
Atika sedang mengetik sesuatu kantor senat mahasiswa, baru beberapa baris dia sudah menghentikan ketikannya, membaca apa yang dia ketik, menarik kertas dari mesin ketik kemudian meremas-remasnya dan melemparkannya ketempat sampah, kertas yang kesekian yang dia buang kesana.
Muka Atika kelihatan murung, ada mendung yang menyelimuti wajahnya, seperti kabut yang menutupi cahaya bulan. Sinar mata yang biasanya berbinar-binar seperti bintang kejora sudah tidak tampak lagi, senyumannya yang seperti bunga mawar yang sedang mekar, merekah, sudah pupus, mulutnya terkatup rapat.
Ada apa gerangan dengan gadis yang periang ini ?, apakah yang membuat si burung merak ini bersedih ?, sebegitu beratkah beban pikirannya sehingga bisa berubah sedrastis itu ?.
Sudah lebih sebulan Haris tidak kerumahnya, dia seperti pungguk merindukan bulan, menanti setiap malam minggu kalau-kalau Haris mampir kerumahnya, mengajak keliling kota Jogja atau sekedar ngobrol dan bersenda gurau seperti biasanya.
Sudah putih matanya memandang kehalanan rumah, namun Haris tak kunjung muncul juga, sudah letih rasanya dia berharap, semuanya sia-sia.
Hari ini rencananya dia akan membuat laporan pertanggung jawab senat karena sebentar lagi akan ada pemilihan senat yang baru.
Sebagai sekretaris dia bertanggung jawab untuk mempersiapkan semuanya, tapi sudah hampir satu jam dia duduk didepan mesin ketik, tidak satupun yang berhasil dia buat, yang ada malah gumpalan kertas yang menumpuk didalam tempat sampah.
Yang membuat dia risau adalah kabar burung entah dari mana datangnya yang mengabarkan kalau Haris sekarang dekat dengan seorang mahasiswi Psychologi, bahkan ada yang mengabari kalau mereka sudah pacaran.
Berita itu membuat Atika shock hatinya terkoyak-koyak, tercabik-cabik, rasanya sakit sekali.
Sunarto dari tadi memperhatikan Atika, dia prihatin sudah beberapa hari ini gadis itu jadi pendiam, tidak banyak omong seperti biasanya, dia lalu mendekat.
" Atika istirahatlah dulu, kamu kelihatan capek, biar aku yang mengetik ".
" Tidak usah mas, tinggal sedikit lagi kok ".
" Sudahlah Atika jangan dipaksakan nanti kamu sakit ".
Kali ini Atika tidak membantah, dia berdiri dan pindah kekursi tamu.
" Sebentar aku ambilkan minum dulu ".
Tanpa menunggu persetujuan Atika lagi Sunarto segera bergegas keluar, tidak lama kemudian kembali lagi dengan membawa satu gelas es teh manis dan beberapa potong kue.
" Diminum Atika ".
Sunarto lalu duduk didepan mesin ketik, tangannya menari-nari lincah sekali, tidak lama kemudian Andini pamitan pulang.
Setelah Andini pulang Sunarto menghentikan pekerjaannya lalu pindah ketempat yang diduduki Andini tadi.
Diperhatikannya piring yang berisi kue, masih tersisa 3 potong, rupanya Atika cuma makan satu potong, diambilnya sepotong lalu dikunyahnya.
Kemudian diangkatnya gelas bekas Atika, masih ada isinya separo, dielusnya gelas itu seolah Atika ada dihadapannya.
" Sudahlah Narto, kenapa pulak kau ini, kayak tak ada lagi gadis dimuka bumi ini bah !, kalau aku jadi kau sudah segudang pacarku, awak ganteng, duit banyak, sudah hampir sarzana pulak lagi, bah bodoh kali kau ini ".
Tigor Simanungkalit masuk kedalam ruangan, langsung duduk didekat Sunarto
" Eh Tigor, aku tidak apa-apa kok ".
" Tak usahlah kau sembunyikan kawan, aku sudah tahu semuanya, ah dunia memang aneh, kau mencintai Atika, Atika mencintai Haris, sedang Haris tampaknya lebih memilih mahasiswi Psychologi itu, apa tidak aneh itu namanya, makanya aku tidak suka cinta-cintaan, lebih baik main gitar dari pada berurusan dengan cinta, pusing ! ".
