DERMAGA CINTA TERAKHIR

DERMAGA CINTA TERAKHIR
DERMAGA CINTA TERAKHIR


__ADS_3

Haris sedang menulis sesuatu pada selembar kertas diatas meja, Andini mendekat dan duduk.disebelahnya.


" Sedang nulis apa Ris ? ".


" Nulis barang-barang yang mau dibawa ".


" Dibawa kemana ? ".


" Rencananya liburan besok kami akan ke tempat Bebukit ".


" Aku ikut ".


Spontan saja Andini mau ikut.


" Jangan Andini, tempatnya ditengah hutan ".


" Pokoknya aku ikut ".


" Kamukan perempuan ".


" Apa salahnya ".


" Berbahaya Andini ".


" Kan ada kamu yang akan membela aku ".


Haris tidak berani membantah lagi, percuma.


Waktu liburanpun tiba, Haris dan ketiga temannya berangkat memasuki hutan ketempat tinggal Bebukit, ikut serta pula Andini, Laila dan Dahlia karena Andini memaksa mau ikut.


Laila adalah teman sebangku Andini yang juga pacar Anwar, sedang Dahlia adik kelas mereka, pacar Budi.


Ketiga cewek yang ikut dalam rombongan tampak sangat gembira, mereka memakai pakaian seperti orang mau piknik, tidak lupa bersolek, sepertinya mereka baru dari salon.


" Kalian kok seperti orang mau rekreasi ? ".


Haris terheran-heran melihat penampilan ketiga gadis itu.


" Kita memang mau rekreasi ".


Andini menjawab dengan lugunya.


" Kita mau kehutan Andini, bukan ketempat rekreasi, nanti kalau ada monyet naksir kamu gimana ? "


" Ha. ha..ha..ha, langsung ngelamar kalian ".


Fahri tertawa terbahak-bahak.


" Wah seru itu, kira-kira siapa yang jadi walinya ya ?, ha..ha..ha..ha ".


Haris makin jadi jailnya, diapun tertawa terbahak-bahak.


" Hush !, jangan keras-keras, nanti kedengaran oleh monyetnya ".


Budi yang biasanya serius ikut-ikutan bercanda.


Tidak lama kemudian seekor monyet melintas didepan mereka.


Andini menjerit ketakutan dan bersembunyi dibelakang Haris.


" Ha..ha..ha..ha, monyetnya sudah datang ".


Kembali Fahri tertawa.


"Apa aku bilang, mungkin monyet itu naksir kamu ".


Haris memandang kearah Andini, yang dipandang mencubit tangan Haris.


Mereka berjalan diantara pohon-pohon hutan, cuaca sangat sejuk, terasa nyaman, sinar matahari tertutup oleh pohon-pohon besar dengan daunnya yang rimbun, tidak ada suara mobil yang bising, tidak ada suara teriakan pedagang kaki lima, yang terdengar hanya suara jangkrik, kicauan burung serta suara teriakan ungko, hewan primata bertangan panjang mirip monyet dengan suara keras dari kejauhan.


Sesekali tampak burung hinggap diranting pohon dan tupai yang meloncat dari pohon ke pohon.


Siangpun tiba, mereka beristirahat untuk makan siang.


" Masih jauh tempatnya Ris ? ".


Andini bertanya pada Haris yang duduk disebelahnya.


" Kayaknya masih jauh ".


" Kok kamu kayak tidak yakin gitu ? ".


" Soalnya aku agak-agak lupa ".


" Apaaa !! ".


" Ya namanya juga juga dihutan, tidak ada petunjuk jalannya ".


" Jangan main-main Ris nanti kita tersesat ".


Andini cemas mendengar jawaban Haris.


" Tersesat juga tidak apa-apa, paling jadi orang rimba ".


Haris menjawab dengan santainya, tangan Andini langsung mendarat di punggung Haris.


Selesai beristirahat mereka kembali melanjutkan perjalanan, semakin jauh masuk kedalam.


Sampai pada suatu tempat Haris menghentikan langkahnya.


