
Nurul langsung terdiam.
"Merendahkan orang lain tak menjamin dirimu lebih tinggi, menjelekkan orang lain tak menjamin dirimu lebih baik, Menghina orang lain tak menjamin dirimu lebih mulia. Jangan lupa jika kita merendahkan dan menghina maka kitalah sebenarnya pemilik kosakata rendah dan hina itu. Sedangkan yang kita hina bisa jadi dia lebih mulia di mata Allah."
"Yang kelihatannya baik belum tentu baik, yang kelihatannya buruk belum tentu buruk, jangan dengan mudahnya menilai seseorang, terkadang sampul bisa berbanding terbalik dengan isinya." Aisha tersenyum.
Nurul makin dibuat tak berkutik.
"Bukan salah dokter Anita Zaidan tidak melanjutkan proses ta'aruf kalian, alih-alih menyalahkannya mengapa anda tidak sebaiknya untuk introspeksi diri sendiri saja? mencari tahu apa hal yang membuat Zaidan tidak mau menikahi anda."
"Kenapa aku harus mencari tahu? Alasannya sudah pasti karena wanita ini yang menggagalkannya." Nurul melihat Anita dengan kesal.
Anita tampak kaget, berbeda dengan Aisha yang hanya tersenyum sambil menghampiri Nurul lebih dekat.
"Manusia memang lebih suka mencari pembenaran, daripada mengakui dan memperbaiki diri."
"Jadi kebih baik sibuk memperbaiki diri sendiri daripada sibuk menyalahkan orang lain. Saya yakin jika anda tahu persis jika dokter Anita bukanlah penyebabnya karena aku yakin jika anda juga tahu kalau mereka baru kenal beberapa bulan yang lalu."
Nurul langsung terdiam malu. Dia lalu melihat sekeliling dimana semua orang melihatnya sinis.
Nurul melihat Aisha dan Anita sekilas dia lalu pergi dengan wajahnya yang terlihat sangat kesal, diikuti oleh tatapan mata orang-orang yang ada disana.
_____
Anita menangis memeluk Aisha dengan erat.
"Maafkan aku," ucapnya berkali-kali.
"Apa yang harus aku maafkan? Memangnya kamu salah apa?" tanya Aisha heran.
Anita melepaskan pelukannya, dia melihat Aisha sambil menyeka air matanya.
"Nurul itu aku dulu, yang tidak rela melepas Alvian padamu."
"Kini aku merasakan apa yang kamu rasakan waktu itu, dipermalukan di hadapan semua orang, dihina dan direndahkan. Maafkan aku."
Aisha tersenyum.
"Orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah membuat kesalahan, orang yang baik justru adalah orang yang pernah berbuat salah lalu memperbaikinya. Dan itulah dirimu sekarang. Perlakuanmu dulu padaku aku sudah melupakannya, kalau tidak bagaimana kita bisa berteman baik seperti ini?"
__ADS_1
Anita menyeka air matanya.
"Aku sangat beruntung bisa mengenalmu, Terima kasih sudah melupakan semua perlakuan burukku padamu, sudah memaafkanku dan mengajariku banyak hal."
***
Nurul tertunduk ketika Amira menatapnya dengan marah.
"Aku mengatakan semuanya padamu agar kamu tak mengharapkan adikku lagi karena dia sudah menentukan pilihannya dengan mantap memilih Dokter Anita."
"Tapi kamu malah mendatangi dokter Anita dan marah-marah padanya?" Amira terlihat sangat kecewa.
Nurul menitikkan air mata.
"Sikapmu ini semakin membuatku yakin jika keputusan adikku untuk tidak menikahimu itu sangat tepat."
Nurul yang sangat sedih dengan ucapan Amira hanya semakin menundukkan kepalanya.
Sementara Nela, kakak Nurul, sahabat Amira hanya terdiam saja, dia tidak bisa mengatakan apapun karena tahu jika adiknya memang salah.
"Aku hanya kecewa. Kecewa akan keputusannya yang tidak mau menikahiku, kecewa karena dia lebih memilih wanita yang baru saja berhijrah itu dibanding aku. Padahal aku sangat mengharapkan jika dialah yang akan menjadi imamku. Aku juga sudah terlanjur jatuh hati padanya." Untuk kalimat terakhir Nurul mengatakannya dengan malu-malu.
