DERMAGA CINTA TERAKHIR

DERMAGA CINTA TERAKHIR
DERMAGA CINTA TERAKHIR


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Hendra uring-uringan, seperti ada masalah besar yang dihadapinya, teman-temannya dikedokteran pada heran, kok siburung murai ini tiba-tiba jadi pendiam, tidak terdengar lagi kicauannya, seperti orang sakit gigi.


Sejak pertemuannya dengan Hartini tempo hari waktunya habis untuk memikirkan mahasiswi sos-pol itu. Dimanapun dia berada wajah gadis itu selalu membayangi, dikamar, dikamar mandi, dimeja makan , dikampus, bahkan hampir diseluruh dunia.


Diwarung itu, warung mbok Joyo dia merasakan perasaan yang aneh, dia tidak tahu perasaan apa itu namanya, dia seperti kehilangan kendali untuk menentramkan hatinya.


Sayang sejak saat itu dia tidak pernah lagi bertemu dengan Hartini, beberapa kali mampir ke warung mbok Joyo, tapi tidak pernah bertemu juga.


Hampir saja dia nekat menemui Hartini di fakultas sos-pol, tapi diurungkannya karena memang tidak punya keberanian untuk itu.


Hari ini dia akan mencoba lagi keberuntungan, dia akan mampir ke warung mbok Joyo, mana tahu bertemu Hartini disana.


Kebetulan dijalan dia bertemu dengan Hartini yang sedang menunggu angkot, segera saja dia hampiri.


" Mau kuliah Har, bareng yuk ".


" Hei mas Hendra, terima kasih saya sedang menunggu teman ".


Hartini berbohong, dia tidak mau dikatakan cewek murahan.


Kebetulan seorang kakak tingkat Hartini lewat naik vespa, Hartini segera memanggil.


" Mas Bambang ! "


Bambang segera mendekat dan berhenti tidak jauh dari Hartini.


" Ayo Har ".


Hartini berlari-lari kecil lalu duduk disadel belakang, tangannya melingkar dipinggang Bambang.


" Duluan mas Hendra, daag ! ".


Hendra hanya melongo sambil membalas lambaian tangan Hartini, hatinya terasa sakit.


Sambil mengumpat dalam hati dia melarikan motornya ke fakultas ekonomi, dia akan.mencari Haris, dia akan minta pertanggung jawaban, katanya Hartini masih sendiri, masih jomlo, belum punya pacar, itu tadi secara atraktif sekali dia memamerkan pacarnya.


Setelah mencari diseantero fakultas ekonomi akhirnya dia menemukan Haris sedang membaca buku diperpustakaan. Dia langsung mencecar Haris dengan pertanyasn seputar Hartini, baru berhenti setelah Haris mengajaknya ke warung mbok Joyo, Haris khawatir Hendra semakin tak terkendali, mengganggu orang lain.


Diwarung mbok Joyo Hendra menceritakan apa yang barusan dia alami.


Haris malah tertawa mendengar cerita Hendra.


" Kok kamu malah ketawa Ris ".


" Dengar ya Hen, aku sering berboncengan dengan Atika dan biasanya dia akan merangkul pinggangku, apakah berarti itu kami pacaran ?, tidak kan ? ".


Hendra terdiam mendengar penjelasan Haris.


" Nah sekarang aku punya berita bagus buat kamu ".


" Berita apa ? ".


" Malam minggu besok kita diajak menemani mereka menghadiri ulang tahun teman Hartini ".


" Ah yang benar ".


" Sumpah ".


Hartini kelihatan gelisah, sebentar duduk sebentar berdiri, lalu berjalan kebelakang, kembali lagi keruang tamu, berhenti sejenak sambil melihat jam tangan, mukanya kelihatan cemberut.

__ADS_1


Sudah setengah jam yang lalu dia bersiap-siap, dari jam 6 sore, berdandan dengan rapi, memoles mukanya dengan mick up, memakai bajunya yang terbaik, dia ingin tampak cantik didepan Hendra, tapi yang ditunggu belum juga datang.


Sebentar lagi dia akan berketingat, bedaknya akan luntur lalu mukanya akan coreng moreng tidak karuan seperti hantu, kalau tahu begini lebih baik dia tidak usah berdandan, biar saja mukanya seperti orang baru bangun tidur, kusut


" Tenang sedikit kenapa sih Har, dari tadi mondar mandir melulu ".


Saras geli melihat tingkah laku Hartini, rasanya sudah ada 10 kali dia berjalan bolak balik dari depan kebelakang


" Habis lama amat sih, ini kan sudah jam setengah tujuh, nanti terlambat ".


Kembali Hartini melihat ke arloji, mau rasanya dia membanting jam tangannya itu.


" Kalau begitu kita naik becak aja yuk ".


" Aaaah kamu ".


Hartini merajuk.


" Serba salah, menunggu tidak betah berangkat sendiri juga ogah, maunya apa sih ? ".


Hartini menggigit bibirnya, rasanya mau marah tapi marah dengan siapa, mau menangis malu.


Sejak menolak dibonceng Hendra tempo hari perasaannya jadi tidak enak, rasanya bodoh sekali dia waktu itu, sok gengsi.


Kemarin dia kesal setengah mati dengan Bambang, kakak tingkat yang memboncengnya dengan vespa tempo hari. Bambang terus saja memaksanya untuk diantar pulang, padahal sudah berulang kali dia katakan tidak, dia mau pulang sendiri.


