
Dengan pesawat garuda tepat jam 11 siang Haris berangkat menuju ke Jakarta, dia tidak terlalu banyak membawa barang bawaan biar tidak merepotkan dijalan. Tidak ada yang mengantarnya ke Air Port Sultan Thaha Jambi, dia sendirian saja dengan menumpang taksi.
Keluar dari Air Port Soekarno Hatta dia langsung naik bus Damri tujuan Stasiun Kereta Api Gambir, dia akan langsung membeli tiket kereta tujuan Jogja. Kebetulan di Stasiun Gambir agak sepi sehingga dia tidak perlu antri terlalu lama untuk membeli tiket.
Suasana Jawa sudah mulai terasa sejak masuk ke Stasiun Gambir karena banyaknya orang yang berbicara dalam bahasa Jawa, rasanya senang sekali mengingatkan dia pada masa-masa ketika kuliah di Jogja.
Di Jambi banyak juga yang berbahasa Jawa tapi sudah campur aduk dengan bahasa lokal, lagi pula bahasa Jawanya bahasa ngoko atau bahasa kasar.
Ini pengalaman pertama Haris naik kereta api, dulu waktu pertama kali berangkat dari Jambi dia naik bus, kemudian pulangnya naik pesawat.
Jam 5 sore kereta mulai berangkat meninggalkan Stasiun Gambir menuju ke Surabaya, dia akan turun di Jogja sebelum kereta melanjutkan perjalaman ke Surabaya.
Disepanjang perjalanan dikanan dan kiri rel kereta tampak sawah membentang, sejauh-jauh mata memandang hanya petak-petak sawah yang tampak, tersusun dengan sangat rapi. Beda sekali dengan di Sumatra yang tampak hanya hutan belantara.
Karena baru pertama kali naik kereta Haris menikmati sekali perjanannya kali ini.
Jam 4 subuh kereta sudah masuk ke Stasiun Tugu Jogja, Haris segera mengemasi barangnya lalu turun dari kereta. Karena hari masih terlalu pagi dia istirahat dulu sambil minum-minum.
Setelah salat subuh dia segera keluar dari stasiun dan mencari penginapan tidak jauh dari kampus UGM di Bulaksumur.
Dia akan menginap di hotel dulu satu malam, besok baru akan membeli motor bekas agar lebih mudah dalam melakukan regestrasi dan mencari tempat kos.
Haris menghentikan mototnya didepan kampus UGM, dia terpaku memandang kearah kampus yang penuh kenangan itu, sudah tidak tampak lagi gedung induk yang berdiri megah dibagian belakang, tertutup oleh sebuah bangunan besar, didepannya tertulis * Graha Sabha Pramana *.
Dia tidak tahu apa arti tulisan itu dan untuk.apa bangunan itu dibangun, tapi dia merasa kalau bangunan itu sedikit menganggu kenangan masa lalunya.
Hari ini dia akan melakukan regestrasi setelah mendapatkan tempat kos, tapi sebelumnya dia akan mengunjungi fakultas ekonomi terlebih dulu, ingin bernostalgia ketempat kuliahnya dulu.
Dengan perasaan sedikit berdebar dia memarkir motornya di fakultas ekonomi, tidak disangka dia bertemu dengan teman lamanya Tigor yang telah menjadi dosen disana
" Hei Haris ! ".
Tigor segera merangkul Haris.
" Hayo masuk nanti kita cerita didalam ".
Tigor mengajak Haris keruang dosen.
" Apa yang terjadi dengan kamu Haris tiba-tiba saja menghilang tanpa memberi kabar ".
" Aku mendapat musibah Tigor, ayahku mengalami serangan jantung dan dirawat diruang ICU ".
" Terus kenapa rupanya ".
" Aku segera pulang dan ternyata ayah tidak bisa tertolong, beliau meninggal. Aku sangat terpukul Tigor, ayahku hanyalah pegawai swasta yang tidak mendapat uang pensiun, terpaksa aku tidak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja mengganti ayahku ditempatnya bekerja karena adik-adikku masih membutuhkan biaya ".
" Aku ikut prihatin Ris, tapi kenapa kamu tidak memberi kabar sama sekali, hilang begitu saja ? ".
