DERMAGA CINTA TERAKHIR

DERMAGA CINTA TERAKHIR
DERMAGA CINTA TERAKHIR


__ADS_3

Haris segera melarikan motornya ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, dia menuju keruangan ICU, disana sudah ada Hendra yang sedang memeriksa Atika, kedua orang tuanya juga tampak berdiri tidak jauh dari tempat tidur.


Atika sudah tidak sadarkan diri, slang infus dan oksigen bergelantungan disamping tempat tidur, kabel-kabel pemantau denyut jantung tampak dari mesin Electro Cardio Graph ( ECG ).


Haris memandang wajah Atika dengan sangat sedih, rasanya mau menangis, Atika tampak tenang seperti orang tidur, penuh kedamaian.


Setelah sekian lama tidak bertemu akhirnya mereka dipertemukan kembali dalam keadaan seperti ini, sungguh menyedihkan.


Sudah beberapa hari ini mereka selalu bersama, saling bercerita, bercanda, makan bareng, sudah tampak tanda-tanda kehidupan dimata Atika yang selama ini hampir punah.


Setelah memeriksa keadaan Atika Hendra mengajak Haris keluar.


" Maaf Ris, aku rasa sudah tidak ada harapan lagi, mungkin sudah tidak lama lagi, kau bimbinglah dia ".


Haris terdiam, mukanya pucat, lalu bergegas masuk kembali keruang ICU.


Haris berdiri disamping kepala Atika, dipandanginya wajah Atika yang kelihatan tenang dengan mata terpejam, napasnya teratur, dia lalu memanggil dengan lirih.


" Atika ".


Tidak ada reaksi, Atika masih tetap memejamkan matanya seperti orang tidur.


" Atika, ini mas Haris ".


Haris agak mengeraskan suaranya, Atika tampak membuka matanya sesaat kemudian menutupnya kembali, air mata merembes dari sudut matanya, dia menangis.


Haris memandang wajah Atika dengan rasa haru yang sangat dalam, lalu mendekatkan mulutnya ketelinga Atika.


" Atika, ikuti mas Haris ya, laillaha....illal...lah ".


Suara Haris tersekat dikerongkongan, dia tidak tega.


Bibir Atika kelihatan bergerak-gerak mengucapkan sesuatu yang tidak begitu jelas kedengarannya, air mata semakin deras mengalir dipipinya.


Tiga kali Haris membimbing Atika mengucapkan kalimat Syahadat sampai akhirnya Atika menarik napas yang agak dalam, kemudian kepalanya terkulai, dia telah pergi untuk selamanya, innalillahiwainnalillahirojiun.


Haris meneteskan air mata lalu mencium kening Atika, Hendra menunduk, ibu Atika meraung-raung dalam pelukan suaminya.


Perawat melepaskan slang dan kabel-kabel yang melekat pada tubuh Atika lalu menutup seluruh tubuh Atika dengan kain putih.


Selamat jalan Atika, selamat jalan sayang, namamu akan tetap ada dihatiku, Haris berbisik dalam hati.


Haris duduk tapakur disamping kuburan Atika, para pelayat sudah pulang semua, tinggal dia sendiri.


Dia memeluk batu nisan yang baru dipasang, air mata mengalir dipipinya, dia menangis. Rasa haru yang sangat menyelimuti dirinya kalau ingat masa-masa mereka bersama, bersenda gurau, makan, ke tempat-tempat rekreasi, sekarang semuanya hanya tinggal kenangan.


Sedemikian cepat waktu berlalu dan terlalu cepat mereka harus berpisah, rasanya seperti mimpi.


Besok dia akan kembali ke Jambi, dia sudah memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Jogja, dia ingin mengubur dalam-dalam semua kenangan di kota ini.


Haris diantar oleh Hendra dan istrinya Hartini ke Stasiun Tugu, sore ini dia akan berangkat dengan kereta eksekutip Dwipangga menuju Jakarta, kemudian akan melanjutkan perjalanan dengan pesawat udara ke Jambi.


