DERMAGA CINTA TERAKHIR

DERMAGA CINTA TERAKHIR
DERMAGA CINTA TERAKHIR


__ADS_3

Perahu dengan tulisan * BAHAGIA * dilambung kirinya itu bergerak perlahan diantara rumah penduduk yang terendam banjir, hari sudah cukup larut sudah jam 10 malam.


Diatas perahu duduk lima orang laki-laki, yang duduk dibagian belakang yang memakai pici dan yang mengendalikan perahu berumur sekitar 45 tahun sedang yang empat orang lagi masih sangat muda sekitar 16 sampai 17 tahun, mereka adalah Haris dan tiga orang sahabat karipnya, Budi, Anwar dan Fahri dan seorang tukang perahu.


Mereka baru pulang dari rumah paman Haris yang tinggal di Tahtul Yaman, seberang kota Jambi.


Banjir kali ini lumayan besar, hampir sama dengan banjir tahun 1955, banjir terbesar di Propinsi Jambi yang pernah tercatat dalam sejarah. Kampung-kampung diseberang kota terendam oleh air, tidak tampak lagi daratan, banjir benar-benar menenggelamkan segalanya, tiang-tiang penyangga rumah panggung setinggi 3 meter sudah hilang dari pandangan, bahkan air sudah mulai masuk kedalam rumah penduduk.


Kota Jambi dengan seberang kota sudah menyatu, sungai Batanghari yang membelah diantara kota Jambi dengan seberang kota sudah tidak tampak lagi, pabrik-pabrik pengolahan karet yang banyak berdiri ditepi sungai hanya tampak atapnya saja. Sudah tidak ada lagi aktifitas di pabrik karet, pegawainya sudah diliburkan semua, mesin-mesinnya sudah terendam.


Banjir juga sudah merendam pasar Angso Duo, pasar terbesar di kota Jambi, airnya sudah setinggi lutut orang dewasa, malahan sudah merambah kejalan raya sehingga mengganggu aktifitas jual beli dipasar, banyak yang menggelar dagangannya dijalan yang tidak terkena banjir.


Beritanya sangat heboh, koran-koran, siaran TV, radio baik radio pemerintah maupun amatir, semuanya sibuk menyampaikan berita, ditingkat regional maupun nasional, sepertinya sudah terjadi bencana yang sangat besar.


Tapi masyarakat Jambi tenang-tenang saja, tidak ada yang panik, semuanya biasa-biasa saja. Malahan banjir menjadi tempat wisata dadakan, tempat orang piknik, menonton pemandangan alam yang datang satu tahun sekali.


Banjir juga menjadi berkah tersendiri, dijadikan tempat orang mencari rejeki, mencari ikan dengan alat tangksp tradisional. Tempat-tempat ini akan ramai dikunjungi masyarakat, baik untuk sekedar menonton maupun untuk membeli ikan. Pedagang makanan bermunculan, bakso, es, gado-gado dan lain-lain, bahkan pedagang mainan anak-anak.


Perahu mulai meninggalkan perkampungan masuk ketengah-tengah sungai, meskipun sungainya sudah tidak kelihatan tapi bisa dikira-kira dengan melihat atap pabrik yang nampak diatas air seperti tenda-tenda besar.


" Besak nian nampaknyo banjir kali ini yo wak ".


Haris ngobrol dengan tukang perahu.


" Iyo, jarang banjir macam ini ".


" Lah macam lautan bae nah ".


" Iyo nian, rumah kami lah masuk air ".


" Tapi enak jugo wak biso nyari ikan ".


" Lumayanlah, tapi cuma ikan kecil ".


Tukang perahu terus saja mendayung perahu.


Malam yang sangat indah, bulan purnama menyemburatkan cahayanya tanpa tertutup awan, terang benderang seperti lampu taman, berbinar-binar bak putri raja yang baru saja menerima lamaran sang pangeran pujaan hati.


