
Angin sepoi-sepoi menggoyangkan ranting pohon rambutan yang sarat dengan bunga, pelepah kelapa bergerak-gerak bergesekan menimbulkan bunyi kresek-kresek, burung layang-layang beterbangan diudara merentangkan sayapnya, kadang berbelok kekanan dan kekiri atau menukik kebawah, beberapa ekor kupu-kupu asyik pindah dari satu bunga ke bunga lainnya menghisap madu.
Sore yang sangat cerah, udara terasa sejuk, semalam hujan turun dengan sangat deras diiringi oleh angin kencang dan petir serta kilat yang menyambar-nyambar. Sebagian atap seng penduduk ada yang terbang terbawa angin, bahkan beberapa pohon sampai tumbang.
Harum semerbak bunga melati yang memutih bagaikan kapas dan bunga mawar merah yang indah tercium dari pekarangan rumah menguar kemana-mana.
Ditanah lapang anak-anak sedang bermain sepak bola, berteriak-teriak, memaki-maki, jatuh bangun.
Anak-anak perempuan sedang asyik bermain tali dan masak-masakan, ramai sekali.
Haris memperhatikan dari teras rumah, dia teringat ketika masih seusia anak-anak itu, sepulang sekolah langsung main, tidak ingat waktu, sampai hari gelap, sudah terdengar suara azan magrib.
Bermain adalah pekerjaan yang sangat disenangi oleh anak-anak, bisa lupa segalanya, lupa belajar, lupa ganti pakaian, lupa mandi, bahkan lupa makan.
Masih terbayang dimatanya ketika dia diseret oleh ibunya karena masih bermain padahal hari sudah magrib lalu pantatnya dipecut dengan rotan, sakit sekali.
Kenangan masa kecil itu sudah lama terkubur dalam-dalam termakan oleh waktu.
Sejak ayahnya meninggal banyak yang berubah, rumahnya yang besar dengan lima kamar tidur itu sudah sepi, tidak ada lagi saudara ayahnya yang menginap, kalau berkunjung hanya sebentar kemudian pulang.
Semasa hidupnya ayah Haris merupakan orang yang dituakan, setiap ada masalah dalam keluarga akan diselesaikan dirumah mereka.
Rumah besar yang sengaja dibangun ayahnya itu tidak cukup menampung seluruh anggota keluarga yang datang menginap, sebagian terpaksa harus tidur diruang tamu dengan menggelar tikar.
Sekarang orang yang dituakan sudah berpindah ketangan pamannya, rumah mereka tidak pernah lagi diramaikan oleh keluarga ayahnya, sepi, sedang keluarga ibunya tidak banyak, hanya beberapa orang saja.
__ADS_1
Ibunya juga sudah banyak berubah, tidak galak lagi, sudah rajin mengurus rumah, berkebun dibelakang rumah, menanam bunga dipekarangan.
Rumah jadi rapi, tidak ada lagi coretan-coretan didinding karena adiknya sudah besar-besar semua, ruang tamu yang biasanya seperti kapal pecah, centang perenang sudah tampak rapi, bersih.
Besok dia akan berangkat ke Jogja untuk melanjutkan pendidikan S2 di UGM, mengambil Program Study Magister Managemen Fakultas Ekonomi.
Sudah cukup lama dia tidak kembali ke Jogja, sejak ayahnya terkena serangan jantung dan dirawat di ruang ICU.
Tahun lalu dia menyelesaikan pendidikan S1 EKonomi di Universitas Negri Jambi ( UNJA ) pada program ekstensi disore hari, yang diselesaikannya
hanya dalam waktu beberapa tahun saja karena banyak nilai mata kuliah yang bisa ditranfer.
Sekarang dia mendapat beasiswa dari tempatnya bekerja untuk melanjutkan ke S2 dan dia memilih
UGM sebagai tempat kuliahnya.
Hendra mungkin sudah jadi dokter, mungkin juga sudah menikah dengan Hartini si mahasiswi Hubungan Internasional itu.
Atika mungkin sudah jadi dosen seperti cita-citanya dulu, ah gadis itu mungkin jadi rebutan, semua mahasiswanya akan betah berlama-lama dikelas mendengarkan dosen cantik itu berceloteh, atau mungkin juga ada diantara mahasiswanya yang jatuh hati pada dosen yang aduhai itu.
