Dendam Yang Salah

Dendam Yang Salah
Takut jika Alya hamil


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Hubungan pertemanan antara Alya dan Sofi kini sudah membaik. Alya sudah meminta maaf secara langsung dan sudah menyadari kesalahannya. Sofi dengan berbesar hati memaafkan sang sahabatnya.


"Alya, lihat itu bukannya si Haikal sama Karin?." Seru Sofi menunjuk kearah pintu masuk.


Benar saja disana ada Haikal dan Karin yang baru saja masuk kedalam cafe. Karin terlihat bergelayut manja di lengan Haikal. Haikal pun terlihat senang saat Karin merangkul lengannya.


"Mereka sepertinya sudah menjalin cinta lagi, Alya. Disini aku juga merasa kasihan dengan Haikal. Dia itu juga hanya dimanfaatkan oleh Karin, namun saat ingat dia itu memperlakukanmu tidak baik rasa kasihan itu hilang. Justru merasa senang saja saat nanti Haikal hancur dan terpukul saat mengetahui kenyataan tentang Karin."Ucap Sofi dengan ketus.


"Aku sama sekali tidak ada rasa kasihan terhadap Haikal. Justru aku juga ingin menghancurkan hidupnya."Seru Alya dengan mengepalkan tangannya.


"Bukannya kamu cinta sama Haikal?." Tanya Sofi dengan senyum yang sulit diartikan.


"Rasa cintaku sudah mati."Jawab Alya dengan yakin.


Rasa cintanya untuk Haikal kini benar-benar sudah mati. Tidak ada rasa cinta lagi untuk Haikal, semuanya sudah berubah semenjak kejadian malam kelam itu.


"Kamu harus hati-hati sama Karin dan Haikal. Aku yakin setelah ini Haikal pasti akan membawa Karin pulang kerumahnya, kamu harua siap mental menghadapi mereka. Oh iya kamu dan Haikal belum pernah melakukan hubungan suami istri kan?." Tanya Sofi ingin tahu.


"Sudah. Tepatnya tiga minggu yang lalu, itupun karena Haikal yang merenggutnya dengan paksa. Sampai aku sakit dua hari dan semenjak itu aku sudah membuang jauh-jauh rasa cintaku."Seru Alya geram mengingat kejadian malam itu.


Apa?


Alya dan Haikal sudah melakukannya. Sofi terlihat memikirkan sesuatu, dia khawatir jika Alya akan hamil. Pasti Alya tidak meminum pil penunda kehamilan.

__ADS_1


"Apa saat itu kamu meminum pil penunda kehamilan atau kamu memasang alat kontrasepsi yang lainnya?." Tanya Sofi serius.


"Tidak."Jawab Alya jujur.


"Bodoh "


Satu kata berhasil lolos dari mulut Sofi. Dengan cepat Sofi mengajak Alya meninggalkan cafe. Alya meletakkan uang 2 lembar merah dengan buru untuk membayar minuman yang mereka pesan. Dia tidak tahu Sofi akan membawanya kemana seban tangannya ditarik begitu saja oleh Sofi.


"Cepat kamu masuk mobil kamu !! Dan ikuti mobilku dari belakang."Seru Sofi dengan tegas.


" Tapi kita ini mau kemana, Sofi ? Kamu dari tadi menarik tanganku begitu saja tapi tidak memberitahu kita mau pergi ke mana?."Tanya Alya yang merasa heran dengan tingkah Sofi.


" Sudah tidak perlu banyak bertanya, kamu ikuti saja mobilku dari belakang. Jika kamu masih mau berteman denganku, kamu menurut apa kataku Alya."Seru Sofi lalu dia masuk ke mobilnya sendiri dan melaju meninggalkan pelataran parkiran Mall.


Alya pun tidak bisa menolak perintah Sofi, akhirnya dia mengikuti apa keinginan Sofi. Alya juga dengan segera melajukan mobilnya mengikuti laju mobil Sofi yang berada tepat di depannya.


Hari pun semakin sore, saat ini mobil Sofi berbelok ke salah satu rumah sakit yang terdekat dari mall tadi. Alya sendiri merasa bingung kenapa Sofi mengajaknya ke rumah sakit. Setelah mobil mereka sama-sama terparkir dengan rapi, Alya maupun Sofi turun dari mobil. Sogi menghampiri Alya dan segera menarik tangan Alya memasuki gedung rumah sakit.


"Aku ingin memeriksakan kamu. Lebih baik kanu diam !!."Bentak Sofi yang pusing dengan pertanyaan-pertanyaan dari Alya.