" Kenapa Ris ? ".


Anwar yang berjalan disamping Haris bertanya heran.


" Tampaknya kita salah jalan, rasanya aku belum pernah lewat sini ".


Andini yang berjalan dibelakang Haris dan Anwar mendengar pembicaraan mereka.


" Terus gimana dong ".


Andini bertanya.


" Kita balik lagi "


Akhirnya mereka balik lagi ke posisi semula dimana tadi mereka beristirahat lalu berbelok kekanan.


Sore harinya mereka memasang tenda dibawah pohon besar untuk bermalam, ada dua buah tenda yang cukup besar.


" Malam ini kita menginap disini, tapi harus tetap waspada, Andini, Laila dan Dahlia kalian tidur dalam satu tenda sedang kami akan bergantian, dua orang tidur dan dua orang lagi berjaga diluar ".


Haris mulai mengatur teman-temannya.


" Kita tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini, namanya juga di hutan, segala kemungkinan bisa terjadi ".

__ADS_1


" Kamu jangan nakut-nakuti gitu ".


Andini duduk merapat kearah Haris.


" Bukannya nakut-nakuti tapi lebih baik kita selalu waspada, mana tahu malam ini ada jin mencari istri lalu menculik salah satu diantara kalian ".


" Hiiii ".


Andini semakin marapat.


Malamnya Budi dan Fahri berjaga-jaga diluar tenda, kelima temannya sudah tidur. Sampai tengah malam keadaan aman-aman saja, kemudian tepat jam 1 malam Haris dan Anwar menggantikan posisi kedua temannya berjaga-jaga diluar.


Baru satu jam mereka berjaga-jaga tiba-tiba terdengar suara lolongan dari kejauhan, mereka saling berpandangan, Anwar mendekat kearah Haris


" Suara apa itu Ris ? ".


" Paling srigala kawin ".


" Ah yang benar ".


" Atau mungkin juga anak jin yang numpang lewat ".


" Ah kamu nakut-nakuti ".


" Ha..ha. .ha..ha, nyantai Anwar, jangan terlalu tegang "


Kembali terdengar suara yang sama, kali ini lebih keras sampai membangunkan Andini dan kedua temannya, merekapun keluar dari tenda dan duduk didekat Haris dan Anwar.


" Suara apa itu ? ".


Andini bertanya.


" Suara anjing ".


Haris menjawab sekenanya.


" Tapi kok dihutan ada anjing ? :.


" Ada saja jangankan anjing manusia saja ada yang tinggal dihutan ".


Tidak lama kemudian kembali terdengar suara lolongan.


" Ris suaranya semakin jelas ".


" Tidak apa-apa mungkin ada anak jin yang mencari induknya, makanya masuk sana, nanti dikira kalian induknya ".


Kembali Haris menggoda Andini.


Sesaat kemudian terdengar suara kresek-kresek dari semak-semak dan munculah seekor beruang yang cukup besar.


Mereka langsung melompat berdiri.


" Andini, Laila, Dahlia kalian masuk ke tenda cepat ! ".


Ketiga gadis itupun masuk kedalam tenda


Haris mengambil kayu bakar yang ada baranya dari perapian dan menyodorkannya kearah beruang, Anwarpun mengikuti tindakan Haris.


Budi dan Fahri terbangun mendengar ribut-ribut diluar lalu bergabung dengan kedua temannya, kemudian mengambil kayu dan ikut menyodorkannya kearah beruang.


Beruang itu menghentikan langkahnya, memandang kearah bara api dari kayu yang dipegang oleh Haris dan kawan-kawan, terdiam sejenak setelah itu membalikkan badan dan pergi dari tempat itu.


Beberapa saat kemudian Andini dan kedua temannya kembali keluar tenda.


Haris memandang kearah mereka.


" Kami tidak bisa tidur ".


Laila yang menjawab


" Ya sudah, duduk disini saja ".


Merekapun duduk mengelilingi api unggun.


" Mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati, jangan ada yang terpisah dari rombongan ".


Haris mengingatkan teman-temannya.


