
Nayla terlihat salah tingkah.
"Aku menyesal menikah dengannya," ucap Nayla sambil membuang napas dengan kasar.
Aisha kaget.
"Dulu memang aku sangat mencintainya, karena itulah aku menolak ketika ayahku akan menjodohkan aku dengan laki-laki pilihannya, aku kabur dengan suamiku. Hingga akhirnya ayahku luluh dan menikahkan kami," jelasnya lagi.
Aisha mendengarkan dengan seksama.
"Awalnya memang kami bahagia, aku yakin jika hidup dengan laki-laki pilihanku sendiri aku akan bahagia. Tapi nyatanya." Nayla mengangkat bahunya.
"Apa yang membuatmu tidak bahagia?"
"Intinya adalah sebenarnya kami hanya belum siap membina rumah tangga. Aku masih ingin menikmati hidup dengan teman-temanku, begitu juga dia dengan pergaulannya, temannya dan hobinya."
"Ego kami masih tinggi, seperti katamu kami sering bertengkar hanya karena hal sepele, seperti tadi,"
"Kamu tahu, aku menyesal menikah dengannya, aku juga menyesal telah menyakiti ayahku demi memilihnya." Nayla menunduk.
Aisha menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Adanya penyesalan untuk menyadarkan bahwa yang telah berlalu tidak dapat diulang."
Nayla langsung melihat Aisha.
"Daripada menyesal, kenapa tidak kamu coba untuk memperbaiki apa saja yang salah dalam dirimu dan rumah tanggamu."
"Pernikahan bahagia tidak datang dengan sendirinya, pernikahan bukan akhir dari cinta kalian, tapi justru awal dari sebuah perjalanan panjang."
"Cobalah untuk menyelaraskan perbedaan di antara kalian, bukan semakin memperbesarnya."
Nayla tertegun.
***
Siang hari.
Nayla kembali masuk ke dalam rumah Aisha setelah mengetahui jika suaminya tak kunjung membuka pintu rumah mereka, sambil bersungut-sungut dia menghampiri Aisha yang sedang memasak.
"Dia pasti ketiduran." Nayla terlihat kesal.
"Duduklah. Kita makan siang dulu."
Nayla duduk di kursi makan.
Aisha sudah selesai memasak, setelah menyajikan semua masakan di meja makan, dia menyuruh Nayla untuk makan duluan jika mau karena dirinya ingin melaksanakan shalat Dzuhur terlebih dahulu.
Nayla memutuskan untuk menunggu Aisha saja, setelah beberapa saat melamun dia merasa haus, lalu berdiri mendekati kulkas untuk mencari minuman disana.
Sementara itu, Alvian merasa heran melihat pintu rumahnya sedikit terbuka, dia lalu masuk ke dalam, berjalan sambil melihat sekeliling hingga akhirnya dia sampai di dapur.
Alvian tersenyum melihat Aisha yang sedang berdiri di depan kulkas dengan penampilan baru nan seksinya, paduan tank top dan celana pendek terlihat begitu menggodanya. Merasa istrinya itu belum menyadari kedatangannya, dia bermaksud untuk mengagetkannya.
Alvian berjalan lebih dekat pada istrinya yang tampak sedang mencari sesuatu di dalam kulkas, setelah dekat, kedua tangannya terbuka ingin memeluk sang istri dari belakang seperti biasanya.
__ADS_1
"Sayang." Hampir saja dirinya memeluk, Alvian kaget mendengar suara istrinya dari arah lain, dia langsung melihat arah suara dimana Aisha baru keluar dari kamar mereka sedang berjalan ke arahnya.
Dia langsung menurunkan tangannya sambil mundur menjauh, apalagi ketika wanita di depannya itu membalikkan tubuhnya. Ternyata dia telah salah mengira, wanita di depannya ini ternyata bukan Aisha tapi orang lain.
Alvian langsung beristighfar. Menyadari jika hampir saja dia memeluk wanita itu. Alvian merutuki kebodohannya yang tidak bisa membedakan antara istrinya dan orang lain.
Dia lalu menurunkan pandangannya ketika wanita itu justru malah tersenyum melihatnya.
Nayla yang awalnya kaget, terpana melihat Alvian di depannya, dia tidak menyangka jika selain dokter, Aisha juga sangat beruntung memiliki suami yang begitu tampan.
"Sayang. Kamu sudah pulang?" Aisha mencoba menenangkan suaminya yang dia tahu jika sang suami sedikit syok.
"Siapa dia?"
"Dia tetangga kita." Aisha memegang tangan sang suami. "Nanti aku ceritakan," ucapnya kali ini sedikit pelan sambil tersenyum.
Alvian mengangguk.
"Sayang. Aku masuk ke kamar dulu." Alvian melihat istrinya.