Disamping bulan yang indah itu tampak sebuah bintang yang sangat terang dan paling besar diantara gugusan bintang yang tampak dari bumi yang dengan setia mendampingi bulan, seperti ajudan yang sewaktu-waktu siap membela sang komandan.


Bintang besar yang sangat terang itu sering dijadikan pelengkap syair dalam sebuah lagu, atau dalam sebuah kalimat yang indah * Matanya berbinar-binar bagaikan Bintang Kejora *.


Air yang beriak memantulkan cahaya bulan bagaikan manik-manik, bintang-bintang dilangit berserakan seperti kunang-kunang ditengah gelapnya malam, kerlap kerlip lampu kapal yang bersandar di dermaga menambah cantiknya malam.


Haris memandang kearah bintang-bintang yang berserakan diangkasa, menurut para ahli jumlahnya miliaran, masing-masing berputar pada porosnya, tidak ada yang bersenggolan, tidak ada yang bertabrakan, semuanya bergerak teratur seperti dikomando, bukan main ciptaan Tuhan !.

__ADS_1


Tampak bintang tujuh yang terkenal itu seperti membentuk siku-siku, yang bentuknya tidak pernah berubah sejak jaman dahulu.


Kemudian pandangannya beralih kearah bulan yang terang benderang diantara gugusan bintang, bulat sempurna bagaikan seorang putri yang menyapa dengan senyum manisnya.


Menurut hikayatnya dulu bulan tidak bercahaya, persis seperti bumi, disana terdapat sebuah kerajaan dimana sang raja mempunyai dua orang putri, yang sulung sangat cantik, tapi punya perangai yang tidak baik, pendengki, pendendam, merasa paling benar, mau menang sendiri, pokoknya sangat jahat, sedang si bungsu berwajah jelek tapi hatinya baik, selalu mengalah.


Pada suatu hari raja mengutus kedua putrinya untuk turun kebumi mencari garam dan kapas karena persediaan di kerajaan sudah habis, maka turunlah keduanya dengan menggunakan sayap.


Setelah menemukan apa yang diminta oleh baginda raja kedua barang itu dimasukkan kedalam karung lalu diikat.


Putri sulung yang jahat itu menyuruh adiknya membawa karung yang berisi garam yang berat sedang dia membawa karung yang berisi kapas yang lebih ringan.


Mereka lalu mengikat karung ke punggung masing-masing dan kembali terbang ke bulan.


Tentu saja sang adik tidak bisa terbang cepat karena bebannya yang berat sehingga dia ketinggalan jauh. Tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat, garam yang dibawa sang adik sebagian mencair sehingga semakin lama semakin ringan, diapun segera menyusul kakaknya dan sampai ke bulan dengan selamat. Atas kesabarannya dia berubah menjadi putri yang cantik, wajahnya mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Satu bulan sekali dia akan memandang kebumi, memancarkan cahayanya yang terang benderang yang kemudian dikenal dengan bulan purnama.


Adapun kapas yang dibawa sang kakak semakin lama semakin berat karena meresap air hujan, sayapnyapun patah, dia jatuh kembali kebumi dan berubah menjadi seekor burung.


Burung yang dikenal dengan burung pungguk ini tiap bulan purnama akan memandang ke bulan sambil menangis, yang sering kita dengar dengan suara berbunyi uak..uak...uak, dia merindukan keluarganya dibulan, maka munculah pepatah * Seperti pungguk merindukan bulan *.


Tiba-tiba Haris melihat perubahan pada bulan, samar-samar tampak seraut wajah yang tersenyum padanya, semakin lama semakin nyata, dia adalah Andini, Haris membalas senyuman itu.


Anwar dari tadi menperhatikan perubahan pada raut wajah Haris.


" Iya Anwar ".


" Sepertinya kamu sedang jatuh cinta Ris ?, dengan siapa ?, Andini ya ? ".