Andini duduk disamping Haris.


" Enak tidurnya Andini ?, mimpi apa ? ".


" Mimpi ketemu kamu ".


" Ah masak, terus ? ".


" Aku duduk disamping kamu ".


Andini menjawab sambil memandang manja kearah Haris.


" Ternyata kamu lucu juga ".


Haris membalas senyuman Andini.


Akhirnya setelah melakukan perjalanan beberapa hari mereka sampai ke tempat tinggal Bebukit.


Sesampainya disana Haris memperkenalkan teman-temannya pada Bebukit dan Seruni.


Fahri terpesona melihat kecantikan Seruni dan langsing jatuh cinta pada pandangan pertama, gayungpun bersambut, Seruni menerima cinta Fahri.


Setelah menginap beberapa hari dikampung Bebukit mereka pamitan pulang, tapi belum sempat beranjak tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara gaduh, serombongan orang dengan wajah sangar menyerbu masuk ke perkampungan.


Bebukit dan beberapa orang pimpinan mereka segera keluar menemui orang-orang itu, mereka saling berhadap-hadapan.


Salah seorang dari orang-orang itu yang berbadan besar dengan berewok yang tebal maju kedepan.


" Mana Seruni, serahkan kepada kami ".


Tanpa basa basi orang itu meminta Seruni.


" Tidak bisa !! ".


Bebukit berteriak menolak.


" Ha..ha..ha..ha..ha, berani kalian menolak kami ? ".


Orang itu tertawa sambil mengacungkan golok ditangannya.


Seoramg laki-laki setengah baya dari rombongan Bebukit yang juga memegang golok maju kedepan.


" Jangan sembarangan ngomong ya, kami tidak takut, langkahi dulu mayat kami ".


Kedua laki-laki yang saling berhadapan itu mulai saling serang diikuti oleh yang lain, keadaan menjadi kacau.

__ADS_1


Haris maju membantu, menerjang kemedan pertempuran bahu membahu dengan Bebukit sedang Budi, Anwar dan Fahri melindungi ketiga teman wanitanya dan Seruni.


Sepak terjang Haris dan kawan-kawan membuat lawan keder, mereka mulai kocar kacir. Tapi kemudian datang lagi serombongan orang dari pihak musuh yang turut membantu, Haris dan kawan-kawan mulai terdesak.


" Aaaah!! ".


Tiba-tiba Bebukit berteriak, diapun roboh bersimbah darah, lambungnya tertusuk pedang.


" Abaaang !! ".


Seruni menjerit, dia berusaha mendekati Bebukit tapi dicegah oleh Fahri.


" Jangan Seruni, berbahaya ".


Fahri merangkul Seruni.


Haris terperanjat dia segera merangsek kedepan Bebukit, melindunginya dari serangan berikutnya.


Karena perhatiannya pecah antara melindungi Bebukit dan melindungi dirinya, tangan Harispun terkena sabetan golok, darah segar mengucur dari tangannya.


Fahri yang berdiri paling dekat dengan medan pertempuran melihat Bebukit terluka parah dan Haris yang terdesak hebat dengan luka ditangannya segera datang membantu meninggalkan Seruni, begitu juga dengan Budi dan Anwar meninggalkan cewek- cewek itu tanpa pengawalan.


" Fahri cepat selamatkan Bebukit ".


Haris berteriak.


Setelah menghalau musuh yang coba menyerang Bebukit Fahri segera menggendong Bebukit kepinggir dan membaringkannya didekat Seruni.


" Seruni, kamu jaga Bebukit ".


" Iya kak ".


Fahri kembali bergabung dengan Haris dan kawan-kawan.


Keempat murid Engkoh Liem itu mengamuk.seperti banteng ketaton, memporak porandakan pertahanan lawan, korbanpun jatuh bergelimpangan.


" Berhentiii !!! ".


Tiba-tiba terdengar suata seseorang, keras sekali memecahkan suasana, tampak Andini disandera oleh seorang laki-laki yang berbadan besar sambil menempelkan pisau dileher Andini.


