DERMAGA CINTA TERAKHIR

DERMAGA CINTA TERAKHIR
DERMAGA CINTA TERAKHIR


__ADS_3

Asrama mahasiswa Jambi terletak di jalan Bausasran No.11 kota Jogja, tidak terlalu jauh dari Stasiun Kereta Api Lempuyangan. Asrama milik yayasan Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini agak masuk sedikit dari jalan raya, melalui gang sempit dimana hanya motor dan becak yang bisa masuk.


Posisi asrama yang tersembunyi ini ternyata cukup menguntungkan ketika terjadi peristiwa tukang becak beberapa tahun yang lalu.


Menurut mereka yang sudah lama tinggal disana, peristiwa itu bermula ketika terjadi cekcok antara mahasiswa luar Jawa entah dari mana asalnya dengan tukang becak.


Kabarnya mahasiswa tersebut dalam keadaan setengah mabuk diantar pulang oleh becak setelah ada kesepakatan soal harga. Setelah turun dari becak mahasiswa tersebut tidak mau membayar karena memang tidak punya uang sehingga terjadilah cekcok diantara keduanya yang mengakibatkan tukang becak tewas tertusuk pisau.


Berita itu segera menyebar diantara tukang becak, bahwa teman mereka dibunuh oleh anak Sumatra, padahal belum diketahui mahasiswa itu berasal dari mana.


Maka seluruh asrama mahasiswa Sumatra didatangi oleh mereka beramai-ramai untuk menuntut balas sampai ada satu orang mahasiswa dari Sumatra Barat yang terbunuh. Beruntung asrama mahasiswa Jambi tidak kelihatan dari jalan sehingga luput dari bahaya.


Tinggal di asrama Jambi sebetulnya sangat tidak nyaman karena jumlah penghuninya sudah sangat banyak, sudah over capacity, tidak seimbang antara yang tinggal disana dengan jumlah kamar dan tempat tidur. Harus rela bersempit-sempitan, satu kamar diisi dengan 3 tempat tidur dan tiap tempat tidur ditempati oleh 3 orang pula, dapat dibayangkan bagaimana rasanya. Memang kamarnya besar-besar sehingga bisa memuat 3 tempat tidur ukuran sedang.


Banyak diantara mereka yang tinggal disana sudah sangat lama, sudah bertahun-tahun, tidak jelas kapan tamatnya, karena kuliahnya juga ditempat yang tidak jelas. Kalau malam tiba semakin ramai karena banyak mahasiswa Jambi yang tinggal disekitar asrama datang sekedar untuk ngobrol, pokoknya seru, jangan harap bisa belajar.


Kalau mau belajar dengan tenang harus keluar ketempat-tempat belajar yang banyak terdapat di Jogja.


Dia terpaksa bertahan disana karena uang yang berikan orang tuanya tidak seberapa, setidaknya dia tidak perlu bayar uang kos. Sebetulnya dia masih punya barang emas berupa cincin yang diberikan ibunya ketika mau berangkat kemarin, tapi dia belum mau menjualnya kalau tidak terpaksa benar sesuai dengan pesan ibunya ketika memberikan cincin itu.


Haris pernah mengalami peristiwa yang lucu ketika pergi naik becak ke kampus UGM untuk mendaftar.


Waktu itu dia berangkat bertiga dengan dua temannya, sampai di stasiun Lempuyangan becak berhenti karena kereta api mau lewat, tukang becakpun turun dari becak. Tiba-tiba becak tertunggit kedepan sehingga mereka terkurung didalam becak seperti ayam masuk kurungan, rasanya malu sekali karena banyak yang nonton bahkan ada yang tertawa.


Setelah diterima di UGM baru dia berani menjual cincinnya untuk membayar kos didekat kampus, karena jarak antara asrama dengan tempat kuliahnya terlalu jauh yang memerlukan biaya yang tidak sedikit.


Sekarang sudah tahun ke empat Haris kuliah di Fakultas Ekonomi UGM, tampilannya sudah jauh berbeda. Kalau dulu kemana-mana jalan kaki, sekarang sudah naik motor, kalau dulu sering makan SGP ( Sego pecel ), sekarang sudah berani makan di rumah makan Padang, kalau dulu kos ditempat yang paling murah , yang berdinding gdek ( anyaman bambu ) sekarang sudah meningkat ketempat yang lebih bagus, lebih mahal.


