DERMAGA CINTA TERAKHIR

DERMAGA CINTA TERAKHIR
DERMAGA CINTA TERAKHIR


__ADS_3

Haris dan ketiga temannya kembali berkumpul dirumah Haris untuk belajar, malam ini mereka akan mengerjakan PR Ilmu Kimia, jam 7 malam sudah mulai berkumpul diteras rumah.


Seperti biasa Anwar datang berboncengan dengan Fahri karena rumah mereka berdekatan, sedangkan Budi datang sendiri.


Setiap ada PR mereka akan belajar bersama bergantian dirumah masing-masing, terkadang tiap malam, apalagi mereka sudah harus mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian akhir.


Ketika sedang asyik belajar tiba-tiba sebuah mobil sedan warna putih dengan pelat nomor merah masuk kedalam halaman rumah Haris.


" Andini ".


Haris berbisik.


Andini keluar dari mobil dan langsung menghampiri Haris.


" Aku ikut ya ".


Mati aku !, Haris membatin dalam hati.


" Ambilkan kursi Ris ".


Haris masuk kedalam untuk mengambil kursi, Andini duduk dikursi yang tadi diduduki Haris.


Tidak lama kemudian Haris keluar sambil membawa kursi dan meletakkannya disamping Andini.


Kembali mereka melanjutka acara belajar mereka yang sempat tertunda. Andini ikut belajar, dia kelihatan serius untuk beberapa saat, tapi tidak lama, selanjutnya dia mulai ngajak ngobrol.


" Ris sudah baca novel Mira.W terbaru belum ? ".


" Belum ".


Haris menjawab sekedarnya tanpa menoleh kearah Andini.


" Bagus lo ".


" Biarin aja ".


Kembali Haris menjawab sekedarnya sambil terus saja mengerjakan soal-soal kimia.


" Di bioskop Mega ada film bagus Ris ".


Rupanya Andini masih belum kehilangan akal, dia terus saja ngajak ngobrol, tapi Haris diam saja


" Kita nonton yuk ".


" Nonton aja sendiri ".


Andini mulai kesal dicuekin seperti itu, tapi dia masih berusaha untuk ngajak ngobrol.


" Ris kamu tidak ikut lomba karya tulis ya ? ".


" Tidak ".


Kembali Haris menjawab acuh takacuh.


" Kenapa ?, kamukan pintar mengarang, aku rasa kamu bisa menang ".


Sepertinya Haris sudah mulai kehilangan kesabarannya, dia meletakkan pena dan menelungkupkan kepalanya diatas meja.

__ADS_1


" Andini, mungkin kamu salah jurusan, seharusnya kamu masuk jurusan sastra biar bisa baca puisi atau mendongeng seharian ".


" Ih kok gitu sih ".


Andini mencubit tangan Haris.


Haris meringis kesakitan lalu mengangkat kepalanya, ketiga temannya senyum-senyum melihat adengan lucu didepan mereka.


" Atau mungkin sebaiknya kamu pindah ke STM biar digebukin teman-teman kamu pakai kunci Inggris ".


Plak !, tangan Andini langsung mendarat dibahu Haris.


" Sebelum aku digebukin anak STM, biar kamu dulu yang aku gebukin ".


" Ha..ha..ha..ha ".


Fahri tidak tahan lagi menahan tawa diikuti oleh kedua temannya.


" Makanya kalau mau belajar belajar aja, jangan ngelantur kemana-mana, baca novellah, nonton filmlah, lomba mengaranglah, mengganggu konsentrasi tau "


" Iya iya aku belajar benaran ".


Andini mengepalkan tinjunya, kemudian mengacungkannya kearah Haris, kembali ketiga temannya tertawa.


Begitulah mereka kembali belajar, kali ini Andini tidak berani main-main lagi.


Setelah Andini pulang mereka menjadi heboh, ternyata kehadiran Andini tadi sangat menghibur, membawa suasana baru, tidak membosankan seperti biasanya, sepertinya sekali-sekali perlu ada orang lain yang ikut bergabung biar suasananya meriah, bagus lagi kalau cewek cantik seperti Andini.


" Sepertinya Andini naksir kamu Ris ".


Fahri mulai menggoda Haris.


Anwar ikut ngompori.


" Malah dia ngajak nonton segala lo Ris, seharusnya kamu tembak aja sekalian, mana tau diterima, sepertinya Andini sengaja memancing, kamu aja yang telmi, telat mikir, akhirnya kesempatan itu lewat begitu saja, sayang sekali ".


Ternyata Budi bisa juga menambah bumbu yang membuat Haris salah tingkah.


" Ah ndak ah, kalian enak aja ngomongnya '.


" Kamu itu kura-kura minum jamu, pura-pura tidak mau ".


Anwar coba berpantun.


" Mana ada pantun seperti itu, masak kura-kura minum jamu, yang benar aja ".


Fahri protes.


Haris mulai terpancing urat gelinya lalu ikut nimbrung.


" Mungkin aja, mana tau kura-kuranya kepingin langsing, mau ikut ratu kecantikan ha..ha..ha..ha ".


Keempatnya lalu tertawa lepas.


Kemudian kembali mereka belajar tanpa Andini sampai larut malam, mereka tidur dirumah Haris karena besok pagi akan berlatih silat.


Haris dan ketiga temannya baru saja selesai latihan silat di kelenteng yang terketak tidak jauh dari rumah Haris. Mereka berguru disana sudah cukup lama, sudah lebih dari 2 tahun, Haris yang mengajak mereka kesana.

