DERMAGA CINTA TERAKHIR

DERMAGA CINTA TERAKHIR
DERMAGA CINTA TRRAKHIR


__ADS_3

Bab 2.


Dari hasil menjual rumah dan kebun karet orang tua Haris membeli rumah di kota Jambi. Ayahnya kemudian bekerja di pabrik pengolahan karet yang terletak diseberang kota Jambi, sedang ibunya hanya dirumah saja mengurus rumah tangga.


Setelah pindah ke kota Jambi Haris langsung dimasukkan ke sekolah dasar negri yang terletak tidak jauh dari rumahnya.


Sampai kelas 4 SD prestasi sekolah Haris sangat jelek, dia lebih banyak main dari pada belajar, hanya karena belas kasihan guru saja dia bisa naik kelas, menurut gurunya, kalau ada satu siswa saja yang tidak naik kelas maka siswa itu adalah Haris.


Suatu ketika sebuah peristiwa telah merubah jalan hidupnya. Waktu itu dia sedang asyik bermain sepak bola ditanah kosong yang terdapat didepan rumahnya sampai menjelang magrib, tiba-tiba terdengar suara ibunya berteriak memanggil namanya.


" Hariiis !! ".


" Iya mak ! ".


Haris segera mengambil sandal dan bajunya lalu berlari pulang, dia tidak ingin ibunya naik pitam dan memecutnya dengan rotan seperti beberapa hari yang lalu, belum hilang rasa sakit dipantatnya.


Haris yang masih duduk dibangku kelas 4 SD itu kelihatan dekil, kaki penuh dengan bekas luka dan gatal-gatal terkena kutu air, kulit gelap terpanggang sinar matahari, badan kurus kerempeng, dada tipis seperti papan, tulang iga menonjol mirip piano, seperti anak yang tidak terurus.


Ayahnya hampir seharian bekerja dipabrik karet yang terletak diseberang kota Jambi, subuh-subuh dia sudah berangkat dengan sepedanya kemudian naik perahu menuju tempat kerjanya, mendekati magrib baru pulang. Hanya pada hari minggu saja ayahnya tidak masuk kerja, biasanya dia mengajak Haris untuk memancing ikan disungai kecil yang terdapat tidak jauh dari rumah mereka.


Tidak heran kalau Haris tumbuh seperti itu, tidak ada yang mengawasi, sedang ibunya sibuk mengurusi urusan rumah tangga dan adiknya yang masih kecil.

__ADS_1


Sampai didapur dia menyambar handuk yang tersampir dikawat jemuran, mengambil ember dan tempat sabun lalu keluar. Setengah berlari dia menuju sumur tetangga yang terletak didekat rawa-rawa berjarak beberapa puluh meter dari rumahnya, hari sudah mulai gelap, sebentar lagi dia tidak berani lagi ke sumur yang kabarnya ada hantunya itu.


Pada musim lemarau ini sumur warga banyak yang kering, kalaupun ada airnya hanya cukup untuk keperluan memasak, sedangkan untuk mencuci dan mandi harus ketempat yang lebih rendah yaitu didekat rawa-rawa, meskipun airnya agak keruh dan berbau lumpur.


Sumur yang airnya keruh ini terletak didasar kolam yang kering ketika musim kemarau, kolam yang biasanya dipakai oleh orang Cina untuk menanam enceng gondok atau kiambang sebagai makanan pokok ternak babi yang mereka pelihara.


Pada pagi dan sore hari tempat ini penuh dengan orang terutama ibu-ibu yang mau mencuci pakaian sehingga terkadang harus antri menunggu giliran.


Langkah Haris terhenti dibawah pohon rambutan, dia melihat layang layang putus yang menyangkut di ranting pohon. Tanpa pikir panjang lagi dia meletakkan barang bawaannya dan segera memanjat pohon rambutan yang cukup besar itu. Sampai diatas dia coba meraih layang layang tapi tangannya tidak sampai, kemudian dia naik lagi makin keujung.