" Aku malu Tigor, aku tidak punya keberanian untuk itu, aku merasa gagal, tidsk bisa menyelesaikan kuliah ".
" Aku bisa memakluminya Ris, tapi mungkin tidak bagi Atika ".
" Dimana dia sekarang ? ".
" Sepeninggal kamu Atika jadi berubah total, sepertinya dia sangat terpukul kehilangan kamu ".
Tigorpun bercerita.
__ADS_1
Setelah menamatkan pendidikan S1 dia, Atika dan Sunarto diterima menjadi dosen disana. Satu tahun kemudian mereka bertiga mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 di Inggris. Karena waktunya cukup mepet maka mereka buru-buru melengkapi persaratan yang diminta. Mungkin karena terburu-buru maka Atika dan Sunarto yang berboncengan mengalami kecelakaan, motornya ditabrak bus.
" Sunarto meninggal ditempat, sedangkan Atika mengalami kelumpuhan kedua kakinya, sekarang dia memakai kursi roda dan tidak pernah ke kampus lagi ".
Haris terhenyak mendengar cerita Tigor, betapa beratnya penderitaan Atika.
Setelah ngobrol beberapa saat Haris pamitan, dia sudah tidak sabar lagi ingin menemui Atika.
Haris termangu memandang kearah rumah yang tertata rapi itu, sudah sekian tahun dia tidak kesana masih seperti dulu, tidak ada yang berubah, tapi dia tidak melihat aktifitas dirumah itu, kelihatan sepi.
Namun ketika diperhatikan dengan seksama dia melihat seorang wanita duduk dikursi roda sedang merapikan tangkai bunga yang tumbuh tidak beraturan, sesekali dia tampak termenung dan menarik napas panjang. Raut wajahnya kelihatan sendu, sorot matanya kosong, memandang kedepan tanpa makna.
Haris memperhatikan dari luar, hatinya terenyuh, kamu sudah banyak berubah Atika, dia membatin dalam hati.
Perlahan-lahan dia masuk dan berjalan mendekat.
" Atika ".
Atika menoleh, dia terkejut melihat Haris sudah berdiri didekatnya.
" Mas Har....ris ? ".
" Iya ini aku ".
Tiba-tiba Atika tergugu dan menangis sesengukan.
Haris berjongkok disamping kursi roda dan memeluk Atika.
Tangis Atika tambah jadi, dia membenamkan kepalanya didada Haris
" Menangislah Atika ".
Setelah tangis Atika mereda Haris mendorong kursi roda keteras rumah, lalu sambil menggenggam tangan Atika dia menceritakan tentang apa yang telah dialaminya.
Warung mbok Joyo masih seperti dulu, susunan meja kursinya, warna cetnya maupun jenis makanannya, yang membedakannya adalah yang jualan bukan lagi mbok Joyo tapi anaknya, mbok Joyo sudah meninggal.
Begitu masuk kedalam Haris merasakan suasana seperti dulu waktu masih kuliah di ekonomi, masih tetap menjadi tempat paforit mahasiswa.
Haris menyantap makanannya perlahan-lahan, menikmati setiap kunyahan sambil memandang kesekeliling. Didinding warung seolah tergambar peristiwa-peristiwa masa lalunya, tercetak dengan jelas, dia termenung, begitu cepatnya waktu berlalu.
Disini, ditempat ini untuk pertama kalinya Hendra jatuh hati pada Hartini, ah sahabatnya itu, mudah-mudahan hubungan mereka berlanjut sampai ke pelaminan.
Lalu dia teringat pada Saras, gadis itu sangat mirip dengan Andini, dimana kira-kira dia sekarang, sudah menikahkah ?, mungkin saja, empat tahun bukan waktu yang sebentar, cukuplah bagi seseorang untuk menentukan pilihan hidupnya.
Haris cepat-cepat menyelesaikan makannya, dia tidak ingin terlalu lama larut dalam kenangan masa lalunya.
Hari ini hanya ada satu mata kuliah, masih terlalu pagi untuk pulang ketempat kos, akhirnya dia putuskan untuk mampir ketempat Atika.
