
Sejak pulang dari Jakarta Andini menjadi pemurung, suka menyendiri, tidak terdengar lagi ocehannya. Seperti hari ini dia duduk sendirian dikantin sekolah, hanya memesan es cendol tidak makan soto seperti biasanya.
Wajahnya kelihatan sendu, matanya sayu tanpa gairah, agak merah karena terlalu sering menangis.
Dia selalu terbayang ketika Haris digulung ombak lalu menghilang ditengah laut yang begitu luas tak bertepi, rasanya mustahil ada orang bisa selamat dalam kondisi seperti itu.
Semua itu karena kesalahannya, karena kecerobohannya, dan karena Haris terlalu peduli padanya tanpa menghiraukan keselamatannya.
Sekarang tidak ada lagi sahabat terbaiknya, sahabat yang selalu mengalah, yang bisa dia marah-marahi, yang selalu membantunya mengerjakan PR.
" Andini ".
Laila duduk didekat Andini.
" Hei Laila ".
Laila prihatin melihat kondisi Andini, sekarang kelihatan agak kurus, kalau ditanya menjawab singkat-singkat saja, asal jawab, tidak mau lagi diajak bercanda.
" Tidak makan Andini ? ".
" Masih kenyang ".
Andini tidak terlalu berselera menjawab, dia sibuk mengaduk-aduk es cendolnya.
" Sudahlah Andini, jangan terlalu dipikirkan nanti kamu sakit, serahkan saja dengan yang kuasa ".
Mata Andini mulai berkaca-kaca.
" Aku tahu pasti kamu sangat menderita dengan peristwa itu tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi, tinggal kita berdoa saja semoga Haris selamat, dengan bersedih terus tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada malah kamu jadi sakit ".
Sebagai sahabat dekat yang bertahun-tahun selalu bersama Laila tahu betul bagaimana perasaan Andini saat ini, hubungannya dengan Haris bukan hanya sekedar sebatas sahabat, meskipun mereka tidak pernah menyatakan secara terang terangan sebetulnya mereka saling mencintai.
Andini dengan Haris itu unik, kadang seperti orang berpacaran tapi suatu saat seperti orang bermusuhan, dan pangkal persoalannya selalu pada Andini, dia mau seenaknya saja, mau menang sendiri, sedikit saja Haris salah akan jadi masalah.
Haris juga aneh, sudah sekian lama mengenal Andini tetap saja seperti itu, tidak pernah berani berterus terang.
Tapi Haris juga tidak bisa disalahkan, mungkin dia malu, Andini anak orang kaya, bapaknya kepala kejaksaan tinggi, sedang dia dari keluarga sederhana, bapaknya hanya buruh pabrik karet.
Sepulang sekolah Andini berjalan kaki sendirian, dia sengaja tidak mau dijemput, dia ingin melakukan napak tilas, mengenang kembali saat-saat dimana dia pulang bersama Haris.
Dia tidak memperdulikan kulitnya yang putih terpanggang oleh sinar matahari, dia juga tidak memperdulikan cowok-cowok yang menyapa dan menggodanya dipinggir jalan, dia terus saja berjalan menuju kerumahnya, sesekali kakinya menendang batu krikil yang dia temukan dijalan.
Sampai di kompleks Setia Negara sebelum masuk ke lorong yang mengarah kerumahnya dia berhenti sejenak seperti mengingat sesuatu, menarik napas panjang lalu melangkahkan kakinya lagi masuk ke lorong.
Begitu masuk kerumah dia langsung menuju kekamar tanpa membuka sepatu lagi, lalu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.
" Andini makan dulu ".
Ibunya berteriak dari luar.
" Iya ma sebentar lagi ".
Ibu Andini sedih melihat anak semata wayangnya itu, sejak pulang dari Jakarta banyak berubah, tidak mau bercerita lagi seperti biasanya, suka menyendiri didalam kamar, selera makannya menurun.
Dia lalu masuk menghampiri tempat tidur.
" Ayo Andini, tukar baju dulu terus makan ".
Dia membuka sepatu Andini yang masih dikenakan dan mengambil tas sekolah lalu keluar kamar lagi.
Andini menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Haris, andai saja dia mrndengarkan peringatan Haris peristiwa tragis itu tidak akan terjadi.