Tangan kirinya berpegangan pada dahan kecil, sedang tangan kanannya dijulurkan kearah layang layang, sedikit lagi sampai, dia semakin menjulurkan tangannya sampai dia berhasil menyentuh ujung layang layang, tapi tiba-tiba kraak !!, dahan yang dipegangnya patah, dia terpelintir dan jatuh kebawah.


Dicobanya menggerakkan badannya tapi tidak bisa, sekujur tubuhnya seperti diikat dengan tali, hanya matanya saja yang bisa bergerak kekanan dan kekiri.


Rasa takut mulai menyelimuti dirinya, apa yang terjadi ?, dimana dia sekarang ?, pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam hatinya.


Dibayangkannya kembali saat kejadian itu, ibunya memanggilnya lalu dia mengambil perlengkapan mandi dan berlari kesumur tetangga yang terdapat dirawa-rawa, setelah itu dia melihat layang layang putus nyangkut diranting pohon lalu dia memanjat pohon rambutan itu dan.....tiba-tiba saja dia sudah berada diruang ini.


Diperhatikannya ruangan yang dicet dengan cet warna putih itu kelihatan terang, tapi dia tidak mendengar suara apa-apa, terasa sepi, sunyi. Ditariknya napas dalam-dalam terasa nyeri didadanya, seperti ditusuk-tusuk jarum.


Pikiran yang tidak-tidak mulai singgah dikepalanya, mungkin dia sebentar lagi akan mati, nyawanya akan dicabut dan dibawa oleh malaikat Izroil ke langit ke tujuh seperti yang pernah diceritakan oleh guru agamanya. Atau ruhnya akan ditarik oleh malaikat maut dari ubun-ubunnya secara perlahan-lahan sampai lepas dari tubuhnya seperti yang pernah dia baca dalam buku Taman Firdaus.

__ADS_1


Tapi dia tidak mau mati, tidak mau, tidak mau, tidak, tidak, tidaaak !!, dia berteriak sekeras-kerasnya tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, dia semakin ketakutan.Cukup lama dia berada dalam keadaan seperti itu tanpa bisa berbuat apa-apa, ingin menangis tapi tidak ada air mata yang keluar dari pelopak matanya.


Lamat-lamat dia mendengar seperti orang berbicara, sepertinya dia mengenal suara itu tapi tidak begitu jelas, seperti orang berbisik.


Tiba-tiba dia merasa seperti ada yang menariknya keatas, melayang diudara, dia meronta-ronta sambil berteriak.


" Maaak !! ".


" Iya nak, ini emak ".


Haris tersadar, samar-samar tampak bayang-bayang orang berdiri disekelilingnya, hanya beberapa saat, kemudian tidak sadarkan diri lagi.


Sepuluh menit kemudian kembali dia tersadar kali ini pandangannya mulai jelas, tampak kedua orang tuanya dan para tetangga disekitarnya.


Satu minggu lamanya dia dirawat di rumah sakit, untung dia jatuh ditempat yang rumputnya tebal sehingga tidak ada tulangnya yang patah.


Sejak kejadian itu terjadi perubahan besar dalam diri Haris, sudah jarang main, lebih banyak dirumah untuk belajar, hanya keluar pada waktu belajar mengaji atau salat di masjid, rupanya peristiwa itu benar-benar membuat dia trauma.


Perlahan-lahan prestasi sekolahnya mulai meningkat, rapornya yang biasanya memerah seperti sambal balado sudah berganti dengan warna hitam, sudah bisa dapat rangking kelas sampai akhirnya dia dapat masuk ke Sekolah Menengah Pertama terbaik.


Di SMP dia selalu jadi juara kelas, nilai pelajaran Aljabar dan Ilmu Ukur yang menjadi momok bagi sebagian besar siswa selalu mendapat nilai diatas rata-rata bahkan tidak jarang mendapat nilai 10 sehingga dapat melanjutkan ke SMA Negri 1 Jambi, Sekolah Menengah Atas paforit di kota Jambi.

__ADS_1


__ADS_2