Seperti biasa Atika sedang merapikan kebun bunga disamping rumah.
" Assalamualaikum Atika ".
Haris menyapa Atika.
" Waalaikummussalam mas ".
Haris ikut membantu menggunting ranting yang terlalu panjang, setelah itu dia mendorong kursi roda masuk ke teras rumah.
__ADS_1
Hampir satu jam mereka ngobrol ketika tiba-tiba Atika sesak napas.
Haris panik, dia segera berteriak memanggil ibu Atika, yang segera berlari keluar.
" Masukkan ke kamar ".
Haris mendorong Atika dalam kamar kemudian membaringkannya ketempat tidur.
Dengan cekatan ibu Atika memasang slang O2 yang terdapat didekat kepala Atika, sepertinya dia sudah terbiasa.
" Kenapa Atika bu ? ".
" Dia memang sering begitu, sebaiknya kita bawa ke rumah sakit sebentar ibu telepon bapak dulu ".
Atika segera dilarikan kerumah sakit PKU Muhammadiyah dan langsung dibawa keruang UGD, dipasangkan slang oksigen, tidak berapa lama kemudian dokter datang.
Haris terkejut ketika tahu siapa yang datang.
" Hendra ! ".
" Haris ! ? ".
Tapi mereka tidak sempat ngobrol karena Hendra harus cepat-cepat memeriksa Atika, setelah itu barulah Hendra mengajak Haris keruang dokter.
Hendra mencak-mencak, dia menumpahkan segala kekesalan hatinya karena Haris menghilang begitu saja tanpa memberi kabar.
" Hebat ya kamu, pergi begitu saja tanpa memberi kabar sedikitpun ".
" Maaf Hen, waktu itu keadaan sangat mendesak, tidak memungkinkan aku memberi kabar, aku sangat panik ".
Kemudian Haris menjelaskan apa yang telah terjadi.
" Tapi setidaknya beri kabarlah, bisa lewat surat atau telepon, mungkin tidak terbayang olehmu betapa repotnya aku menjawab pertanyaan dari Atika dan Saras setiap ketemu, terus aku harus bilang apa ?, paling hanya bisa menghibur, itu saja, dan mungkin juga tidak terpikirkan olehmu betapa menderitanya mereka ".
" Iya Hen aku mengerti, sekali lagi aku minta maaf, sebetulnya sudah terpikirkan juga olehku untuk memberi kabar tapi terus terang aku malu, aku tidak punya keberanian karena marasa gagal dan harus berhenti kuliah ".
" Aku bisa memakluminya Ris tapi tidak dengan kedua gadis itu, sudahlah semuanya sudah terjadi, sekarang marilah kita pikirkan bagaimana kedepannya ".
" Aku sangat menyesal apalagi setelah melihat keadaan Atika, kasihan dia, bagaimana penyakitnya Hen apa bisa disembuhkan ? ".
Atika bukanlah pasien Hendra, selama ini dia ditangani oleh dokter Ruslan, seniornya spesialis penyakit syaraf. Dari data yang ada Atika menderita tumor ganas stadium 4, sudah mengalami metastase ( penyebaran ) kemana-mana termasuk ke paru-paru yang menyebabkan dia sering sesak napas.
Tumor itu bermula dari tulang belakang didaerah Lumbal 4 dan 5 ( L4-5 ), itulah yang menyebabkan tulang belakangnya yang memang sudah mengalami osteoporosis patah waktu kecelakaan sehingga menyebabkan dia lumpuh.
" Lalu apa yang harus kita lakukan ? ".
Haris bertanya cemas.
" Tidak ada, paling dikasih vitamin dan obat-obat penghilang rasa sakit sambil berdoa semoga mendapatkan mukjizat ".
" Lalu bagaimana dengan Saras ?, dimana dia sekarang ? ".
" Dia di Solo dirumah orang tuanya, bekerja disalah satu bank swasta disana, sebentar lagi dia akan menikah ".
" Dengan siapa Hen ? ".
" Dengan Handoko, taruna Akabri yang dulu kamu kira pacarnya Saras ".
__ADS_1
Haris terdiam, bagaimanapun berita itu cukup memukul perasaannya.