Dendam Yang Salah

Dendam Yang Salah
Dikerjain


__ADS_3

Tidak mempunyai pilihan lain selain nurut dan juga pasrah, Rahel ikut dengan ajakan suaminya.


Sebenarnya ingin sekali menolak ajakan dari suaminya, tapi dirinya tidak mampu untuk menolaknya. Tentunya, tidak semata untuk nurut dengan suaminya itu, ada sesuatu yang tengah dipikirkan oleh Rahel sendiri.


Selama dalam perjalanan pulang ke hotel, Rahel menatap luar dengan memperhatikan jalanan yang ia lewati. Sambil melamun, Rahel mengingat kebersamaan dengan kakaknya. Kenangan yang begitu banyak yang dilalui, harus menjadi sebuah kenangan semata.


Sedangkan Jupiter sendiri menyandarkan kepalanya sambil memejamkan kedua matanya, yakni menyempatkan waktu dalam perjalanan untuk istirahat sejenak. Bahkan, keberadaan Rahel di sampingnya hanya diacuhkan.


Rahel yang merasa capek bersandar di jendela kaca mobil, ia menoleh ke samping. Dilihatnya sang suami tengah tidur dengan pulas, terlihat adem dan kalem.


'Kalau sedang tidur aja terlihat kalem. Giliran marah, udah ke orang kesurupan.' Batin Rahel sambil memandangi wajah suaminya yang tidak ia sadari bahwa Jupiter membuka matanya dengan sempurna.


"Kenapa? terpesona ya, dengan suami kamu yang tampan ini."


Rahel langsung melotot saat kesadarannya sudah terkumpul.


"Dih, siapa juga yang menganggap kamu itu tampan. Jelas-jelas kamu itu psiko, dan juga kejam." Tuduh Rahel tanpa menyaring terlebih dahulu pada kalimat yang ia ucapkan pada suaminya.


Saat itu juga, Jupiter mengangkat kepalanya dan langsung menyambar leher jenjang milik istrinya, dan menekan tengkuk lehernya. Tak peduli istrinya memberontak, Jupiter langsung menc_ium bibir istrinya cukup kasar dan sangat rakus seperti berna_fsu.


Susah payah Rahel mendorong tubuh suaminya, justru tindakannya tidak dapat mengalahkan tenaga suami yang super kuat.


"Lep-lepaskan!"


Jupiter semakin liar, tidak peduli dengan supirnya. Ia terus meny_esap bibir istrinya dengan rakus, juga membuat Rahel kualahan untuk menerima ci_uman dari suami.


"Kita sudah sampai, Tuan." Ucap sang supir pada Tuan-nya.


Tidak menjawab sama sekali, Jupiter langsung membuka pintu mobilnya, dengan dibantu dengan tendangan kakinya agar memudahkan untuk keluar.


Tidak menyukai sesuatu yang lambat, Jupiter menggendong istrinya sampai ke dalam kamar hotel.


"Cepat kau buka pintunya." Perintah Jupiter yang masih menggendong istrinya.


Rahel menurut dan segera membuka pintu kamar hotel dengan tangannya yang gemetaran.


"Kodenya berapa?" tanya Rahel masih gemetaran.


"0069" jawab Jupiter.


Rahel segera membuka sesuai arahan dari sang suami. Pintu pun terbuka dengan sendirinya, yakni tanpa perlu mendorong.

__ADS_1


"Kunci lagi pintunya." Perintahnya lagi untuk mengunci pintunya.


"Sudah." Ucap Rahel.


Saat itu, Jupiter melemparkan istrinya di atas ranjang tidur.


"Aw!" Rahel memekik saat tubuhnya dijatuhkan di atas ranjang tidur dengan penampilan yang acak kadul, lantaran belum membersihkan diri setelah acara resepsi.


Bahkan, pakaian yang ia kenakan, tertarik ke atas, dan menyisakan pemandangan yang menggoda. Juga, membuat Jupiter tak sabar dan ingin segera menggarap Rahel yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Rahel yang tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, segera menarik selimut untuk menutupi anggota tubuhnya yang sempat dilihat oleh suaminya, pa_ha yang mulus dan menggoda.


Jupiter yang tidak ingin gegabah, seolah bersikap santai, meski sebenarnya tidak sabar ingin mengambil haknya, yakni untuk memuaskan diri akan dendamnya pada Galaksi, kakak laki-laki satu-satunya Rahel.


Dengan santai, Jupiter melepaskan jasnya. Kemudian, ia naik di atas tempat tidur. Lalu, mendekatkan diri didekat istrinya.


"Jangan, aku mohon jangan." Tolak Rahel yang tidak ingin selimutnya dibuka oleh Jupiter, yakni suaminya sendiri.


