
Haris melap peluh yang membasahi wajahnya dengan sapu tangan, lalu merapikan bajunya yang penuh dengan keringat setelah naik sepeda cukup jauh, hampir 10 km.
Dia sengaja naik sepeda, tidak naik oplet seperti biasanya karena takut telat, hari ini jam palajaran pertamanya Ilmu Ukur Ruang, gurunya sangat galak, jangan coba-coba terlambat, bisa mampus !.
Kalau naik oplet dia harus berjalan kaki dulu ke terminal yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya, belum lagi opletnya sering menurunkan dan menaikkan penumpang dijalan.
Naik sepeda bisa lewat jalan pintas tapi resikonya harus lewat perkampungan Cina yang banyak anjingnya dan kuburan cina yang menyeramkan.
Tadi hampir saja dia terjatuh ketika menghindari kejaran anjing, andai saja dia sampai jatuh mungkin tubuhnya akan dicabik-cabik karena jumlah anjingnya bukan hanya satu tapi 5 ekor, besok akan ada berita di koran * Seorang anak SMA mati dikeroyok anjing *, ih malunya !.
Sebetulnya ayahnya sudah berpesan untuk tidak lari kalau dikejar anjing, berhenti saja dan jongkok nanti anjingnya akan pergi dengan sendirinya, tapi dia tidak berani, iya kalau anjing lari, kalau tidak ?, mending kalau hanya satu ekor bisa diajak gulat, ini ada 5 ekor, mau mati apa ?, jurus yang paling ampuh adalah kabuuur !.
Lepas dari ancaman anjing dia harus melewati satu rintangan lagi yang tidak kalah menyeramkan, melewati jalan yang terletak ditengah-tengah kuburan Cina yang sudah sangat tua dan tidak terurus lagi, seperti dalam film horor.
Jalannya sempit berupa jalan setapak yang tidak diaspal dan semakin menyempit karena sebagian tertutup semak belukar, jarang yang berani lewat disini, disamping serem ular sering melintas di jalan.
Suasana yang lengang ditambah dengan kuburan di kanan kiri benar-benar membuat bulu kuduk berdiri, jalan yang tidak terlalu panjang itu terasa berkilo-kilo meter, lamaa sekali baru sampai.
Hampir saja dia terjatuh ketika sepedanya melindas dahan pohon yang melintang dijalan karena dia tidak memperhatikan jalan, hanya mengayuh sepeda secepat-cepatnya sambil membaca doa-doa yang dia hapal.
Setelah keluar dari kuburan Cina baru hatinya lega, dia beristirahat sejenak duduk diatas tunggul kayu yang terdapat disana, napasnya terengah-engah setelah mengayuh sepeda dengan tergesa-gesa.
Sambil menenteng tasnya Haris berjalan kearah kelas, tiba-tiba seorang siswi berlari mendekat dan merampas tas yang sedang dijinjingnya.
" Sini tasmu ".
Tanpa babibu lagi siswi itu membongkar dan mengeluarka isi tas dan setelah menemukan apa yang dicarinya dia segera berlari masuk kekelas membiarkan buku buku Haris berserakan begitu saja. Haris hanya menggelengkan kepala lalu memasukkan kembali buku-buku itu kedalam tas dan menyusul masuk kekelas.
Andini, begitu nama siswi yang membongkar tas Haris tadi sedang asyik menyalin PR Ilmu Ukur Ruang dari buku Haris bersama dengan Laila teman sebangkunya.
Hanya beberapa detik sebelum pak Sianipar masuk kelas mereka sudah selesai menyalin seluruhnya dan mengembalikan buku itu pada Haris.
Begitu pak Sianipar masuk suasana berubah sunyi, seluruh siswa kelas 3 IPA itu duduk dengan manis sambil menanti apa yang akan terjadi.
" Kumpulkan PRnya ! ".
Seperti suara petir guru batak itu nemerintahkan.