" Ah kamu ada-ada saja ".


" Dari tadi aku perhatikan kamu senyum-senyum sendiri, sepertinya sangat bahagia ".


Haris menoleh kearah Anwar.


" Aku melihat bulan begitu indah Anwar, bulat sempurna, luar biasa ".


" Iya Ris, aku juga terpesona melihat pemandangan yang begitu indah malam ini ".


" Romantis ya, andai aku bisa membuat puisi akan aku tulis dengan tinta emas ".


Fahri ikut nimbrung.


" Iya aku juga merasakan suasana yang sangat romantis ".


Budi ridak mau ketinggalan memberi komentar.

__ADS_1


Empat orang siswa SMA Negri 1 ini sudah lama bersahabat, sejak kelas 1, kemanapun selalu bersama, belajar bersama, kompak selalu.


Budi, orangnya tinggi kurus, kulit putih, rambut lurus, hobbynya main bola volly, dia ditakuti oleh lawan karena smesannya yang tajam, menukik mematikan, pembawaannya agak pendiam tapi senang kalau diajak bergurau.


Anwar, badannya tinggi besar, rambut keriting, kulit agak gelap, jarang tersenyum, sedikit kaku tapi kalau ketawa ngakak. Hobbynya main tennis meja, pukulannya bukan saja keras tapi mengagetkan karena disertai dengan hentakan kaki dan teriakan yang membahana.


Fahri, orangnya agak kecil, rambut bergelombang, warna kulit sedang, tidak putih tidak pula hitam, suka usil, tidak sabaran, hobbynya sama dengan Anwar, tenis meja.


Haris, badannya sedang, agak gempal, rambut lurus, kulit sawo matang, hobbynya main catur, jadi andalan sekolah dan sudah beberapa kali menjadi juara pertandingan catur antar sekolah. Dia termasuk manusia omnivera, pemakan segala, mulai dari pion sampai raja dia makan.


Hari minggu ini mereka sengaja main ke tempat pamannya Haris di kampung Tahtul Yaman Seberang Kota Jambi karena ingin melihat suasana banjir di Seberang Kota ( Seko ), sambil bermain perahu, mandi-mandi dan memancing ikan.


Perahu yang mereka tumpangi seperti sepotong sabut atau perahu dari kertas bergerak perlahan-lahan diatas air yang begitu luas tanpa batas seperti lautan, semakin lama semakin mendekati pasar Angso Duo yang terletak persis ditepi sungai Batanghari, lalu menyeruak diantara perahu-perahu yang diparkir disana.


Setelah menggulung celana dan memasukkan sandal kedalam tas, merekapun bergegas turun dari perahu, selanjutnya mampir dulu kerumah Budi yang letaknya tidak jauh dari pasar Angso Duo untuk mengambil sepeda yang dititipkan disana.


Sampai dirumah Haris langsung menuntun sepedanya kebelakang , masuk lewat pintu dapur yang memang tidak dikunci.


Belum juga sampai kebelakang tiba-tiba ibunya membuka pintu depan dan menyapanya.


" Ris, tadi Andini kemari ".


" Ngapain dia kemari mak ? ".


" Katanya mau belajar ".


" Oooo ".


Haris kembali menuntun sepedanya ke belakang.


" Haris !, dengar dulu kalau mak lagi ngomong ".


Ibu Haris sudah kenal baik dengan Andini, dia terkesan dengan sifat Andini yang sopan dan wajahnya yang cantik.


" Tapi Haris tidak tahu kalau dia mau datang, dia juga tidak bilang ".


Dalam hatinya dia bersyukur tidak ketemu, belajar apaan, paling ngajak ngobrol, ujung-ujungnya berantem, mana mau dia kalah.


" Apa kamu tidak ada janji dengan dia ? ".


" Tidak ".


" Ya sudah ".


Haris kembali menuntun sepedanya kebelakang dan masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2