__ADS_1


Waktu itu Haris sedang memancing, karena belum mendapat ikan dia pindah tempat memancing kedekat kelenteng yang berada tidak jauh dari rumahnya.


Sedang asyik memancing datang hujan lebat, dia lalu berteduh dibawah sebatang pohon beringin yang cukup rindang, tapi karena hujannya semakin lebat diapun mulai basah. Tiba-tiba entah dari mana datangnya dihadapan Haris sudah berdiri seorang apek tua membawa payung lalu mengajaknya masuk kedalam kelenteng, ternyata dia adalah penjaga kelenteng tersebut.


Sejak saat itu Haris diangkat jadi murid oleh kakek yang bernama Engkoh Liem itu untuk belajar ilmu silat Cina, kemudian dia mengajak ketiga temannya , setiap hari minggu pagi akan berlatih bersama.


Engkoh Liem berasal dari daratan Cina, dia murid dari seorang pendekar yang cukup disegani didaerahnya, kemudian dia ikut mengungsi dengan kapal kayu dan terdampar di Jambi, lalu bekerja sebagai penjaga kelenteng. Dia hanya hidup sendiri, tidak mempunyai istri dan anak, makanya dia sangat senang mempunyai murid 4 orang sekaligus.


Hari ini merupakan hari terakhir mereka latihan, seluruh ilmu silat sudah diajarkan Engkoh Liem kepada keempat muridnya ini tinggal mematangkannya saja lagi. Selesai latihan Engkoh Liem memberikan beberapa wejangan, dia melarang muridnya untuk berkelahi kecuali untuk membela diri.


Dengan takzim Haris dan ketiga tamannya mendengarkan nasihat gurunya, mereka berjanji tidak akan menggunakan ilmu silatnya kecuali kalau terpaksa.


Selesai latihan mreka memancing di sungai kecil dekat rumah Haris, nanti ikan hasil tangkapan mereka akan dimasak oleh ibu Haris untuk dimakan bersama.


Kebetulan hari ini nasib mereka lagi mujur, baru sebentar menebar pancing kail Fahri disambar ikan, seekor ikan gabus yang cukup besar menggelepar-gelepar diujung kail ketika pancing diangkat. Begitulah bergantian mereka mendapatkan ikan yang kemudian dikumpulkan didalam ember yang sengaja mereka bawa, sampai suatu ketika pancing Anwar menyangkut didasar sungai.


" Ris pancingku nyangkut ".


" Masuk aja airnya ndak dalam kok, paling nyangkut di kayu ".


Anwar membuka celananya lalu dengan bercelana pendek dia masuk ke sungai yang memang tidak dalam hanya sebatas lutut, dan benar saja kailnya nyangkut pada tunggul kayu didasar sungai.


Tiba-tiba Fahri melihat seekor ular kecil diseberang sungai.


" Ada ular !! ".


Dia berteriak dan berlari menjauh dari tempat mereka memancing sambil mrlemparkan gagang pancingnya begitu saja kedalam sungai.


Anwar terperanjat, dia membalikkan badan dan berusaha naik keatas dengan tergopoh-gopoh sambil berpegangan dengan sepotong kayu yang menancap didinding sungai, tapi yang dipegangnya ternyata kayu yang sudah lapuk, kayu itupun patah, Anwar terjatuh kembali kesungai, biuuurr !!.


Anwar kembali berdiri dan dengan dibantu oleh Haris dia berhasil naik keatas, tapi bajunya terlanjur basah, dia mengumpst-umpat.


" Dasar Fahri pengecut, basah jadinya baju aku ".


" Makanya dilihat dulu, orang ularnya diseberang sana, ular kecil lagi, kamu main lari aja ".


Haris senyum-senyum, dia geli melihat Anwar seperti ayam kecemplung sumur.


Akhirnya mereka menyudahi acara mancing hari itu dan kembali kerumah Haris.


Anwar memang sering mendapat sial gara-gara Fahri, ada saja kelakuan Fahri yang berimbas pada dia.


Fahri memang lucu, kadang penakut kadang sok jagoan, seperti pernah suatu hari mereka pergi memancing ikan tempalo ( ikan ****** hutan ) agak jauh dari rumah Haris, mereka sengaja berjalan kaki sambil berolah raga. Dengan beriringan mereka berjalan, Fahri membawa tombak serampang 3 milik Haris, gayanya seperti pendekar dalam film silat Cina.


" Nanti.kalau ada harimau menyerang kita akan aku bunuh dengan tombak ini ".


Begitu Fahri sesumbar.


Tiba-tiba dari kejauhan tampak 3 ekor anjing berlari kearah mereka, Haris, Budi dan Anwar segera berbalik dan berlari meninggalkan Fahri sendirian.


Fahri memegang tombak kuat-kuat, pokoknya kalau anjing itu sampai macam-macam akan dia tombak.


Tapi ketika dia menoleh kekanan dan kekiri ternyata temannya sudah tidak ada lagi dia jadi gentar, tanpa pikir panjang lagi dia segera membalikkan badan dan berlari sambil berteriak.


" Oooiiii !!, tungguuu !! ".


Teman-temannya sampai terpingkal-pingkal, baru anjing sudah ketakutan apalagi.harimau.

__ADS_1


Sambil menunggu ikan matang mereka mengisi waktu dengan bermain kartu, siapa yang kalah dicoreng mukanya dengan arang.


__ADS_2