DERMAGA CINTA TERAKHIR

DERMAGA CINTA TERAKHIR
DERMAGA CINTA TERAKHIR


__ADS_3

Haris berdiri didepan cermin, mematutkan diri, menyemprotkan minyak wangi dan merapikan baju, malam ini dia akan berkunjung ketempat kos Saras. Dia merasa sudah cukup mengenal Saras, sekarang sudah waktunya beranjangsana kesana untuk lebih mendekatkan diri.


Dengan keyakinan yang tinggi dia melarikan motornya dan berhenti diseberang tempat kos Saras. Untuk beberapa saat dia berdiam diri melihat kearah ruang tamu, tampak Saras sedang ngobrol dengan seorang laki-laki dengan pakaian seragam Taruna Akabri.


Setelah berpikir sejenak akhirnya dia memutuskan untuk membatalkan rencananya dan melarikan motornya menjauh.


Saras yang melihat Haris segera keluar.


" Mas Haris !! ".


Dia berteriak memanggil


Tapi Haris sudah terlanjur menjauh, sudah tidak mendengar teriakan Saras.


Dengan perasaan kecewa Saras masuk lagi.


" Siapa Saras ? ".


Handoko tamu Saras bertanya.


" Mas Haris dari fakultss ekonomi "


" Pacar kamu ya ? ".


" Bukan, baru juga kenal ".


Sementara itu Haris terus melarikan motornya ke arah Malioboro lalu memarkirkan motornya didekat pasar Bringharjo dan berjalan menyusuri trotoar yang penuh sesak dengan manusia.


Malioboro, sebuah nama yang sudah melegenda, yang menjadi ikon kota Jogja, sangat terkenal sampai ke manca negara, entah bagaimana sejararahnya sehingga diberi nama seperti itu, sangat keren, mirip-mitip merek rokok terkenal Marlboro.


Kawasan ini memang luar biasa, penuh sesak seperti pasar senggol, manusia berjalan disepanjang trotoar jalan Malioboro seperti tidak habis-habisnya, ada yang keselatan kearah alun-alun utara ada pula yang ke utara kearah Stasiun Tugu.


Beragam jenis manusia dari berbagai negara tumplek plek disini, harus rela bersenggolan atau terpijak kakinya, apalagi malam minggu seperti malam ini, libur panjang lagi.


Dikantong-kantong parkir seperti Stasiun Tugu penuh sesak, bus-bus pariwisata berjejer seperti sarden, rapat sekali, kendaraan-kendaraan pribadi dialihkan ketempat lain untuk mengurangi kemacetan.


Aneh bin ajaib, kalau dipikir-pikir Malioboro itu hanyalah nama sebuah jalan yang membentang dari Stasiun Tugu ke simpang Kantor Pos didekat alun-alun utara kraton Jogja, tapi ramainya minta ampun.


Coba saja kita jalan kemari subuh-subuh, yang ada hanya jalan biasa , tidak ada yang istimewa, , sepi seperti jalan pada umumnya.


Haris terus saja berjalan tanpa tujuan yang jelas, kadang berhenti melihat-lihat pernak pernik yang dijual pedagang asongan. Setelah letih berjalan dia kembali ke pasar Bringharjo untuk mengambil motornya dan bergerak ke alun-alun utara.


Alun-alun utara merupakan salah satu dari alun-alun yang ada di keraton Jogjakarta, jumlahnya ada dua, yaitu alun-alun utara disebelah utara keraton yang ukurannya nesar dan alun-alun selatan disebelah selatan keraton yang ukurannya lebih kecil.


Alun-alun utara cukup luas ditutupi oleh rumput yang menghijau seperti lapangan sepak bola.


Setiap tahun sekali ditempat ini akan ada perayaan Sekaten bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad saw.


Kabarnya Sekaten berasal dari kata Sahadat yang mempunyai arti membaca dua kalimat sahadat sebagai syarat seseorang memeluk agama Islam.

__ADS_1


Menurut hikayatnya pada jaman dahulu tempat ini dijadikan tempat bagi masyarakat yang ingin memeluk agama Islam sekali gus menjadi tempat untuk menyebarkan agama Islam.


Sekaten atau Sekatenan seperti pasar malam, penuh keramaian, segala macam dijual disini mulai dari mainanan anak-anak, pakaian, celengan, balon, perhiasan sampai keris.


