
Bab 1.
Haris terlahir disebuah desa yang sangat terpencil disalah satu kabupaten di Propinsi Jambi. Seperti umumnya desa di Jambi, desa mereka terletak di pinggir sungai Batanghari. Sungai mempunyai peranan penting dalam kehidupan orang desa, baik sebagai sarana transportasi maupun untuk mencari nafkah.
Desa tempat tinggal Haris terletak sangat jauh kedalam, melewati hutan dan kebun karet dengan jalan yang belum diaspal, sempit dan bersemak. Jarang ada mobil yang lewat di jalan ini, paling mobil pengangkut karet atau mobil pedagang musiman yang sesekali datang ke desa mereka.
Rumah mereka sangat sederhana, terbuat dari papan yang disusun sirih berbentuk bangunan panggung yang dibangun diatas tiang yang tahan air setinggi 3 meter untuk menghindari banjir atau binatang buas yang masih sering berkeliaran disekitar desa.
Lantainya juga dari papan yang ditutup dengan tikar, sedang atap dari seng atau dari daun pohon rumbia. Tidak ada kursi tamu, tidak ada meja makan, semua aktifitas dilakukan diatas tikar, baik untuk makan, menerima tamu atau aktifitas lainnya.
Rumah sederhana ini hanya diterangi oleh dua buah bola lampu pijar berkekuatan 25 watt, itupun hanya sampai jam 12 malam, selebihnya mereka akan memakai lampu teplok atau obor karena mesin gensetnya harus diistirahatkan. Tiap-tiap rumah hanya mendapat jatah dua lampu dan sebuah stok kontak untuk menyalakan TV.
Selepas jam dua belas malam suasana menjadi lengang semua lampu listrik sudah padam digantikan oleh lampu teplok atau obor yang terkadang redup tertiup angin.
Jumlah penduduk disini tidak terlalu banyak paling 30 kepala keluarga, tata-rata punya anak dua atau tiga orang. Rumah mereka berjejer sepanjang pinggiran sungai, ditengah diantara rumah-rumah itu terdapat sebuah langgar tempat mereka melaksanakan acara-acara spiritual seperti sembahyang, mengaji atau memperingati hari-hari besar Islam. Pada malam hari selepas Isya langgar ini akan ramai oleh anak-anak yang sedang belajar mengaji.
Dibagian bawah rumah ( kolong ) dipakai untuk memelihara kambing, ayam atau untuk memasak kalau lagi ada hajatan. Aktifitas MCK ( Mandi, Cuci, Kakus ) dilakukan diatas ****** yang mengapung dipinggir sungai. ****** dibuat dari kayu bulat yang berukuran besar yang bisa mengapung diatas air. Jumlah kayunya sekitar 4 atau 5 buah atau bisa juga dari drum bekas yang disatukan dan diikat dengan menggunakan rantai atau tali kapal. Diatasnya diberi papan lalu dibuatkan WC yang berdinding papan dan atap seng pada salah satu sudut ******, kemudian tiap-tiap ****** diikat dengan tali lalu diikatkan pada kayu yang ditancapkan di dinding sungai agar tidak hanyut.
Penduduk desa umumnya berprofesi sebagai petani karet, hampir semuanya mempunyai kebun karet, tanaman yang berasal dari Brazil dengan nama latin Hevea Breziliensis Muele ini sudah lama dikenal di Jambi sejak jaman penjajahan Belanda, sehingga terkenal dengan sebutan kota karet.
Umumnya kebun karet di Jambi berbentuk kebun karet rakyat, tidak begitu terurus, dibiarkan tumbuh tidak beraturan. Biji-biji karet yang berserakan ditanah akan tumbuh liar, tumpang tindih sehingga pohonnya ada yang besar ada yang kecil. Semak belukar juga jarang dibersihkan, sehingga sering ditemukan binatang-binatang yang berbahaya seperti harimau, beruang, babi hutan, ular dan lain lain.
Rata-rata mempunyai kebun karet cukup luas, paling sedikit dua hektar, seharusnya hidup mereka lebih dari cukup, tetapi tidak, mereka justru hidup dibawah garis kemiskinan dan terbelit hutang.
Kurangnya informasi ditambah dengan tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan petani karet ini sering dipermainkan oleh toke getah yang seenaknya menentukan harga karet dan mempermainkan timbangan, akibatnya mereka tetap hifup dalam kemiskinan.