Setelah semua buku terkumpul dimejanya dia memeriksa satu persatu buku-buku itu, mencoret sana sini sambil menggelengkan kepala atau mengangguk-angguk puas.
Setelah selesai memeriksa semuanya dia kalu berdiri, mengambil kapur tulis lalu menuliskan kembali soal PR itu dipapan tulis.
" Andini kedepan ! ".
Andini terlonjak, dia terperanjat setengah mati, mukanya seketika pucat pasi, dia diam saja tidak bergerak dari tempat duduknya.
" Hei Andini !, kau yang maju ! ".
Suara pak Sianipar semakin menggelegar.
__ADS_1
" I iya pak ".
Andini maju kedepan, mengambil kapur tulis, lalu berdiri mematung didepan papan tulis
" Ayo kerjakan ! ".
Andini tetap tidak bereaksi, kepalanya menunduk.
" Ah mematung saza kau, mencontek kau ya ?, berdiri kau disana !, Laila kau yang maju ".
Sama saja Laila juga tidak bisa dan harus berdiri disamping papan tulis disebelah Andini.
Haris memandang kedua gadis itu dengan sedih, dia merasa bersalah, andaikan tidak terlambat bangun pasti dia bisa lebih awal sampai kesekolah sehingga bisa menjelaskan cara menyelesaikan soal itu, dan juga tidak perlu lewat perkampungan dan kuburan Cina sialan itu.
Haris heran dengan Andini, seharusnya dia tidak masuk kelas IPA, lebih cocok di IPS karena dia tidak begitu suka dengan pelajaran ilmu-ilmu pasti, lebih suka dengan ilmu-ilmu sosial, dia yakin kalau di kelas IPS Andini pasti bisa jadi juara kelas.
Pak Sianipar sangat terkenal, bukan saja dikalangan SMA Negri 1 tapi juga diseluruh SMP di kota Jambi, banyak yang membatalkan niatnya mendaftar di SMA paforit ini demi menghindar dari guru yang sangar ini.
Sebetulnya orangnya baik, tentunya dia ingin anak didiknya menjadi pandai, tapi pembawaannya memang begitu, rada-rada nyentrik, suaranya keras bukan karena dia marah tapi dari sononya memang sudah begitu.
Cara mengajarnya juga agak aneh, nyeleneh, dia akan menggunakan apa saja untuk dijadikan model, seperti ruang kelas papan tulis, meja, kursi dan lain sebagainya.
" Perhatikan ruang kelas ini, ada delapan titik sudutnya yaitu titik A, B, C, D, E, F, G dan H, tiap-tiap titik dihubungkan oleh garis sehingga membentuk sebuah bangunan kubus, yaitu garis AB, BC, CD, DA, EF, FG, GH, HF, HE, AE, BF, CG dan DH.
Tangannya menunjuk ke sekeliling ruangan, kepala anak-anak itu sampai berputar-putar, bukannya mengerti yang ada malah pusing tujuh keliling.
SMA Negri 1 Jambi merupakan sekolah menengah atas pertama yang ada di kota Jambi, sudah berdiri sejak tahun lima puluhan. Bangunannya semi permanen, hanya satu meter dari lantai yang berupa tembok, sisanya dari papan, atapnya dari seng yang dicet warna merah genteng, dibagian depan terdapat tanah kosong untuk upacara bendera.
Ruang kelasnya disusun sedemikian rupa sehingga membentuk huruf U terbalik, dimana dibagian paling depan berjejer sejajar dengan jalan raya sekitar 6 kelas untuk kelas satu sedang dikanan kiri terdapat ruang kelas yang berjejer kebelakang untuk kelas dua dan kelas tiga, dimana yang kanan untuk kelas IPS sedang yang kiri untuk kelas IPA. Ditengah-tengah diantara kelas IPA dan IPS terdapat bangunan untuk kantor dan kepala sekolah.
Dibagian belakang terdapat WC umum, sedang tempat parkir sepeda terletak didepan ruang kelas 3 IPA.
