
Bangunan tua berarsitektur Belanda itu kelihatan megah, berada dipinggir Sungai Batanghari, hanya dibatasi oleh jalan raya.
Bangunannya kelihatan kokoh dengan dinding terbuat di tembok yang tinggi, kira-kira setinggi 5 meter. Seluruh bangunan dicet dengan warna krem yang dikombinasi dengan warna coklat tua.
Pintu dan jendelanya besar- besar dan tinggi, terbuat dari kayu tembesu yang kuat dengan kusen dari kayu bulian yang terkenal sangat keras.
Halamannya cukup luas dikelilingi oleh pagar besi berukir dan ditanami berbagai jenis bunga yang tertata dengan rapi dan apik.
Disebelah kiri bangunan terdapat lapangan tenis yang berwarna hijau dan dikelilingi oleh pagar kawat setinggi 4 meter. Disebelah kanan tampak sebuah pos penjagaan yang dijaga oleh beberapa orang berseragam dan dilengkapi dengan beberapa pucuk senjata yang diletakkan diatas meja.
Seluruh halaman depan ditutupi aspal dimana ditengah-tengahnya terdapat sebuah tiang bendera.
Bangunan yang megah itu adalah rumah dinas gubernur kepala daerah Propinsi Jambi
Propinsi Jambi merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang terletak di tengah- tengah pulau Sumatra bagian selatan.
Sebelum menjadi propinsi daerah ini merupakan daerah Keresidenan yang dipimpin oleh seorang residen sebagai kepala daerah, yang merupakan bagian dari Propinsi Sumatra Tengah.
Propinsi Sumatra Tengah terdiri dari tiga keresidenan yaitu Keresidenan Sumatra Barat, Keresidenan Riau dan Keresidenan Jambi dengan ibu kotanya di Padang.
Pada tanggal 9 Agustus 1957 barulah berubah menjadi propinsi sendiri dengan dikeluarkannya Undang-Undang Darurat No.19 tentang pembentukan Propinsi Sumatra Barat, Propinsi Riau dan Propinsi Jambi yang ditanda tangani oleh Presiden Soekarno.
Ibu kota Propinsi Jambi adalah Kota Jambi yang dipimpin oleh seorang Walikota, penduduknya terdiri dari beragam etnis seperti Minang, Jawa, Batak, Sunda, Bugis, Cina, Arab, India dan lain-lain.
Bahasa sehari-hari adalah bahasa Melayu, agak mirip dengan bahasa Indonesia, hanya beda-beda sedikit terutama dalam pengucapan huruf A diakhir kata yang diganti dengan huruf O seperti dimana menjadi dimano, siapa menjadi siapo.
Kota Jambi yang tidak terlalu besar ini sebetulnya cukup indah, jalannya yang berliku-liku turun naik, ditambah dengan adanya sebuah danau ditengah-tengah kota dan sungai terpanjang di Sumatra yang membelah ditengah-tengah kota sungguh menarik kalau ditata dengan baik.
Pagi ini dihalaman rumah dinas gubernur dipenuhi oleh rombongan penari yang akan berangkat ke Jakarta.
Mereka memakai seragam jas warna coklat dengan lambang daerah Jambi di dada sebelah kiri, celana warna coklat muda.
Mereka akan berangkat menggunakan kapal laut dari pelabuhan kapal di Jambi menuju ke pelabuhan kapal Tanjung Periuk Jakarta.
Wajah-wajah ceria, gelak tawa mengiringi kepergian mereka, maklumlah sebagian besar dari mereka belum pernah melakukan perjalanan jauh, apalagi ke Jakarta.
Setelah mengikuti upacara pelepasan oleh bapak gubernur, rombongan penari inipun bergerak ke pelabuhan yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah gubernur dengan berjakan kaki sambil membawa tasnya masing-masing.
Bom Batu, begitulah nama pelabuhan itu, tidak satupun yang tahu apa artinya, mungkin disana pernah ditemukan bom didekat batu, atau ada batu yang kena bom, mungkin juga bomnya terbuat dari batu, entahlah yang jelas nama itu sudah melekat sejak lama.