Besok paginya Andini berangkat kesekolah dengan malas-malasan, sebetulnya kalau menurutkan kata hatinya dia ingin berhenti saja, rasanya capek setiap hari harus ketempat dimana dia selalu bersama Haris.
Dengan kepala menunduk dan berjalan ogah- ogahan dia melangkahkan kakinya ke halaman sekolah. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara seseorang memanggil namanya.
" Andini ".
Dia berbalik dan terperanjat setengah mati ketika tahu yang memanggilnya adalah Haris
" Hariiis !! ".
Setengah tidak percaya dia berteriak.
" Iya ini aku ".
Andini mengucek-ngucek matanya dan setelah yakin bahwa itu benar-benar Haris dia segera menghambur kepelukan Haris.
" Eh Andini malu dilihat orang ".
Andini baru sadar dan segera melepaskan pelukannya.
Bagaimana tiba-tiba Haris muncul ?, apa yang terjadi dengannya ?.
Haris terbawa arus gelombang sangat jauh, dia merasa ditarik oleh tangan yang sangat besar dan kuat, tubuhnya dipermainkan ombak cukup lama, sampai akhirnya dia terapung-apung dipermukaan laut, sudah tidak tampak lagi kapal yang mereka tumpangi tadi.
Dia berhasil meraih sepotong kayu yang terapung didekatnya sehingga bisa tetap mengapung.
Setelah keadaan agak tenang dia mulai berenang dengan berpegangan pada kayu yang tidak terlalu besar itu. Tujuannya kearah barat dimana matahari akan tenggelam karena dia yakin pulau Sumatra ada disana.
Lebih dari satu jam Haris berenang sampai akhirnya matahari mulai menghilang diufuk barat, dan bersamaan dengan itu tampak cahaya kerlap kerlip lampu dari kejauhan.
__ADS_1
Begitu melihat cahaya itu semangatnya bangkit, dia semakin mrmpercepat gerakannya, dia harus sampai disana malam ini juga, atau kalau tidak dia akan mati.
Dengan tangan pegal-pegal dan kaku akhirnya sampai juga dia kepinggir lalu keluar dari air dan naik keatas pantai.
Dengan tertatih-tatih dia terus saja berjalan dipasir pantai, matanya mulai berkunang-kunang, akhirnya dia ambruk dan jatuh pingsan.
Ketika terbangun dia sudah berada didalam sebuah kamar, terbaring didipan yang beralaskan tikar pandan, pakaiannya sudah berganti dengan baju kaos dan kain sarung
Dia memandang kesekitarnya, sebuah kamar berukuran 3x3 meter dengan dinding papan dan lantai papan pula, ada lemari dan meja kursi sederhana.
Tidak lama kemudian masuk seorang wanita setengah baya dengan memakai kain dan kerudung dikepalanya.
" Sudah bangun ? ".
Wanita itu menyapa
" Maaf, saya dimana ? ".
" Siapa nama kamu ".
Tanpa menjawab pertanyaan Haris dia malah bertanya.
" Namaku Haris ".
" Kami menemukanmu terdampar dipantai dalam keadaan pingsan "
" Oh ya terima kasih telah menolongku ".
Wanita itu mengangguk dan tersenyum lalu keluar dari kamar.
Tidak lama kemudian masuklah seorang anak gadis kira-kira berumur 14 tahun, dia membawa nampan berisi makanan lalu meletakkannya diatas meja
Gadis itu lalu mendekati Haris yang telah duduk dipinggir tempat tidur.
" Kenalkan kak nama saya Asiah ".
Mereka lalu berkenalan.
" Makan dulu ya kak Haris ".
" Iya makasih ya "
Setelah Asiah keluar Haris berdiri dan duduk dikursi kayu didekat meja, diperhatikannya makanan yang dibawa Asiah tadi, ada nasi, gulai ikan dan sayur, perutnya yang memang sudah lapar tiba-tiba berbunya kriuk kriuk, tanpa menunggu lama lagi dia segera menyantap hidangan itu sampai habis.
Selesai makan Haris berdiri di jendela memandang keluar, tampak kebun kelapa yang cukup luas, ada beberapa orang yang sedang mengupas kelapa.
Tidak lama kemudian Asiah kembali masuk membawa pakaian, handuk dan sabun.
" Mandi dulu kak ".
