
"Kenapa kamu terlihat bersedih? seharusnya kamu itu bahagia, karena kamu akan segera menikah. Apalagi menikahnya dengan Jupiter, lelaki tampan juga kaya raya. Bahkan, yang aku ketahui, bahwa Jupiter orang yang setia." Ucap istrinya Zoni.
Rahel tertawa mendengarnya.
"Aku tidak percaya sama sekali dengan ucapan kamu itu. Jupiter yang aku kenal itu, lelaki yang sangat kejam dan suka menyiksa." Kata Rahel yang tetap pada penilaiannya.
"Yakin, berani taruhan?"
"Kenapa tidak, lihat luka ini." Jawab Rahel sambil menunjukkan pergelangan tangan kirinya.
Istrinya Zoni langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.
"Maksudnya dengan luka ini, apa?" tanyanya penasaran.
"Ini jawabannya, yang kamu bilang kalau Jupiter itu orangnya sangat baik dan juga setia. Apa kamu tidak lihat ini, luka ini dia yang menciptakannya." Jawab Rahel dengan penuh geram dan juga membencinya.
Istrinya Zoni yang penasaran, segera memeriksanya.
"Jupiter melukaimu?" tanyanya ingin mengetahui.
__ADS_1
Rahel menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tetapi lewat penyiksaan lainnya dan juga ancaman darinya. Andai aku suruh pilih, lebih baik aku memilih untuk mati saja, dari pada aku harus di tindas oleh dia." Jawab Rahelia dengan jujur, sama sekali tidak ada yang ditutup-tutupi.
Istrinya Zoni yang mendengar pengakuan dari Rahelia, antara percaya atau tidaknya.
'Apa ya, Jupiter sesadis itu? aku yakin, pasti ada yang tidak beres.' Batinnya bertanya-tanya karena penasaran.
"Aku do'akan, semoga ini hanya prank saja untukmu. Dan kenyataannya memang orangnya sangat baik dan juga setia kepadamu. Oh ya, ayo kita keluar. Calon suami kamu belum melihat penampilan kamu yang sekarang ini." Ucapnya membujuk, Rahel mengangguk dan segera keluar.
Jupiter yang masih duduk sambil menunggu calon istrinya, menyibukkan diri dengan ponselnya.
Jupiter dibuatnya terpesona dengan penampilannya, juga wajah ayu yang dimiliki calon istrinya.
Pernikahan yang seharusnya tidak secara diam-diam, kenyataannya harus dilakukannya sendiri tanpa ada yang membantunya.
Saat itu juga, tanpa diketahui oleh Jupiter, rupanya kedua orang tuanya sudah berdiri dibelakangnya.
Rahelia yang melihatnya, sedikit ada rasa malu dan juga canggung. Bahkan, rasa takut pun ikut dirasakannya.
__ADS_1
Jupiter yang tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, langsung bangkit dari posisi duduknya dan mendekati calon istrinya.
Begitu juga kedua orang tuanya, ayah dan ibunya mendekati anak dan calon menantunya. Awalnya ingin menentang keinginan putranya, tetapi niatnya diurungkan.
"Kenapa kamu tidak mengganti pakaianmu, Jupiter?" tanya sang ibu mengagetkannya.
Jupiter langsung menoleh, dan dilihatnya ayah dan ibunya yang sudah berdiri di dekatnya.
"Papa, Mama, kenapa kalian berdua ada di sini? kalau ada yang mengikuti kalian berdua, bagaimana?"
"Biarkan saja, tidak perlu kamu takuti." Kata sang ayah.
'Ini bukan masalah tidak perlu di takuti, tapi takut jika kalian akan menjadi sasaran empuk dari orang yang sudah merencanakan sesuatu.' Batin Jupiter penuh kekhawatiran.
"Terserah Papa dan Mama, aku tidak mau pusing untuk memikirkannya. Waktuku tidak banyak, aku harus segera mengganti pakaianku." Ucap Jupiter sambil berjalan menuju ruang ganti.
Sedangkan Rahel, tengah ditemani kedua orang tua calon suaminya. Sedangkan istrinya Zoni, memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Tante, Paman, saya tinggal dulu, ya." Ucap istrinya Zoni berpamitan.
__ADS_1
"Ya, tidak apa-apa. Silakan lanjutkan pekerjaan kamu, makasih sebelumnya, karena sudah merubah penampilan calon istrinya anakku sangat cantik." Jawab ibunya Jupiter.