Sesampainya di Stasiun Haris meletakkan barang-barangnya kedalam gerbong kemudian keluar lagi menemui Hendra.


" Apa tidak dipikirkan lagi Ris, sayangkan kuliahnya baru juga mulai sudah mau ditinggal ".


Hendra prihatin dengan keputusan Haris untuk pulang.


" Kayaknya ndak Hen, terlalu berat buat aku ".

__ADS_1


" Apa kamu tidak ingin menghadiri pernikahan Saras ? ".


" Tidak Hen, cukuplah sudah aku sudah tidak kuat ".


" Yah aku tidak bisa berbuat apa-apa tapi aku sangat menyayangkan keputusanmu ini ".


Setelah berbincang-bincang beberapa saat Hendra pamitan.


" Okelah Ris kami pamit dulu, jangan lupa kabari sesampainya di Jambi "


Sekarang tinggallah Haris sendiri, dia masuk kedalam gerbong dan duduk termenung sendiri sambil memandang orang yang berlalu lalang keluar masuk stasiun.


Sesaat kemudian dia keluar lagi dari gerbong, dia ingin merokok, masih ada waktu satu jam lagi sebelum kereta berangkat.


Sambil menghisap rokok dia memperhatikan orang yang berangkat, ada yang ketimur kearah Surabaya, ada pula yang ke barat menuju Jakarta.


Stasiun yang terkenal dengan lagu Semalam di Jogja ini ramai sekali, kereta silih berganti datang dan pergi membawa penumpang keluar dan masuk stasiun.


Macam-macam ekspresi mereka, ada yang gembira sambil ngobrol dengan temannya, ada yang biasa saja, dan ada pula yang yang murung.


Dia tidak tahu apa yang ada dikepala mereka, di Jogja ini terlalu banyak mahasiswa dengan segala problemanya, ada yang sukses tapi tidak sedikit pula yang gagal total bahkan ada yang dijemput paksa oleh keluarganya karena terlalu jauh melenceng dari tujuan semula.


Memang tidak gampang kuliah dikota besar seperti Jogja ini, disamping kuat otak juga harus kuat modal dan kuat iman.


Tidak sedikit yang harus menikah dini karena pergaulan yang kebablasan, atau kabur, lari terbirit-birit karena dipaksa menikahi ibu kosnya yang sudah menjanda yang tiba-tiba hamil karena terlalu sering diajak main catur diranjang.


Yang lebih celaka lagi kalau terperosok kedunia hitam, dunia malam dan narkoba, maklum kiriman dari kampung mengalir terus tiada henti.


Haris sudah masuk kembali kedalam gerbong, beberapa menit lagi kereta segera berangkat, para pengantar sudah turun semua.


Diluar tampak petugas dengan pakaian khasnya sudah bersiap-siap memberi aba-aba dengan meniup peluit.


Tiba-tiba Hpnya berbunyi, dari Hendra.


" Sudah berangkat Ris ? ".


" Sebentar lagi ".


" Batalin , cepat keluar dari kereta ".


" Tapi Hen "


" Tidak ada tapi-tapian, cepat keluar atau kamu akan menyesal ! ".


" Oke Hen ".


Haris segera mengambil barang-barangnya dan secepatnya bergerak kepintu gerbong, terdengar suara peluit, keretapun mulai bergerak perlahan tepat ketika dia sampai dipintu gerbong, dia segera melompat keluar, hampir saja terjatuh.


Dengan perasaan bingung dia duduk diruang tunggu, dia tidak tahu kenapa harus turun dan membatalkan keberangkatannya. Tentu saja dia tidak berani membantah, kata-kata Hendra tadi penuh ancaman " Atau kamu akan menyesal ! ", ah.


Suara seseorang memanggil namanya mengagetkan Haris.


" Hariiis !! ".


Dia menoleh, tampak Saras berlari kearahnya.


" Saras ? ".