" Letakkan senjata kalian !! ".


Haris dan kawan-kawan segera melepaska senjata mereka.


" Jangan coba'-coba melawan atau perempuan ini akan mati !! ".


Orang itu menggoreskan pisau keleher Andini darah segar mengalir membasahi bajunya.


Haris terperanjat melihat leher Andini mengeluarkan darah, diapun panik dan berteriak sekeras-kerasnya.


" Bangsaaat !!, berani kamu melukainya !! ".


Rupanya orang itu gentar juga mendengar teriakan Haris, dia segera melepaskan Andini dan berlari kearah kapal yang membawa mereka tadi diikuti oleh teman-teman mereka yang masih tersisa.


Andini terkulai dan roboh, mukanya tampak pucat.


Haris segera melompat kearah Andini, dia tidak perduli lagi dengan orang-orang itu dan secepatnya menyambar tubuh Andini sebelum terhempas ketanah.


Andini tidak sadarkan diri, terlihat darah merembes dari lehernya.


"Andini !! ".


Kembali Haris menjerit


Wajah Andini kelihatan bertambah pucat, bajunya yang berwarna putih sebagian berubah menjadi merah penuh dengan darah, Haris semakin panik, dia mengira Andini sudah meninggal.


" Andini !, jangan tinggalkan aku sayang ".


Andini tersadar, dia membuka matanya kemudian menutupnya kembali.


" Bangun sayang, bangun ".


Suara Haris mulai serak, dia menangis.


Andini tersenyum dan kembali membuka matanya.


" Kamu bilang apa Haris ? ".


" Eh, ternyata kamu tidak apa-apa ".


Haris terperanjat dan berusaha untuk berdiri tapi ditahan oleh Andini.


" Katakan sekali lagi Haris ".


" Iya Andini, aku sayang kamu, aku mencintaimu ".


Andini memeluk Haris dan menangis dalam pelukannya.


" Aku juga menyayangimu, aku mencintai kamu Haris ".


Harispun balas memeluk.


Angin bertiup sepoi-sepoi, burung layang-layang terbang diangkasa mengepakkan sayapnya, bunga-bunga hutan nan cantik bergoyang-goyang tertiup angin seolah-olah tersenyum menyambut bersatunya cinta dua sejoli ini.


Tiba-tiba terdengar suara jeritan Seruni.


' Abaaaang !!! ".


Haris tersadar, dia melepaskan pelukannya pada Andini dan segera berlari kearah Seruni.


" Kenapa Seruni ? ".


Seruni tidak menjawab, dia hanya menangis sambil memeluk tubuh Bebukit.


Haris secepatnya memeriksa keadaan Bebukit, kemudian dia menggelengkan kepala dan berucap.


" Innalillahiwainnalillahirojiun ".


Bebukit telah berpulang, terlalu banyak darah yang keluar.


Haris berdiri dan mengangkat tangannya memberi hormat kepada jasad Bebukit, seorang laki-laki sejati yang rela mengorban nyawanya demi membela harga diri dan kehormatan keluarga.


Seruni dan istri Bebukit menangis sejadi-jadinya.


Dilangit mendung mulai menyapa, mengarak awan yang berwarna kehitam-hitaman sinar matahari perlahan meredup, sepertinya alam ikut bersedih dengan kepergian Bebukit.


' Selamat jalan kawan, namamu akan tetap ada dihatiku ".


Haris berucap dalam hati.


Seorang anak kecil yang wajahnya mirip dengan Bebukit terbengong-bengong tidak mengerti, dia tidak tahu kenapa ibunya menangis, kenapa makcik Seruninya menangis dan kenapa banyak orang yang menangis, dia belum sadar kalau mulai hari ini dia sudah tidak punya ayah lagi, telah menjadi yatim.


Mungkin beberapa hari lagi dia baru sadar ketika tidak ada lagi yang mendongengkannya menjelang tidur, tidak ada lagi yang mengajaknya jalan- jalan naik perahu.

__ADS_1


__ADS_2