Satu persatu para penari mulai menaiki tangga dan masuk kedalam kapal, mencari tempat masing-masing yang sudah ditentukan.
Kapal yang akan mengangkut mereka cukup besar berbobot 3000 ton, kapal berbendera Indonesia ini kelihatan masih baru dengan cet berwarna kombinasi coklat dan hitam, Dibagian depan agak kesamping tertulis nama kapal itu * SAMUDRA * disamping kanan dan kiri, didekatnya tampak rantai jangkar menghujam kedalam air, terdapat pula dua buah sekoci.
Setelah menaikkan jangkar dan membunyikan sirene kapal mulai bergerak menyusuri sungai Batanghari. Disepanjang tepian sungai tampak pabrik-pabrik karet dengan asapnya yang mengepul keatas berwarna hitam dan beberapa pabrik pengolahan kayu.
Sungai yang menjadi kebanggaan masyarakat Jambi ini airnya sudah tercemar, warna air tidak jernih lagi, sudah berubah coklat dan berminyak, sampah berserakan dimana-mana, terapung-apung dipermukaan air, limbah pabrik ikut ambil bagian dalam mengotori sungai.
Sungai bukan lagi menjadi tempat yang nyaman bagi makhluk-makhluk air, banyak yang sudah punah, padahal dulu sungai ini terkenal dengan beragam jenis ikannya.
Sesekali tampak motor boat ( perahu bermesin ) berseliweran dengan kecepatan tinggi, seolah sedang balapan, tampak pula sebuah kapal tongkang membawa kerikil bergerak terseok-seok melawan arus yang cukup deras.
__ADS_1
Menjelang senja mereka sampai dimuara sungai, tempat pertemuan air laut dan air sungai, warna air mulai berubah agak kebiruan, tampak sebuah perkampungan seperti terapung-apung diatas permukaan air, Kampung Laut begitulah nama kampung itu.
Sebagian besar penduduknya merupakan pendatang dari Sulawesi Selatan, orang Bugis yang berprofesi sebagai nelayan dan petani kelapa.
Dari kejauhan sudah tampak cahaya lampu kerlap kerlip dari rumah-rumah papan di kampung itu, beberapa kapal layar tampak bersandar didekat perkampungan.
Matahari semakin condong kebarat memancarkan cahaya kemerahan, burung-burung pamakan ikan melayang-layang diatas laut mencari mangsa, terkadang menukik dan menyelam kedalam air lalu keluar lagi mrmbawa hasil buruannya.
Tampak pula ikan terbang ( Flying fish / Exoetidae ) meloncat dari dalam air lalu terbang dengan melebarkan sayapnya sampai beberapa meter kemudian masuk lagi kedalam air.
Kapal terus melaju keluar dari sungai menuju Selat Berhala kearah selatan, mangarungi laut yang tampak begitu luas.
Hati Haris agak ciut ketika memandang kelaut lepas, bagaimana kalau kapal ini sampai tenggelam seperti kapal Titanic ? mungkin mereka akan dimangsa oleh ikan-ikan predator yang banyak terdapat didalam laut, atau mungkin juga mereka akan terdampar ke sebuah pulau terpencil yang dihuni oleh kaum primitif lalu disemblih dan dijadikan sate atau dibakar bulat-bulat seperti kambing guling.
Suasana cerah menyambut datangnya pagi hari, matahari memancarkan sinarnya dari kaki langit, semakin lama semakin menampakkan ujudnya seolah menyapa, mengucapkan selamat pagi.
Para penari itu tidak mau melewatkan momen yang indah ini, mereka berdiri ditepi kapal memandang sinar matahari dengan latar belakang laut yang memantulkan sinar sinar matahari, indah sekali.
Haris berdiri dibagian depan kapal ditemani oleh Fitria, salah seorang penari yang selama ini dekat dengannya.
" Sudah pernah naik kapal Fit ? ".
" Belum, kalau kak Haris ? ".
" Aku juga belum, ini pengalaman pertamaku ".