Haris berdiri bingung, dan yang membuat dia terheran-heran Saras memanggil namanya begitu saja bukan mas Haris seperti biasanya.

__ADS_1


Saras menghambur kepelukan Haris.


" Aku bukan Saras aku Andini "


" Andini ? ".


Haris semakin bingung.


Sesungguhnya apa yang terjadi ?, kenapa tiba-tiba Andini muncul ? .


Begitu mengetahui kalau Andini menderita tumor otak dia segera dilarikan ke Rumah Sakit Darmais Jakarta untuk dilakukan operasi pengangkatan tumor yang tumbuh dikepalanya.


Operasinya berjalan lancar, tumornyapun tumor jinak, tapi setelah itu dia mengalami amnesia, sebagian memorinya hilang. Oleh orang tuanya dia dibawa ke Solo untuk melanjutkan sekolah dan mengganti namanya menjadi Saraswati atas saran orang tua-tua disana.


Ketika kemudian dia bertemu kembali dengan Haris dia benar-benar tidak tahu kalau itu adalah Haris kekasihnya sewaktu di SMA1 Jambi.


Waktupun berlalu, dia mulai jatuh cinta pada Haris, tapi kemudian tiba-tiba Haris menghilang tanpa memberi kabar.


Bertahun-tahun dia menanti dengan setia, dia tidak memperdulikan begitu banyak yang ingin jadi pacarnya sampai akhirnya dia tamat dan bekerja sebagai karyawan bank swasta di Solo.


Dia boleh saja tidak perduli dengan semua laki-laki tapi tidak dengan orang tuanya, mereka cemas dengan umurnya yang semakin bertambah, maka ketika keluarga Handoko datang melamar mereka langsung menerimanya.


Tentu saja Andini tidak bisa menerima keputusan itu, tapi dia tidak berani membantah, sampai akhirnya mengalami depresi.


Aneh bin ajaib, setelah berobat pada Psychiater perlahan-lahan ingatannya pulih kembali, satu persatu masa lalunya mulai terkuak, dia seperti menonton satu rol film yang diputar terus meneris tanpa henti.


Dia ingat kalau namanya Andini, dia ingat tentang semua yang pernah dialaminya ketika di SMA dulu, tentang Haris, Laila, Dahlia, guru-gurunya, pokoknya semuanya. Dia ingin berteriak gembira tapi semuanya sudah tidak ada gunanya, sumua sudah berlalu, hanya tinggal kenangan.


Beberapa menit setelah Hendra dan Hartini meninggalkan Stasiun Tugu, Hartini menerima telepon.


" Har cepat kerumah sakit Sarjito ".


" Kenapa Saras ? ".


" Handoko kecelakaan, pesawat latih yang ditumpanginya jatuh ".


Hendra segera memacu mobilnya ke Rumah Sakit Sarjito, sesampainya disana Hartini segera berlari keruang UGD, tampak Saras berdiri didekat pintu UGD.


" Bagaimana keadaan Handoko ? ".


" Dia meninggal ".


" Sekarang kamu ikut aku "


" Kemana ? ".


" Sudah ikut saja ".


" Tapi aku tidak enak dengan keluarga Handoko ".


Hartini menatik tangan Andini dan membawanya masuk kedalam mobil, persyetan dengan keluarga Handoko.


Hendra melarikan mobilnya kembali ke Stasiun Tugu, sebelum masuk ke stasiun dia menelepon Haris, menyuruhnya turun dan membatalkan keberangkatan.


Haris memandang lekat-lekat pada wajah Andini, dimatanya tampak rasa rindu yang membuncah, lalu dipeluknya sambil berbisik.


" Andini sayang, I love you ".


Andini tersenyum lalu membenamkan kepalanya didada Haris.

__ADS_1


Hendra dan Hartini tersenyum bahagia, akhirnya setelah dipisahkan oleh ruang dan waktu Haris berlabuh di DERMAGA CINTA TERAKHIR, ditempat semula, cinta sejatinya.


T A M A T.


__ADS_2