
Haris menyeruak diantara siswa SMA Negri 1 Jambi yang tengah mengerumuni pengumuman kelulusan, dia termangu melihat namanya terpampang disana, dia lulus, tapi tidak tampak rona kebahagiaan pada wajahnya, dia sedih karena nama Andini tidak ada disana.
Sesaat kemudian dia melangkahkan kaki meninggalkan teman-temannya dan berjalan kearah kantin sekolah lalu duduk disudut ruangan dimana biasanya dia duduk bersama Andini.
Sambil menunggu pesanan makanan dia merenung, baru berselang satu bulan mereka menikmati indahnya cinta tiba-tiba Andini jatuh sakit, dia pingsan ketika sedang mengikuti upacara bendera disekolah.
Andini kemudian dilarikan ke rumah sakit, dari hasil pemeriksaan rontgen tampak benda asing didalam kepalanya, dokter memvonis Andini menderita tumor otak dan harus segera di operasi.
Karena di Jambi belum ada dokter spesialis bedah tengkorak maka dia segera dilarikan ke Jakarta dan sejak saat itu Andini tidak pernah kembali lagi begitu juga dengan kedua orang tuanya.
Haris sangat terpukul menerima kenyataan ini, hampir saja dia tidak kuat, untung dia punya tiga orang sahabat yang selalu memberi semangat.
Sambil mengaduk-aduk nasi soto yang ada dihadapannya dia memperhatikan Bi Inah, pemilik kantin sekolah, dia sangat kenal dengan ibu yang ceria itu.
Bi Inah sering dijadikan bahan tertawaan oleh anak-anak karena dia latah, suka mengulangi kata yang diucapkan orang, kadang kata-kata kotor keluar dari mulutnya tanpa dia sadari, yang membuat orang yang melihatnya tertawa terpingkal-pingkal.
Hari ini berakhirlah statusnya sebagai siswa SMA Negri 1, dia sudah menyandang predikat alumni, sebentar lagi dia akan.meninggalkan sekolah tercintanya ini berkelana menggapai cita-cita, tinggallah semua kenangan yang pernah dia rajut disini, semuanya, baik sekolah, guru, teman, kantin dan semua yang berhubungan dengan sekolah ini.
Sedih memang tapi dia harus tegar, harus kuat, perjalanan hidupnya masih sangat panjang, waktu sudah tidak bisa diputar mundur lagi dia akan terus bergerak maju.
" Hallo Ris ".
" Hei Anwar, makan yuk ".
Anwar memesan makanan lalu duduk didekat Haris.
" Kamu mau melanjutkan kemana Ris ".
" Rencananya aku mau ke Jogja ".
" Masuk UGM ? ".
" Kalau bisa, tapi terus terang aku kurang yakin ".
" Fakultas apa Ris ".
" Kedokteran ".
" Waw mantap, aku yakin kamu pasti bisa ".
" Kalau kamu Anwar ? ".
" Aku mau ke Padang, kalau bisa masuk fakultas pertanian ".
" Sip !, semoga kita berhasil ".
" Aamiin ".
__ADS_1
Bus yang membawa Haris dari Terminal Alam Barajo kota Jambi berangkat jam 2 siang, dia duduk dibangku nomor 4 tepat dibelakang sopir.
Disebelahnya duduk seorang bapak-bapak, lalu disapanya
" Mau kemana pak ? ".
" Imogiri ".
Bapak itu menjawab.
" Imogiri itu dimana pak ? ".
" Jogja dekat Bantul ".
Haris makin bingung, Bantul itu dimana lagi ?.
" Sendirian pak ? ".
" Itu anak menantu saya disebelah "
Si bapak memandang kearah kursi sebelah.
Haris kemudian diam, dia merasa asing, tidak satupun penumpang yang dia kenal.
Diperhatikannya bagian dalam bus, tempat duduknya berjejer dua-dua, semuanya ada sepuluh baris, dibagian paling belakang terdapat tempat duduk yang memanjang tanpa pembatas.
Diluar tampak kabut asap sangat tebal, daun-daun dari pohon yang tumbuh dikanan kiri jalan sebagian menguning dan kering diterpa sinar matahari, bahkan dibeberapa tempat tampak pohon-pohon hangus terbakar, sebagian tinggal tunggul yang mengarang berwarna hitam.
Musim kemarau kali ini sudah sangat parah, sudah berlangsung berbulan-bulan, tidak ada lagi hujan, tidak ada lagi embun, semua kering kerontang.
Keadaan semakin diperparah dengan banyaknya perusahaan yang membuka lahan perkebunan dengan cara membakar hutan.
Udara sudah sangat tidak sehat, rumah sakit rumah sakit penuh dengan penderita ISPA ( Infeksi Saluran Pernapasan Akut ) terutama pada anak-anak yang sangat rentan terkena penyakit ini, bahkan sudah ada korban yang meninggal.
