Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Istikharah


__ADS_3

"Aku mengakui semua kesalahanku. Aku tidak menyangkalnya. Aku sudah sangat bersalah dan berdosa. Telah menyakiti dan menyia-nyiakan istriku sendiri baik dengan ucapan dan perbuatan." Alvian terlihat penuh sesal.


"Aku dibutakan oleh cinta. Cinta yang menjerumuskanku ke lembah dosa. Karena cinta itu, aku mempermainkan kesakralan pernikahan, karena cinta itu aku mengingkari statusku sebagai suami, mengingkari hak dan kewajiban pada istriku sendiri."


"Namun aku beruntung. Aisha terus mengingatkan aku akan kesalahanku. Dengan caranya dia membuatku sadar akan dosa yang telah aku lakukan."


Abah tampak manggut-manggut.


"Lambat laun aku mulai menyadari kesalahanku, bersamaan dengan itu, aku mulai menyadari juga jika Aisha istriku wanita istimewa, terbaik dan berharga. Aku mulai menyimpan rasa untuknya."


"Aku mulai mencintainya, lalu bertekad untuk memperbaiki semuanya. Menjalankan rumah tangga yang seharusnya dengannya hingga kemudian akhirnya kalian semua mengetahuinya sekarang." Alvian menyudahi perkataannya.


Semua orang tampak terdiam.


"Perjodohan. Ada yang ikhlas menerima lalu mencintai tanpa terpaksa, hingga akan menjalani rumah tangga dengan bahagia. Jika berat menerima maka pernikahan akan berakhir menjadi prahara. Wajar karena mempertemukan dua insan yang awalnya tak saling kenal apalagi cinta," ucap Aisha sambil menundukkan wajahnya.


"Aku memaklumi segala kesalahan dan penolakannya dulu. Tak mudah bagi kami untuk saling menerima begitu saja. Terutama untuk suamiku yang hatinya sedang tertuju pada wanita lain. Sekali lagi aku maklum, aku yang hadir diantara mereka, bukan dia yang hadir diantara kami." Aisha melihat Anita.


"Sempat terpikir untuk menyerah, namun akhirnya Allah menunjukkan kuasa-Nya. memberinya hidayah untuk menyadari kesalahannya, membalikkan hatinya untuk menerimaku sebagai istrinya."


"Kami sedang proses menuju rumah tangga yang sesuai syariah, sebelum menjalankan hak dan kewajiban, kami terlebih dahulu sedang saling memperbaiki dan memantaskan diri."


"Aku ingin kalian mengerti akan hal itu." Aisha menutup perkataannya.


"Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Alvian berkata dengan sungguh-sungguh.


"Tapi bagaimana dengan wanita itu?" Ali menunjuk Anita.


"Aku sudah memutuskan hubungan kami," jawab Alvian cepat.


"Aku tak terima. Aku sudah menjalin hubungan dengannya selama hampir lima tahun, aku mau tak dicampakkan begitu saja." Anita bersuara.


Semua orang melihatnya dengan geram.


"Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya ibu dengan marah.


"Anak saya sudah mengatakan jika berhubungan denganmu adalah kesalahan terbesarnya. Dia sudah memutuskan hubungan denganmu, kenapa kamu masih bersikeras?"


"Aku ingin dia tangung jawab." Anita melihat Alvian.


Semua orang kaget.


"Tanggung jawab?" tanya ibu lagi.


"Iya. Tanggung jawab. Lima tahun berpacaran tidak mungkin kan tidak pernah terjadi sesuatu di antara kami. " Anita tersenyum sinis.


Semua orang tampak syok mendengarnya, terlebih dengan Ayah dan Ibu.

__ADS_1


Sementara Alvian memelototi Anita.


"Memangnya apa yang sudah terjadi?" tanya Alvian geram.


"Al. Aku tahu jika kamu akan menyangkalnya."


Alvian langsung berdiri berjalan menghampiri Anita.


Namun Aisha yang juga berdiri menahannya. Memegang tangannya.


"Biarkan saja. Ingat tekadnya untuk memisahkan kita? Dia akan melakukan apapun untuk itu." Aisha melihat Alvian.


Alvian kembali melihat Anita.


"Aku memang minim ilmu agama. Tapi bukan berarti aku tidak tahu dosa. Aku mengakui salah telah menjalin hubungan denganmu. Tapi selama itu aku selalu menghormatimu, tak pernah menyentuhmu karena tahu itu bukan hak-ku."


Anita tampak serba salah.


"Kenapa kamu bisa pernah menyukai wanita seperti ini, tak punya harga diri, merendahkan diri sendiri, pandai berdusta dan tak tahu malu."


Anita menunduk marah dan kesal.


