DERMAGA CINTA TERAKHIR

DERMAGA CINTA TERAKHIR
DERMAGA CINTA TERAKHIR


__ADS_3

Setelah menamatkan sekolahnya di SMA Negri 6 Jogja Atika melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, disinilah dia mengenal Haris yang merupakan kakak tingkat dua tahun diatasnya. Mereka mempunyai hobby yang sama yaitu berorganisasi, keduanya aktif disenat mahasiswa Saat ini dia menjabat sebagai sekretaris senat mahasiswa fakultas ekonomi dimana Haris yang menjadi ketuanya.


Mereka sangat akrab, bahkan orang tua Atika sudah menganggap Haris seperti keluarga sendiri.


Haris sering main kerumah Atika, terutama pada malam minggu sekedar ngobrol-ngobrol atau jalan-jalan keliling kota Jogja.


Seperti malam minggu ini Haris kembali kerumah Atika, mereka sudah janjian untuk makan diwarung lesehan di Malioboro, Haris yang ngajak, dia baru saja menerima honor dari tempatnya mengajar.


Haris menghentikan motornya didepan sebuah rumah yang tampak beda dari rumah-rumah lainnya


terlihat lebih bersih dan rapi.


Disamping kanan tampak tanaman anggrek berderet-deret tertata dengan baik, beberapa tangkai memperlihatkan bunganya yang sedang mekar, ada yang belang-belang seperti macan, merah jambu dan kuning terang.


Tampak pula beberapa tanaman anggrek yang menempel pada dinding rumah dan tembok pagar mempertontonkan bunganya yang sangat indah.


Dihalaman depan terdapat kolam kecil dengan lampu taman berwarna ungu yang bentuknya bilat seperti bulan serta tanaman teratai yang terapung di air kolam dengan bunganya yang putih bersih.


Seluruh halaman depan ditutupi dengan kerikil berwarna putih dan hitam yang ditata membentuk lukisan penari Bali.


Disamping kiri terdapat garasi yang diberi jalan dari semen corcoran yang mengarah ke jalan. Rumah yang berwarna krem itu kelihatan bersih dan asri, tidak tampak sampah dedikitpun.


Haris duduk diruang tamu menunggu Atika selesai


bersiap-siap.


Sambil menunggu Atika keluar, dia memperhatikan suasana diruang tamu, meskipun sudah berulang-ulang duduk disana tetap saja tidak bosan memandangnya, menyenangkan, membuat hati menjadi sejuk. Isi ruang tamu tidak terlalu banyak, tapi cara menatanya sungguh enak dipandang mata, pasti pemiliknya punya selera seni yang tinggi.


Sangat berbeda dengan rumahnya di Jambi, centang perenang, dinding penuh coretan hasil karya adiknya, tamplak meja berkerut-kerut, kusut.


Meja tamu penuh dengan segala macam barang, mulai dari piring, gelas sampai dengan mainan anak-anak, tidak jarang taplak meja basah terkena tumpahan air dari gelas yang tergeletak.


Kalau ada tamu baru sibuk beres-beres, kadang tidak sempat lagi tamu sudah terlanjur masuk, tinggal tersenyum kecut.


Tapi itu dulu, sudah lama dia tidak pulang sejak tamat dari SMA, mudah-mudahan sudah berubah, waktu terkadang bisa membuat orang berubah.


Tidak lama kemudian Atika keluar, merekapun langsung meluncur kearah Malioboro.


Sambil menunggu pesanan datang Hsris memandang kesebrang jalan, tampak pengunjung berjalan hilir mudik tidak putus-putusnya, ramai sekali.


Tiba-tiba matanya membentur seseorang, seorang wanita yang berjalan dengan seorang laki-laki berseragam Taruna Akabri kearah selatan, kearah alun-alun.


Matanya tidak berkedip memandang kearah wanita yang mirip Andini itu sampai menghilang diantara orang banyak.


Aneh, siapa dia sebenarnya ?, mungkinkah Andini atau saudara kembarnya barang kali ?, tapi rasanya tidak mungkinlah, dia kenal betul dengan keluarga Andini, dia anak tunggal tidak punya saudara apalagi saudara kembar, mungkin hanya kebetulan saja, banyak orang yang mirip.