Sekolah ini dilengkapi juga dengan perumahan guru, letaknya dibelakang tidak jauh dari bangunan sekolah, ada beberapa buah rumah sehingga memudahkan para siswa kalau ingin berkunjung kerumah guru terutama pada hari-hari besar seperti hari raya Idul Fitri.
Belum sempat menaiki sepedanya Andini menghampiri dan berjalan disamping Haris.
" Haris ".
Haris menoleh kearah Andini.
" Kamu tidak dijemput ? ".
" Sopirnya sudah aku suruh pulang, aku mau bareng kamu aja ".
Gadis ayu itu tersenyum manis.
Akhirnya Haris tidak jadi menaiki sepeda dan berjalan disamping Andini sambil menuntun sepedanya karena rumah Andini tidak terlalu jauh dari sekolah mereka.
Sambil berjalan beriringan mereka berbincang-bincang.
__ADS_1
" Maaf ya Andini aku tidak sempat menjelaskan cara menyelesaikan soal tadi ".
" Iya ndak apa-apa, itu salah aku juga ".
" Aku telat bangun Andini, mungkin karena kurang tidur gara-gara dirumahku banyak tamu ayah ".
" Ada acara apa Ris ".
" Ayah memang sering begitu, dalam keluarga kami ayah termasuk orang yang dituakan, setiap ada masalah di keluarga akan diselesaikan dirumah ".
" Enak juga panya keluarga banyak, tidak kayak aku tidak punya keluaega disini, eh ngomong-ngomong bagaimana rencana ke Jakarta ".
" Kabarnya tidak lama lagi akan mulai latihan tari, jumlahnya cukup banyak, sekitar 200 orang maklumlah tari massal ".
Tiba-tiba sebuah mobil berlari kencang disamping mereka dengan suara yang meraung-raung, tampak sebuah mobil Toyota Hartop warna hijau dengan bak terbuka melaju dengan kencang, didalamnya tampak 4 orang laki-laki berseragam SMA.
" Syofyan ".
Haris berkata pelan.
" Kenapa dia ? ".
Andini bertanya heran.
" Mungkin dia marah kamu jalan dengan aku ".
" Memangnya dia siapanya aku ? ".
" Diakan sudah lama naksir kamu ".
" Ih amit-amit ".
Syofyan anak orang kaya, bapaknya juragan karet sekaligus pengusaha angkutan, kesekolah pakai mobil sendiri.
Penampilannya berlebihan rambut disisir seperti rambut Elvis Presley minyak rambutnya tebal sekali seperti kerupuk kulit. Kancing baju bagian atas selalu terbuka, kalau berjalan petentang petenteng sok jagoan, baunya wangi sekali, saking wanginya perut menjadi mual kalau berada didekatnya.
Dia sangat ditakuti karena menjadi ketua geng yang sering membuat keributan disekolah, nama gengnya cukup menyeramkan * Panji Tengkorak * , seperti cerita komik, muka mereka sangar-sangar seperti bandit dalam film India.
Kemana-mana membawa senjata tajam, jangan coba-coba berurusan dengan mereka, tidak ada yang selamat, semua dibuat babak belur. Sudah beberapa kali mereka dipanggil kepala sekolah karena membuat keonaran disekolah, mendapat peringatan keras, bahkan terakhir disuruh menandatangani surat pernyataan karena menganiaya seorang siswa sampai dirawat dirumah sakit, apabila membuat keributan lagi akan dikeluarkan dari sekolah.
Akhirnya sampailah mereka di kompleks Setianegara, perumahan para pejabat daerah, tempat tinggal Andini.
" Sampai disini ya Andini ".
" Mampir Ris ".
" Terima kasih sudah siang ".
Mereka lalu berpisah, Haris menaiki sepedanya sedang Andini berjalan kearah rumahnya yang berjarak beberapa puluh meter dari jalan raya.
__ADS_1