" Aku tidak sakit, Sofi. Kenapa kamu membawaku ke rumah sakit dan memeriksakan aku? Aku itu sudah sembuh, kamu jangan mengada-ada dong, Sofi."Seru Alya dengan kesal ternyata kedatangan mereka ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya.


Sofi tidak menghiraukan celotehan dan pertanyaan demi pertanyaan dari Alya. Sofi terus menarik tangan Alya menuju salah satu ruangan dokter yang sangat Sofi kenal.


Kini Sofi dan Alya sudah berada di depan ruangan dokter Gibran. Alya bisa membaca jika ruangan yang sehat ini mereka tuju adalah ruangan salah satu dokter spesialis kandungan. Dari sini Alya baru laham apa maksud Sofi mengajaknya ke rumah sakit.


" Sofi, aku tidak hamil dan tidak mungkin aku hamil secepat ini, Sof." Seru Alya dengan nada bicara yang terdengar sangat khawatir.


" Iya aku tahu dan aku juga tidak mau sampai kamu hamil anak Haikal sialan itu. Tetapi kamu dan Haikal sudah melakukannya, terlebih sudah hampir tiga minggu yang lalu dan saat itu kamu sama sekali tidak memakai alat kontrasepsi. Aku hanya khawatir di rahimu saat ini sudah ada janin dari Haikal. Jadi lebih baik dan untuk memastikannya kamu harus melakukan pemeriksaan. Kamu tenang saja, dokter Gibran ini adalah kakak sepupuku. Jadi kamu tidak perlu untuk mendaftar terlebih dahulu, lagi pula ini memang sudah jam prakteknya selesai."Seru Sofi meminta Alya untuk tetap periksa.


" Tapi Sof, aku takut. Takut jika aku benar-benar hamil, tetapi tidak ! aku tidak mungkin hamil hanya dengan sekali melakukannya saja."Seru Alya mensugesti pikirannya sendiri.

__ADS_1


Sofi tetap menarik tangan Alya untuk masuk ke ruangan dokter Gibran. Sebelumnya saat di perjalanan tadi, Sofi memang sudah menghubungi dokter Gibran memberitahu jika dia akan datang bersama temannya untuk memeriksakan temannya. Kebetulan memang dokter Gibran juga sudah selesai praktek, sehingga dokter Gibran mengiyakan apa yang diminta oleh adik sepupunya itu.


" Sofi kamu sudah datang? Kenapa masuk tidak mengetuk pintu terlebih dahulu? Beruntung aku sudah berpakaian, kebiasaan kamu ini."Seru dokter Gibran sengaja bercanda dengan Sofi.


" Sudah Kak, aku tidak ingin sedang bercanda. Saat ini aku mau kakak cepat periksa temanku ini. Dia ini hamil atau tidak."Seru Sofi langsung meminta Gibran untuk memeriksa Alya.


Gibran pun menghela nafas dengan kasar, kelakuan adik sepupunya itu memang barbar sekali. Beruntung itu adik ipar, jika bukan pasti sudah di usir oleh dokter Gibran.


"Silahkan berbaring disana."Seru Gibran menunjuk kearah brankar.


"Cepat Alya !." Bentak Sofi galak.


Dokter Gibran hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik sepupunya itu. Ternyata dengan temannya pun Sofi tetap saja galak. Dokter Gibran heran, kok ada orang yang mau berteman dengan Sofi.


"Iya."Jawab Alya dengan jantung yang sudah tidak menentu debarannya.


Dokter Gibran mengoleskan jell ke perut Alya, lalu dia mengarahkan alat USG ke perut Alya dan memutar-mutarnya di atas perut Alya. Dokter Gibran tersenyum simpul setelah menemukan sesuatu yang dia cari.


"Kenapa kamu ketawa kak? Apa ada yang lucu?." Tanya Sofi dengan memicingkan matanya.


"Kamu lihat ini?."Seru dokter Gibran menunjuk kearah monitor.


"Iya itu apa memang?." Tanya Sofi tidak paham.


"Ini adalah jani. Teman kamu positif hamil, Sofi."Seru dokter Gibran.


"Apa???"


Sofi dan Alya secara bersamaan berteriak saat dokter Gibran selesai memberitahu jika Alya positif hamil.


Alya terlihat syok saat mengetahui jika dirinya hamil. Bukan berarti dia tidak siap untuk hamil atau tidak siap untuk memiliki seorang anak. Alya hanya tidak mau mengandung anak dari Haikal, sebab pernikahannya dengan Haikal hanya pernikahan palsu yang didasari dengan sebuah kesalah pahaman. Pernikahan yang Haikal jalani karena sebuah dendam saja.

__ADS_1


*************


__ADS_2