Sejak dia mengajar ditempat bimbingan belajar terkemuka di Jogja hidupnya mulai berubah, sudah bisa beli motor sendiri walaupun motor bekas, sudah berani mentraktir teman, sudah berani jalan dengan cewek.


Cewek yang sering menemaninya kemana-mana bernama Atika, orangnya cantik, primadona fakultas ekonomi, adik tingkatnya yang sama-sama aktif di senat mahasiswa.


Atika mempunyai sifat yang mirip dengan Andini, suka marah-marah tidak jelas, meledak-ledak seperti mercon, tapi tidak lama kemudian akan baikan lagi.


Perlahan'lahan dia sudah bisa melupakan Andini, terkikis oleh waktu dan kesibukannya sebagai mahasiswa serta ketua senat mahasiswa fakultas ekonomi.


Haris memarkirkan sepeda motornya didepan warung mbok Joyo, warung makan langganannya yang terletak dilingkungan kampus.


Didalam warung belum banyak orang, maklum hari masih terlalu pagi, dia lalu duduk dipinggir ruangan didekat jendela, tempat paforitnya karena bisa memandang keluar dengan bebas.


Diperhatikannya beberapa mahasiswa yang sedang berdiskusi diluar warung, entah apa yang mereka perdebatkan kelihatan seru sekali. Ah mahasiswa- mahasiswa itu kalau diluaran kelihatan cerdas-cerdas, pintar-pintar, segala macam teori bisa keluar dari mulutnya, tapi kalau menghadapi ujian mendadak jadi pencinta wc, bolak balik ke toilet melihat contekan.


Belum sempat menyantap makanannys seseorang menghampiri.

__ADS_1


" Hallo Ris ".


" Hei Hen, duduk ".


Hendra duduk didepan Haris.


" Mau makan apa Hen ? ".


" Aku pesan hot dog, minumannya yang ringan-ringan aja wisky ".


" Cuile belagak kamu, biasanya makan rujak petis gitu ".


Hendra mahasiswa kedokteran, asalnya dari Palembang, orang tuanya tinggal di Kayu Agung Sumatra Selatan, dia ikut pamannya ketika menginjak bangku SMA.


Orangnya lucu, logat Palembangnya sangat kental, suka membual, tidak takut dengan siapapun kecuali dengan cewek.


Dimanapun dia akan pakai logat Palembang, lidahnya sudah tidak bisa dirubah lagi. Bahasa Jawa dia tidak bisa, jangankan bahasa Jawa bahasa Indonesiapun masih pletat pletot. Justru karena itu dia jadi lucu, ditambah lagi dengan cerita-cerita bohongnya, maka lengkaplah sudah.


Hendra sering mampir ke warung mbok Joyo, katanya untuk cuci mata, ditempat ini banyak cewek cantik yang mampir, mereka ceria-ceria, tidak seperti di kedokteran terlalu serius.


Dia mengenal Hendra ketika sama-sama mendaftar di UGM, tadinya dia juga ingin mendaftar di kedokteran sesuai pesan orang tuanya, tapi karena kurang yakin kalau diterima maka dia memilih fakultas ekonomi.


Hendra orangnya boros, kalau baru menerima kiriman uang apapun dia beli, tidak mau makan ditempat sembarangan, gengsi katanya, tapi kalau tanggal-tanggal tua semua barangnya pindah ketempat pegadaian, kamar kos yang biasanya penuh sesak perlahan-lahan mulai lengang jadi minimalis, makan sudah mengungsi ke warung murahan, nasi kucing.


Dua sahabat ini kalau bertemu ada saja hal lucu yang mereka bicarakan, terkadang tertawa terbahak-bahak padahal yang mereka omongkan sama-sama ngibulnya.


Begitu turun dari motor Haris melihat seorang wanita yang berjalan kearah mobil yang terparkir didepan gedung induk, dia terperanjat.


" Andini ".


Dia berkata pelan.