Mereka juga mempunyai kebiasaan yang kurang baik kalau harga karet sedang mahal akan membeli apa saja, kadang tidak masuk akal, seperti membeli kulkas padahal listrik belum masuk, alhasil kulkas berubah fungsi menjadi lemari pakaian.
Sejak kecil Haris sudah terbiasa main disungai dan didalam hutan sambil mencari ikan atau buah-buahan yang kadang bisa dijual untuk uang jajan.
Suatu ketika Haris hilang didalam rimba selama 6 bulan, waktu itu umurnya baru 5 tahun, dia tidak pulang sampai larut malam, keadaanpun geger.
__ADS_1
Pencarian dilakukan kedalam hutan karena menurut ibunya sore itu Haris disuruh mencari kayu bakar dipinggir hutan.
Dengan membawa obor mereka memasuki hutan sambil membunyikan apa saja yang bisa mengeluarkan suara seperti kaleng, panci, ember dan kentungan.
" Hariiis !! ".
" Hariiis !! ".
Mereka berteriak-teriak memanggil nama Haris sambil terus masuk kedalam hutan, tapi hasilnya nihil, Haris tidak kunjung ditemukan.
Besoknya didatangkanlah seorang dukun yang terkenal sakti dari desa tetangga untuk membantu menemukan Haris.
Menurut pak dukun Haris disembunyikan oleh jin diatas sebatang pohon besar karena sembarangan kencing sehingga mengenai mata anak jin. Ada beberapa persyaratan yang diminta oleh sang dukun antara lain kain putih sepanjang satu meter, ayam panggang dari ayam kampung yang berwarna hitam, kembang tujuh macam, nasi tumpeng, tentunya ditambah dengan uang sebagai upah sang dukun.
Malamnya beberapa orang laki-laki yang dipimpin oleh pak dukun masuk kedalam hutan dengan membawa persyaratan yang diminta. Setelah menemukan pohon besar yang dimaksud mereka berhenti dan meletakkan barang bawaannya dibawah pohon.
Setelah membakar kemenyan sang dukun membaca mantera-mantera yang tidak jelas kata-katanya seperti orang demam yang sedang mengigau, lalu memasukkan air minum kedalam mulut dan menyemburkannya kearah bara api sehingga asappun semakin mengepul, bau kemenyan menyebar kemana-mana seperti dikuburan.
Sementara orang-orang kampung sibuk melakukan ritual Haris sedang tertidur nyenyak dipondok orang rimba, Suku Anak Dalam ( SAD ), bergabung dalam satu pondik dengan beberapa anak orang rimba.
Sore itu dia pergi ke pinggir hutan karena disuruh ibunya mencari kayu untuk memasak, dia lalu mengumpulkan ranting-ranting yang sudah kering dan mengikatnya dengan tali yang sengaja dibawanya dari rumah. Ketika hendak beranjak pulang tiba-tiba dia melihat seekor kelinci sedang makan rumput tidak jauh dsri tempatnya berdiri.
Haris meletakkan bawaannya dan berusaha menangkap kelinci yang sangat lucu itu, kelinci itu terkejut dan berlari kedalam hutan.
Haris terus mengejar sampai kelinci itu menghilang masuk kedalam semak belukar. Setelah kelinci itu tidak tampak lagi dia baru sadar kalau telah tersesat jauh kedalam hutan, diapun berusaha untuk keluar tapi bukannya keluar malah semakin jauh kedalam.
Hari mulai gelap, dia semakin ketakutan, lalu menangis sambil berteriak memanggil ibu bapaknya, namun tidak ada yang mendengar.
Rupanya teriakan Haris menarik perhatian seekor harimau, si raja hutan itupun mendatangi tempat Haris berdiri. Suara aumannya mengagetkan Haris, dia memekik, suara tangisannya semakin keras, mukanya pucat ketakutan. Harimau itu semakin mendekat dan siap untuk menerkam, tiba-tiba dia mengaum sangat keras lalu terjerembat ketanah, ditubuhnya tertancap sebatang tombak.
Tidak lama kemudian muncullah beberapa orang laki-laki dengan pakaian seadanya, rupanya mereka adalah Suku Anak Dalam ( SAD ) yang baru pulang dari berburu.