Sunarto hanya tertawa kecil, dia senang dengan sahabatnya yang satu ini, suka blak-blakkan, tapi rasa solidernya tinggi sekali. Pernah ketika motornya menyenggol seseorang, dia hampir dikeroyok empat orang, untung Tigor lewat keempatnya dibuat jungkir balik terkena pukulan Kyokushinkai karate-donya.
" Eh kamu sudah makan belum, ke warung mbok Joyo yuk ".
Sunarto menawarkan.
" Nah begitu dong, sebetulnya dari tadi aku mau ngomong, tapi melihat kau termenung begitu, seganlah awak, ha..ha..ha..ha ".
Sementara itu Atika langsung masuk kekamar, setelah mengunci pintu dia menghempaskan tubuhnya ketempat tidur, dia menangis, menumpahkan segala kekesalan hatinya.
Angan-angan indah itu sekarang sudah diambang kehancuran, mulai miring seperti menara Pisa, sebentar lagi akan rubuh, terhempas, hancur berkeping-keping.
Satu tahun selalu bersama, penuh dengan kebahagiaan, terasa indah.
Tiba-tiba semuanya berubah kelam, dia seperti dilemparkan kejurang yang sangat dalam, terhempas kedasar jurang, menggelepar-gelepar tanpa daya.
Rasa marah, kecewa , benci bercampur menjadi satu, mengaduk-aduk isi perutnya, merobek-robek jantungnya. Sejak kecil dia selalu mendapatkan apa yang dia mau, orang tuanya sangat memanjakannya, tapi sekarang dia harus menerima kenyataan pahit ini, rasanya sakit, sakit sekali.
__ADS_1
Lalu dia ingat dengan Sunarto, dia tahu kalau wakil ketua senat itu ada hati padanya, sudah lama Sunarto berusaha mendekatinya.
Mas Narto itu lucu, dia akan melakukan apa saja untuk menyenangkan hati Atika, berkorban apa saja, sampai-sampai mengorbanksn kesehatannya.
Dia masih ingat waktu itu ketika pulang malam dari kampus, hujan sangat lebat, Sunarto mengantarnya pulang naik motor.
" Atika kamu pakai mantel ini ".
" Mas Narto pakai apa ? ".
" Pakai sajalah akukan laki-laki lebih tahan ".
Besoknya Sunarto tidak masuk kuliah sakit flu
Badannya terasa letih, matanya berat karena beberapa hari kurang tidur, akhirnya diapun tertidur pulas.
Haris beru menyadari kalau dia telah melakukan kesalahan besar setelah dia bertemu dengan Atika di kampus. Atika tidak perduli dengan sapaannya, dia terus saja berjalan cepat-cepat sambil menundukkan kepala.
Dia harus kerumah Atika malam ini juga, ini berbahaya, dia tahu betul sifat Atika, jangan sampai tambah runyam.
Setelah magrib dia segera meluncur kerumah Atika, didapatinya Atika sedang duduk diteras rumah sambil membaca novel.
" Malam Atika ".
Haris menyapa.
Atika hanya menoleh sesaat kemudian kembali membaca tanpa menjawab sapaan Haris.
" Boleh aku duduk ? ".
" Duduk aja ".
" Baca novel ya ? ".
" Lihat saja sendiri ".
" Jalan yuk "
" Kok galak sih ".
" Mbok ben ( biarin ) ".
Merasa tidak diacuhkan Haris kembali berdiri dan berjalan keluar.
" Mas ".
Atika memanggil, Haris menghentikan langkahnya dan menoleh.
" Ya "
" Ayo kita pergi ".
Rupanya Atika tidak tahan juga.
Haris melarikan motornya kearah alun-alun utara, dia mau mengajak Atika makan sate kambing.
Disepanjang jalan Atika cuma diam, dia menjaga jarak, tidak mau terlalu mepet seperti biasanya, berpegangan pada sadel.
Sudah sekian lama mereka berjalan Atika masih tetap membisu, padahal biasanya dia tidak bisa diam, ngoceh terus, sampai-sampai Haris harus menyuruhnya diam karena mengganggu konsentrasi. Memang Atika orangnya ceria, banyak omong, orang Jawa bilang cerigis.
Haris mulai merasa gerah, tidak nyaman, dia sedang berpikir bagaimana caranya mencairkan suasana.
" Atika kok diam aja, ngomong dong ".
" Ngomong opo ? ".
