Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Jatuh Cinta


__ADS_3

Ibu Anita dan suaminya menatap putrinya dengan heran.


"Berhenti kerja?"


"Iya Ibu. Ayah. Maafkan Nita. Nita ingin belajar ilmu agama dulu di sebuah pesantren."


Ibu Nita melirik suaminya sekilas, lalu kembali melihat putri kesayangannya yang sudah beberapa hari ini merubah penampilannya dengan berpakaian syar'i.


Tak dia pungkiri, keputusan putrinya untuk menutup aurat serta merta membawa perubahan positif yang cukup signifikan, salah satunya membuat putrinya itu tampak lebih dewasa dari sebelumnya.


"Kamu yakin? Kariermu sedang sangat bagus, sayang kalau ditinggalkan begitu saja." Ayah tiri Anita bersuara.


Anita menjawab hanya dengan anggukan kepala saja.


Ibu Anita mendekati putrinya..


"Baiklah kalau itu sudah jadi keinginanmu, ibu dan ayahmu akan mendukung apapun asalkan itu yang terbaik untukmu."


Anita memeluk ibunya.


"Terima kasih ibu."


Sementara sang ayah tiri menepuk-nepuk pundak Anita dengan perlahan. Sama seperti istrinya dia akan mendukung apapun itu keputusan Anita, karena walaupun dia bukan anak kandungnya, namun dirinya tetap menyayangi Anita seperti putrinya sendiri.


***


Anita terharu karena disambut dengan hangat oleh Lela dan seluruh keluarganya, mereka semua menyambutnya dengan gembira, seolah-olah sudah benar-benar melupakan semua perbuatannya tempo hari yang telah mencoba merusak rumah tangga Aisha.


Ummi membawa Anita ke dalam rumah, menunjukkan kamar yang sudah dia sediakan untuknya.


"Tidak Ummi. Aku akan tinggal bersama para santri lainnya saja. Aku tidak mau tinggal disini dan merepotkan Ummi sekeluarga."


Ummi langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak Nak. Lebih baik kamu tinggal bersama kami disini."


"Tapi Ummi..."


"Tidak Nak. Kamu sudah Ummi anggap anak Ummi, jadi kamu harus tinggal disini bersama kita, ini juga pesan Aisha pada kami semua jika kamu harus tinggal bersama kami."


Anita menyerah, walaupun merasa tidak enak hati, malu dan sungkan, tapi akhirnya dia bersedia untuk tinggal disana.


Melihat perlakuan mereka semua Anita merasa beruntung telah dipertemukan dengan orang-orang baik, yang tidak dapat dipungkiri bahwa berkat mereka jugalah dirinya bisa mendapatkan hidayah hingga kini dia berhijrah.


Sama seperti Aisha, semua saudara-saudaranya juga tak kalah baik dan ramah, mereka dengan senang hati menerima kedatangan Anita, terlebih setelah mengetahui maksud dan tujuannya, mereka langsung terharu dan merasa takjub akan niat baiknya untuk belajar ilmu agama lagi hingga rela meninggalkan kariernya sebagai seorang dokter yang sedang berkembang.


"Apa kamu sudah siap berhijrah?" tanya Zainab yang ternyata seusia dengan Anita.


Anita sejenak terlihat bingung mendengar pertanyaan Zainab.


"Aku siap," jawab Anita yakin.


Zainab tersenyum.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Tapi yang harus kamu tahu jika tiada hijrah tanpa ujian. Hijrah ibarat obat yang pahit, tapi sebenarnya itu untuk kesembuhan kita sendiri, untuk keselamatan dan kebaikan kita di dunia dan akhirat nanti. Siapkan dirimu dari cacian, makian, hinaan, ejekan dan mungkin perkataan 'sok alim' dari orang-orang sekitarmu."


Anita terdiam, meresapi perkataan Zainab.


"Hijrah bukan hanya sekedar berpakaian syar'i, ada akhlak dan perilaku yang juga dituntut harus syar'i, karena setelah hijrah, masih ada istiqomah yang pasti dipertanyakan."


"Insya Allah. Istiqamah memang butuh perjuangan, sesulit apapun aku akan bertahan."


***


Alvian terlihat fokus menatap layar laptopnya, sudah beberapa jam ini dia duduk di meja kerjanya dengan serius, karena malam yang semakin larut, Aisha menghampiri suaminya, mengajaknya untuk beristirahat.


Alvian malah menarik istrinya untuk duduk di pangkuannya.


"Sebentar lagi sayang. Aku harus mempelajari penyakit dari pasien yang akan aku operasi besok."


Aisha yang melingkarkan tangannya pada leher sang suami, ikut menatap layar laptop dimana dia sama sekali tak mengerti akan banyaknya istilah medis yang tertera disana.


"Sudah malam, besok saja sesudah shalat subuh dilanjutkan lagi, sekarang sebaiknya kita tidur," ucap Aisha lagi mengingatkan suaminya.


"Baiklah sayang." Alvian mematikan laptopnya, dia lalu mendekap erat tubuh sang istri dengan kedua tangannya sambil menciumi Aisha dengan mesra.


"Aku mencintaimu," bisik Alvian berkali-kali.


"Apa arti cinta menurut ilmu kedokteran?" tanya Aisha usil.


Alvian terlihat berpikir.