"Makanya cepat bantu aku lepaskan bajuku, juga celana panjangku." Perintah Jupiter tanpa canggung.


"Kenapa mesti aku, kamu kan, bisa melakukan sendiri."


"Apa kau masih mau membantahku? ingat, ada kakak kamu yang perlu kamu lindungi."


"I-i-ya, baiklah." Jawab Jupiter pasrah, tak punya cara lain untuk menolak perintah dari suaminya.


Dengan perasaan takut, Rahel memberanikan diri untuk mendekati suaminya.


"Cepat, lepaskan bajuku." Kata Jupiter memberi perintah pada istrinya.


Rahel menelan ludahnya dengan kasar, juga menggigit bibir bawahnya karena salah tingkah. Malu, takut, tidak percaya diri, telah terkumpul menjadi satu.


Pelan-pelan Rahel membuka kancing baju dari atas, tentu saja masih dapat menatap wajah suaminya yang bisa dikatakan sangat tampan.


Jupiter masih diam diri, membiarkan istrinya membukakan semua kancing bajunya.


Setelah kancing paling atas, dilanjutkan kancing baju yang kedua, tangannya masih gemetaran. Takut, jika suaminya meminta haknya. Tentunya membuat Rahel semakin cemas untuk memikirkannya.


Saat sudah di urutan kancing ke empat, mulai terlihat kulit dada bidangnya yang seperti roti sobek.


Perempuan mana yang tidak terpesona melihatnya, lelaki dengan tubuh yang menurutnya sudah sempurna dan tidak diragukan lagi akan ketampanan seperti apa suaminya.

__ADS_1


Napas yang awalnya gemetaran karena takut, kini berubah seakan memburu yang dibarengi dengan detak jantungnya yang kian mulai mempercepat detakannya.


"Cepat kau buka bajunya." Perintah Jupiter, Rahel segera memejamkan kedua matanya, takut akan terhipnotis oleh tubuh sixpack yang dimiliki oleh suaminya.


Jupiter yang melihat ekspresi istrinya yang lucu itu, hanya tersenyum melihatnya yang tidak berani untuk membuka kedua matanya.


"Cepetan kau buka bajunya, apa perlu aku juga membuka baju kamu." Ucap Jupiter dengan sengaja menakuti istrinya.


"I-i-ya," jawab Rahel terbata-bata karena gugup, lantaran harus satu kamar bersama laki-laki yang sama sekali tidak dicintai.


Tidak ada pilihan lain selain nurut perintah dari suaminya, Rahel membuka baju kemeja suaminya.


Dan kini, tubuh sixpack milik Jupiter, sama sekali belum dilihat oleh Rahel. Tetap saja, Rahel masih memejamkan kedua matanya.


"Buka kedua mata kamu, kalau ada yang kurang benar, bagaimana?"


Dengan reflek, Rahel langsung membuka kedua matanya. Dan benar saja, kedua matanya seakan sudah ternodai dengan pemandangan yang tidak pernah lihat dengan nyata, biasanya juga hanya lewat foto di media sosial lainnya.


Susah payah menelan ludahnya, Rahel benar-benar terhipnotis dengan sosok suaminya yang mengundang keinginan untuk memeluknya. Tapi, semua itu tidak mungkin untuk dilakukan, karena dirinya sadar diri, bahwa dirinya dijadikan ajang balas dendam.


"Lanjut dengan celana panjangnya, buruan." Perintah Jupiter, Rahel kembali melotot dan bengong.


"Buka celana panjang?" tanya Rahel dengan tatapan seperti penat memikirkan tugas kuliahnya.


"Buruan, cepat kau buka."


"I-i-ya," jawabnya lagi dengan terbata-bata.


'Si_al! dia benar-benar mengerjaiku rupanya.' Batin Rahel dengan kesal, segala umpatan akhirnya keluar didalam hatinya.


Dengan perasaan dongkol, bukan lagi terpesona, Rahel terpaksa membuka celana panjang yang dikenakan oleh suaminya.


Saat itu juga, ide konyol muncul begitu saja di otak jahilnya.


"Aw!" pekik Jupiter dan langsung mendorong istrinya hingga terjatuh ke lantai.


BRUK!


Rahel terpental di lantai sambil meringis kesakitan. Bukannya untung karena dapat mengerjai suaminya, justru dirinya kesakitan saat terjatuh.


"Si_al! aw!" umpat Rahel sambil memekik menahan sakit.

__ADS_1


Begitu juga dengan Jupiter, tengah menahan sakit juga di bagian hal terpenting miliknya, bahkan sangat berharga.


__ADS_2