" Ya ngomong apalah, tentang kuliah kek, tentang senat kek, atau tentang nenek tujang sihir juga boleh ".
__ADS_1
Haris coba bercanda.
" Ogah ! ".
" Waduh galak banget ".
" Sakkarepku toh ( terserah aku ) ".
" Ih serem ".
" Tak gebukin lo kowe ".
Atika meninju punggung Haris.
Kemudian suasana kembali seperti tadi, Atika kembali diam, dia tetap menjaga jarak, rupanya dia masih mendongkol.
Tiba-tiba Haris mengerem motor secara mendadak, otomatis Atika terdorong kedepan dan secara otomatis pula tangannya merangkul pinggang Haris.
Haris menoleh kebelakang sambil tersenyum nakal, Atika tidak tahan menahan tawa.
" Ih..ih..ih ".
Bertubi-tubi tinju Atika menghujam dipunggung Haris, yang digebukin malah tertawa gelak.
Suasana mulai mencair si birung merak kembali jinak.
Besok harinya pada hari minggu pagi Haris melarikan motornya kearah pantai Parang Tritis dipantai selatan Jogja, tepatnya di kabupaten Bantul, dibelakangnya duduk seorang cewek, Atika.
Sekarang Haris tidak ingin lagi membuat masalah, dia harus bisa membagi waktu, ada dua orang wanita yang harus dia jaga perasaannya,.
Pengalaman dimusuhi oleh Atika memberi pelajaran baginya bahwa perasaan wanita itu sangat halus, sangat perasa, mudah tersinggung.
Parang Tritis , kata itu sudah sangat familier ditelinga masyarakat Jogja, pantai yang terletak di bagian selatan kota Jogja ini merupakan salah satu detinasi wisata pantai yang paling populer
Banyak cerita rakyat yang berkembang disini, salah satunya yang paling terkensl adalah Legenda Ratu Pantai Selatan atau Nyi Roro Kidul, sebuah cerita tentang penguasa Samudra Indonesia yang konon kabarnya merupakan selir raja.
Atika memakai atasan putih dengan kembang kecil warna biru, celananya jean warna biru pula, kelihatan serasi, senyum yang selama ini identik dengan dirinya kembali tercetak diwajahnya.
Mereka menyewa tikar dan menggelarnya agak jauh dari air, kemudian meletakkan barang bawaannya dan duduk berdampingan menghadap kelaut.
Haris bercerita tentang pengalamannya ketika tenggelam di Selat Bangka sampai tersesat di hutan, Atika mendengarkan dengan seksama.
" Andai saja tidak bertemu dengan Bebukit entah apa yang akan terjadi, mungkin aku sudah mati atau tersesat selamanya didalam hutan.
Merinding bulu kuduk Atika, seandainya dia yang mengalami hal itu mungkin tidak akan berlangsung lama sudah selesai, mati. Jangankan naik kapal menyeberangi laut, naik komedi putar saja dia takut.
" Mas, Atika mau main air ".
Atika berdiri lalu berjalan diatas pasir diikuti oleh Haris, kemudian dia menoleh kebelakang dan tersenyum, lalu berlari kearah laut.
" Hati-hati Atika ! ".
Haris mengejar, dia coba meraih tangan Atika, tapi Atika terus saja berlari. Akhirnya Haris berhasil menangkap tangan Atika dan menariknya, Atika hampir terjatuh, Haris cepat menangkap dan memeluknya, Atika balas memeluk, muka mereka berhadapan dekat sekali, Atika memejamkan matanya.
Tiba-tiba Haris seperti mendengar sesuatu dari tengah laut, dia menoleh, tampak sebuah kapal dari kejauhan dan seorang wanita yang melambaikan tangannya.
" Andini ".
Haris berbisik pelan, lalu melepas pelukannya pada Atika, bayangan kapal itupun menghilang, Atika juga tersadar mukanya memerah, tampak raut muka kecewa diwajahnya.
Suasana menjadi kaku, Haris cepat menguasai keadaan lalu membimbing Atika kembali dan duduk ditempat semula.
Haris memandang Atika lekat-lekat, Atika menundukkan kepala, mukanya semakin memerah.
" Kamu tambah cantik kalau seperti itu Atika ".
Haris berkata sejujurnya.
__ADS_1
" Gombal ! ".
Atika memukul bahu Haris manja, Haris memegang tangan Atika dan merangkulnya, Atika menyandarkan kepalanya didada Haris.