Pesawat udara sudah tidak ada lagi yang mendarat karena Bandar Udara Sultan Thaha Jambi belum mempunyai alat pemandu pesawat udara. Pesawat hanya bisa mendarat di Palembang kemudian dilanjutkan melalui jalan darat yang membutuhkan waktu berjam-jam.
Kendaraan harus menyalakan lampu terus menerus siang dan malam, jarak pandang sudsh sangat terbatas, tinggal beberspa meter saja lagi.
Pengiriman barang melalui udara sudah tidak bisa lagi, harus melalui jalan darat atau laut yang membutuhkan waktu lebih lama.
Barang-barang yang mudah rusak seperti makanan tidak bisa dikirim, begitu juga dengan hewan hidup seperti bibit ikan dan lain-lain.
Masker dibagikan geratis ditiap-tiap persimpangan lampu merah, mata terasa pedih terkena asap yang semakin lama semakin tebal.
Orang-orang lebih banyak tinggal dirumah, sekolah-sekolah diliburkan, pedagang makanan disekolah menghentikan aktifitasnya berubah jadi pengangguran, oplet sudah jarang penumpangnya, pasar sepi, ekonomi melambat.
Hot spot ( Titik api ) terpantau dimana-mana disepanjang pulau Sumatra dari Aceh dibagian utara sampai ke Lampung di bagian selatan, bukan lagi satu atau dua titik api tapi sudah puluhan, ratusan bahksn ribuan titik api.
__ADS_1
Pulau Sumatra sudsh tidak tampak lagi kalau dilihat dari udara, sudah memutih tertutup asap tebal, suhu udara meningkat, terasa gerah, bahkan dibeberapa tempat sudah mencapai lebih dari 40 derajat celcius, sudah sangat membayakan, bisa menyebabkan Hit Stoke
Ini bukan lagi bencana lokal atau regional tapi sudah merupakan bencana nasional bahkan internasional karena asap sudah merambah ke negara tetangga.
Hutan lindung yang selama ini menjadi kebanggaan Indonesia karena mendapat predikat sebagai paru-paru dunia luluh lantak, rata dengan tanah.
Semua pihak berusaha memadamkan api, TNI, Polri, Basarnas, Basarda, lembaga-lembaga sosisl, masyarakat peduli hutan, bahkan negara-negara sahabat mengirimkan relawan lengkap dengan pesawat penyiram air, hasilnya tetap nihil, titik api bukannya berkurang tapi malah bertambah.
Hampir disemua masjid dilakukan salat minta hujan, dilapangan-lapangan terbukapun dilakukan salat, tapi tetap saja hujan tidak kunjung tiba.
Hutan menjadi gundul, kekeringan dimana-mana, sebentar lagi akan muncul bahaya lainnya ketika musim hujan, banjir !.
Terkutuklah mereka yang membakar hutan seenaknya tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkannya.
Akhirnya semua pasrah, berharap pada kemurahan Tuhan, semoga Tuhan akan menurunkan hujan dari langit.
Bus terus saja melaju dengan kecepatan sedang menuju kearah Palembang melewati beberapa kota kecil seperti Bayunglincir, Sungaililin dan Betung.
Beberapa kali mereka berserobok dengan serombongan orang rimba yang berjalan berbaris seperti semut dipinggir jalan, mungkin sudah tidak tahan lagi didalam hutan yang sangat panas dan sesak oleh asap, atau mereka sudah kehilangan mata pencaharian dan mencari tempat lain yang lebih nyaman.
Bus tidak bisa melaju dengan cepat seperti biasanya, waktu tempuh ke Palembang molor tiga jam, yang biasanya 5 jam menjadi 8 jam.
Memasuki daerah Lampung asap semakin menipis sampai akhirnya hilang sama sekali ketika menyeberang Selat Sunda.
Mereka memasuki Terminal Umbul Harjo Jogjakarta jam 5 pagi, Haris segera mengambil barangnya dan bergegas turun dari bus.
Diluar terminal sudah menunggu beberapa orang tukang becak, salah satunya menghampiri Haris dan menawarkan becak
" Monggo den becakipun ".
" Bausasran piro pak ? ".
Bausasran adalah alamat asrama Jambi di Jogja, dia mendapatkan alamat itu dari kakak temannya yang pernah tinggal disana.
Haris sengaja memakai bahasa Jawa karena merasa sudah bisa, dia sudah diajari oleh pak Selamet tetangganya yang asli Jogja, kalau hanya hitungan dari satu sampai seratus rasanya dia bisalah.
" Tigang ewu gansal atus den ".
Hah !, Haris kebingungan, wah kalau ini mah tidak ada dalam kursus singkatnya, dia cuma diajari siji loro telu sampai satus.
" Berapa kak ? ".
Akhirnya dia bertanya dalam bahasa Indonesia.
" Tiga ribu lima ratus den ".
Oalah segitu toh kirain berapa, tanpa menawar lagi dia langsung naik becak, terlanjur malu, sok tau.
__ADS_1