Dia lalu berdiri dan berjalan meninggalkan semuanya. Hatinya seakan tidak bisa lagi menerima karena dari tadi ibu Alvian terus menghinanya. Paling tidak dia merasa sudah puas. Dia tahu jika tak akan mudah bagi keluarga Aisha untuk memaafkan Alvian begitu saja.


Setelah kepergian Anita semua orang nampak terdiam sejenak.


Sesekali mereka semua tampak melihat Abah. Menunggunya untuk mengambil keputusan.


"Aku minta maaf." Ayah menundukkan kepalanya.


"Menginginkan wanita yang shalihah seperti putrimu untuk menjadi menantuku, sementara putraku sendiri sangatlah tidak pantas untuk menjadi menantumu."


"Aku sangat malu."


Abah kemudian memutuskan jika dia tak akan mengambil keputusan sekarang, dia meminta waktu untuk berpikir dan ber-istikharah, tak ingin mengambil keputusan terburu-buru dan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.


***


Aisha masuk kembali ke kamarnya.


Membuka cadar lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur, dia lalu meraba keningnya. Merasakan jika tubuhnya kembali demam, dan perutnya sedikit sakit. Namun dia menahannya dan nampak tak begitu memperdulikannya, lebih memikirkan keputusan apa yang akan Abah putuskan nanti tentang rumah tangganya.


Lama kelamaan perutnya semakin dirasa sakit. Dengan keringat dingin yang bercucuran dia mencoba untuk bangun dan memanggil adiknya.


Beberapa saat kemudian.


Ummi mengompres kening Aisha yang panas, sambil menahan air matanya, dengan penuh kasih sayang Ummi mengelus kepala Aisha perlahan.

__ADS_1


"Akhir-akhir ini tubuhmu seringkali sakit Nak," ucap Ummi lirih.


Zainab datang bersama Siti.


"Bagaimana Ummi apa panasnya sudah turun?"


Ummi mengangguk


"Iya. Setelah minum obat tadi panasnya sudah turun."


Zainab menghampiri Aisha.


"Dik. Jangan banyak pikiran, serahkan semuanya pada Allah."


Aisha mengangguk.


__


Seminggu berlalu.


Alvian terlihat sangat frustasi, sudah sejak tiga hari yang lalu dia tak bisa menghubungi Aisha. Teleponnya tidak aktif sehingga mereka putus komunikasi.


Dia diliputi berbagai macam dugaan, berpikir jika mungkinkah Aisha menghindarinya, mungkinkah juga jika itu karena kehendak orang tuanya yang memutuskan jika mereka tetap harus berpisah.


Alvian gelisah. Dia merasa tak sanggup jika itu terjadi. Dia tak ingin berpisah dengan istrinya. Dia ingat tekadnya untuk mempertahankan rumah tangganya.


Alvian segera berjalan menuju parkiran mobil, malam yang larut tak menghentikan niatnya. Dia akan kembali pulang dan menemui Aisha.


Mobil melaju kencang, di tengah sunyinya malam, Alvian mengendarai kendaraan di tengah kegalauan.


Hingga akhirnya dia tiba di depan gerbang Pondok Pesantren, Alvian melirik jam di tangannya yang menunjukkan pukul tiga dini hari.


Dia merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi, hingga pagi tiba dia akan menunggu di dalam mobilnya.


Alvian ikut shalat subuh berjamaah di Masjid, mengingat banyaknya santri, dirinya tak terlihat oleh kedua kakak Aisha yang juga ada disana, setelah itu dia kembali ke dalam mobilnya, akan menunggu di dalam mobilnya lagi hingga jika matahari sudah terang, dia akan menemui istrinya.


Pukul 07. 00


Alvian yang akan turun dari mobil terhenti ketika melihat dua mobil milik mertuanya keluar gerbang, dia berpikir kemana mereka akan pergi mengingat hari yang masih pagi.


Entah mengapa rasa-rasanya dia ingin mengikuti, walaupun tak yakin jika Aisha berada di dalam mobil namun rasa keingintahuannya begitu besar mengetahui kemana mereka akan pergi.


Alvian kaget ketika tahu jika mereka menuju rumah sakit. Sesampainya disana. Dia melihat satu persatu keluarga mertuanya turun dari mobil, ada Abah dan Ummi juga kakak-kakak iparnya. Namun tak jua melihat istrinya.


Dia merasa heran siapa yang sakit, melihat Abah terlihat baik-baik saja.


Alvian yang penasaran turun dari mobil dengan diliputi pada penasaran dia akhirnya bertanya pada customer servis.

__ADS_1


"Sepertinya yang barusan adalah keluarga pasien dari Ibu Aisha."


Alvian kaget.


__ADS_2