"Jatuh cinta adalah ketika hormon oksitosin meningkat, hormon yang membuat perasaan sangat gembira sampai-sampai menyebabkan jantung berdetak kencang dan telapak tangan berkeringat. Saat seseorang mengalami jatuh cinta, kondisi tubuhnya dibanjiri dengan beberapa hormon yang menghasilkan perasaan yang senang, obsesi dan juga kedekatan. Jatuh cinta memang berawal dari mata, namun dari mata perasaan itu di proses melalui pikiran," jawab Alvian panjang lebar.


"Kalau menurutmu apa itu cinta?" tanya Alvian balik.


"Cinta adalah suatu perasaan kasih sayang yang merupakan fitrah manusia dan juga karunia Allah dalam penciptaan alam semesta. Cinta itu hanya kepada Allah, cinta itu kepada apa yang dicintai oleh Allah, cinta itu untuk dan karena Allah."


"Jadi aku juga mencintaimu karena Allah," lanjut Aisha lagi.


Alvian tersenyum.


***


Nayla seperti biasa berdandan secantik mungkin, tekadnya yang ingin menarik perhatian Alvian rupanya tak surut walaupun dia tahu jika Aisha sudah mengetahuinya.


Dia yang sangat percaya diri akan kecantikan dan kemolekan tubuhnya, merasa yakin jika Alvian akan tergoda. Hal itu dia lakukan karena ingin Alvian menjadi miliknya. Apalagi setelah pertengkaran terakhir dirinya dan suaminya, sang suami tidak pulang hingga saat ini, yang lantas kemudian dia yakini jika suaminya telah memutuskan untuk pergi meninggalkannya.


Karena itu dia harus segera mencari pengganti yang lebih baik dari suaminya, sebagai pengobat rasa kecewa keluarganya dulu karena telah memilih lelaki yang salah, maka kali ini dia harus memperkenalkan seorang pria istimewa yang akan membuat ayah dan seluruh keluarganya bangga.


Dan menurutnya jika Dokter Alvian adalah lelaki yang tepat. Dia sosok pria yang sempurna untuk dijadikan suaminya.


Walaupun tahu jika yang dilakukannya salah, namun demi kebahagiaannya dan seluruh keluarganya, dia rela melakukan apapun, termasuk merebut milik orang lain. Apalagi yang dia lakukan kini bahkan sudah lumrah, seorang wanita merebut suami orang lain, seperti yang sudah dilakukan beberapa orang temannya.


Nayla berdiri di depan pintu menunggu Alvian keluar dari rumahnya.


Beruntung, tak berapa lama Alvian keluar. Sendirian. Membuat berpikir jika inilah kesempatannya.

__ADS_1


"Selamat pagi dok."


Alvian sama sekali tak melirik atau menjawab sapaannya, dia tetap berjalan.


Nayla langsung menghalangi jalannya.


Alvian kaget.


"Sombong sekali," ucapnya dengan genit.


Alvian terlihat marah, dia memalingkan wajahnya sambil menggertakkan giginya.


"Sayang." Tiba-tiba terdengar suara Aisha di belakangnya.


Aisha menghampiri suaminya yang dihalangi jalan oleh Nayla.


Aisha melihat Nayla sambil tersenyum.


"Permisi suamiku mau lewat."


Nayla yang kesal karena kedatangan Aisha menggeserkan badannya.


Alvian lalu berjalan meninggalkan keduanya dengan wajahnya yang kesal.


Aisha lalu menatap Nayla dari atas hingga ke bawah, dengan pakaian seksi dan make-upnya yang tebal.


"Suamiku tak akan pernah tertarik padamu walaupun kamu bertelanjang di depannya sekalipun. Dia tak akan pernah melirikmu. Sama sekali."


"Sini. Aku beri tahu," ucap Aisha lagi.


"Jangan jadi perempuan hina, yang menjadikan aurat sebagai umpan untuk menggoda suami orang."


"Jangan sibuk mempercantik fisik, berusaha tampil cantik dengan memakai bedak dan lipstik, itu semua tak akan membuat suamiku tertarik."


"Aku hanya mengingatkan. Aku tahu nerakamu bukan urusanku, karena surga juga belum tentu menjadi tempatku."


"Modal cantik akan kalah menarik dengan wanita yang akhlak dan agamanya baik."


***


Zaidan turun dari mobilnya, sesaat dia tertegun melihat mobil di sampingnya. Mobil yang rasa-rasanya sering dia lihat.


Dia lalu melihat sekeliling, di tempat parkiran pondok pesantren itu dia nampak mencari seseorang.


"Apakah dokter itu juga ada disini?" gumamnya dalam hati sambil berjalan menuju kantor sekretariat pengurus Pondok.


Anita yang akan berjalan menuju mobilnya kaget melihat Zaidan berjalan menuju ke arahnya, dia nampak gugup tak ingin Zaidan mengenalinya, cadar yang digunakannya dia perbaiki agar menutupi seluruh wajahnya.


"Dokter Anita." Seorang santriwati memanggilnya dengan keras.


Zaidan langsung berhenti tepat di depan Anita yang langsung menundukkan kepalanya.


Zaidan tersenyum, ketika tahu jika di depannya adalah dokter yang dia cari sedari tadi.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Zaidan dengan sangat bahagia melihat penampilan Anita.


"Waalaikum salam," jawabnya singkat lalu langsung berjalan tergesa-gesa menghampiri santri yang memanggilnya tadi.


__ADS_2