Aisha mengangguk.
Alvian berjalan dengan tanpa melihat Nayla.
Nayla tanpa sadar terus memandangi Alvian hingga menghilang memasuki kamar.
"Tadi pasti dia salah mengira. Dikiranya kamu itu aku."
Nayla tersenyum, sambil berjalan menghampiri kursi lalu duduk.
"Loh. Kamu?"
"Aku nanti saja bareng suamiku."
"Kalau begitu aku juga nanti saja bareng kalian."
Aisha tersenyum.
"Aku tak yakin suamiku mau makan bareng denganmu."
"Loh kenapa?"
"Penampilanmu pasti membuat suamiku tak nyaman."
Nayla langsung melihat bajunya.
Aisha lalu pergi meninggalkannya.
Di dalam kamar, Alvian tampak sedang melaksanakan shalat, Aisha dengan sabar menunggunya.
Setelah selesai Aisha langsung menghampiri suaminya.
"Maaf." Aisha memeluk suaminya. Dia merasa bersalah telah membuat suaminya salah mengira hingga hampir saja sang suami memeluk wanita lain di hadapannya.
"Kenapa dia ada disini?" Alvian mencium kening istrinya.
__ADS_1
Aisha lalu menceritakan semuanya.
"Tapi. Apa dari belakang dia mirip denganku?" Aisha melihat suaminya.
"Rambut kalian yang sama yang membuatku berpikir jika dia adalah kamu. Maaf. Seharusnya aku bisa membedakan istriku sendiri dan orang lain."
Aisha tersenyum.
"Tidak apa-apa. Aku yang salah karena telah membuatnya ada di rumah kita. Tapi itu karena aku hanya ingin membantunya saja."
Beberapa saat kemudian
Aisha keluar kamar dan tak melihat Nayla dimana-mana, lalu dia berpikir jika pasti dia telah kembali ke rumahnya.
Aisha memanggil suaminya, sebelum Alvian kembali ke Rumah Sakit, mereka makan siang bersama.
***
Zaidan yang sedang menunggu antrian untuk menyelesaikan administrasi kakaknya tak sengaja melihat Anita yang berjalan melewatinya. Hingga tak jauh dari sana terdengar beberapa perawat yang sedang berjalan nampak membicarakannya.
"Sepertinya dokter Anita kini sudah kembali waras ya, setelah kemarin-kemarin sering membuat keributan karena ditinggalkan pacarnya," ucap salah satu orang.
"Iya. Untung saja dia kembali diterima kerja lagi disini setelah dipecat langsung oleh direktur Rumah Sakit."
Zaidan sedikit kaget mendengar itu semua. Dia lalu memilih untuk tak menghiraukannya karena kini gilirannya dipanggil petugas administrasi.
Selesai membayar, Zaidan berjalan menyusuri koridor menuju ruangan kakaknya, namun di ujung koridor dia kaget melihat Anita sedang memarahi tiga orang perawat yang tadi membicarakannya.
"Kalian pikir aku tak tahu jika kalian terus membicarakan aku?" Anita melihat ketiganya.
Ketiga perawat itu nampak ketakutan hingga menundukkan kepalanya.
"Aku hanya berharap apa yang terjadi padaku tak terjadi pada kalian." Anita lalu menyuruh ketiganya untuk pergi.
Sepeninggal mereka Anita tampak menutupi wajahnya dengan kedua tangan, ketika dia membukanya dia tersentak melihat Zaidan sudah berdiri di hadapannya.
Anita yang rupanya menangis langsung membalikkan badannya, membelakangi Zaidan sambil menyeka air matanya.
"Aku harap kamu menjadi wanita yang patah hati tapi berubah menjadi lebih baik lagi menjadi wanita yang ditinggalkan tapi menjadi lebih mengagumkan ."
Anita sejenak meresapi perkataannya, dia lalu membalikkan badannya, namun ternyata Zaidan telah pergi meninggalkannya.
***
Aisha dan suaminya sedang bercengkrama di atas tempat tidur, sambil memeluk suaminya Aisha bertanya tentang pekerjaan di Rumah Sakit hari ini.
"Sayang. Aku ingin membeli rumah," ucap Alvian tiba-tiba.
"Rumah?"
"Iya. Sebenarnya aku sedang mengumpulkan uang agar bisa membeli rumah yang layak untukmu dan anak-anak kita nanti. Setelah mempunyai anak aku tak ingin kita tetap tinggal disini. Aku ingin mempunyai rumah yang mempunyai halaman walaupun tidak luas paling tidak nanti anak-anak kita bisa bermain disana."
Aisha tersenyum.
"Kita punya keinginan, Allah punya pengabulan. Kita punya impian, Allah punya kehendak. Kita punya kebutuhan, Allah Maha mencukupi."
__ADS_1