__ADS_1
Beruntung mereka tepat berada didekat tempat itu sehingga Haris terlepas dari bahaya dan bisa diselamatkan. Kemudian orang rimba itu membawa Haris ketempat tinggal mereka, bergabung dengan komunitas orang rimba ditengah hutan belantara.
Besok paginya Haris menggigil kedinginan karena tidur ditempat terbuka tanpa selimut diatas pondok yang sangat sederhana, terbuat dari kayu-kayu bulat yang diikat dengan rotan, tanpa dinding dengan atap yang terbuat dari daun ilalang.
Haris cepat menyesuaikan diri, hanya dalam waktu beberapa hari saja dia sudah bisa berbaur dengan komunitas orang rimba itu, berbicara dalam bahasa orang rimba, memakan apa saja yang disediakan oleh orang rimba, tidak perduli apakah halal apa haram.
Orang rimba merupakan penduduk asli yang hidup berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lainnya.
Orang rimba akan mencari tempat yang baru kalau dirasa makanan ditempat tinggal mereka mulai menipis atau kalau ada ancaman keselamatan.
Menurut ceritanya mereka berasal dari orang Minangkabau yang lari kedalam hutan karena beberapa alasan lalu hidup berkelompok secara nomaden ( berpindah-pindah ). Mereka tersebar dibeberapa tempat disepanjang Bukit Barisan, tapi yang paling terkenal adalah yang tinggal di Jambi yang disebut Suku Kubu.
Orang rimba mencari makan dengan cara berburu, mencari rotan dan getah jernang. Rotan dan getah jernang akan mereka tukarkan dengan beras, garam dan rokok, sedang hewan buruan akan mereka konsumsi sendiri.
Haris senang bermain dengan anak-anak rimba itu, banyak hal-hal baru yang didapatlan disana yang belum pernah dia dapatkan didesa tempat tinggalnya.
Bebukit adalah salah seorang dari anak-anak rimba yang menjadi teman dekat Haris, umurnya lebih tua setahun, anaknya tangkas, dia banyak mengajarkan tentang kebiasaan orang rimba, mulai dari berburu, memanjat pohon, menangkap ikan dan lain-lain.
Anak-anak rimba itu namanya banyak yang hampir sans seperti Bebukit, Belembah, Begunung, Besudut, tentu saja tidak ada yang bernama Belalang atau Belatung.
Bebukit punya adik perempuan, umurnya baru tiga tahun anaknya lucu dan cantik imut-imut, kemanapun kakaknya pergi dia akan ikut namanya Seruni.
Pada suatu hari setelah 6 bulan Haris hidup bersama orang rimba, salah seorang dari orang rimba itu mengalami sakit keras. Sesuai dengan adat istiadat yang berlaku pada komunitas mereka, apabila ada yang sakit keras mereka harus pindah kehutan lain dan yang sakit akan ditinggal ditempat itu sendirian dengan ditinggali bekal secukupnya karena dianggap sebagai pembawa sial. Kalau nasibnya baik dia akan sembuh dan dapat berkumpul kembali dengan kelompoknya, tapi kalau tidak ya selesai, mati !.
Rapatpun digelar, lalu diputuskan oleh Tumenggung Talip sebagai pimpinan mereka bshwa nereka akan segera pindah dan meninggalkan orang yang sakit ditempat itu, adapun Haris harus dideportasi keluar hutan karena dianggap sebagai penyebab sakitnya salah seorang dari anggota komunitas mereka.
Bebukit sangat sedih mengetahui kalau Haris akan dipisahkan dari mereka begitu juga dengan Seruni yang telah menganggap Haris sebagai kakaknya sendiri, tapi tentu saja mereka tidak punya daya melawan keputusan adat.
Sebelum Haris diantar keluar dari hutan Bebukit memberi sebuah kalung dari untaian batu akik, lalu Haris memakai kalung itu dilehernya.
Haris dibawa keluar dari hutan dan ditinggalkan begitu saja diluar hutan, dia ditemukan oleh seorang penyadap karet lalu dibawa ke desa tempat tinggal Haris.
__ADS_1
Ketika berumur 7 tahun mereka pindah kekota Jambi ketempat tinggal mereka yang sekarang karena ayahnya tidak mau Haris ketinggalan dalam pendidikan seperti orang desa yang hanya tamat SD kemudian menjadi penyadap karet.