DERMAGA CINTA TERAKHIR

DERMAGA CINTA TERAKHIR
DERMAGA CINTA TERAKHIR


__ADS_3

Sudah hampir 2 bulan sejak Haris memergoki wanita yang mirip Andini itu dan sudah hampir dua bulan pula dia tidak pernah bertemu lagi dengan wanita itu.


Wanita misterius itu telah sukses membuat dia kembali teringat pada Andini yang sudah hampir dia lupakan. Peristiwa terakhir ketika mereka saling menyatakan cinta ditengah hutan belantara yang disaksikan oleh teman-temannya dan penduduk pedalaman nun jauh ditengah hutan kembali menguak seperti muncul dari tempat yang paling dalam.


Sayang kebahagiaan yang baru mereka rajut itu harus berakhir ditengah jalan dan harus berpisah tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan.


Perpisahan yang sangat menyakitkan, hampir saja dia tidak kuat waktu itu, untunglah dia bisa melewati masa-masa sulit itu berkat motifasi yang diberikan oleh teman- teman dekatnya.


Hampir tiap hari Budi, Anwar dan Fahri menghibur agar dia tidak jatuh dalam keputusasaan, dia sangat berterima kasih pada ketiga temannya itu.


Sampai tahun kedua kuliah di ekonomi luka itu masih terasa, sampai dia mengenal Atika perlahan-lahan bayangan Andini mulai hilang, apalagi dengan kesibukannya di kampus.


Hampir tiap hari Haris mendatangi gedung induk, berharap akan bertemu lagi dengan wanita itu tapi yang diharapkan tidak pernah muncul, akhirnya dia menyerah, menghentikan usahanya, menganggap itu hanya khayalan belaka, dia tidak mau terlalu larut dalam angan-angan kosong, masih banyak hal-hal lain yang harus dia kerjakan.


Tapi hal itu tidak berlangsung lama, beberapa hari kemudian Hendra mengabari kalau dia bertemu dengan wanita itu di fakultas Psychologi.


Kabar dari Hendra ini kembali mengusik perasaan Haris, sebuah harapan mulai timbul lagi.


" Tapi belum tentu dia mahasiswa Psychologi lo ".


Hendra mengingatkan.


" Tapi paling tidak sudah ada petunjuk, aku akan menyelidikinya ".


Maka mulailah Haris menjalankan misinya menjadi agen rahasia untuk dirinya sendiri, tentunya tanpa bayaran alias gratis demi sebuah harapan yang entah benar entah tidak.


Beberapa kali dia mendatangi fakultas Psychology tanpa mendapatkan hasil, jangankan wanita itu, sedang yang mirip-mirip saja tidak ada.


Kemudian dia coba bertanya pada beberapa orang mahasiswa Psychologi, ternyata nihil juga, tidak satupun yang kenal dengan Andini.


Akhirnya dia menghentikan usahanya, betul juga kata Hendra, belum tentu dia mahasiswa Psychologi, mungkin kebetulan main kesana.


Sampai suatu ketika secara kebetulan dia melihat wanita itu keluar dari fakultas Psychologi kemudian naik becak. Harispun mengikuti dari belakang sampai becak itu berhenti disebuah tempat kos lalu wanita itu turun dari becak dan berjalan masuk kedalam.


Perasaan Haris seperti melayang saking senangnya, sekarang dia tahu dimana wanita itu tinggal.


Dari orang disekitar tempat kos itu dia tahu nama wanita itu, Saraswati biasa dipanggil Saras.


Sejak saat itu hampir tiap pagi dia mampir di fakultas Psychologi, masuk kedalam, duduk dikantin sambil pesan minuman, yang penting dia bisa memandang Saras meskipun dari kejauhan dan hanya sebentar karena biasanya Saras akan segera masuk keruang kuliah.


Suatu hari pagi-pagi sekali Haris sudah berada di fakultas Psychologi, keadaan masih sangat sepi, iseng-iseng dia mampir ke perpustakaan, masih belum ada orang disana tapi pintu sudah terbuka, diapun lalu masuk dan berjalan kedalam.


Tiba-tiba dia mendengar dua orang yang sedang berbicara, yang satu laki-laki yang satu lagi perempuan.


" Dicari kemana-mana ternyata parkir disini ".


Terdengar suara laki-laki.


" Ngapin kamu nyari aku ? ".


Dijawab oleh yang perempuan dengan suara ketus.

