
Haris dan Andini sedang duduk di kantin sekolah sambil menikmati nasi soto.
" Ris hari minggu kamu biasanya kemana ? ".
Andini memulai pembicaraan.
" Tidak kemana-mana, paling mancing dengan teman-teman atau bapak ".
Haris menjawab sambil mengaduk-aduk nasi soto yang ada dihadapannya.
" Kalau besok ? ".
" Mungkin aku mancing ".
" Dengan siapa ? ".
" Sendirian ".
" Boleh aku ikut ? ".
" Boleh kalau mau ".
" Besok pagi aku kerumah kamu ya ".
Haris mengangguk sambil tersenyum.
Besoknya pagi-pagi sekali Andini sudah tiba dirumah Haris, dia membawa banyak makanan kayak orang mau piknik.
Haris mengajak Andini ke sungai dimana dia sering memancing sambil membawa tikar dan perlengkapan untuk memancing, dia sengaja memilih tempat yang sepi jauh dari pemukiman biar tenang.
Setelah mendapatkan tempat yang diinginkan Haris menggelar tikar dan meletakkan barang bawaannya.
Merekapun mulai menebar pancing, kebetulan hari itu nasib mereka lagi sial, tidak ada satu ekorpun ikan yang menyambar kail mereka.
Sudah hampir satu jam mereka duduk disana tetap saja nihil, sepertinya ikan nggan medekati kail mereka.
Andini sudah mulai gelisah, dia tidak terbiasa diam mematung seperti itu. Diperhatikannya Haris kelihatan serius sekali diam sambil menunggu pancingnya disambar ikan, tapi Andini tidak sabaran, dia tidak suka kalau harus diam saja sampai berjam-jam tanpa bicara.
" Kamu kok diam aja Ris, tidak gembira gitu ".
Andini barkata sambil memperlihatkan wajah cemberut, dia benar-benar kesal dari tadi cuma duduk saja.
" Masak sih orang mancing gembira lalu tertawa-tawa, lari dong ikannya ".
Haris memandang kearah Andini dengan heran, dia belum pernah melihat orang memancing bergembira, biasanya ya seperti ini, diam.
" Aku maunya kita seperti biasanya, cerita dong, masak diam terus, bosan tau ".
" Oke aku mau cerita kancil mencuri timun ".
Haris memperlihatkan mimik lucu.
" Ya ndak begitu, maksud aku kita mancing sambil ngorol, biasanya kamu.paling bisa cerita yang lucu-lucu ".
" Kalau begitu aku mau tukar baju dulu ya, pakek pakaian badut ".
" Nanti mulut kamu lo yang aku pancing ".
Andini semakin kesal, dia mengangkat gagang pancingnya lalu mengarahkan kailnya kemuka Haris, tapi Haris malah tertawa terbahak-bahak.
" Kok malah ketawa ? ".
" Iyalah masak ikannya ganteng kayak begini ha..ha..ha..ha ".
Andini sudah tidak tahan lagi, dia meletakkan gagang pancingnya lalu menggebuk Haris, yang digebuk jatuh terguling, Andini terus mengejar dan menggebuk bertubi-tubi sampai Haris terpaksa memegang tangan Andini dan memeluknya.
__ADS_1
Mereka bergilingan diatas tikar, Andini balas memeluk, wajah mereka sudah sangat dekat, Haris segera tersadar dan melepaskan pelukannya.
" Maaf aku tidak sengaja ".
Muka Andini memerah, akhirnya mereka tidak jadi memancing.
Setelah Andini pulang Haris termenung sendiri, hampir saja dia mencium Andini, merinding sekujur badannya.
Andai saja dia berbuat lebih jauh lagi entahlah apa yang akan terjadi, tampaknya Andini sengaja membalas pelukannya. Tapi dia bersyukur cepat sadar, sebab tempat itu sangat sepi jauh dari pemukiman, sangat berbahaya, banyak syetannya.
Class Meeting.
Pertandingan antar kelas ini sedang berlangsung di SMA Negri 1, acara tahunan yang selalu diadakan menjelang menerima rapor kenaikan kelas.
Kelas Haris sangat minim prestasi, tidak banyak yang bisa diandalkan, sebagian hanya jadi penonton.
Setelah berjalan dua hari kelas mereka baru merebut satu gelar juara kedua dari cabang tenis meja dimana Anwar yang menjadi motornya, sekarang hanya tinggal berharap dari Volly putra yang sudah masuk final dan catur dimana Haris menjadi tumpuan harapan.