" Siapa mas ? "


Atika yang dari tadi memperhatikan bertanya, Haris tergagap menerima pertanyaan itu.


" Eh anu, aku seperti mengenal wanita itu ".


" Yang mana ? ".


" Sudah tidak kelihatan ".


Atika sepintas melihat ada sesuatu dimata Haris.

__ADS_1


" Mantan ya mas ? ".


Jantung Haris berdegup menerima pertanyaan yang tepat sasaran itu.


" Bukan, hanya teman biasa ".


Atika tidak bertanya lagi tapi dia merasa kalau Hsris menyembunyikan sesuatu darinya.


Selesai makan mereka langsung pulang kerumah Atika, dan setelah ngobrol sebentar Harispun pulang ketempat kosnya.


Pertemuan kedua kalinya dengan wanita yang mirip dengan Andini itu membuat Haris merasa tertantang untuk mengetahui lebih jauh tentang wanita itu. Dia kembali ke gedung induk, berharap bertemu lagi disana, tapi setelah beberapa kali berusaha tanpa mendapatkan hasil, akhirnya dia menceritakanya pada Hendra.


" Kamu yakin kalau wanita itu Andini mantan pacar kamu itu ? ".


" Iya Hen, yakin seyakin yakinnya ".


" Oke, bagaimana kalau kita kesana lagi, mana tahu hari ini hari keberuntunganmu ".


" Baik, mari kita kesana ".


Merekapun bergerak menuju kegedung induk, dan sekali ini dia benar-benar beruntung, tidak lama setelah memarkirkan motornya, tampak mobil sedan warna hitam memasuki halaman gedung induk, sesaat kemudian keluarlah seorang wanita dari pintu depan.


Haris segera bergerak cepat mendekati wanita itu dan menghadang didepannya.


" Andini ".


Wanita itu memandang kearah Haris, untuk sesaat dia terdiam dan mengerutkan kening, tapi hanya sesaat, setelah itu dia melengos dan berjalan mengikuti laki-laki setengah baya yang datang bersamanya yang telah terlebih dahulu masuk ke gedung induk.


Haris terpana, dia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Andini yang seolah-olah tidak mengenalnya, padahal dia benar-benar Andini, tidak mungkin salah.


" Mungkin kamu salah Ris ".


" Tidak mungkin Hen, aku kenal benar dengan dia ".


" Orang yang mirip itu banyak Ris, apalagi di Jogja ini terlalu banyak pendatang, mungkin saja salah satunya mirip dengan Andini ".


" Ah entahlah Hen, tapi aku merasa kalau itu benar-benar Andini ".


Haris kelihatan sangat kecewa.


" Sudahlah, kapan-kapan kita selidiki lagi, sekarang sebaiknya kita makan dulu di warung mbok Joyo, kebetulan aku baru dapat kiriman dari pamanku ".


Merekapun segera beranjak ke warung mbok Joyo. Sambil menikmati hidangan mereka ngobrol.


" Aku rasa kamu jangan terlalu berharap Ris, boleh saja kita mencari tahu tentang wanita itu, tapi siap-siap saja kecewa sebab kalau aku perhatikan raut wajahnya tadi sepertinya dia benar-benar tidak mengenalmu ".


" Iya Hen aku juga merasakannya, cuma aku penasaran saja, masak sih ada orang yang begitu mirip ? ".


" Maaf Ris kalau boleh aku tahu bagaimana perasaanmu ketika bertemu dengan wanita itu ? ".


Haris menarik napas sejenak.


" Andini cinta pertamaku Hen, kami berpisah dengan cara yang buat aku sangat menyakitkan, bayangkan baru satu bulan cinta kami bersatu tiba-tiba harus berpisah karena Andini kena tumor otak dan dilarikan ke Jakarta ".


Haris lalu menceritakan kisah kasihnya dengan Andini.


" Aku ikut prihatin Ris, semoga suatu saat nanti kalian dipertemukan kembali ".