" Ternyata laut itu indah ya kak ".
Kemudian diam, mereka sedang asyik menikmati semilirnya angin.
" Fit bagaimana kalau tiba-tiba kapal ini tenggelam ? ".
" Ah janganlah kak ".
Fitria berkata cemas.
" Aku dengar pada bulan-bulan ini cuaca tidak menentu, nelayan tidak berani melaut karena gelombang besar bisa datang sewaktu-waktu.
Haris menjelaskan.
" Semoga hal itu ridak terjadi ".
Fitria semakin cemas.
" Bisa saja, dan andai itu benar-benar terjadi kapal ini akan tenggelam, semua penumpang akan dimangsa oleh ikan hiu, kecuali kamu ".
" Kok bisa ? ".
Fitria bertanya heran.
" Ikan hiunya naksir kamu ".
__ADS_1
Haris tersenyum menggoda, Fitria tersipu.
" Kemudian aku mati penasaran dan menjelma menjadi ikan paus, lalu aku ajak duel ikan hiu itu, berani-beraninya dia naksir kamu ".
" Ha..ha..ha..ha, kak Haris lucu sekali ".
Fitria menutup mulutnya dengan tangan.
Sore harinya kapal sudah mulai meninggalkan Selat Berhala memasuki Selat Bangka, cuaca masih cerah, tidak ada tanda-tanda kalau akan muncul gelombang seperti yang dikhawatirkan.
Andini menghampiri Haris yang sedang berdiri dibagian depan kapal bersama beberapa orang yang sedang berfoto ria.
" Ris ".
Haris menoleh kearah Andini.
" Eh Andini, ayo berdiri disini ".
" Kamu tidak bawa kamera ? ".
" Sebentar aku ambil dulu ".
Haris segera berjalan kedalam untuk mengambil kamera, tapi belum begitu jauh tiba-tiba dia melihat gelombang besar bergulung-gulung dari kejauhan, dia segera berbalik dan berteriak.
" Cepat kedalam !, ada gelombang besar ! ".
Tapi tampaknya mereka belum menyadari bahaya yang mengintai, tetap saja berfoto sambil tertawa-tawa.
" Masuk Andini ! ada gelombang besar !! ".
Terlambat !, gelombang segera menghantam lambung kapal, terjadi guncangan hebat, beberapa orang terpelanting dan satu orang terlempar kelaut.
" Andiniiii !! ".
Haris melompat kelaut, dengan sekuat tenaga dia berenang kearah Andini yang tampak timbul tenggelam dipermainkan gelombang.
Akhirnya dengan perjuangan yang keras, terpontang panting kesana kemari diapun berhasil menangkap tangan Andini lalu menariknya kearah kapal.
Sesampainya disamping kapal Haris menangkap tali yang dilemparkan dari atas kapal dan mengikatkannya ke tubuh Andini.
" Kamu pegang tali ini kuat-kuat ya ".
Andini menuruti kata Haris, dia berpegangan pada tali yang sudah diikatkan ke badannya, tali kemudian ditarik keatas sampai Andini berhasil naik keatas kapal. Setelah tali dilepaskan dari tubuh Andini lalu dilemparkan kembali kebawah kearah Haris.
Haris berusaha menjangkau tali, tapi belum sempat tali itu diraihnya gelombanf kembali datang dan menyapu tubuhnya.
" Hariiis !! ".
Andini berteriak histeris, dia berusaha untuk terjun kelaut tapi dicegah oleh teman-temannya, semua menjadi panik, tidak tampak lagi tubuh Haris.
Satu jam lamanya mereka menunggu, awak kapal mencari menggunakan sekoci berputar-putar dalam radius beberepa puluh meter dari kapal tapi tidak ada tanda-tanda kalau ada orang yang mengapung, akhirnya kapal berangkat meninggalkan tampat hilangnya Haris, Andini menangis sejadi-jadinya sampai jatuh pinsan.
__ADS_1
Sesampainya di Jakarta Andini dijemput oleh orang tuanya karena mengalami depresi berat, tidak bisa mengikuti acara Jakarta Fair.