Haris sedang bertanding catur di aula sekolah, ini hari terakhir, pertandingan memakai system Swiss 7 babak. Untuk sementara dia memimpin dengan nilai 5,5 dari hasil lima kali menang dan satu kali remis, dari enam babak yang sudah berjalan.
Lawannya kali ini cukup berat, Abdul Rozak seorang pemain catur handal yang bergelar Master Nasional ( MN ), Rozak mempunyai nilai 5, hanya terpaut setengah angka dari Haris.
Haris harus memenangkan partai ini atau paling tidak remis untuk menjadi juara, kalau sampai kalah berarti Rozak yang menjadi juara karena nilainya akan menjadi 6, lebih unggul setengah angka
dari Haris.
Pertandingan sudah memakai jam catur bagi yang nilainya 4 keatas dan juga memakai notasi, yaitu kertas yang dipakai untuk mencatat langkah yang dilakukan.
Haris memegang buah putih, dia memajukan bidak didepan mentri dua langkah, berharap Rozak melayani pembukaan Hindu Raja yang menjadi andalannya.
Ternyata Rozak melayani permainan Haris, diapun melangkahkan bidak didepan mentri dua langkah, selanjutnya mereka bertanding sesuai dengan teori pembukaan Hindu Raja, tidak disangka Rozak juga sangat piawai memainkan pembukaan ini.
Semakin lama pertandingan semakin seru, saling adu strategi saling adu taktik seperti dalam perang Yunani, beberapa kali mereka melakukan langkah kombinasi. Sekali ini tampaknya Haris ketemu lawan berat, Rozak lebih lihai dari pada yang diperkirakannya.
Pertandingan sangat alot sudah berjalan hampir dua jam, buah catur hanya tinggal beberapa buah saja di papan catur. Haris sudah mulai terdesak, bidaknya kalah satu sedang posisi rajanya sudah tidak aman.
Tapi tunggu dulu, kalau diperhatikan bendera pada jam catur Rozak sudah hampir jatuh, sedang jam catur Haris masih sepuluh menit lagi, siapa yang jam caturnya jatuh duluan dinyatakan kalah.
Rozak menyadari itu, dia mempercepat langkahnya, satu langkah lagi dia akan menskak mat raja Haris, tapi belum sempat dia melangkahkan mentrinya bendera jam caturnya terlebih dulu jatuh, dia kalah.
Dari arena catur beralih ke lapangan Volly yang berada di lapangan Garuda milik militer yang berada tepat di seberang jalan sekolah mereka.
Dilapangan sudah tampak Budi dan kawan-kawan dari 3 IPA sedang melakukan pemanasan, disebelahnya tampak pula anak-anak IPS dimana Syofyan yang menjadi jagoannya.
Bola Volly merupakan olah raga terpaforit disekolah mereka, tidak heran kalau penontonnya membludak, banyak sekali, laki-laki maupun wanita.
Haris berdiri dipinggir lapangan, dia tidak ikut bertanding, disampingnya tampak Andini dengan wajah berseri, dia paling suka menonton pertandingan Volly, apa lagi yang bertanding teman-temannya satu kelas.
Pertandingan dimulai, angka demi angka mulai tercatat dipapan skor, awalnya pertandingan berjalan seimbang, beberapa kali Budi yang bertubuh tinggi menghujamkan smesnya, begitu pula dengan Syofyan.
Tapi lama-lama Budi dan kawan-kawan mulai keteter, Syofyan mengamuk, smesnya makin menjadi, tampaknya dia ingjn pamer dihadapan Andini yang kelihatan mesra disamping Haris, akhirnya kelas 3 IPA kalah telak dengan angka 15-9.
Set kedua kembali berimbang, angka susul menyusul, penonton bersorak-sorak memberi semangat. Pada angka 7-7 salah seorang dari pemain kelas 3 IPA terjatuh, kakinya kesleo, dia digotong keluar lapangan dan tidak bisa lagi melanjutkan pertandingan.
Tidak satupun yang bisa menggantikan, mereka terancam kalah diskwalifikasi, kalah WO.
" Ris kamu yang maju ".
Andini menggamit tangan Haris.
" Aku tidak bisa main Volly Andini ".
" Sudah maju aja, dari pada kalah tanpa bertanding ".
Haris jarang main volly, hanya beberapa kali di RT tempat tinggalnya, dia tidak merasa yakin.
__ADS_1
Sebetulnya dia sudah terlatih memukul bola volly, hampir tiap sore sebelum mandi dia memukul bola ketembok dibelakang rumahnya. Dia akan melempar bola tinggi-tinggi lalu melompat dan memukul bola kearah tembok.
Dengan agak ragu dia berganti pakaian dan masuk ke lapangan, pertandinganpun kembali dilanjutkan.