Lalu bagaimana dengan Saras ?, sudah jadi sarjana Psychilogikah dia ?, pasti !, Haris yakin itu, dan pasiennya ?, pasti bejibun, mungkin orang sehatpun mau berkonsultasi dengannya hanya sekedar untuk memandang wajahnya yang cantik.
Teman-teman akrabnya sewaktu di SMA dulu sudah pada menikah, sudah berlabuh dipelaminan bersama pasangannya masing-masing.
Fitria dia dengar sudah menikah dengan seorang perwira militer, sekarang ikut suaminya di Kalimantan.
__ADS_1
Tanpa terasa sudah empat tahun lamanya dia meninggalkan Jogja, meninggalkan UGM dengan segala suka dukanya, tanpa membawa selembar ijazahpun.
Sekarang keadaan sudah sangat jauh berbeda, kemajuan teknologi telah merubah segalanya, sudah membuat banyak kemudahan.
Tidak perlu lagi berkirim surat yang baru sampai setelah berhari-hari, cukup menulis pesan di Hp detik itu juga akan sampai.
Tidak ada lagi antrian di kantor pos untuk mengirim surat dan wessel, tidak ada lagi antrian dikantor telekom untuk mengirim telegram. Warung Telepon ( Wartel ), yang dulu penuh sesak setelah jam 9 malam karena biayanya murah, sekarang lengang, satu persatu bertumbangan, tutup.
Pengiriman uangpun sudah sangat mudah, tidak perlu berdesak-desakan dikantor pos, cukup menekan tombol yang ada di ATM, bahkan bisa dari rumah dengan memanfaatkan layanan yang ada di Hp. Yang menerima kiriman uangpun tidak harus menunggu berhari-hari, tidak harus kekantor lurah untuk meminta cap, tidak perlu antri sangat panjang dikantor pos maupun di bank, cukup menekan tombol di ATM maka detik itu juga uang akan bisa diambil tanpa melalui prosedur yang berbelit-belit.
Dua benda ajaib itu Hp dan STM sudah menjadi kebutuhan pokok terutama terutama bagi para mahasiswa perantauan.
Kota Jambi sudah tidak seperti dulu lagi, rumah dipinggir-pinggir jalan raya sudah hilang berganti dengan bangunan rumah toko ( ruko ), berubah jadi
tembok-tembok kokoh, sudah kehilangan keindahannya, menjadi kota dengan bangunan berbentuk kotak-kotak.
SMA tempat dia dulu bersekolah sudah berubah total, tidak ada lagi bangunan semi permanen, berganti dengan bangunan tembok dua lantai, sudah tidak ada lagi kenangan masa lalunya, sudah tidak bisa lagi bernostalgia.
Kalau dulu yang memakai motor kesekolah bisa dihitung dengan jari, sekarang hampir semua siswa pakai motor, bahkan tidak sedikit yang membawa mobil yang diparkir disepanjang pinggiran jalan didepan sekolah.
Tidak ada lagi yang naik sepeda, tempat parkir sepeda yang dulu terdapat dibagian belakang sekolah sudah berubah jadi bangunan bertingkat, menjadi ruangan kelas.
Oplet yang bentuknya seperti angkot Sidul Anak Sekolahan sudah tidak tampak lagi, hilang entah kemana, berganti dengan minibus L 300 atau Suzuki Carry, cantik memang tapi kurang nyaman, terlalu sempit.
Kendaraan umum ini sudah tidak sebanyak dulu, penumpangnya juga sedikit, sepi, anak sekolah rata-rata sudah punya kendaraan sendiri. Meskipun jalan raya sudah diperlebar kemacetan terjadi dimana-mana, tidak seimbang antara pelebaran jalan dengan pertambahan jumlah kendaraan.
__ADS_1
Hari sudah mulai gelap, anak-anak yang tadi bermain sudah pulang semua, terdengar suara azan dari beberapa masjid yang ada disekitar rumahnya, seolah saling bersahutan mengajak umatnya untuk beribadah menghadap sang pencipta.
Haris segera berdiri dan masuk kedalam untuk mengambil wudu kemudian segera berangkat ke masjid tidak jauh dari rumahnya sebelum salat dimulai.