__ADS_1


" Aku kangen ".


" Ngapain kamu kangen segala ".


" Karena kamu cantik ".


" Memangnya apa peduli kamu ? ".


" Aku mau jadi pacar kamu ".


" Ih maunya ".


" Kamu caem ".


" Biarin ".


" Kamu manis ".


" Biariiin ! ".


Sepertinya perempuan itu sudah mulai kesal.


" Kamu kalau marah tambah cantik, aku mau cium kamu ".


" Hamdan !, jangan main-main ! ".


" Aku tidak main-main ".


" Teriak aja tidak ada orang disini ".


" Jangan gila kamu !, tolooong !! ".


Haris segera belari kedalam, dia terkejut ketika tahu siapa perempuan yang sedang dipeluk oleh laki-laki yang bernama Hamdan itu, Saras !.


" Lepaskan !! ".


Haris segera berteriak.


Hamdan terperanjat lalu menghentikan aksinya, kesempatan itu dipergunakan oleh Saras untuk melepaskan diri dan berlari kearah Haris, tanpa sadar dia berpegangan pada tangan Haris.


Hamdan segera beranjak dari tempat itu sambil memandang kearah Haris dengan penuh kemarahan.


Setelah Hamdan pergi baru Saras sadar kalau masih memegang tangan Haris, cepat-cepat dilepaskannya.


" Maaf ".


" Tidak apa-apa, kenalkan nama saya Haris ".


Haris menyodorkan tangannya.


Saras memandang kearah Haris, dia kaget ketika tahu siapa yang menolongnya, laki-laki yang pernah menghadangnya di gedung induk tempo hari, sambil terheran-heran dia menyambut tangan Haris.

__ADS_1


Akhirnya Haris bisa mengenal wanita yang mirip dengan Andini itu, dan sejak saat itu dia semakin rajin mampir ke fakultas Psychologi, semakin hari mereka semakin akrab.


Suaru pagi Haris dan Saras sarapan pagi diwarung mbok Joyo. Belum juga pesanan mereka datang Hendra masuk dan langsung duduk didekat Haris.


Dia terheran-heran melihat Saras duduk bareng dengan Haris, rasanya belum terlalu lama Haris setengah mati ingin mengenal gadis yang katanya mirip mantannya itu, dan sekarang ?, mereka sudah makan bareng, apa tidak salah ?.


" Ayo pesan makanan sana jangan bengong aja ".


Suara Haris menyadarkan Hendra, diapun segera berdiri memesan makanan.


Sambil berjalan dia berfikir, kira-kira apa yang dilakukan Haris sehingga gadis itu mau saja diajak makan bareng, diguna-guna barangkali.


Mungkin Haris punya ilmu pengasih untuk menarik perhatian perempuan, lihat saja Atika bisa kepincut, padahal yang naksir sama Atika itu antrl, bejibun !.


Kalau dipikir-pikir tidak ada yang istimewa dengan sosok Haris, wajah biasa saja , tidak cakep-cakep amat, body standar, motor motor bekas, pakaiannya yang itu-itu saja, ah entahlah dia jadi pusing sendiri.


Setelah kembali ketempat duduknya Hendra bertanya pada Haris, kelihatan serius sekali.


" Ris kamu mau bantu aku ? ".


" Bantu apa ? ".


" Cariin aku bini ".


Saras senyum-senyum melihat wajah Hendra serius tapi lucu.


" Oh gampang ".


Haris menjawab dengan santainya.


" Ah yang benar ".


" Iya, tuh mbok Joyo sudah lama menjanda, tunggu apalagi cepat kamu lamar sebelum keduluan orang lain ".


Saras menutup mukutnya dengan tangan menahan tawa.


" Ah kamu, aku serius nih ".


" Oke, kriterianya yang bagaimana ? ".


" Yang pintar masak dong, kamukan tahu kalau aku suka makan yang enak-enak ".


' Kalau itu ada Hen ".


" Siapa ? ".


" Kompor ! ".


Meledaklah tawa Saras yang dari tadi ditahan-tahannya, dia dapat membayangkan seandainya disini ada Hartini, pasti tambah ramai.


Haris dan Hendra memang cocok, omongan nereka klop meskipun sama-sama ngibul, bersahutan seperti berpantun, kalau orang tidak tahu dikira mereka ngomong benaran.

__ADS_1


Akhirnya mereka bubar karena Ssras harus masuk kuliah.


__ADS_2