menjaga Rahelia seperti sebelumnya.
Sedangkan Jupiter sendiri memilih untuk pulang dan beristirahat dengan tenang di rumah.
.
.
.
Malam bertemunya malam kembali telah dilewatinya, hingga tak sadarkan diri sudah berganti hari.
Pagi hari, Mbak Riti tengah membantu calon istri majikannya untuk bersiap-siap untuk kembali pulang ke rumah milik orang tuanya Jupiter. Awalnya ingin kabur dan tidak untuk kembali, tetapi niatnya segera diurungkan.
"Non, sudah tidak ada yang ketinggalan, 'kan?" tanya Mbak Riti sambil memeriksa ruangan pasien di sekelilingnya.
"Aku kurang tahu, Mbak. Soalnya aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Jangankan ponsel, baju saja aku tidak punya milik sendiri." Jawab Rahelia yang sedang duduk sambil mengayunkan kedua kakinya dengan posisi duduk di atas ranjang pasien.
"Nona Rahel tidak perlu memikirkannya, semua kebutuhan sudah ditanggung sama Tuan." Ucap Mbak Riti, Rahel hanya tersenyum.
"Tau lah Mbak, aku cuma bisa pasrah. Mau kabur saja sepertinya juga tidak punya nyali, diam itu lebih baik." Kata Rahel yang tidak ingin memperpanjang masalah.
Saat itu juga, Jupiter telah masuk ke dalam dan mendekati Rahelia.
"Gimana, sudah siap untuk pulang?" tanya Jupiter.
"Pulang kemana? aku sudah tak punya rumah lagi. Jadi, biarkan aku disini saja juga tidak apa-apa. Toh, nanti juga bakal mati sendiri kalau kelaparan." Jawab Rahelia yang masih merasa kesal, juga benci kepada Jupiter.
"Aku sedang tidak ingin menanggapi ucapan darimu, lebih baik kamu simpan saja ucapan kamu itu." Kata Jupiter yang langsung menggendong Rahel.
"Lepaskan! aku bisa jalan sendiri, ayo turunkan aku." Teriak Rahelia sambil memberontak dan berusaha untuk bisa lepas dari gendongan lelaki yang begitu dibencinya.
Jupiter sama sekali tidak menanggapinya, ia terus berjalan menuju mobil yang berada di depan rumah sakit.
Sedangkan Rahelia sendiri masih terus-menerus untuk mencoba untuk melepaskan diri, meski sangat kesulitan sekalipun.
"Masuklah, kita akan segera pergi ke salon. Setelah itu, kita akan menikah." Ucap Jupiter sambil memaksa Rahelia untuk nai dan masuk kedalam.
__ADS_1
Rahelia yang mendengarnya, pun kaget.
"Menikah, kamu bilang? untuk apa kamu menikahiku, kalau tujuan kamu saja hanya ingin menyiksaku dan akan membunuhku secara perlahan."
Setiap Rahel membahas mengenai penyiksaan, Jupiter langsung membungkam mulutnya Rahel dengan sebuah ci_uman panas darinya.
Lagi-lagi Rahel membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Keduanya saling menatap satu sama lain, tentunya dengan suara detak jantung yang tidak karuan.
Kemudian, Jupiter langsung menghentikannya.
"Ini belum seberapa, kamu harus siapkan diri kamu mulai dari sekarang. Ingat, setelah kita menikah nanti, kamu harus melayaniku dengan baik." Ucap Jupiter sambil mengusap bibirnya, dengan tatapan yang tajam.
Entah apa tujuannya, Jupiter begitu menginginkan agar dirinya segera menikahi Rahelia, adik dari teman akrabnya sendiri. Meski yang sebenarnya kini telah menjadi musuh terbesarnya.
Rahelia sendiri sama sekali tidak meresponnya, yang ada merasa jijik untuk melihat lelaki yang begitu keji padanya dan juga yang sudah menyiksa dirinya serta kakaknya yang bagaimana keadaannya yang sekarang, pikir Rahelia.
Karena tidak ingin menjadi perdebatan, Jupiter memilih untuk diam.
"Pak, tambahkan kecepatannya." Perintah Jupiter pada supir keluarganya.
"Baik, Tuan." Jawabnya dan segera mengikuti perintah dari Bosnya.