" Iya kak ".
Asiah segera membereskan meja dan membawa piring dan gelas kotor keluar. Selesai mandi Haris keluar dari rumah, ditangga sudah menunggu Asiah.
Mereka kemudian berjalan beriringan keliling kampung, Asiah menjelaskan banyak hal tentang kampung mereka kepada Haris, beberapa orang memandang kearah mereka sambil berbisik-bisik.
Tanpa mereka sadari mereka telah melanggar aturan adat yang melarang laki-laki dan wanita yang belum menikah jalan berduaan.
Malam harinya mereka dipanggil oleh para pemuka adat yang sudah berkumpul dirumah Asiah, rapat adat memutuskan bahwa mereka harus cuci kampung dengan cara dinikahkan.
Dam !!, seperti palu godam menghantam kepala Haris, dia tidak menyangka acara jalan-jalannya yang sekedar ingin mengetahui keadaan kampung harus berakhir seperti ini.
Tentu saja dia tidak berani membantah, percuma saja tidak akan berhasil, tidak mungkin dia bisa menentang adat orang, lebih baik diam saja sambil berfikir bagaimana caranya untuk pergi dari kampung ini.
Pagi harinya ketika mau pergi mandi Haris bertemu dengan Asiah yang sedang termenung duduk ditangga rumah.
" Assalamualaikum, selamat pagi Asiah ".
" Waalaikummusalam, pagi juga kak ".
Asiah menoleh kearah Haris tampak wajahnya sembab seperti orang habis menangis.
" Selesai mandi temani kakak ke pantai ya, ada yang mau kakak katakan ".
" Iya kak ".
Beberapa saat kemudian mereka berjalan kearah pantai.
" Bagaimana pendapat Asiah dengan rencana pernikahan kita ? ".
" Maaf kak, Asiah masih mau sekolah ".
" Kakak juga begitu ".
Haris menarik napas sambil memandang ke laut lepas.
" Apa yang harus kita lakukan kak ? ".
" Jalan satu-satunya kakak harus pergi dari sini ".
Asiah sependapat dengan Haris tapi dia kurang yakin, tidak semudah itu.
__ADS_1
" Tapi bagaimana caranya ?, mungkin kakak akan tertangkap karena ayah pasti tidak tinggal diam ".
" Iya Asiah kalau melalui jalan darat pasti tertangkap, tapi kalau lewat laut mungkin aman ".
" Naik perahu maksud kakak ? ".
" Benar, berangkatnya juga harus tengah malam, biar tidak terkejar lagi ".
Mulailah mereka mempersiapkan segala sesuatunya dibantu oleh kakak laki-laki Asiah yang menentang rencana pernikahan adiknya.
Pada hari yang telah ditentukan sekitar jam 2 malam Haris keluar dari rumah, diluar sudah menunggu Asiah.
" Bagaimana Asiah sudah siap semuanya ? ".
Haris berbisik pada Asiah.
" Sudah kak, perahunya ada dipantai ".
Dengan mengendap-endap mereka berjalan kearah pantai, benar saja disana terdapat sebuah perahu yang didalamnya sudah ada segala macam keperluan termasuk rantang berisi nasi dan lauk pauknya serta beberapa jenis kue kering.
" Kakak pergi dulu ya terima kasih atas semuanya, mohon doanya semoga kakak sampai kerumah dengan selamat, jaga diri kamu baik-baik ".
Haris melambaikan tangan lalu menaiki perahu dan mendayungnya menjauh dari perkampungan.
Asiah berdiri sambil melambaikan tangan, pipinya basah oleh air mata, meskipun hanya beberapa hari dia sangat terkesan dengan Haris.
Haris terus saja mendayung perahunya kearah utara sesuai dengan petunjuk kakak Asiah kemudian berbelok ke kiri masuk kemuara sebuah sungai.
Menjelang subuh dia nenghentikan perahunya didaerah yang cukup lapang, selanjutnya dia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menembus hutan belantara dan membiarkan perahunya hanyut dibawa arus.
Tindakan Haris ini sangat tepat karena satu jam kemudian ayah Asiah menyusul dengan Speed boat yang larinya sangat kencang, mereka menemukan perahu dalam keadaan kosong beberapa kilometer dari tempat itu.