Wanita itu masuk kedalam mobil lewat pintu depan dimana sudah menunggu seorang laki-laki setengah baya yang duduk dibelakang setir, tidak lama kemudian mobil itupun pergi meninggalkan gedung induk.


Haris mengucek-ucek matanya, apa dia tidak salah ?, matanya terus saja mengikuti mobil yang membawa wanita itu sampai hilang dari pandangannya.


Jantung Haris berdegup kencang, ingin mengejar


tapi tidak jadi, jangan-jangan dia salah lihat, hanya


illusinya saja.


Sampai larut malam dia tidsk bisa tidur, bayang-bayang gadis yang mirip Andini itu terus saja menghantuinya, entah sudah berapa kali dia membolak balikkan tubuhnya ditempat tidur, membaca segala macam doa yang dia hapal, menghitung sampai seratus, menggosok lehernya dengan minyak angin, bahkan menutup mukanya dengan bantal, tetap saja tidak bisa tidur.

__ADS_1


Wajah wanita yang dilihatnya di gedung induk tadi seperti menempel disetiap jengkal dinding kamarnya, menari-nari dipelupuk matanya.


Dilihatnya jam sudah pukul 12 malam, ah ini sudah tidak benar, dia lalu turun dari tempat tidur, memakai jaket dan mengambil kunci motor, lalu melarikan motornya kearah jalan Kaliurang didekat kampus UGM, lebih baik makan roti bakar disana.


Ditempat penjual susu Boyolali dia menghentikan motornya lalu masuk kedalam.


" Susu coklat dan roti bakarnya pak ".


Kebetulan lagi sepi, hanya dia sendiri pembelinya.


" Rotinya rasa apa mas ? :.


" Selai nanas pak ".


Sambil menunggu pesanan Haris memperhatikan bapak penjual roti itu. Umurnya sekitar 30 tahunan, rambutnya agak keriting dengan perawakan sedang. Dia dibantu oleh seorang perempuan yang hampir sebaya, mungkin itu istrinya. Seorang anak perempuan kira-kira berusia tujuh tahun sedang tertidur diatas kursi.


Dulu sewaktu mengikuti masa orientasi mahasiswa dia sering mampir didaerah sini untuk mencari makan, tempat ini tidak pernah tidur, sampai pagi masih ada yang berjualan.


Masa orientasi mahasiswa itu memang gila, dari pagi sampai.malam nereka digojlok, diberi tugas yang aneh-aneh, kadang tidak masuk akal, apalagi yang memberi tugas dalam bahasa Jawa, mereka sepertinya tidak perduli, yang penting gue ngomong, perkara kamu ngerti apa tidak bukan urusan gue.


Pernah mereka disuruh membawa bola yang dimasukkan kedalam jarum, apa tidak kebalik itu, seharusnyakan jarum yang dimasukkan kedalam bola. Setelah tanya sana sini ternyata yang dimaksud bukan bola tapi bolah ( benang ), jadi benang dimasukkan kedalam jarum, ada-ada saja.


Diambilnya sebatang rokok lalu dia menoleh kearah sipemilik warung.


" Pinjam koreknya pak ".


" Monggo ".


Setelah menyulut rokoknya dia mengembalikan korek api kepada yang punya.


" Sudah lama jualan disini pak.? ".


" Wah bukan lama lagi mas, sejak bayi ".


" Maksud bapak ? ".


" Saya ini hanya meneruskan usaha orang tua, sejak bayi saya sudah diajak kemari, ditidurkan dibawah meja ini ".


" Apa bisa tidur pak ? ".


" Lama-lama juga biasa, mendingan disini, wong di stasiun kereta api saja bisa kok, padahal sebentar-sebentar kereta apinya lewat, iya toh ? ".


" Iya juga pak ".

__ADS_1


Kehidupan dikota besar memang seperti itu, mungkin karena penduduknya terlalu padat sehingga banyak yang tidak punya tempat tinggal terpaksa tidur disembarang tempat, seperti diemperan toko, stasiun kereta api atau didalam becak.


Hari semakin larut, Haris segera pulang ketempat kosnya, setelah dini hari baru dia tertidur.


__ADS_2