DERMAGA CINTA TERAKHIR

DERMAGA CINTA TERAKHIR
DERMAGA CINTA TERAKHIR


__ADS_3

Jam 6 pagi Haris sudah berangkat dari rumah, dia berjalan kaki ke terminal sebelum naik oplet, butuh waktu lebih dari setengah jam untuk sampai kesana.


Tempat tinggal Haris jarang dilewati oplet, kalaupun ada mobilnya sangat jelek, jalannya terseok-seok. Oplet akan ngetem diterminal sampai penumpangnya penuh baru akan jalan, jangan harap sopirnya mau mau menghidupkan mesin mobilnya sebelum tempat duduknya penuh walaupun hanya kurang satu orang, padahal penumpangnya sudah dijejal-jejalkan lebih dari biasanya. Kalau ada yang mau cepat harus membayar kekurangan penumpangnya, bisa satu atau dua orang.


Untuk menghidupkan mesinnya perlu tenaga ekstra karena staternya sudah tidak berfungsi, harus diengkol berulang-ulang dan kalau sudah hidup suaranya keras sekali, seperti mesin kapal, meraung-raung karena pedal gas harus tetap dipijak, kalau tidak akan mati. Ada juga sopir oplet yang nakal, dia sengaja tidak menghidupkan kuncinya, sampai kernetnya berkeringat baru dihidupkannya.


Stirnya tidak stabil, rodanya bisa lari kekanan dan kekiri, kalau tidak pandai mengendalikannya salah-salah nabrak.


Gigi porsnelingnya mudah lepas, harus disangga dengan kaki, terutama kalau masuk gigi satu dan dua. Ketika masuk gigi satu harus ditahan dengan bagian belakang lutut agar tidak lepas, begitu juga ketika masuk gigi dua harus ditahan dengan telapak kaki.


Mesinnya sering berasap, kadang harus berhenti karena asapnya sudah terlalu banyak, lalu kapnya dibuka dan radiatornya diisi air.


Tidak jarang mesinnya mati mendadak, sopirnya sibuk.mengotak atik mesin padahal mesinnya sudah meninggal alias mati total.


Sopirnya juga agak licik, ongkos oplet akan diminta terlebih dahulu sebelum mobil jalan, kalau penumpangnya meminta uangnya kembali karena mobilnya mogok, dia akan mengatakan " Sebentar lagi hidup, tunggu saja ", sampai yang menunggu bosan dan pergi dengan sendirinya.


Kalau semua penumpang sudah pergi baru dia mencari mobil lain untuk menarik mobilnya kebengkel. Jarang anak sekolah yang mau naik oplet ini, lebih baik jalan kaki dari pada terlambat.


Terminal oplet terletak ditengah-tengah pusat kota, sebetulnya cuma jalan yang disulap jadi terminal karena terminalnya belum dibangun.


Oplet merupakan satu-satunya kendaraan umum yang ada dikota Jambi, bentuknya lucu, kepalanya dibuat dari kepala mobil Dodge dan Jeep Willis, bodynya terbuat dari kayu yang dilapisi dengan seng lalu dicet warna kuning dan dilukis dengan bermacam-macam gambar mirip-mirip mobil Si Dul dalam film Si Dul Anak Sekolahan.


Tempat duduknya memanjang berhadap-hadapan, ruangan diantara tempat duduk cukup lapang, bahkan bisa untuk selonjoran kaki atau meletakkan bakul dagangan. Mesinnya rata-rata sudah diganti dengan mesin Isuzu sehingga suaranya halus.


Tidak semua oplet ini diminati anak-anak sekolah, mereka akan memilih oplet yang bagus dengan sopir yang masih muda dan agak koboi.


Oplet-oplet pilihan ini larinya kencang, saling kejar-kejaran, apalagi kalau disoraki oleh anak-anak sekolah sopirnya tambah jadi.


Kadang ketika sedang ngebut tiba-tiba sopirnya ngerem mendadak sehingga penumpangnya terdorong kedepan, anak-anak sekolah itu akan berhimpitan, yang laki-laki tertawa-tawa kesenangan sedang yang wanita menjerit-jerit sambil menyumpah-nyumpah.


Haris memilih oplet yang benar-benar dia yakini tidak mogok dijalan, tidak terlalu penting bagus apa tidak, dia bukan type orang yang yang terlalu memilih, yang penting lancar. Dia pernah punya pengalaman yang tidak mengenakkan karena naik oplet sembarangan, tiba-tiba oplet yang ditumpanginya mogok dijalan, terpaksa ganti oplet lain, hampir saja dia terlambat sampai disekolah.