Haris sadar batul bahaya yang mengancam dirinya selama melakukan perjalanan di hutan, terlalu banyak bahaya yang akan dia hadapi.
Dengan perasaan was-was dia melangkahkan kakinya menerobos hutan belantara, hanya berbekal seadanya. Untung dia pernah tinggal dihutan ketika masih kecil dulu sehingga setidaknya dia cukup mengenal kehidupan didalam hutan
Barhari-hari dia berjalan tanpa tahu harus kemana, dia hanya berpedonan pada condongnya matahari, dia harus menuju kesana karena dia yakin rumahnya mengarah kesana.
Perjuangan antara hidup dan mati, dua harus tetap bertahan hidup dengan memakan apa saja yang ada dihutan karena bekal yang diberikan Asiah hanya bertahan untuk beberapa hari saja, tidur dipohon untuk menghindari dari binatang buas, mandi di sungai-sungai kecil yang banyak terdapat didalam hutan.
Kondisi Haris semskin hari semakin melemah, sampai suatu hari dia menemukan sebuah perkampungan dipinggir sungai.
Dengan perasaan gembira dia memasuki perkampungan itu berharap mendapatkan pertolongan, tapi yang terjadi malah sebaliknya dia ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara.
Dua hari lamanya dia didalam penjara untung makannya cukup terjamin sehingga dia dapat beristirahat dengan tenang.
Hari ketiga dia digiring kesebuah lapangan yang terletak ditengah-tengah perkampungan, lalu dengan bertelanjang dada Haris disuruh berjongkok dihadapan para petinggi di kampung itu untuk diadili, disaksikan oleh masyarakat yang berdiri disepanjang pinggir lapangan.
Seorang laki-laki yang masih sangat muda kira-kira sepantaran Haris maju kedepan lalu berdiri tepat dihadapan Haris.
Lama dia memandang wajah Haris, lalu pandangannya beralih kebawah kearah kalung yang dikenakan Haris.
" Dari mana kamu mendapatkan kalung itu ? ".
Orang itu bertanya sambil.menunjuk kalung yang dikenakan Haris
" Aku mendapatkannya dari teman masa kecilku ".
Haris memandang kearah laki-laki itu.
" Siapa nama teman kamu itu ? ".
" Bebukit ".
Laki-laki itu terperanjat lalu berlutut dihadapan Haris.
" Haris ? ".
" Iya aku Haris "
" Aku Bebukit ".
Laki-laki itu langsung merangkul Haris, lalu membawanya kerumah besar yang terdapat disana, kerumunan orang itupun kemudian bubar.
Siapa sebenarnya Bebukit itu, kenapa dia bisa mengenal Haris ?.
Bebukit teman masa kecil Haris, dia adalah seorang anak rimba yang dikenalnya ketika masih tinggal didesa terpencil dipinggir hutan. Sebagai orang rimba Bebukit tinggal jauh didalam hutan belantara, terkadang mereka masuk kedesa untuk menjual hasil hutan dengan cara barter, yaitu ditukar dengan beras, garam dan rokok.
Waktu itulah mereka berkenalan dan menjadi sahabat.
Suatu ketika Bebukit pamitan pada Haris karena mereka akan pindah ke hutan lain yang mereka anggap lebih menjanjikan ( begitulah kebiasaan orang rimba yang hidup secara nomaden/berpindah-pindah ), dia lalu memberikan kenang kenangan berupa kalung dari untaian batu akik yang kemudian dipakai terus oleh Haris.
" Maaf Haris kami terpaksa melakukan itu demi keamanan.
Bebukit lalu bercerita bahwa kampung mereka sudah tidak aman semenjak dia menolak lamaran dari seorang bajak laut yang ingin menjadikan adiknya Seruni menjadi istri yang keempat.
Bebukit sudah menikah dengan anak kepala suku dari kampung tersebut dan diangkat jadi panglima perang.
Lalu Haris memperkenalkan Seruni.
" Ini Seruni yang dulu sering ikut kita bermain ".
__ADS_1
Haris ingat dengan gadis kecil imut yang selalu ikut kemanpun Bebukit pergi, sekarang sudah menjadi gadis yang cantik seperti anggrek hutan yang indah.
Setelah menginap beberapa hari disana dia diantar oleh Bebukit dan beberapa pemuda keluar dari hutan dan kembali kerumahnya.