Jupiter sendiri menunggunya di ruang tunggu sambil mengecek ponselnya, berharap akan ada pesan masuk ke nomornya.
Benar saja, rupanya ada pesan masuk dari nomor yang tidak begitu asing.
"Hanny, kenapa lagi dia?" gumamnya.
"Hei, Bro! tumben mampir ke salon istriku. Mimpi apaan, kamu." Kata seseorang yang tiba-tiba datang mengagetkannya.
Dengan reflek, Jupiter segera mendongakkan pandangannya.
"Sia_lan, ngagetin aja, Lu. Aku tidak sedang bermimpi, aku mau menikah. Makanya, aku bawa calon istriku ke salon kamu. Sepertinya lebih aman dan gak mencurigakan." Jawab Jupiter.
"Lu mau menikah, seriusan. Menikah sama siapa, Hanny?" tanyanya seperti tidak percaya.
"Bukan, tetapi dengan adiknya Gala."
__ADS_1
"Adiknya Gala? tunggu tunggu, ada apa ini?" tanyanya yang sangat terkejut mendengarnya.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya minta sama kamu untuk merahasiakan pernikahanku dengannya. Karena pernikahanku sangat aku rahasiakan, alasannya karena sesuatu hal yang belum bisa ku ceritakan semuanya padamu."
"Kamu tidak sedang ada masalah, 'kan? maksudnya aku, tidak ada konflik apapun antara kamu dan Hanny, maupun dengan Gala sendiri."
"Aku tidak akan menjawabnya disini, kamu bisa temui aku di tempat biasa kita berkumpul." Jawab Jupiter menjelaskan.
"Ok, kamu tinggal hubungi aku saja, kalau kamu siap untuk bertemu denganku. Karena aku juga ada kesibukan dengan pekerjaanku, dan tidak mungkin juga aku tinggalkan begitu saja saat pekerjaanku menumpuk."
"Besok akan aku kabari lagi, untuk hari ini aku benar-benar sangat sibuk. Selain mengurus pernikahanku sendiri, aku juga ada kesibukan lain."
"Tidak apa-apa, aku dapat memahaminya. Ya udah ya, aku mau berangkat ke kantor. Aku ucapkan selamat dengan pernikahanmu nanti. Aku doakan yang terbaik untukmu, bahagia dalam pernikahan kamu." Ucapnya memberi ucapan selamat, tak peduli jika pernikahannya hanyalah sandiwara semata.
"Makasih ya, Zon." Jawab Jupiter sambil menjabat tangan Zoni.
Setelah Zoni berpamitan pergi, Jupiter menemui Rahelia yang sedang berdandan.
Sambil menunggu penampilan calon istrinya, alih-alih Jupiter menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Permisi, Tuan. Maaf, bagaimana dengan penampilan Nona Rahel?" tanyanya saat membuka tirainya.
Jupiter yang mendengarnya, pun langsung mendongakkan pandangannya pada perempuan yang ada di hadapannya dengan jarak beberapa langkah saja.
Kemudian, Jupiter memperhatikan dari ujung kepala hingga ke ujung kaki dengan seksama dan teliti.
"Terlalu glamor dan juga berlebihan, ganti yang lain." Ucap Jupiter seperti dewan juri yang tengah menilai penampilan para model.
Saat itu juga, Rahelia kembali mengganti gaun yang lain. Sedangkan Jupiter kembali menyibukkan diri dengan ponselnya.
Setelah itu, Rahelia kembali diperlihatkan lagi penampilannya di depan lelaki yang akan menikahinya. Lagi-lagi Jupiter menolak penampilan calon istrinya yang terlihat kurang elegan.
Rahelia kembali mencoba gaun yang lainnya lagi hingga merasa bosan karena terus menerus mengganti gaunnya.
Karena sudah tidak ada pilihan lain, akhirnya istrinya Zoni menggantikannya dengan gaun yang terakhir.
"Sempurna, sangat cantik dan mempesona." Ucap Istrinya Zoni saat melihat penampilan Rahelia yang sangat berbeda dengan penampilan yang sebelumnya.
__ADS_1
Rahel sendiri sama sekali tidak menunjukkan wajah bahagianya, istrinya Zoni hanya menatapnya heran, dan tidak berani untuk mempertanyakannya karena bersifat pribadi, pikirnya.