
Bab 19.
Setelah mulai membaik Atika segera dibawa pulang oleh orang tuanya, Haris juga pulang ketempat kos, rasanya capek sekali baik fisik maupun psychisnya.
Dia kemudian berbaring sambil merenung, pikirannya melayang jauh kemasa kecilnya.
Dia terlahir disebuah desa yang sangat terpencil disalah satu kabupaten di Propinsi Jambi. Seperti umumnya desa di Jambi desa mereka terletak dipinggir sungai yang merupakan anak sungai Batanghari.
Desa mereka terletak sangat jauh kedalam, melewati hutan dan kebun karet dengan jalan yang belum diaspal, sempit dan bersemak. Jarang ada mobil yang lewat disini kecuali mobil pengangkut karet atau mobil pedagang musiman yang sesekali datang kedesa mereka.
Rumah mereka sangat sederhana, terbuat dari papan yang disusun sirih berbentuk bangunan panggung yang dibangun diatas tiang setinggi 3 meter untuk menghindari banjir dan binatang buas yang masih sering berkeliaran disekitar desa.
Lantainya juga dari papan yang ditutup dengan tikar, sedang atap dari seng atau daun pohon rumbia. Tidak ada kursi tamu, tidak ada meja makan, semua aktifitas dilakukan diatas tikar, baik untuk makan, menerima tamu atau aktifitas lainnya.
Bagian bawah rumah ( kolong ) dipakai untuk memelihara ayam atau kambing atau untuk memasak jika ada acara hajatan.
Rumah sederhana ini hanya diterangi oleh dua buah lampu pijar berkekuatan 25 watt, itupun hanya sampai jam 12 malam karena gensetnya harus diistirahatkan. Selanjutnya mereka akan memakai lampu teplok atau obor yang terkadang redup tertiup angin.
Untuk aktifitas MCK ( Mandi, Cuci dan Kakus ) dilakukan diatas ****** yang mengapung dipinggir sungai.
****** dibuat dari kayu gelondongan berukuran besar sebanyak 4 atau 5 buah yang diikat dengan rantai atau tali besar, diatasnya diberi papan pada salah satu sudutnya dibuatkan kamar mandi yang berdindingkan papan dan beratap seng.
****** dibuat beberapa buah, sehingga tidak perlu antri bagi yang ingin kekamar mandi. Pada pagi dan sore hari tempat ini akan sangat ramai dengan orang yang sedang mandi baik dengan menimba air maupun dengan berenang.
Penduduk desa umumnya berprofesi sebagai petani karet dan nelayan. Setiap rumah punya perahu yang diletakkan disamping rumah, disamping untuk mencari ikan juga sebagai alat transportasi kalau ingin barkunjung dari desa kedesa karena alat angkut lain tidak ada.
Perahu juga dipakai untuk jaga-jaga kalau-kalau terjmadi banjir karena tidak memungkinkan lagi untuk berjalan kaki.
__ADS_1
Umumnya tiap-tiap penduduk mempunyai kebun karet, sayang kehidupan mereka masih tetap miskin dan banyak yang terlilit hutang karena sering dipermainkan toke-toke getah baik masalah harga maupun timbangan.
Kurang informasi serta tingkat pendidikan yang rendah, rata-rata hanya tamat SD yang menjadi penyebabnya.
Sepertinya orang tua Haris menyadari itu, maka setelah Haris berusia 7 tahun mereka pindah kekota Jambi.
Dikota Jambi Haris mulai masuk sekolah, tapi sayang sekolahnya tidak maju-maju, reportnya selalu dipenuhi warna merah, hanya karena belas kasihan gurunya saja dia bisa naik kelas.
Tiap hari kerjanya hanya main, tidak mau belajar, sering kena marah gurunya karena tidak pernah mengerjakan PR.
Sampai suatu peristiwa telah merubah jalan hidupnya.
Waktu itu dia sedang asyik bermain sepak bola di tanah kosong yang terdapat tidak jauh dari rumahnya sampai menjelang magrib, tiba-tiba terdengar suara ibunya berteriak memanggil.
" Hariiis !! ".
Haris segera mengambil sandal dan bajunya lalu berlari pulang, dia tidak ingin ibunya naik pitam dan memecutnya dengan rotan seperti beberapa hari yang lalu, belum hilang rasa sakit dipantatnya.