Entah sudah berapa kali dia bilang tidak, tidak dan tidak, dasar muka badak terus saja nyosor, mentang mentang dikasih hati, tidak tahu diri.


Rasanya ingin memaki, menyumpahi atau melempar mukanya dengan batu, akhirnya dia ngumpet dan kabur lewat pintu belakang.


Setelah ditunggu beberapa saat akhirnya Haris datang juga tapi sendirian tidak bersama Hendra.


Saras bertanya heran.


" Tau tuh, kayaknya tidak bisa ikut ".


" Kenapa ? ".


" Tadi aku sudah kesana, sepertinya dia mau pergi, sudah berdandan rapi, entah dengan siapa, sudah dapat jodoh barang kali ".


Muka Hartini pucat.


" Sebaiknya kita naik becak saja, motor biar aku titip disini dulu ".


Hartini semakin pucat, sudah hampir menangis.


Saras iba milihat Hartini.


" Jangan main-main ah mas lihat tuh Hartini sebentar lagi pingsan ".


Tidak lama kemudian Hendra datang.


" Maaf terlambat ".


Hartini jadi malu, mukanya memerah, seekor kucing menyenggol kakinya, ah kucing sialan !.


Hendra bergegas ketempat kos Haris, malam ini dia akan mengabari kalau dia sudah jadian dengan Hartini.


Tanpa mengetuk pintu lagi dia langsung saja membuka pintu yang memang tidak terkunci, tapi Haris tidak ada didalam kamar. Dia lalu masuk dan duduk di kursi belajar, lalu iseng-iseng dia membuka laci meja, didapatinya sebuah buku harian.

__ADS_1


Diambilnya buku tersebut dan diletakkannys diatas meja kemudian dibukanya. Dibagian dalam sampul didapatinya sebuah gambar berukuran pos card, gambar seorang perempuan.


" Saras ".


Hendra berkata dalam hati, berarti benar dugaanya Haris mencintai Saras bukan Atika.


Diperhatikannya dengan seksama foto itu, kelihatan masih sangat muda, memakai seragam anak SMA.


Belum sempat dia membuka lembaran berikutnya Haris masuk dan langsung menyapanya.


" Hallo Hen, sudah lama menunggu ? ".


" Eh Ris, maaf aku langsung masuk saja, maaf juga aku membuka buku harianmu, tapi aku belum sempat membacanya ".


" Tidak apa-apa ".


" Ini gambar Saras ya ".


" Bukan itu Andini ".


" Hah !, kok persis ".


" Kan aku sudah bilang kalau mereka sangat mirip ".


Hendra terbengong-bengong, dia kira cuma sekedar mirip, tapi ini persis, tidak ada bedanya.


" Itu foto Andini waktu di SMA coba kamu lihat lambang dibajunya ada tulisan SMA Negri 1 Jambi ".


Hendra kembali memperhatikan foto itu, benar saja ada tulisan SMA Negri 1 Jambi.


" Ngomong-ngomong ada keperluan apa Hen malam-malam kemari ? ".


" Aku baru jadian dengan Hartini Ris "


" Wah selamat ya, kalian memang cocok "


Haris menyalami Hendra.


" Terus kamu bagaimana, siapa yang kamu pilih ? ".


" Aku masih belum bisa melupakan Andini ".


Itu yang keluar dari mulut Haris.


"Tapi sekarang Andini sudah tidak ada kabarnya, sedang kamu harus berhadapan dengan dua orang cewek sekaligus, menurut aku keduanya mencintai kamu, ini berbahaya, lamu harus secepatnya menentukan pilihan, jangan sampai berlarut-larut "


Haris terdiam, kata-kata Hendra ada benarnya juga.


" Iya Hen, aku rasa aku harus mengambil sikap jangan sampai berlarut-larut, besok akan aku kabari malam ini aku akan merenung, kalau perlu salat Istiqaroh kamu tunggu saja ".


Sampai larut malam Haris belum bisa memutuskan, keduanya punya tempat tersendiri dihatinya. Kemudian dia mengambil dua carik kertas lalu menulis nama Saras dan Atika diatas kertas itu, setelah itu digulungnya dan dimasukkan kedalam botol, besok pagi akan dia undi, mana yang duluan keluar itulah yang akan dia pilih


Besoknya ketika dia sudah siap-siap untuk mengundi tba-tiba dia menerima telegram, isinya singkat saja * Segera pulang ayah masuk ICU *.


Seperti petir disiang bolong Haris terduduk, ini benar-benar serius. Tanpa pikir panjang lagi dia segera menjual motor dan hari itu juga berangkat ke Jambi dengan pesawat garuda.


Benar saja, hanya beberapa hari Haris menunggui ayahnya dirumah sakit beliau meninggal dunia.


Rasanya dunia seperti mau runtuh, buat Haris kepergian ayahnya sama saja dengan kiamat, tidak ada lagi yang menjadi tulang punggung keluarga, ayahnya hanyalah seorang pegawai swasta tidak mendapatkan pensiun, hanya mendapatkan uang pesangon.

__ADS_1


Akhirnya dia putuskan untuk tidak kembali lagi ke Jogja dan menerima tawaran bekerja ditempat ayahnya bekerja, adik-adiknya masih membutuhkan biaya.


__ADS_2