Upacara bendera kali ini terasa istimewa karena komandan upacaranya Taruna Akabri, alumni dari SMA Negri 1 Jambi. Haris terkagum-kagum melihat atribut yang dipakai oleh taruna itu, mengkilat-mengkilat, taruna yang sebetulnya tidak cakep-cakep amat itu terdongkrak kegantengannya beberapa oktaf oleh pakaian dinas yang dikenakannya.


Haris merasa heran karena tidak melihat Andini sebagai salah satu petugas upacara bendera, biasanya dia selalu menjadi petugas pembawa acara atau MC.


Dengan postur yang sangat ideal, wajah cantik, suara yang enak didengar, dia memang sangat cocok mengemban tugas itu.


Ternyata hari ini Andini memang tidak masuk sekolah, entah apa sebabnya tidak ada seorangpun yang tahu, karena dia memang tidak memberikan kabar.


Haris merasakan sekali dengan ketidak hadiran Andini, biasanya mereka selalu makan dikantin sekolah bareng-bareng, kali ini dia makan ditemani oleh Budi.


" Andini kenapa ya Bud ? ".


" Aku juga tidak tahu, biasanya dia tidak pernah absen ".

__ADS_1


" Apa dia sakit ya, pulang sekolah kita kesana yuk ".


" Oke, mana tahu dia benar-benar sakit ".


Pulang sekolah Haris dan Budi berkunjung kerumah Andini, benar saja sampai disana mereka dapati Andini terbaring lemas ditempat tidur, mukanya pucat.


" Andini kenapa bu ? ".


Haris bertanya pada ibu Andini.


" Dia demam, badannya panas, kepala pusing, tapi sekarang sudah mendingan tadi malam sudah dibawa ke dokter ".


Andini tersenyum melihat Haris dan Budi datang dia berusaha untuk bangun tapi dicegah oleh Haris.


" Ternyata kamu bisa sakit juga, aku kira bibit penyakit takut sama kamu ".


Haris meraba kening Andini terasa hangat.


Andini memegang tangan Haris dan memelintirnya


" Apa kamu bilang ? ".


" Eh sakit Andini ".


Haris segera menarik tangannya, terasa sakit juga.


Budi seyum-senyum, dia heran melihat dua orang ini, kalau tidak ketemu dicari tapi kalau bertemu berantem melulu.


" Sudah ya Andini, kami pulang dulu ".


Haris mengajak Budi pulang, dia membalikkan badan mau pamitan pada ibu Andini.


" Ris ! ".


Andini memanggil Haris.


" Ya ".


" Masak sebentar amat ".


" Sudah siang Andini, lagian tanganku sakit, mau nyari tukang urut dulu ".


Haris memegang tangannya pura-pura kesakitan.


" Iiiih kamu ".

__ADS_1


Andini marajuk".


" Makan disini aja ya sebentar ibu siapin '.


Ibu Andini bergegas kebelakang menyiapkan makan.


Haris mengambil kursi lalu duduk disamping tempat tidur, kasihan juga dia melihat Andini tergeletak tidak berdaya.


" Tadi komandan upucaranya Taruna Akabri lo ".


Haris memberi tahu.


" Cakep ndak ? ".


" Cakep sih, tapi lebih cakepan aku ".


Haris menjawab sambil tersenyum menggoda.


" Ih sok kecakepan ".


Andini mengambil boneka yang terdapat disebelahnya dan melemparkannya kearah Haris, tepat mengenai mukanya.


" Ih kamu mau bunuh aku ya, sudah dua kali kamu nyakiti aku ".


Haris berdiri dari duduknya sambil melotot kearah Andini.


" Habis kamu sih ".


" Akukan ngomong apa adanya, faktanya memang begitu ".


" Fakta apaan ".


Andini siap-siap dengan bonekanya, kalau sampai ngomong lebih cakep lagi awas lu.


Haris mundur kebelakang, dia tidak mau kena serangan berikutnya.


Budi tersenyum, dia merasa terhibur menyaksikan pemandangan lucu dihadapannya.


Beberapa saat kemudian ibu Andini masuk dan mempersilahkan Haris dan Budi makan dimeja makan. Selesai makan mereka pamitan pulang, Haris dan Budi kembali kekamar untuk pamitan pada Andini.


" Pulang dulu ya Andini semoga cepat.sembuh ".


Haris mendekati dan menyalami Andini.


" Terima kasih ya Ris, Budi, maaf ya tadi itu ".

__ADS_1


Haris hanya tersenyum.


__ADS_2