Haris yang masih duduk dibangku kelas 4 SD itu kelihatan dekil, kaki penuh dengan bekas luka dan gatal-gatal terkena kutu air, kulit gelap terpanggang sinar matahari, badan kurus kerempeng, dada tipis seperti papan, tulang iga menonjol mirip piano, seperti anak yang tidak terurus.
Ayahnya bekerja dipabrik karet dari pagi sampai menjelang magrib sedang ibunya sibuk mengurus rumah tangga dan adiknya yang masih kecil, jadi dia tumbuh secara alamiah saja tanpa ada yang membimbing dan mengawasi.ĺ
Sampai didapur dia menyambar handuk di kawat jemuran, mengambil ember dan tempat sabun lalu keluar menuju kesumur.
Setengah berlari dia menuju kearah sumur tetangga yang terletak ditengah rawa-rawa yang sudah mengering berjarak beberapa puluh meter dari rumahnya, hari sudah mulai gelap, sebentar lagi dia sudah tidak berani kesumur yang kabarnya banyak hantunya itu.
Pada musim kemarau ini sumur warga banyak yang kering kalaupun ada airnya hanya cukup untuk keperluan memasak saja sedang untuk mencuci dan mandi harus ketempat yang lebih rendah yaitu sumur yang dibuat ditengah rawa-rawa yang sudah mengering meskipun airnya agak keruh dan berbau lumpur.
__ADS_1
Langkahnya terhenti dibawah pohon rambutan, dia melihat layang-layang putus yang menyangkut di ranting pohon. Tanpa pikir panjang lagi dia meletakkan barang bawaannya dan segera memanjat pohon rambutan yang cukup besar itu.
Sampai diatas dia coba meraih layang-layang itu tapi tangannya tidak sampai, kemudian dia naik lagi makin keujung.
Tangan kirinya berpegangan pada dahan kecil sedangkan tangan kanannya dijulurkan kearah layang-layang, sedikit lagi sampai, dia semakin menjulurkan tangannya sampai dia berhasil menyentuh ujung layang-layang, tiba-tiba kraak !!, dahan yang dipegangnya patah, dia terpelintir dan jatuh kebawah.
Entah berapa lama dia tidak sadarkan diri, begitu sadar dia sudah berada diruangan yang asing baginya. Badannya sakit-sakit semua, sendi-sendinya seperti mau lepas, napasnya terasa sesak. Dicobanya untuk menggerakkan badannya tapi tidak bisa, sekujur tubuhnya seperti diikat dengan tali, hanya matanya saja yang bisa digerakkan kekanan dan kekiri.
Pikiran yang tidak-tidak mulai muncul dikepalanya, mungkin sebentar lagi dia akan mati, nyawanya akan dicabut dan dibawa oleh malaikat Izroil ke langit yang ke tujuh seperti yang pernah diceritakan guru agamanya. Lama dia dalam keadaan seperti itu sampai akhirnya dia tersadar.
Sejak saat itu dia mulai berubah, sudah jarang main, lebih banyak dirumah untuk belajar sehingga nilai raportnya semakin lama semakin membaik dan bisa masuk SMP pevorit.
Di SMP dia selalu menjadi juara kelas, nilai pelajaran aljabar dan Ilmu Ukur yang paling ditakuti oleh hampir seluruh siswa justru paling disenanginya, diraport mendapat nilai 10.
Akhirnya dia bisa masuk ke SMA Negri 1 Jambi yang menghantarkannya ke fakultas ekonomi UGM.
Haris terbangun, rupanya tadi dia tertidur, mungkin karena tadi malam kurang tidur, biasanya dia tidak pernah tidur siang.
Dilihatnya hari sudah menunjukkan jam 1 siang, dia bergegas kekamar mandi untuk mengambil wudu.
Setelah salat dia pergi keluar untuk mencari makan perutnya sudah sangat lapar.
Baru saja dia selesainmakan Hpnya berbunyi, dari ibu Atika.
" Ris, Atika masuk ruang ICU Rumah Sakit PKU Muhammadiyah ".
" Iya bu saya segera kesana ".
__ADS_1