Kebetulan giliran dia yang melakukan servis, dia segera ancang-ancang jauh kebelakang lalu berlari sambil melempar bola tinggi keatas dan secepatnya melompat dan.memukul bola dengan keras menghujam kearah Syoyan, kencang sekali.
Syofyan tergagap, dia tidak menyangka Haris akan mampu melakukan servis seperti itu, dia mencoba untuk menerima bola tapi bola melenceng keluar lapangan.
" Ayo Haris !! ".
Andini bersorak sambil bertepuk tangan.
Tiga kali Haris melakukan servis yang sama, angkapun berubah menjadi 10-7, tapi pada servis ke empat bola membentur net.
Bolapun berpindah, sekarang giliran Syofyan yang melakukan servis, dia mengarahkan bola kearah Haris, dia ingin membalas perlakuan Haris tadi, bola menukik langsung disambut oleh Haris sambil memberi umpan pada Budi yang segera menyambutnya dan menghujamkannya kearah lawan.
Ternyata permainan Haris tidak jelek, dia malah jadi hiburan tersendiri dengan gerakan-gerakannya yang kocak, pertandinganpun semakin seru, penonton mengelu-elukan Haris.
Syofyan semakin emosi, pukulannya tidak lagi diarahkan ke lapangan tapi ke penonton, bola tepat mengenai kepala salah seorang siswi yang sedang menonton, diapun ambruk, jatuh pinsan.
Penonton merangsek kedepan mau mengeroyok Syofyan tapi cepat dilerai oleh pak Sartono guru olah raga mereka, Syofyan diskors tidak boleh main
Tanpa Syofyan dengan mudah regu Haris mengalahkan lawan dan memenangkan pertandingan.
Selesai bertanding Haris buru-buru berjalan kearah sekolah untuk berganti pakaian, tapi baru saja dia melangkahkan kakinya kehalaman sekolah Syofyan mendekat dan langsung melayangkan tangannya kearah Haris.
" Eh apa-apaan ini ".
Haris segera mundur mengelakkan pukulan Syofyan.
Kembali Syofyan melayangkan pukulannya, sekali lagi Haris mengelak tidak mau meladeni karena ingat pesan gurunya untuk tidak sembarangan menggunakan ilmu silat, anak-anak berlarian mendekat.
Emosi Syoyan semakin menjadi-jadi dia melepaskan tendangan. Kali ini Haris tidak nau tinggal diam, dia meladeni dengan melepaskan tendangan pula, cepat sekali, tahu-tahu Syofyan sudah nyungsep ditanah.
Kawan-kawan satu geng Syofyan maju mau mengeroyok, tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan.
" Berhenti !!! ".
Kepala sekolah berdiri didepan sekolah, mukanya merah menahan amarah, Haris, Syofya dan ketiga temannya disuruh masuk keruangan kepala sekolah.
" Syofyan !, lagi-lagi kalian bikin keributan ".
" Dia yang mulai.pak ".
Syofyan coba membela diri.
" Bohong pak dia yang menyerang saya duluan ".
Beberapa orang lalu dimintai keterangan sebagai saksi, semua memberatkan Syofyan Cs, maka tanpa ampun merekapun dikeluarkan dari sekolah.
Rupanya Syofyan tidak terima, apalagi mereka sampai dikeluarkan dari sekolah, dia akan membuat perhitungan.
Pulang sekolah Haris dan ketiga temannya dicegat Syofyan dan kawan-kawan, mereka membawa dua orang lagi yang badannya besar-besar.
" Hati-hati Ris, sepertinya mereka mau bikin ribut ".
Budi mengingatkan.
" Ini bang orangnya ".
Syofyan menunjuk kearah Haris.
Laki-laki yang berbadan besar itu maju kedepan dan melayangkan pukulannya kearah Haris, tapi Haris bukanlah anak kemarin sore, dia sudah terlatih, murid Engkoh Liem. Tanpa mengelak lagi dia melepaskan tendangan kearah perut orang itu, yang segera terduduk sambil memegang perutnya.
Syofyan terkesiap, dia segera mencabut pisau diikuti oleh teman-temannya, tapi belum lagi mereka sempat menyerang polisi sudah terlebih dahulu datang dan mengacungkan pistol, rupanya kepala sekolah yang curiga dengan raut muka Syofyan menelepon polisi.
__ADS_1
" Jangan bergerak, lepaskan senjata, angkat tangan ! ".
Syofyan dan kawan-kawannya tidak berkutik, mereka melepaskan pisau dan mengangkat tangan lalu dugiring kekantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka membawa senjata tajam dan mengancam keselamatan orang lain.