__ADS_1


" Sebetulnya perlahan-lahan aku sudah bisa melupakannya, tapi pertemuanku dengan wanita itu menguak kembali luka lama, terus terang aku sangat mencintai Andini ".


Hendra dapat merasakan apa yang dirasakan Haris, seandainya dia yang mengalaminya belum tentu dia kuat.


Sementara itu Saras atau nama lengkapnya Saraswati, cewek yang mirip Andini itu sedang berdiri didepan jendela kamar kosnya, hari masih sangat pagi baru jam 4 subuh.


Dia sudah bangun setengah jam yang lalu, dia sudah terbiasa bangun pagi untuk sembahyang malam, biasanya setelah itu dia akan membaca ayat suci Al Qur'an menjelang tiba waktu sembahyang subuh, tapi hari ini dia tidak melakukan aktifitas rutinnya itu karena sedang halangan.


Diluar masih gelap, tampak satu-satu tukang becak mengayuh becaknya tanpa penumpang, dilangit bintang-bintang bertaburan seperti kerlap kerlip lampu hias, tampak pula bulan samar-samar tertutup awan.


Fenomena alam yang sangat indah, sungguh menakjubkan, begitu sempurna, terdengar suara lantunan ayat-ayat suci dari masjid tidak jauh dari tempat kosnya.


Kemudian pandangannya beralih ke dalam kamar, ada dua buah dipan, yang satu tempat tidurnya yang satu lagi tempat tidur teman sekamarnya Hartini.


Diperhatikannya teman sekamarnya itu, kelihatan nyenyak sekali, wajahnya polos seperti wajah bayi.


Hartini orangnya cantik tapi galak, jangan coba-coba mengganggu, tendangan taekwondo bisa mendarat dikepala. Dia memang menguasai olah raga bela diri dari Korea itu, pemegang sabuk hitam, bahkan pernah ikut PON meskipun tidak mendapat medali.


Meskipun galak Hartini sangat lucu, setidaknya begitu menurut Saras, dia suka tertawa melihat tingkah Hartini yang spontan dan lucu.


Hartini paling takut dengan yang namanya tikus, biar sekecil apapun makhluk itu.


Pernah sekali ketika sedang asyik ngobrol tiba-tiba Hartini menjerit dan melompat keatas meja, ternyata ada tikus lewat didekat kakinya, mending kalau besar, hanya tikus kecil, tikus clutut lagi.


Hartini kuliah di Fakultas Sosisl Politik UGM jurusan Hubungan Internasional, cita-citanya ingin menjadi diplomat ulung,kerja di kedutaan, berpindah-pindah dari satu negara ke negara yang lain.


Hartini berasal dari kabupaten Boyolali, kira-kira 20 km dari kota Solo tempat tinggal Saras, letaknya dikaki gunung Merapi.


Orang tuanya berprofesi sebagai peternak sapi perah, sapinya cukup banyak, lebih kurang 20 ekor.


Saras pernah diajak Hartini main kerumahnya, sunghuh menyenangkan, udaranya dingin, penduduknya hidup makmur karen tanahnya yang sangat subur.


Kembali Saras memandang keluar jendela, sudah mulai agak terang, mbok-mbok bakul tampak naik becak menuju kepasar, beberapa angkot juga mulai bergerak mencari penumpang.


" Lagi ngapain Saras, kelihatan asyik benar ".


Seseorang memegang bahu Saras dari belakang.


" Eh Har, sudah bangun ya ".


" Lagi mikirin Handoko ya ? ".


" Ngawur ".


" Terus ngapain kamu termenung gitu ? ".


" Kemarin ada yang menghadangku di gedung induk ".


" Siapa ? ".


" Aku juga tidak tahu, dia seperti.mengenal aku, anehnya dia memanggil aku dengan nama Andini ".


" Apa kamu tidak mengenalnya ? ".


" Rasanya aku belum pernah melihatnya ".


" Oke Saras aku salat dulu ".

__ADS_1


Hartini segera beranjak untuk melaksanakan salat subuh, kembali Saras sendiri.


__ADS_2