"Wajar jika kamu kecewa, tapi alangkah lebih baiknya jika kamu memilih untuk introspeksi diri, kenapa Zaidan lebih memilih wanita yang baru berhijrah itu dibandingkan kamu."
"Dan untuk perasaanmu. Semoga Allah mengirimkan lelaki yang lebih baik dari adikku," ucap Amira.
Sementara itu.
Zaidan yang menunggu di mobil terlihat sangat gusar, dia hanya menatap layar ponselnya melihat deretan nomor telepon Anita. Nomor yang baru ada di kontak ponselnya beberapa hari lalu, namun tak pernah sekalipun dia mencoba menelepon atau mengirimkan pesan padanya
Namun kali ini, ingin rasanya dia menelepon Anita dan meminta maaf atas perbuatan Nurul padanya, akan tetapi dia tahu jika dia tak boleh melakukan itu, sebelum menikah keduanya masih bukan mahram dan tetap harus menjaga jarak hingga ijab qobul dilafalkan, dan dia tahu pasti bahwa hukum lawan jenis berbicara melalui telepon tanpa adanya keperluan penting adalah haram. Namun bila adanya keperluan mendesak dan tidak adanya khalwat maka hukumnya boleh.
Zaidan lantas memilih untuk mengiriminya pesan saja, dia lalu menulis pesan pertamanya untuk sang calon istri.
'Kejadian tadi siang karena kesalahanku. Maafkan aku. Aku mohon perluaslah lagi rasa sabarmu, latih terus ikhlasmu, Lapangkan dadamu, berdoalah terus pada-Nya, Yakinlah. Semuanya akan baik-baik saja. Zaidan.'
Anita yang baru saja memeriksa pasien mengambil ponselnya karena ada pesan yang masuk.
Wajahnya tersenyum seketika ketika dia tahu jika Zaidan yang mengiriminya pesan.
__ADS_1
Hatinya yang sedari tadi gundah karena kejadian tadi siang menjadi tenang seketika, dia kembali membaca pesan itu berulang kali hingga membuatnya benar-benar melupakan kegelisahan hatinya.
***
Alvian terbangun tengah malam karena menyadari jika istrinya tidak ada di sampingnya, dia lalu melihat sekeliling kamar namun tak menemukan Aisha disana.
Dia lantas beranjak dari tidurnya, dengan masih setengah mengantuk dia mencari keberadaan istrinya di luar kamar.
Samar-samar dia mendengar suara istrinya tengah mengaji, Alvian langsung menghampiri arah suara dimana ternyata Aisha tengah berada di mushalla kecil rumah mereka.
Aisha begitu khusyuk mengaji, terdengar merdu dan syahdu Walau dengan suara yang sedikit bergetar dan diselingi dengan isakan tangisnya.
Alvian memperhatikan sejenak, dia berdiri terpaku merasakan jika istrinya pasti tengah bersedih karena mengingat Almarhum Abah.
Dia lalu berjalan menghampirinya, dengan perlahan dia duduk di samping Aisha.
Menyadari kehadiran suaminya, Aisha langsung berhenti mengaji sambil menyeka air matanya.
"Maaf. Apa aku membangunkanmu?" tanya Aisha dengan suara parau.
Alvian menggelengkan kepalanya pelan.
"Ada apa?" tanya Alvian lembut sembari lebih mendekatkan diri pada istrinya.
Aisha langsung menunduk.
"Aku bermimpi Abah, dia datang menemuiku," jawabnya menahan tangis.
Alvian langsung memeluk Aisha, membiarkan istrinya itu menangis di pelukannya.
Aisha mulai terisak. Alvian semakin mengeratkan pelukannya.
"Rasa rinduku akan Abah terpuaskan ketika aku bermimpi Abah datang menemuiku, memeluk dan menciumiku, dia juga memegang perutku dan ikut berbahagia atas kehamilanku."
"Aku sangat bahagia, namun tiba-tiba aku terbangun dan menyadari itu semua hanyalah mimpi semata, tidak nyata." Aisha semakin terisak.
Alvian mencoba menenangkan istrinya.
"Kepergian Abah membuatku mengerti jika rindu yang paling menyakitkan adalah kepada orang yang telah tiada."
__ADS_1