Segala macam permainan juga ada, seperti komedi putar, tong setan, ombak banyu, rumah hantu dan lain-lain.


Haris duduk diwarung sate kambing yang menghadap kearah alun-alun, dia sering makan sate disini kalau baru terima honor mengajar.


Dipinggir alun-alun tampak beberapa orang sedang asyik main tebak-tebakan catur, muka mereka kelihatan berkerut-kerut memecahkan problem catur.


Malam semakin larut, setelah menghabiskan satenya Haris segera pulang.


Saras sangat menyesal, dia tidak berhasil memanggil Haris yang sudah berada diseberang tempat kosnya, sudah dicobanya untuk mengejar dan berteriak memanggil tapi Haris sudah terlanjur jauh.


Handoko adalah temannya di SMA 3 Solo, satu kelas dikelas 3 IPA. Bukan rahasia lagi kalau Handoko tergila-gila padanya tapi Saras tidak menanggapi dia hanya menganggap Handoko sebagai teman biasa.


Kemudian Handoko melanjutkan pendidikan ke Akabri Angkatan Udara di Jogja sedang Saras ke Fakultas Psychologi UGM.


Karena berada dalam sstu kota, Handoko sering berkunjung ketempat kos Saras, bahkan mereka pernah beberapa kali jalan bareng.


Kekecewaan hati Saras berlanjut sampai larut malam, dia susah untuk tidur, terbayang-bayang terus ketika Haris berhenti didepan tempat kosnya.


Akhirnya dia duduk dimeja belajar lalu mengambil buku harian dari laci dan menulis sesuatu disana.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam, diperhatikannya Hartini kelihatan nyenyak sekali, enaknya jadi kamu Har, kamu itu tidak punya beban, hidup kamu itu sangat simpel, semua masalah bisa kamu buat sederhana, tidak terlalu dipikirkan, kamu bisa tidur kapan saja, dimana saja.


Kemudian pikirannya kembali pada Haris, semakin lama dia semakin suka, mungkin juga dia sudah mulai katuh cinta.


" Saras ".


Suara Hartini membuyarkan lamunannya, dia menoleh, dilihatnya Hartini sudah duduk ditepi pembaringan, cepat-cepat ditutupnya buku hariannya.


" Kamu tidak tidur Saras, sudah malam lo ".


" Aku sedang belajar ".


Hartini berdiri dan berjalan kearah Saras duduk, diperhatikannya buku yang ada diatas meja, ah itu mah buku harian, mana ada orang belajar buku hariannya sendiri.


" Kamu ada masalah ya ? "


" Tidak ".


" Saras, kalau kamu ada masalah ceritakanlah mana tahu aku bisa membantu, jangan dipendam sendiri ".


Saras berdiri dan berjalan kearah tempat tidur, lalu merebahkan badannya.


" Har ".


" Ya ".

__ADS_1


Hartini mendekat dan duduk dilantai dekat kepala Saras, lalu diambilnya guling dan meletakkan kepalanya diatas guling


" Kamu pernah jatuh cinta Har ? ".


" Belum ".


" Aku juga belum ".


Kemudian diam, Saras hanya memandang kearah langit-langit kamar.


" Lo, maksudmu ? "


Saras hanya diam tanpa berkata-kata, matanya tidak berkedip memandang ke langit-langit.


Hartini mulai kesal melihat Saras diam saja seperti itu, dia bangkit dan berjalan kembali ke tempat tidurnya


" Har ".


Kembali Saras memanggil.


Hartini menghentikan langkahnya dan kembali duduk dilantai didekat kepala Saras


Saras kembali diam, tidak mengucapkan kata-kata sepatahpun, matanya masih tetap melihat keatas.


" Ih cah edan ".


Hartini mau berdiri tapi dicegah oleh Saras.


" Kayaknya aku sudah mulai jatuh cinta Har ".


" Dengan siapa, Handoko ya ".


" Bukan ".


" Lalu siapa ? ".


" Mas Haris ".


" Hah !, bukankah kalian belum lama kenal ? ".


" Tadi dia datang tapi tidak jadi mampir karena ada Handoko ".


" Lalu bagaimana dengan Handoko ? ".


" Aku tidak punya rasa apa-apa sama dia, hanya sebatas teman tidak lebih ".


" Apa tidak terlalu cepat Saras ? ".


" Tidak Har aku seperti sudah mengenalnya lama sekali, aku merasa nyaman didekatnya.

__ADS_1


__ADS_2